3

2054 Kata
Ikram adalah anak tertua di rumahnya dan sangat di hormati setelah kedua orangtua nya. Ikram dikenal dengan tipe anak yang family man namun sedikitnya punya sifat keras dan tegas, jangan lupakan mandiri yang memang melekat erat pada jati dirinya. Masa SMA Ikram Ia habiskan di luar rumah, tepatnya barak kerja dan bengkel. Ya, Ikram sudah keluar dari rumah sejak masuk SMA dan hidup dengan kerja sampingan sebagai kuli bengkel. Karir bengkel nya dimulai dari situ hingga Ia menjadi orang yang berkonsentrasi di bidang mesin. Saat dirinya sudah masuk ke bangku kuliah dan alasan yang membuat Ikram keluar dari rumah selesai sedikit, yang bermakna bahwa suasana sudah cukup memumpuni untuk Ia kembali, Ikram hanya kembali ke rumah sesuai dengan jadwal nya, tepatnya Ia akan menginap pada malam Selasa, malam Sabtu dan malam Minggu. Kalau siang hari Ia bisa pulang kapan saja, apalagi Ia adalah tipe anak yang suka masakan ibu nya. “Along jangan egois dong.” Ujar Rahmat pada Ikram. Akbar dan Fahri pun menyetujui perkataan Rahmat. “Rahmat udah ngomong sama Abi nya Sienna, kalau bisa tahun depan Angah udah masukin lamaran.” Angah adalah panggilan kecil untuk Rahmat yang berposisi sebagai anak tengah. “Ngah, gue juga nggak tahu kalau kayak gini.” Balas Ikram kemudian. “Bukannya gue mau egois nerusin semua pekerjaan gue tanpa mikirin nasib elo kedepan, Akbar udah aman dia nih.” Aman nya Akbar adalah karena diam-diam adik bungsunya itu telah menikah. Itu hanya menjadi rahasia diantara mereka saja. Tidak ada yang berani speak-up, yah karena memang bini Akbar pun tidak diketahui keberedaanya. Peraturan yang ditetapkan oleh ibunya adalah tidak boleh melangkahi yang lebih tua dalam masalah menikah. Sialnya adalah Ikram yang belum mau menikah dan Kayana bersikeras memintanya menikah tahun ini. Apalagi Rahmat tahun depan harus masuk lamaran untuk pacarnya, harusnya dari tahun ini Ikram harus menikah. “Along nikah adalah solusi nya.” Celetuk Fahri sambil tersenyum penuh arti. “Sekretaris gue boleh kok sama lo Bang.” Tambah Fahri lagi. Mendengar kata sekretaris dari mulut Fahri membuat mereka semua tertawa, bukan apa ya, sekretaris Fahri itu adalah janda 2 anak dan super judes. “Sialan lo.” Maki Ikram pada Fahri. “Tapi benar deh Long, kalau tahun ini Along nggak nikah, Angah nggak bisa lamaran dong entar.” Argu Akbar sambil meletakkan kepalanya adalam pangkuan Fahri. “Sono dah, elah.” Fahri menyingkirkan kepala Akbar dengan jijik, pasalnya Akbar itu sudah dewasa tapi sangat hobi nempel sana, nempel sini dengan mereka. “Gue bukan egois, Ngah. Tapi lo kan tau gue nggak punya calon buat nikah. Automatis. . . .” “No…no…no” potong Akbar keras. “Papi udah pernah bawa calon, Along yang nggak mau.” Akbar sengaja memotong pembelaan Ikram dengan fakta yang itu, walau bagaimana pun Ikram patut nya memang menikah, umur nya sudah tidak lagi muda dan saat nya melepas masa lajang nya. “Kak Syarifah cantik loh Long.” Bela Rahmat. Wanita itu adalah Syarifah Meidina, gadis Melayu anak teman papi nya. Wanita itu punya tutur kata yang lembut, wajah cantik dan juga pendidikan yang tinggi, hanya saja belum bertemu jodohnya di umur nya yang sudah berkepala tiga. “Dia hampir seumuran sama gue, kalau diumur dia yang udah berkepala tiga di belum menikah, berarti ada yang salah sama dia.” Penjelasan Ikram membungkam perkataan 3 lelaki di depan nya itu. “Nggak boleh su’uzon dong, Bang.” Sergah Fahri cepat. “Yeee, ngaco aja lo.” Decak Rahmat. “Tapi bukan artinya kita harus stuck sama Syarifah mulu kan ? Gue benar-benar nggak mau sama dia.” Ikram lagi-lagi angkat bicara. Baru saja mereka semua mau membantah perkataan Ikram, suara gedoran pintu terdengar. TOK. . .TOK. . . TOK. . .! BUMM.. . . BUUM. . .! Ketukan pintu yang menggebu-gebu disertai tendangan brutal di pintu diluar membuat diskusi mereka terhenti. “Udah malam, Tiduuur. Jangan ribut lagi.” Marah Kayana dari luar kamar. “Mami siram air nih ya kalau masih belum tidur. Udah jam 2 malam masih aja ngerocos.” Cecar Kayana lagi. Mereka tidak berani menjawab Kayana tapi menahan kekehan mereka sambil menutup mulut nya. Mendengar suara tapak kaki Kayana yang menjauh baru lah mereka melepaskan sedikit suara mereka untuk ngakak. Hal ini bukan sekali terjadi, sering bahkan hampir selalu terjadi saat malam diskusi berlangsung. Dari pada Kayana, Dewi Ibu Fahri dan Cindy lebih galak lagi dari Kayana. Maklum saja, Dewi adalah perawakan nyata dari ibu-ibu Medan yang galak dan tegas. Jika saja mereka saat ini berada di rumah Fahri untuk berdiskusi sampai tengah malam begini, mereka yakin telinga mereka sudah merah-merah karena dijewer oleh Dewi dan punya potensi untuk dimandikan lagi. Wajar kalau kedua ibu-ibu itu marah dan meradang dengan sikap ke-4 lelaki dewasa yang keras kepala dan nakal nya minta ampun. Tidak peduli apa, suara keributan memang menjadi senjata mereka untuk mengundang kedua ibu-ibu itu naik pitam. “Tidur tidur !” teriak Akbar heboh lalu terkekeh. Mereka semua bersiap-siap sebelum tidur. Seperti biasa, cuci kaki, cuci tangan, sikat gigi, cuci muka dan get bed. [***] Pagi hari setelah solat subuh, Ikram keluar rumah untuk jogging, kali ini adik bontot nya yang menemani Ikram mencari keringat. Rahmat dan Fahri yang notabe nya adalah direktur perusahaan tidak bisa ikut bergabung dengan mereka berdua karena di penuhi jadwal meeting. Ikram dan Akbar sudah putar taman sebanyak 3 kali putar dan rasa nya sudah cukup untuk sesi pagi ini. Akbar mengajak kakak nya itu untuk sarapan bubur ayam di pintu gerbang komplek perumahan mereka. “Gimana beasiswa kamu ?” tanya Ikram pada Akbar sedang mengaduk bubur nya. “Yang California belum gol, tapi nggak tau deh yang Itali.” Sahut Akbar kalem. “Kok bisa nggak gol yang California ?” Ikram adalah tipe kakak penyayang dan sanagt men-support adik-adik nya untuk melanjutkan pendidikan. Ia mau adik-adik nya lebih hebat dari nya yang hanya selesai sampai strata 1 saja. Bukan Ia tidak mau untuk melanjutkan sekolahnya lagi, namun Ia sudah sibuk dengan bisnis bengkel dan doorsmer yang sudah dirintis nya. “Nggak tahu juga tuh, tapi nggak apa-apa sih.” Akbar tampak tidak sama sekali merasa nyesal atau sedih saat membicarakan dirinya yang ditolak oleh California itu. “Cindy juga ditolak kok.” “Cindy juga ngelamar ?” “Iya, yang di Eropa dia lamar ke Inggis.” “Oh ya ? Kok nggak samaan aja ?” “Adek mau bareng-bareng sama Riski dan Fajar.” Ungkapnya. Kedua nama yang Akbar sebut tadi itu adalah sahabat Akbar yang sering banget main ke rumah dan juga membuat rusuh Kayana. “Semoga yang itu gol deh.” Cicit Ikram pelan lalu meletakkan mangkuk bubur nya yang sudah kosong dibawah kursi. “Istri kamu gimana ?” tanya Ikram pada Akbar. Sebuah rahasia yang hanya Ikram, Rahmat, Fahri dan asisten Ikram yang tahu. Akbar sudah menikah diam-diam karena sebuah inseden. “Belum dapat kabar nya Long. Aku udah pasrah. Nggak tau cari kemana.” Istri Akbar kabur dari rumah dan belum lagi tercium dimana posisi nya. Menghelas nafas kasar mereka memutuskan menutup pembicaraan. Mereka pulang ke rumah bersamaan dan mendapati Kayana dan Hamis sedang duduk santai sambil ngeteh. “Papih nggak ngantor ?” tanya Akbar sambil menempatkan b****g nya disamping Kayana, sedangkan Ikram hanya melirik sekilas lalu naik ke lantai 2 untuk mandi. Dia sedang malas berlama-lama dengan kedua orangtuanya, pembahasannya nikah mulu. “Nggak, lagi mau main sama Mami.” “Mau kemana nih ?” tanya Akbar kepo, tumben orangtua nya nggak bilang-bilang kalua mau main. Main disini berarti adalah nge-trip. “Malaysia. Mau jenguk Dady nya Syarifah sakit.” Sahut Hamis santai. Akbar tersenyum penuh arti mendengar nama Syarifah dimulut papi nya. Pasti kunjungan ini punya niat terselumbung. “Masih aja nih mau ngejodohin Along sama Kak Syarifah, Pih ?” tanya Akbar sumringah. “Ya dong.” Hamis menjawab semangat. “Along kamu kalau nggak di jodohin, ngebangke terus nanti dia.” “Ish, mulutnya.” Kayana melemparkan bantal sofa kearah Hamis yang berbicara sembarangan. “Ya terus anak kamu tuh, nggak nikah-nikah udah tua.” Sungguh Hamis sewot. “Heran Papih.” Akbar ngakak lebar mendengar omongan orangtua nya itu. Mereka makin terlihat saling mesra satu sama lain jika sedang bercanda begitu walau sudah berumur banyak. Dulu, saat Akbar kecil masih, mungkin saat itu Ia masih bocah playgroup, rumah tangga orangtua nya pernah berguncang hebat. Salah satu efeknya adalah Ikram yang keluar dari rumah saat itu, kakak lelaki nya itu memilih pergi dari rumah karena membenci sosok ayah nya yang tega mengkhianati ibu nya. Saat itu, Hamis terpincut cinta sesaat dengan seorang wanita muda yang bekerja sebagai sekretaris Hamis di kantor. Pertengkaran tidak bisa dielakkan, hampir setiap hari mereka beradu argument hingga saat Ikram pergi dari rumah, Rahmat yang memilih mengungsi dirumah Fahri, dan Akbar yang takut pada Hamis dan itu membuat lelaki tiga orang anak itu sadar kembali, bahwa kabahagiaan nya hanya terletak pada anak-anak nya dan mempunyai Kayana dalam hidupnya itu lebih dari cukup, dia sakit melihat anak-anak nya menjauhinya. Saat itulah, Hamis ingin merangkul kembali keluarga kecilnya. Namun, sayang nya hanya 2 anak yang kembali ke pelukan nya, Hamis sudah tidak bisa memeluk Ikram dengan leluasa lagi saat itu. Ikram sudah cukup dewasa pada masa itu, tidak bisa dengan mudahnya memaafkan kesalahan yang Hamis buat, apalagi Hamis menjadi alasan  ibu nya terus menangis saat itu, Ikram sudah menanamkan kebencian yang besar untuk ayah nya. Keadaan kembali terkontrol saat Ikram sudah berada di bangku terakhir kuliah, saat itu Ia sudah semester 7. Pertama kali Ia merayakan Idul Fitri dengan keluarga besar nya lagi setelah mangkir dari rumah selama 7 tahun. Saat itu Ikram sudah mau berbicara lagi dengan Hamis, meski hanya sepatah dua kata namun itu cukup melegakan apalagi setelah itu, Ikram memberikan maafnya pada Hamis setelah dibujuk oleh Kayana yang hampir menangis saat itu. “Mami mau kemana udah sama koper segala ?” tanya Ikram saat Ia turun ke lantai bawah dan menemukan koper pink milik ibu nya terdampar di dekat sofa. Ikram sudah selesai mandi dan sudah akan berangkat ke bengkel nya. Hari ini dia mengenakan kaos longgar putih selutut pedek lengan, dipadu dengan jaket hoodie warna mustard, celana hitam panjang dan juga sandal berbulu warna pink milik Cindy yang tertinggal di lantai atas rumahnya. Ia akan membawa sandal lucu itu ke bengkel nya, mau dijadikan sandal ruangan. “Mau ke Malaysia nih. Am mau ikut nak ?” tanya Kayana lembut sambil mengusap sambut gondrong anak nya itu. “Nggak deh mi, Am mau ke Surabaya besok.” “Pasti mau ngecek bengkel kamu kan ?” tuding Kayana sambil menatap Ikram tajam. “Mami tau aja.” Sahut Ikram cengengesan. Walaupun belum mendapat ACC dari Kayana, Ikram terus melanjutkan pembangunan bangkel nya disana. Terserah deh kapan akan launching. “Oh boleh.” Sahut Kayana dengan senyum lebar penuh arti. “Tapi nanti pas Syarifah datang dari Malaysia kesini, kamu harus mau tunangan sama dia.” Ikram menggeleng tak setuju. “Nggak ish, mami mah.” Rajuk Ikram sambil berdecak kesal. “Mau dong, Sayang. Kamu udah 34th loh nak.” Bujuk Kayana sambil mempuk-puk punggu tegap Ikram, posisi lelaki dewasa itu sekarang sedang memeluk manja ibunya. “Nggak dulu deh ma, apalagi sama Syarifah.” Tolak Ikram sambil meringis tak enak. “Apa yang salah dengan Syarifah, Am ? Dia cantik, baik juga.” Kali ini Hamis yang berargumen. Ikram memutar mata nya malas. “Jangan yang papi pilihin.” Balas Ikram tegas. Ia bangkit dari posisi nya kemudian Ia mengecup Kayana di kedua pipi nya lalu kening nya, tak lupa Ia juga menyalim Hamis dengan sopan. Walaupun Ia sedikit ketus dengan ayah nya itu, tapi Ia tetap menyalami nya saat bepergian. Kebiasaan nya yang mood-mood-tan kalau ada Hamish disamping memancing nya untuk pergi. Sebenarnya, alasan Ikram menolak Syarifah adalah karena memang dirinya tidak tertarik pada wanita itu, dia tidak terlalu peduli tentang anak nya yang cantik atau lain nya, hanya tidak bisa menyukai nya itu saja. Saat Hamis datang untuk memaksa nya, lagi dan lagi, maka bertambahlah alasan Ikram untuk menolak wanita itu. “Yah yah, nggak seru ih.” Rajuk Akbar saat dirinya hanya mendengar sekilas omongan Ikram dengan papi nya, hanya terdengar bahwa Ikram yang menolak Syarifah. “Telat sih.” Ejek Kayana pada Akbar. Lelaki mudah 23th itu hanya berdecak sebal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN