Jangan Marah

988 Kata
*dering telepon* "Halo" jawab Arion "..." "Ta ?" "Yon :(" "Lo habis nangis?" "Enggak" jawab Kallista menahan isaknya "Jangan bohong ! sekarang lagi dimana?" "Di jalan" "Udah tengah malem Ta, ngapain sih?" "Taa.. jangan diem" ucap Arion lagi "Lo dimana? gue jemput" "Gak usah ! telat" tok tok tok *ketuk pintu* "Bentar ya Ta, jangan ditutup" tok tok tok Cklek"Yonn hiks" Kallista menghambur ke pelukan Arion "Ta.." Arion terkesiap melihat siapa yang ada di balik pintunya "Ssstt, tenang yaa ada guaa.." Arion mulai menenangkan Kallista dengan mengelus lembut punggungnya  "Gilang.. Gilang selingkuh hiks" adunya sambil terisak, menenggelamkan wajahnya pada d**a bidang teman sedari kecilnya itu Seketika rahang Arion mengeras, ia mengepal kuat lengannya. Namun ia luruh kembali ketika Kallista mendongakkan wajahnya Dengan mata sembabnya, Kallista menarik ujung bibirnya "Gue gapapa" ucapnya Arion tak menjawab, ia hanya mendengarkan suara lembut gadis yang masih melingkarkan lengan pada punggungnya itu Arion menghembuskan nafasnya berat, ingin sekali ia mengobrak-abrik perusahaan kecil itu. Kalau ia mau, maka mata pencaharian lelaki yang berani menghancurkan hati gadis ini bisa ia hancurkan. Tapi itu tidak terjadi, bukan karena ada rasa kasihan! hanya saja ini demi Kallista. Gadis itu akan sedih, dan Arion tidak mau itu terjadi "Bahaya cewek jalan sendirian malem-malem gini, kenapa gak kabarin sih?" protes Arion ketika Kallista sudah tenang dengan perasaannya "Buktinya gue gak kenapa-napa kan" ucap Kallista dengan senyum khas nya, yah kalau sudah begitu Arion tak dapat lagi membantah. Senyum itu dapat meluruhkan rasa khawatirnya "Jangan diulang lagi" tuntut Arion Kallista mengangguk setuju. Sesekali ia melihat layar ponsel nya, berharap pacarnya itu akan menghubunginya walau hanya untuk sekedar menjelaskan dengan apa yang terjadi "Lo kenapa masih ngarepin dia sih?" ketus Arion. Ia tak suka dengan pria yang sudah berkali-kali mematahkan hati Kallista, tapi berkali-kali juga Kallista menerima kembali pria itu. Entah apa yang dimiliki seorang Gilang, sampai-sampai membuat seorang gadis sebaik Kallista bisa serela itu "Huh, enggak" timpal Kallista beralibi. Ia tau Arion tak suka dengan pacarnya, ia pun tak dapat menyalahkan, memang siapa yang rela orang yang disayanginya disakiti?? Kallista pun akan berdiri paling depan kalau saja ada yang berani menyakiti pria ini, tapi sayangnya Arion tak pernah menunjukkan ketertarikannya pada gadis manapun Arion meraih lengan Kallista "Jangan biarin dia balik lagi" tutur Arion sambil menatap jauh kedalam sorot mata perempuan yang ada di hadapannya ini Kallista diam, tatapannya pun masuk kedalam sorot mata pria yang ada di depannya, namun seperkian detik kemudian ia segera memutuskan kontaknya dan berpaling ke arah lain "Oh ya gimana di tempat kuliahan? pasti seru kan?" Alih Kallista membahas perihal Arion yang berhasil memasuki perguruan tinggi yang terkenal karena prestasinya "Gue lagi bahas lo" ucap Arion masih dengan pembahasan yang menurutnya harus segera ditetapkan Kallista berdeham "Emmm.." ia mengabsen tiap sudut ruangan yang cukup luas kalau hanya untuk satu orang penghuni "Bagus" lanjutnya sambil bangkit dari duduknya. "Kenapa lo gak pernah ajak gue kesini sih?" ucap Kallista memecah kecanggungan Arion menarik napas sedalam-dalamnya dan menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa berbarengan dengan pembuangan napas yang tadi dihirupnya. Ia memejamkan matanya, berusaha meredam amarahnya, ia harus berusaha memahami gadis ini, bagaimanapun caranya, walaupun harus melawan keinginannya sendiri "Kalo mau tidur ke kamar sebelah aja, disana kosong tadi baru gue bersihin" ucap Arion hendak memasuki kamarnya DegLangkah Arion terhenti ketika sepasang tangan melingkar pada perut rata nya, napasnya tercekat ketika Kallista semakin erat memeluknya "Jangan marah" ucap Kallista lemah Arion masih berusaha menetralkan napasnya, ia diam terpaku ketika Kallista sudah memutar tubuhnya dan memeluknya lagi dari depan "Gue cuman punya lo" ucap Kallista lagi Arion masih diam, rasanya untuk sekarang ia butuh waktu lebih lama untuk mengerti gadis ini. Kallista mendongakkan wajahnya, mengabsen wajah yang selalu membuatnya tenang itu. "Bisa senyum buat gue?" pinta Kallista "Yoonnn.. please" rengeknya Kallista melepaskan pelukannya "Lo emang gak bisa senyum, gue lupa" pungkasnya menyerah Perlahan Arion memaksa untuk menarik ujung bibirnya yang enggan untuk itu, rasanya otot yang ada pada wajahnya itu malas untuk melakukannya Kallista menarik kedua ujung bibir pria itu dengan jari tangannya lalu tertawa karenanya, dan membuat Arion terpaku melihatny. Amarahnya seketika luluh lantah, ia tak membutuhkan apapun lagi untuk sekedar mengobati keganjalan yang dirasakan sebelumnya. Kallista memudarkan tawanya ketika Arion sudah kembali menampilkan senyum yang selalu menemaninya sejak dulu. ______________________ "Udah siap?" sapa Kallista pada Arion yang sudah rapi dengan setelan kampusnya "Bikin apa?" tanya Arion pada Kallista yang masih sibuk dengan peralatan dapur yang bahkan tak pernah dipakainya. "Bikin sarapan dong" jawabnya "Kenapa repot-repot sih? gue gak minta" gumam Arion dengan wajah datarnya. Wajah yang biasa ia tampilkan pada siapapun "Gak repot kok" timpal Kallista sembari membawa mangkok berisi bubur kesukaan Arion. Bubur buatannya ini memang menu yang paling terkenal enaknya bagi orang yang sudah mencoba beberapa masakannya "Kenapa satu?" tanya Arion yang hanya melihat satu porsi di mejanya "Gue belum laper" ujarnya sambil menyangga dagu di kursi yang berseberangan dengan pria itu Arion mengangguk paham lalu mengangkat sendok yang sudah tersedia dan mulai mencicipi makanan yang memang sudah ia rindukan beberapa bulan ini Kallista tersenyum melihat Arion yang lahap memakan masakannya itu, ia asik melihat pemandangan pria di depannya ini. kring kring *dering telepon*Kallista melirik ponselnya dan terlihat sebuah nama yang tak asing muncul disana perlahan Kallista mengambil ponselnya, ia berusaha agar pergerakannya tak terlihat oleh pria di depannya itu. Melihat Arion yang masih sibuk dengan makanannya membuat Kallista segera berlalu untuk mengangkat panggilan masuk yang sudah berdering kedua kalinya Arion menghentikan aktifitasnya ketika Kallista sudah berlalu dari hadapannya. Ia tau apa yang ada pada pikiran gadis itu begitu pun dengan siapa yang sedang menghubunginya sekarang. Pria itu tak ingin menambah ruwet pikirannya, ia meraih tas punggungnya lalu pergi tanpa memberi tau orang yang sedang sibuk dengan panggilannya itu "Yonn.." panggil Kallista yang tak melihat keberadaan pria dingin itu pada posisi awalnya "Arionn" panggilnya lagi "Apa udah berangkat? ko gak bilang" pikirnya "Biasanya juga diabisin" gumam Kallista lagi ketika melihat semangkok bubur yang masih tersisa setengahnya **Bersambung... Jangan lupa like dan komentarnya ya ♡**
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN