Deep Forest (II)

1798 Kata
“Takeshi sayang, mengapa kau selalu ragu mengikuti kata hatimu?” “Apa maksudmu?” “Aku yakin jauh di dalam sana… masih ada cahaya cinta dalam hatimu…” “Tentu saja, cahaya cinta itu tidak akan pernah padam untukmu.” “Bukan itu maksudku sayang…” “Apa…” “Ryoko… tunggu…” * * *   “Aku bermimpi lagi…” guman Takeshi. Pagi itu Takeshi terbangun dan seperti sebelumnya Asuka sudah bangun lebih dulu dan membuatkan sarapan pagi. Menemani Takeshi makan hingga Takeshi berangkat ke ladangnya. Barulah Asuka membersihkan rumah. Seumur hidup baru kali itu Asuka melakukan pekerjaan rumah tangga, kalau seandainya dia jadi menikahi pangeran muda perjodohannya itu mungkin dia tidak akan perlu melakukan pekerjaan rumah tangga. Akan tetapi Asuka justru merasa bahagia mengerjakan hal itu, entah kenapa dia merasa bahagia melakukannya. Selagi merapihkan piring yang baru saja dicuci Asuka terbayang wajah Takeshi. “Apa yang terjadi? Apakah aku memang benar-benar menyukai lelaki itu?” Asuka berbicara sendiri dalam hatinya. Semakin membayangkan Takeshi, jantungnya terasa semakin berdegup. “Ya, aku merasa nyaman saat berada di dekatnya, aku dapat merasakan kebaikan dan kejujuran yang ada dalam dirinya. Tetapi, bagaimana kalau dia tidak menyukai diriku? Aku tau dia pasti sangat mencintai mantan istrinya.”   Siang hari seperti biasa Asuka membawakan makan siang untuk Takeshi, kali ini dia turut membantu Takeshi di ladang. “Kau tidak perlu membantuku di sini.” kata Takeshi. “Tidak apa-apa.” balas Asuka. Asuka membantu Takeshi mengumpulkan beberapa hasil ladang yang sudah bisa dipanen. Siang itu Asuka baru merasakan untuk pertama kalinya yang namanya bermandikan keringat dan kelelahan di ladang. Tangan dan kakinya kotor dengan tanah. “Hei kau tidak apa-apa? Istirahatlah di tenda kalau lelah, tidak usah dipaksakan.” ucap Takeshi. “Tidak apa-apa.” balas Asuka. “Aku tau kau tidak biasa bekerja keras.” “Ah, tidak, aku bisa koq melakukan hal ini.” Takeshi meraih tangan mungil Asuka yang sudah teramat kotor. “Dengan tangan seperti ini? Kau pasti bukan dari masyarakat biasa, kau tidak pernah bekerja sekeras ini seumur hidupmu.” Asuka terdiam saja. “Sudah, ayo kita istirahat dulu.” ajak Takeshi sambil membawa Asuka ke tenda peristirahatannya. Sore harinya selesai bekerja di ladang Takeshi melanjutkan pekerjaannya untuk mencuci pakaian. “Tuan, kau kan sudah lelah seharian bekerja di ladang, biar aku saja yang mengerjakannya.” “Tidak apa-apa, kau istirahat saja.” Tetapi Asuka tetap memaksa ikut, ia pun membuntuti Takeshi hingga ke sungai. Asuka belajar mencuci pakaian tetapi tidak lama kemudian Asuka menyiprat wajah Takeshi dengan air. Dan entah apa yang terjadi Takeshi membalas Asuka, dan akhirnya mereka berdua jadi saling main air hingga basah kuyup berdua. “Ah, maaf…” kata Asuka. “Tidak apa-apa, kau gantilah bajumu, jangan sampai kau masuk angin.” Asuka pergi ke balik bebatuan, dia melepas yukatanya yang basah. Takeshi membiarkannya karena tidak ingin mengintip dan melanjutkan merapihkan pakaian-pakaian yang sudah selesai. Namun tiba-tiba dari belakang Takeshi dikejutkan oleh Asuka yang langsung menarik tangan Takeshi hingga mereka berdua tercebur di sungai yang dingin itu. Asuka tertawa-tawa melihat ekspresi Takeshi yang terkejut itu. Takeshi akhirnya membawa Asuka mandi berdua. Asuka berenang-renang mengelilingi Takeshi sambil tertawa-tawa kecil. Matahari sore menyinari dengan hangat saat mereka tengah menikmati sejuknya air sungai yang mengalir lembut itu. Asuka mendekati Takeshi dan bersandar di bahu pria itu, meraba kulitnya telah mencoklat terbakar matahari dan otot bahunya yang terasa begitu keras dan kencang. Kemudian Takeshi membalik tubuhnya, dalam keadaan basah kuyup mereka saling menatap satu sama lain. Takeshi membelai wajah Asuka dan perlahan mendekatinya. “Tuan Takeshi… Aku… Aku…” Asuka hendak mengatakan sesuatu tetapi bibirnya gemetaran. Takeshi mengusap wajah Asuka, menyikap rambut yang basah yang menutupi sebagian wajah gadis itu. Kemudian Asuka pun memejamkan matanya seperti menunggu sesuatu, tetapi ternyata Takeshi hanya menggendong Asuka dan mereka berdua keluar dari air sungai yang dingin itu. “Sebaiknya kita jangan berlama-lama di air, hari semakin gelap.” ucap Takeshi. Saat mereka sudah keluar dari air, Asuka mengenakan kembali yukatanya dan hendak membantu memakaikan baju Takeshi. “Ah, tidak apa-apa, aku bisa sendiri.” balas Takeshi. “Tidak apa-apa, tetapi ketahuilah, barusan ini adalah hal yang sangat romantis yang pernah kurasakan.” balas Asuka dengan tetap membantu Takeshi berpakaian. Takeshi terkejut mendengar kata-kata Asuka. “Tapi aku ini…” Kata-kata Takeshi terputus. “Aku percaya padamu, aku menyukai dirimu.” wajah Asuka berubah memerah. “Kamu…” “Apakah tuan tidak menyukai diriku?” “Apa? Aku… Aku…” Asuka semakin menggigil. Takeshi memeluk erat-erat tubuh Asuka yang menggigil setelah keluar dari air sungai yang dingin itu, dan menyelimutinya dengan mantel. Asuka membalas pelukan hangat itu dan tidak mau melepaskannya. Tidak terasa waktu pun berlalu, “Matahari semakin tenggelam, ayo kita pulang.” Ajak Takeshi. * * * Di rumah, Asuka membuatkan makan malam, sementara Takeshi memotong kayu untuk perapian. Asuka menghidangkan makan malam untuk mereka berdua. “Maaf ya, sepertinya aku jadi lancang hari ini.” ucap Asuka. “Mengapa kau jadi berkata seperti itu? Harusnya aku yang minta maaf kepadamu.” “Aku mengerti, kau sudah pernah berkeluarga dan mungkin kau tidak akan mau untuk…” Tiba-tiba kata-kata Asuka terputus oleh kecupan di bibirnya, wajah Takeshi begitu dekat dengannya, pelukannya begitu rapat menghangatkan tubuhnya. “Ah Tuan…” Asuka begitu terkejut, tetapi di sisi lain ada sesuatu yang meledak di dalam dadanya yang membuat perasaannya begitu bahagia. “Kau tidak perlu berkata apapun lagi, maafkan aku…” ucap Takeshi. “Tuan Takeshi… Aku…” “Maaf, aku begitu mencintai istriku.” Seketika Asuka terkejut. Mendadak perasaan bahagia yang baru saja mekar di dadanya sesaat redup. “Tuan, kalau begitu kau tidak perlu memaksakan perasaanmu kepadaku… Maafkan kebodohanku.” Asuka perlahan melepaskan pelukannya. “Bukan itu maksudku.” balas Takeshi dan menarik kembali tubuh Asuka ke dalam pelukannya. “Bukan itu maksudku… Aku mencintai istriku, dan sampai kapan pun tidak ada yang bisa merubah sejarah itu, oleh karena itu kali ini aku pun tidak mau kehilangan dirimu, aku tidak mau lagi merasakan yang namanya kehilangan cinta untuk yang kedua kalinya. Aku tidak mau kehilangan dirimu… Aku takut… Aku takut untuk kehilangan lagi…” Asuka benar-benar terkejut mendengarnya. Belum pernah ada seorang pria yang menyatakan cintanya dengan cara yang begitu tulus seperti itu. Perasaan luar biasa itu menusuk jauh ke dalam dadanya memberikan rasa kebahagiaan yang tak dapat digambarkan. Air mata kini berkumpul di tepian matanya. “Wahai wanita misterius dari Geisaku, maukah kau menjadi pendamping hidupku?” “Tentu saja aku tidak akan berkata tidak untukmu.” Balas Asuka. Asuka memeluk Takeshi dan mereka pun saling berciuman, kedua bibir mereka saling menyatu. Asuka mencium Takeshi dengan sepenuh perasaannya, kebahagian menyelimuti dirinya, dan air mata pun mengalir di pipinya tanpa bisa dibendung. “Kenapa kau menangis?” tanya Takeshi. “Katakan padaku bagaimana caraku menahan rasa bahagia ini? Tuan Takeshi, sayangku.” Takeshi tidak dapat menjawabnya dengan kata-kata melainkan semakin memeluk erat gadis pujaannya itu, tangan Asuka melingkari pundak Takeshi sembari mereka berciuman, cukup lama mereka menikmati berpeluk mesra. Takeshi sudah lama tidak merasakan yang namanya kehangatan tubuh wanita, harum alami bau badan wanita membangkitkan kembali insting kejantanannya yang telah lama tertidur. Takeshi begitu rindu belaian jemari lentik yang menari di tubuhnya. “Tuan…” Asuka membuka ikatan tali Yukatanya, kemudian dia merapatkan tubuhnya ke tubuh Takeshi. Tatapan gadis itu begitu lembut dan hangat. Takeshi menarik pinggul wanita itu dan menyikap bahu Yukatanya sehingga terbukalah sebagian tubuhnya di hadapan Takeshi. Asuka membelai lembut rambut dan wajah Takeshi sambil tersenyum. Takeshi menciumi leher jenjang putih mulus itu, kemudian turun ke bahu. “Mmmhh…” Asuka sedikit melenguh, ada kenikmatan berpadu kehangatan yang kini mengalir di tubuhnya. Takeshi menanggalkan seluruh pakaiannya, Asuka semakin merapatkan tubuhnya memeluk Takeshi, tangannya meremas punggung Takeshi yang terbentuk otot tebal karena bekerja keras di ladang. Asuka mendesah-desah kecil saat Takeshi mulai menciumi dadanya. “Aahh…” Asuka sedikit mengerang saat jemari Takeshi bermain di sebuah area yang sangat privat di tubuhnya. “Tuan… Tunggu dulu, ada yang perlu aku katakan kepadamu…” bisik Asuka. “Apa itu…” “Aku… Aku…” “Tidak perlu takut, katakan saja, apakah kau mau berhenti? Aku akan berhenti kalau kau tidak nyaman.” “Bukan itu tuan… Tapi aku…” Tiba-tiba Asuka menangis. “Aku sudah tidak peraw…” Kata-kata Asuka spontan terputus saat Takeshi menutup bibirnya dengan kecupan yang sangat dalam. “Aku tidak butuh keperawanan tubuhmu, aku hanya butuh kesucian cintamu.” ucap Takeshi. “Tuan Takeshi…” titik-titik air mata semakin mengalir berderai tak terbendung di pipi Asuka. Dia pun mencium Takeshi, dia terus mencium seakan tidak mau melepaskankannya. Asuka teringat saat pertama kalinya dia mengalami perbuatan b***t yang dilakukan oleh ayahnya sendiri. Namun kali ini berbeda, apa yang diperbuat oleh Takeshi benar-benar membuatnya merasa nyaman, seluruh tubuhnya berdesir nikmat saat tubuh Takeshi menyatu hangat dengan dirinya. “Tuan Takeshi, kumohon, jangan ragu-ragu, silahkan lakukanlah apa pun yang kau inginkan kepadaku. Aku percaya padamu.” ucapnya sambil membelai wajah Takeshi. Kedua tubuh telanjang pasangan itu kini sudah beradu keintiman cinta. Suara lenguhan desah nafas Asuka mengiringi irama permainan Takeshi. “Aahh… Tuan Takeshi… Aku… Aku…” tiba-tiba Asuka mencengkeram erat bahu Takeshi. Ia merintih gemetar diiringi tetesan keringat. Takeshi pun merasakan hal yang sama, dia semakin memeluk erat Asuka. Dan akhirnya terjadilah momen puncak pada malam hari itu. Takeshi terengah-engah di pundak Asuka. Mereka saling berpelukan dan berciuman seakan tidak mau melepaskan satu sama lain. “Aku mencintaimu Asuka…” ucap Takeshi. “Aku juga mencintaimu… Sangat… Sepenuh hatiku…” balas Asuka. Mereka berdua kembali bericuman sembari berpelukan hangat di bawah selimut. Keduanya pun tertidur setelah sama-sama merasakan puncak kenikmatan. * * * Asuka terbangun pada penghujung dini hari, di luar nampak masih begitu gelap, baru kali itu ia merasakan tidur pulas tanpa ada bayang-bayang mimpi buruk masa lalunya. Takeshi nampak masih tertidur pulas di dalam pelukannya. Asuka menciumi Takeshi yang tertidur pulas di sampingnya, membelai lembut setiap jengkal wajah lelaki itu. Malam itu lah pertama kalinya Asuka merasakan persetubuhan yang benar-benar terasa hangat, nyaman dan nikmat. Kenyamanan itu telah membuatnya melupakan masa lalu kelam yang pernah menimpanya. Ia telah yakin kini masa depannya ada di hadapannya, bersama lelaki yang kini tertidur di sisinya. “Aku akan memberikan seluruh cintaku beserta segenap jiwa ragaku kepadamu dan kenyamanan apa pun yang kamu butuhkan, aku akan mendampingi hidupmu dan ikut ke mana pun kamu pergi.” ucap Asuka berbisik kepada Takeshi yang tertidur pulas seperti bayi itu. Udara semakin dingin, perapian di ruang tengah sudah menjadi arang yang menyala-nyala. Asuka menarik selimut melanjutkan tidur sembari memeluk erat Takeshi seakan tidak mau melepaskannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN