Pukul enam pagi, Danisa merapatkan syal yang terlilit di leher. Udara di bandara Soekarno Hatta tidak terlalu dingin, namun karena semalam ia sama sekali tidak sanggup memicingkan mata, sesekali gigil mendatangi tubuhnya. Isi kepalanya terus berputar-putar dan membuatnya mual. Pembicaraannya dengan kedua orang tuanya, lalu dengan Atalla sambil menemani putranya menjelang tidur. Bahkan, dalam perjalanan sebelum subuh tadi diantar Cempaka. Berulang kali mengkaji ulang apa yang terjadi pada dirinya setahun belakangan ini. Tidak ada sedikit rasa penyesalan, meski hidup yang dijalani mengubah tatanan kedamaian yang lumayan melekat lama dalam dirinya. Mengamati kesibukan gedung terminal, khususnya ruang tunggu yang tidak pernah surut penumpang. Geliat sarana penghubung antar kota, antar prop

