Cindy mengusap kepala Dayat dengan lembut, lelaki itu sedang merebahkan kepalanya dipangkuan kekasih nya. Jarang-jarang punya waktu berdua membuat Dayat ingin bermanja-manja-ria dengan kekasihnya itu.
“Aku nggak akan lama di Bali, 3 hari doang.” Ujar Dayat pada Cindy. Gadis itu tak kuasa untuk melepaskan pacar nya pergi karena 3 hari kedepan adalah weekend, yang mana adalah itu satu-satu nya waktu yang bisa mereka gunakan untuk berkencan.
Dayat juga sama dengan Cindy, lelaki itu sudah bekerja di sebuah perusahaan sebagai akuntan. Itu semua berkat teman akrab Dayat yang notabe nya pewaris perusahaan Dayat kerja, walau bagaimana pun, Dayat harus bersyukur karena masih ada orang yang mau mempekerjaan.
“Yat, aku tuh sebenarnya mau ikut.” Cicit Cindy pelan. Dayat meringis pelan mendengar penuturan kekasih nya. Memang, sifat manja Cindy membuatnya gemas sekaligus kerepotan. Di Bali Ia akan sibuk bekerja bukan untuk liburan, rasa nya tak perlu Cindy untuk mengekor segala.
“Janji nanti kita bakal liburan bareng deh, tapi nanti.” Sedikitnya itu bisa membuat pacarnya senang walaupun janji itu belum tahu kapan akan di laksanakan.
“Serius ya ?” Tanya Cindy ceria. Sudah lama mereka tidak pernah liburan bersama semenjak masuk dalam dunia kerja. Walau pun berlibur, pasti waktu yang mereka habisnya sangat minim, tidak akan puas.
“Hm, everything for you aaa !”
Dayat adalah pacar Cindy dari 2 tahun yang lalu mungkin, tepatnya mereka bertemu dimasa sibuk kuliah saat semester 6. Saat itu mereka sedang mengurus administrasi untuk program KKN yang akan dilakukan pada semester depan. Setelah lulus, mereka tetap melanjutkan hubungan yang telah mereka jalin sejak kuliah tersebut hingga kini sudah menjadi seorang karyawan walaupun berada di kantor yang berbeda.
“Ngomong-ngomong, kamu kok nggak pernah sih main ke rumah aku ?” tanya Cindy pada Dayat, pertanyaan yang sudah lama Ia simpan. Selama mereka berpacaran, Dayat hanya sepintas mengantar nya di depan gerbang rumah saja, tidak pernah bahkan untuk sekedar berpamitan pada orangtua nya jika datang menjemputnya ke rumah.
“Bukan aku nggak mau sih,” jawab Dayat lalu bangkit dari baringan nya, mengamit tangan Cindy lembut. “Aku cuma mahasiswa kere perantauan yang nggak bisa dibanggain sama sekali, itu alasan aku nunda dulu ketemu sama orang tau kamu.” Balas Dayat kemudian.
“Lantas apa ?”
“Kalau kayak sekarang, even aku nggak tajir amat, tapi untuk naktir kamu makan aku nggak perlu ngirit jajan dari orangtua kirim lagi dari kampung, Sayang.” Dayat mengucapkan nya dengan nada terbeban. “Aku jadi minder kalau ingat kamu dari keluarga orang terpandang, keluarga kamu punya perusahaan besar, lah aku ? Cuma anak rantau, kere lagi.”
“Aku nggak minta apa-apa dari kamu loh, Yat. Orangtua aku nggak pernah mempermasalahkan latar belakang ekonomi orang lain kok.”
“Ya, tapi aku insecure aja gitu.” Balas Dayat sambil melipat bibirnya kedalam. “Aku bakal datang jumpa orangtua kamu nanti kok.”
“Ya, aku harap gitu. Aku mau kamu tuh serius.”
“Jadi, aku masih kurang serius gitu ?” tanya Dayat dengan dahi berkerut.
“Bukan gitu!” bantah Cindy cepat. “Kalo kamu berani nampakin wujud kamu ke orangtua aku, aku lebih-lebih dan lebih lagi percaya kalo kamu itu udah serius banget sama aku dan kamu tuh sayang sama aku.”
“Oh gitu toh.” Dayat mengangguk mantap. “Tunggu aja.”
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, saat nya Cindy pulang. Ia tidak mau jika terlalu lama mendekam di kos kekasih nya, Ia tidak mau jika nanti mereka tergoda untuk melakukan hal yang iya-iya disana. Apalagi Ia adalah perempuan satu-satu nya, bisa berabe kalau Ia telat pulang.
Apalagi tadi Ia tidak mau di jemput oleh kakak nya di rumah dan memilih naik taksi online dengan alasan ada keperluan lain.
Hubungan mereka sebenarnya tranparan, semua orang tahu kalau mereka adalah pasangan, tapi akan menjadi rahasia jika menyangkut keluarga. Keluarga Cindy tidak ada yang tahu siapa pacar gadis itu dan begitu juga dengan keluarga Dayat.
Di perjalanan pulang, mereka kehujanan. Dayat yang mengantar Cindy memakai motornya terpaksa harus mencari tempat pemberhentian sejenak, menunggu hujan reda. Sebenarnya melajukan motor dalam keadaan hujan begitu akan sangat menyenangkan apalagi bersama kekasih hati, namun hari masih panjang untuk dilalui esok, Dayat tidak mau Cindy sakit dan juga sebaliknya.
Cindy memandang kagum kepada Dayat, tepatnya Ia sedang menikmati pemandangan air menetes dari poni Dayat. Jujur, hal pertama yang bikin Cindy suka pada Dayat itu adalah karena Dayat sangat tampan dan punya pesona yang sulit untuk ditolak. Bibirnya bisa melengkung sempurna yang sangat manis dan hidungnya begitu mancung, kulitnya juga tidak hitam tapi bukan putih seperti s**u, menawan dan begitu menarik.
“Kamu kenapa, hm ?” Tanya Dayat saat tau pacarnya itu menatapnya terang-terangan.
“Nggak, kamu sexy.” Ungkap Cindy malu-malu.
Dayat terkekeh pelan lalu menarik pipi Cindy gemas. “Sexy ? Cium dong kalo gitu !” goda Dayat sambil menyodorkan pipinya agak kebawah ke arah Cindy.
Bukan nya melakukan permintaan Dayat, Cindy malah menimpuk kepala Dayat dengan tas nya. “No kiss, Yat ! Ih modus aja.”
“Hahaha….” Tawa Dayat meledak. Ia mengacak rambut Cindy gemas lalu menarika gadis itu merapat ke tubuhnya agar bisa berbagi kehangatan.
Sejam kemudian, hujan reda dan Dayat melanjutkan perjalanan mengantar Cindy ke rumah nya. Suasana komplek sudah sepi saat mereka sampai. Udara dingin menusuk tulang menghinggap ke Cindy.
“Kamu mau pakai jaket nggak ?” Tanya Cindy pada Dayat. Ia tidak tega menyuruh pacarnya itu untuk pulang dalam suasana baru habis hujan yang berarti udara sangat dingin.
“Memang nya ada yang muat ?” Tanya Dayat kemudian. Pasalnya, badan nya dan badan Cindy sangat beda ukurannya, tubuh Cindy cenderung kurus namun tidak bisa dikatakan krempeng juga, dan badan Dayat lebar dengan proporsi besar. Cindy mengangguk lalu meminta Dayat untuk menunggu sejenak di luar sedangkan dirinya bergegas untuk mengambil jaket yang dimaksud.
Beberapa waktu lalu, Rahmat, adik nya Ikram tetangga memberinya oleh-oleh dari Itali, lelaki itu baru pulang dari perjalanan bisnis. Karena Cindy terhitung adik kesayangan keluarga nya maka Rahmat memberinya hadiah, namun sangat disayangkan, jaket nya sangat sebesar dan mampu menenggelamkan Cindy dalam balutan nya. Jadilah jaket tersebut hanya disimpan dalam lemari tidak di pakai.
“Nih pakai aja.” Cindy menyerahkan jaket tebal berwarna biru muda.
“Bagus banget jaket nya, Cin” Dayat berdecak kagum pada jaket yang dipinjamkan Cindy padanya.
“Iya, punya tetangga kasih, dia baru pulang dari Itali kemarin.”
“Eh tapi nggak apa-apa nih ?” Tanya Dayat tak enak, pasalnya jaket tersebut masih baru dan juga pasti mahal. Aura kemiskinan Dayat begitu pekat membuat rasa sungkan nya tinggi.
“Udah selow aja, pakai aja dulu.”
“Ok deh, makasih ya Sayang.” Dayat mengecuk puncak kepala Cindy pelan lalu memberikan ciuman singkat 5 detik di bibir pada kekasih nya, kemudian bergegas pulang ke kos nya.
Tanpa mereka sadari, 3 pasang mata dari lantai atas mengintai mereka yang sedang memadu kasih di depan pintu gerbang rumah.
Saat Cindy membuka pintu kamar nya, pintu kamar disebelah nya pun ikut terbuka, keluarlah Fahri dari sana bersama Rahmat dan Akbar. Fahri adalah kakak lelaki nya, sedangkan kedua lelaki lain adalah anak tetangga mereka, alias adik nya Ikram.
“Bagus ya, udah lancang sekarang.” Ujar Fahri sinis sambil menatap Cindy tajam. Cindy mengerutkan dahi saat Fahri berkata demikian, Ia tidak mengerti arah pembicaraan Fahri.
“Maksud Mas apa ?”
“Lo ciuman didepan rumah, Ck.” Sentak Fahri tanpa mau berbasa-basi. “Lo mau buat malu mama papah, hah ?” Tambah Fahri lagi.
“Mas kok rese sih.” Dumel Cindy.
Rahmat dan Akbar menaikkan alisnya melihat tingkah Cindy, baru kali ini gadis berambut sebahu itu terkesan menjawab bukan nya manut aja.
“Lo emang nggak tahu diri ya.” hardik Fahri tegas. “Lo adek gue, jangan lupa.”
“Mas, dia itu pacar aku, dia nggak pernah macam-macam kok. ”
“Heh ?” Fahri mendorong Cindy di bahu pelan namun tetap saja gadis itu mundur 2 langkah. “Aku nggak suka adik aku di sentuh-sentuh cowok lain.” Sinis Fahri lagi.
“Kenapa mas gitu ?”
“Suka-suka mas lah. Mas posesif, kamu masih adik mas. Cuma mas yang boleh sayang sama kamu. Cium-cium kamu, peluk kamu. Nggak lelaki di luar sana.”
“Mas nggak suka. Nggak suka.” Ujar Fahri penuh penekanan. “Kalau di depan rumah dia bisa selancang itu, siapa yang bisa jamin kalo di tempat lain kamu bakal nggak di apa-apain ?”
Perkataan Fahri barusan membuat Cindy berpikir lebih jauh.
Benar.
Selama ini memang Dayat tidak pernah menyentuhnya lebih, lelaki itu bahkan berani mengajak nya berciuman setelah mereka sama-sama masuk dalam dunia kerja, saat masih di bangku kuliah setahun yang lalu lelaki itu sangat menghormati nya padahal. Bukan dalam artian dia juga tidak senang di cium oleh Dayat, hanya saja ada satu hal berubah disini.
“Iya nggak lagi. Maafin, Cindy.”
Fahri mendesah lega saat Cindy tidak lagi membantah, Ia membawa adiknya itu dalam dekapan nya sambil mengusap lembut kepala adiknya itu. Rahmat menyentil pelan bahu Cindy sambil tersenyum kaku.
“Nakal.” Lontar Akbar lalu ikut menyentil pelan jidat Cindy.
“Ih, sakit !” keluhnya sambil mengusapkan jidatnya. Akbar hanya memeletkan lidahnya pada gadis itu.
Suara klakson mobil menganggu pendengaran Rahmat, lelaki berambut cepak itu langsung bergegas mengecek siapa yang datang, seperti nya mobil yang sampai di perkarangan rumah mereka adalah mobilnya Ikram.
“Along pulang ke rumah. Balik yu, Dek !” ajak Rahmat pada Akbar. Ikram ingin berdiskusi dengan para saudara nya maka dari itu Ikram pulang malam ini walaupun jatahnya adalah besok malam.
“Gue nginap tempat lo aja dah, Mad.” Ujar Fahri kemudian lalu masuk dalam kamarnya untuk membawa selimut ke rumah Rahmat.
Antara kedua keluarga ini, Ikram adalah anak tertua yang biasa mereka panggil Along atau Bang Am, Rahmat dan Fahri seangkatan yang berarti mereka berumur 30 tahun, dan Akbar, Cindy adalah seumuran. Mereka berdua biasa nya dipanggil adik didalam keluarga nya.
Cindy memandang iri kearah 3 lelaki yang baru saja beranjak turun dan ke rumah sebelah kanan dari rumah nya, ini adalah momen yang paling tidak Ia sukai dimana para lelaki itu bisa tidur sekamar dan nongkrong bareng sampai tengah malam begitu. Cindy hanya punya tetangga perempuan satu orang, Kania namanya, namun sayang nya gadis itu sedang bersekolah di Australia dari SMA, hingga meninggalkan dirinya seorang di komplek perumahan mereka dan dia tidak punya tetangga untuk dijadikan teman kompak lagi.
Komplek rumah mereka berada di paling ujung dan terdalam, dimana hanya terdapat 6 rumah se-blok nya. Letak nya adalah 3 rumah yang berhadapan. Barisan paling kiri terdapat rumah Kania, lalu rumah Cindy dan rumah Ikram paling ujung penghabisan. Sedangkan barisan kanan nya adalah rumah para orang tua yang sudah berumur dan hanya tinggal berdua saja, sedangkan anak-anak pada sudah dewasa dan berpindah.
“Dek kunci pintu nya yah.” Dewi memberitahu Cindy yang masih berdiri di pintu kamar yang meratapi kepergian ketiga lelaki barusan.
“Mah, malas ah.” Ujar nya kesal lalu masuk ke kamarnya.