Arion masih sibuk mendribble bola basketnya, ini sudah bukan waktu istirahat tapi ia masih saja butuh memasukkan bola ke ring untuk dapat mensterilkan hatinya.
"Yonn lo gak masuk?" teriak Zayn, Kakak tingkat yang merupakan ketua BEM di kampusnya.
Arion hanya menoleh sebentar lalu kembali fokus dengan aktifitasnya.
Zayn menarik ujung bibirnya "Lo lagi ada masalah?" tanya Zayn sambil ikut serta bermain sebagai lawan untuk merebut bola basket yang digiringnya
Dengan napas tersengal Arion menghentakkan bola sampai melambung tinggi dan membiarkannya begitu saja. Ia mengambil botol minumnya lalu meminum tandas isinya
"Gue punya tempat bagus, yang biasa gue datengin kalo lagi kalut. Yahh kurang lebih sama kayak lo gini lah" tutur Zayn
"Tempat bagus?" ulang Arion yang mulai penasaran. Sebab segala cara yang menguras tenaga telah ia lakukan, namun hasilnya nihil. Tetap hanya penyebabnya yang dapat mengembalikan mood nya, dan itu suatu ketidak mungkinan
Zayn mengangguk cepat "Pulang kampus gue tunggu lo di parkiran" ucapnya sambil menepuk pelan punggung Arion
_____________________
"Ehh ada Kallista tuhh" ujar Via, membuat Alysa menghentikan aktifitas berkaca ria nya. Senyum manisnya seketika pudar menjadi datar
"Lo telat lagi?" ucap Alysa menghadang di depan bangkunya
Kallista berusaha mencari celah lain, ia sudah biasa mendapat perlakuan demikian dan sudah terlalu capek untuk meladeninya
"Gue nanya" tekan Alysa
"Ya lo liat kan ? kenapa musti nanya?"
"Kenapa? nyamperin abang gue lagi?" tuduh Alysa
"Oh ya, lo udah ngerjain tugas bahasa inggris?" ucap Kallista mengalihkan pembicaraannya, membuat Alysa mengikuti alur buatannya
"Tugas? Vi emang ada?" tanya Alysa pada temannya
Via hanya menggedikkan bahu nya tak tau menau
"Lo tau kan gimana sangarnya.."
"Iya iya gue tau !!" potong Alysa "Minggir" ia menabrak bahu Kallista sampai tubuhnya menyamping memberi jalan, padahal jika ia bersedia bergeser mungkin masih mumpuni
Kallista hanya bisa menghela napasnya panjang, untung saja stok sabarnya masih banyak dan tak terbendung
Ponselnya kembali berdering menandakan pesan masuk. Ia segera membuka pesannya dan melenguh, ternyata bukan nama Arion yang muncul

Tanpa niat membalas, Kallista menyimpan kembali ponselnya. "Apa dia masih marah ya?" pikirnya "Tapi kemaren malem udah becandaan lagi kok" timpal pikirannya lagi
Kallista kembali membuka pesannya, dan membuka salah satu riwayat obrolan yang ditungguinya. Tiba-tiba senyumnya mulai merekah kembali

Arion tak membalas pesannya tapi foto yang tadi ia kirim dibuatnya sebagai foto profil "Mungkin dia sibuk" pikir Kallista yang kembali fokus pada pengajaran bu guru di depannya
Sedangkan Alysa yang duduk di bangku tengah sedang menatapi punggung gadis yang ia anggap sangat menjengkelkan baginya itu sambil memainkan pulpen yang digenggamnya
_______________________
"Ta??" Gilang menahan tangan Kallista yang melengos melewatinya
"Kenapa?" ketus Kallista
"Kok cuek sih? gue kan udah jelasin tadi pagi di telepon" jelasnya
"Terus gue harus maafin lo gitu aja?"
"Iya. Bukan aku yang salah" belanya
"Terserah" ucap Kallista kembali melengos, membuat Gilang segera memeluk tubuhnya agar gadis itu mau mendengarkannya lagi
"Gilang, lo gila ya?" protes Kallista memukuli lengan besar yang melingkar pada lehernya dari belakang
"Gue lepasin asal lo mau dengerin gue"
"Iya iya lepasinn" Kallista segera menjauhkan tubuhnya, beberapa pasang mata sudah mengarah padanya dan menaruh rasa penasaran
"Mau kemana kita hari ini?" tanya Gilang sambil mengemudikan mobilnya
"Pulang"
"Kok pulang sih?"
"Aku mau pulang Lang" keluh Kallista melihat ke arahnya memohon
CkiiitttGilang meminggirkan mobilnya "Gue sayang sama lo Ta, lo tau kan?" tutur Gilang
Kallista tak bergeming
"Heyy.." Gilang mengelus lembut pipi nya
"Lang plis aku butuh waktu" keluh Kallista lagi
"Waktu buat apa sih Ta ?? Aku kan udah jelasin kalo kemarin itu cuman salah paham"
Kallista melenguh "Gimana caranya ciuman bisa salah paham?"
"Aku liat sendiri Lang" lanjutnya lagi dengan air mata yang mulai meleleh
"Semua terjadi gitu aja, dan aku udah berusaha nolak Ta.." jelasnya
"Ta.." Gilang mulai merengkuh gadis yang sedang menangis sambil menggigiti kuku nya itu
"Maafin gue ya" tuturnya sambil mengusapi puncak kepala Kallista
"Ini bukan cuman sekali" ucap Kallista yang berusaha melepaskan tubuhnya tapi Gilang malah mempererat pelukannya "Aku sayang sama kamu, kamu harus tau itu" tutur Gilang
_______________________
Arion meremas ponselnya ketika menampilkan postingan terbaru di beranda Instagramnya.

Mata kuliah telah berakhir, dan ia segera menghampiri tempat dimana Zayn telah menungguinya
"Jadi pergi?" tanya Arion
"Jelas lah" jawab Zayn dengan tawa sumringahnya. Tak hanya berdua, Zayn juga membawa teman nongkrong yang lainnya, yang semuanya berasal dari kelasnya saja.
Tapi tenang, disini tak ada istilah senioritas yang bisa menginjak-injak juniornya. Apalagi Arion, ia sudah menampilkan prestasinya walaupun masih terbilang mahasiswa baru. Itu membuat semua orang mau berteman dengannya, hanya tinggal Arion saja yang mau atau tidak
"Disini?" tanya Arion yang mulai ogah dan berniat mengurungkan niat awalnya
"Lo gak akan nyesel" tahan Zayn
"Sorry bro gue gak biasa" timpal Arion
"Lo coba masuk dulu, kalau emang gak suka lo boleh pulang" tutur Zayn
Arion mengikuti saran kakak tingkatnya itu, ia mulai menyusuri sebuah bangunan dengan khas lampu meremang sudah terlihat dari arah parkiran tadi
Dentuman musik yang mulai mencuat saat ia memasukinya membuat kupingnya terasa pecah, Tapi untuk keadaan hatinya kali ini memang tak terlalu buruk
"Kayak biasa bro" ujar Zayn pada bartender biasa yang sudah akrab dengannya
2 gelas kecil beserta satu botol besar sudah berderet di depannya, Zayn segera menuangkan untuk yang ia yakini sebagai pemula ini
Arion menggelengkan kepalanya keberatan, gelas kecil itu ia taruh kembali pada tempatnya.
"Oke kalo gitu, gue kesana dulu" tunjuknya ke arah sekumpulan orang yang berjoged, menghilangkan penatnya. Ya, kemungkinan perasaan mereka tak jauh beda dengannya, tapi ada juga yang memang sudah menjadikan tempat ini sebagai hoby nya.
___________________
Kallista segera menelpon kenalannya setelah tak sengaja melihat salah satu story di w******p nya
"Ta .." tahan Gilang menyusul Kallista
"Kamu mau kemana? ini udah malem" tambahnya, menyadari jarum pendek pada jam tangannya sudah menunjuk pada angka 9
"Emm nanti aku hubungin lagi"
"Tapi.."
CupKallista segera mengecup pipi Gilang, agar pria itu dapat membiarkannya
"Pak bisa lebih cepet gak?" pinta Kallista pada sopir taxi
Kallista mengepal kedua tangannya "Awas aja"
"Disini neng?" tanya sopir taxi ragu, karena menyadari bahwa setelan Kallista tidak terlihat seperti yang biasa datang ke tempat gemerlap seperti ini
Kallista mengangguk, walaupun memang sedikit ragu dengan apa yang akan ia lakukan
Gadis cantik itu jadi perhatian semua pasang mata dengan pandangan meremangnya. Setelan sopan seperti itu? bagaimana bisa?
"Cantik" goda salah satu pria
Kallista tak meladeni, ia masih menelusuri tiap sudut ruangan
"Sialan, so cantik banget lo jadi cewek" protes pria tadi
"Ta.. ngapain disini?" tanya temannya yang tadi ia telepon
"Gue cari temen Cle" jawab Kallista
Kallista menghentikan pandangannya pada satu arah "Arion?" gumamnya. Pria itu sedang digelayuti seorang wanita, yang benar saja?
"Jangan sentuh Arion" teriak Kallista menarik lengan wanita nakal itu, membuat ciuman yang susah payah itu tak jadi terlaksana
"Lo siapa?" protes wanita tadi
"Pergi!!" usir Kallista sambil menghalangi tubuh Arion dengan tubuhnya
"Berani banget lo" Wanita yang penuh makeup itu mendorong tubuh Kallista yang hampir saja tersungkur kalau saja Arion tak segera menahannya
"Yon.." gumam Kallista sambil menepuk-nepuk pipi nya. Pria itu sudah terlalu banyak minum, tercium jelas dari bau nya yang menyengat
Kallista segera menaruh lengan besar itu pada bahunya, untuk membantunya berjalan dan segera pergi dari tempat laknat ini
"Jangan bawa dia pergi" tekan wanita itu
"Lo gak punya hak" tegas Kallista pantang mundur
"Sialan" wanita itu akan segera mendaratkan tamparannya, tapi sekali lagi Arion berhasil mengendalikan tubuhnya untuk sekedar menahan lengan yang hampir menyentuh wajah Kallista
"Jangan berani sentuh dia" tekannya dengan memberikan tatapan tajamnya. membuat wanita itu segera menarik lengannya kembali dan pergi dengan rasa kesal yang sudah menjalar sampai otaknya
Bahu Kallista sudah seperti retak, karena harus menyangga tubuh yang jauh lebih besar darinya ini
"Duh.. Yon password nya berapa ??" keluh Kallista pada Arion yang bahkan tak kuat walau hanya membuka matanya saja
"Ulang tahun lo" jawab Arion dengan mata yang masih terpejam
Kallista menautkan kedua alisnya " Lo mimpi ya?" keluh Kallista lagi
"Ehh.." Kallista terkesiap ketika Arion tiba-tiba melepas pegangannya
Arion menekan beberapa angka untuk membuka pintu apartemennya lalu kembali menaruh lengannya pada bahu gadis itu seperti tadi
Dengan susah payah Kallista membawa masuk tubuh Arion kedalam kamarnya.
"Hhaaahhh" Kallista menghembuskan napasnya lega setelah berhasil menjatuhkan bebannya ke atas kasur. Akhirnya ia dapat menyelesaikan misi nya dengan baik, untung saja tidak terlambat. Ia memang teman yang baik, Arion harus bangga pada Kallista yang sudah menyelamatkannya dari terkaman wanita liar itu
"Yon.." panggil Kallista
"Arion gue pulang" ulang Kallista.
Deglangkahnya terhenti
**Bersambung..
Jangan lupa like dan komentarnya ya ♡**