Pagi-pagi, kediaman keluarga Mubarik sudah kacau dengan teriakan nyaring dari istri nya, Dewi. Anak gadis nya yang berumur 23th sudah jam 7 belum juga bangun.
“Cindy, bangun nak !” sudah sekian kali Dewi meneriaki Cindy untuk bangun tapi belum ada tanda-tanda gadis itu terjaga juga. Dewi yang sedang sibuk di dapur terpaksa harus naik ke lantai dua untuk membangunkan anak nya itu.
“Nak, bangun nak !” Dewi menepuk-nepuk pipi Cindy pelan. “Sudah jam berapa ini ? Telat nanti lho.” Dewi mengerasakan suara nya agar anak nya itu bangun.
“Duh, Mah. Bentaran lagi loh. Cindy tadi tidur jam 3 pagi loh mah.” Seperti gadis muda lain nya, ada saat nya meraton nonton drama Korea.
“Astaghfirullah, emang ngapain kamu ?!” tanya nya tak habis pikir. “Udah jam 7 ini loh.” Peringat Dewi sekian kali.
“Udah bolos aja deh.”
“Bolos, bolos hotak mu.” Maki Dewi sewot dengan logat Medan. “Katanya hari ini mau sambut Boss baru. Gimana sih.”
Mendengar kata boss baru membuat konsentrasi Cindy tidur terusik. “Aah, GILA !” teriaknya keras langsung bangkit dari ranjang nya.
“Maa, adek telat nih.” Pekik nya panik sambil berlalu ke kamar mandi.
“Maka nya mama bilangin juga apa. Udah cepat siap-siap. Nanti mama bilang sama Akbar, suruh nebengin kamu.”
Biasa nya Cindy akan berangkat ke kantor menggunakan mobilnya jika Ia datang sesuai jadwal pagi, maka Ia tidak akan terjebak macet. Nah, kalau kesiangan begini, hanya Akbar dan motor matic nya itu yang bisa menolong.
“OK MAH, MAKASIH.” Teriak nya dari dalam kamar mandi.
[****]
“Duh lelet banget sih lo.” Ujar Cindy tak sabaran di atas boncengan motor matic Akbar.
“Elah, ditumpangin gratis malah kebanyakan bacot lo dah!” balas Akbar tak kalah sewot.
Cindy sudah tidak peduli lagi dengan rambutnya yang akan berantakan nanti karena tekena angin, beruntung nya Ia adalah rambutnya hanya sampai sebahu dan Ia membawa sisir dalam tas kecilnya.
“Gue jadi ngeri nih kalo telat.” Curhat nya pada Akbar sambil menumpukan dagunya di bahu Akbar.
“Paling-palingan juga dimaki.” Sahut Akbar kalem tapi sirat akan ejekan.
“Ih, ngeselin lo.”
Perjalanan dari rumah Cindy ke kantor akhirnya usai. Mereka sudah sampai namun sepertinya belum di mulai karena ada beberapa karyawan yang baru saja kembali dari warung sebelah untuk sarapan. Cindy mengarahkan kaca spion motor Akbar kearah nya guna melihat tatanan rambut dan make up hari ini.
“Duh berantakan rambut gue.” Ujar nya sambil memberikan helm yang dipakainya pada Akbar.
Tangan Akbar menggapai rambut Cindy dan menyisirnya pelan dengan jari-jari nya. “Udah, nggak apa-apa. Masuk sana ! Nyisir lagi di toilet.”
“Ok deh, makasih ya Bar !”
“Eh, jajan ada Cin ?”
Ini adalah hal yang selalu mereka lakukan untuk Cindy, walaupun terkadang usil tapi memastikan adik kecil mereka satu-satu nya ini tidak kekurangan apapun adalah tanggung jawab mereka ber-empat. Akbar mungkin bukan seorang direktur seperti Fahri dan Rahmat, bukan juga pebisnis hebat seperti Ikram, tapi dirinya punya banyak uang dari hasil investasi dan pekerjaan kecil-kecilnya. Yah sama seperti Cindy, dirinya juga merupakan karyawan perusahaan.
“Bagi dong.” Ujar Cindy sambil menadahkan tangan nya dengan cengiran lebar. Akbar mengambil dompet nya dari saku belakangn dan mengeluarkan lima lembar uang merah-merah terang untuk nya.
“Makasih, Babang!” ujar nya riang. Cindy menyalim tangan Akbar lalu beranjak masuk ke dalam kantor nya.
Cindy dan Akbar jelas tidak menyadari bahwa dari tadi ada orang yang memperhatikan interaksi mereka berdua. Tatapan nya menajam dan dingin.
[***]
Semua karyawan dan juga unit pekerja di Mahesa Inc. sudah berkumpul di lobi untuk meyambut bos baru mereka hari ini. Desas-desus tentang siapa yang akan menggantikan Pak Haikal, bos lama sudah terdengar riuh dari tadi. Sepertinya, menggosip merupakan salah satu kebutuhan bagi umat manusia.
“Lo kok Cuma pakai lipstick doang sih ?” gerutu Anna pada Cindy.
“Emang kenapa ?” tanya nya polos. Biasanya juga begitu pikirnya. Kulitnya sudah putih dan bulu matanya juga panjang, jadi dia hanya perlu memakai bedak tabur dan juga lipstick saja untuk mendukung standard kerapian, tidak perlu mascara, foundation dan juga eyeshadow seperti yang lain karena memang wajahnya tidak membutuhkan itu. Kadang Ia memakai blush on dan sesekali melukis alis, namun apa daya, hari ini serba kepepet. Hampir saja Ia telat masuk kantor.
“Dandan kek dikit.” Kata Anna lagi. “Malah pakai celana panjang lagi, semua karyawati Makai rok sepan pendek seksi tau !”
“Lho lho !” heran Cindy. “Ya nggak masalah dong nggak samaan.”
“Emang nggak peka lo.” Cibir Anna pada nya. Cindy terkekeh geli melihat tingkah gadis disamping nya itu.
“Kita itu mau narik perhatian nya si bos baru. Masih muda tau.” Cecar Tika yang juga mendengar omongan Cindy dan Anna barusan.
“Gue udah punya pacar, sorry !” sahut Cindy kalem.
“Gue malah udah punya suami !” sambar Kak Wina yang ikut nimbrung di obrolan kami. “Gue tetap aja tuh mau tampil maksimal di depan bos baru. Mau tau dia mau sama emak-emak kaya gue. Kan lumayan tuh, pasti tajir gila.” Mereka semua tertawa lebar mendengar omongan Kak Wina. Sengklek semua emang otak karyawati disini.
Tiba-tiba suara gaduh karyawan menjadi sengap dan semua mata terfokus ke depan. Disana ada pak Haikal si bos lama, Pak Oman sekretaris nya dan beberapa orang yang jelas saja tidak ada yang tau siapa. Namun, ada yang mencolok di rombongan itu. Lelaki tampan dengan badan tinggi tegap berdiri disana.
“Selamat pagi semua !” sapa pak Haikal pada kami semua. Serempak saja kami membalas sapaan nya dengan riang.
“Pagi juga, Pak !”
“Seperti yang sudah lama terdengar bahwa saya akan pensiun dan posisi saya akan digantikan oleh bos yang baru, hari ini kita kedatan gan orang tersebut yang akan mengantikan saya.” Ujar nya mantap.
“Saya minta maaf jika selama ini saya banyak berbuat salah sama kalian, semoga saya mendapat ampun dari tuhan dan maaf dari kalian jika pernah menyakiti hati kalian semua. Saya sedih harus meninggalkan kalian, tapi keadaan saya yang tidak lagi muda membuat saya juga harus berhenti.” Tambah Pak Haikal membuat kami semua haru. Jujur, selama aku menjadi karyawan di Mahesa Inc. ini, tak pernah sekalipun terdengar desas-desus jika bos nya itu bisa berubah menjadi garang jika kami berbuat salah.
“Terimakasih semua dan kini saya persilahkan bos baru kalian untuk memperkenalkan diri.” Pak Haikal mundur selangkah, lalu pria tampan yang diduga sebagai bos baru itu maju dua langkah ke depan.
“Selamat pagi semua.”
“Pagi !” suara para wanita lah yang paling besar dan terdengar sangat riang. Cindy tak kuasa untuk menahan memutar mata nya malas. Ia merasa mereka terlalu lebay.
“Saya Dirandra Mahesa, Saya akan menggantikan Pak Haikal untuk kedepan nya.” Ujar nya lalu melayangkan senyuman lebar yang mampu membuat karyawati histeris.
“Mohon kerjasama nya.”
Sesi pengenalan sang bos baru berakhir dengan riang bagi karyawati karena mereka merasa bisa cuci mata dengan ada nya bos baru yang super duper husband-material banget.
Mungkin hanya Cindy yang tidak terlalu tertarik dengan bos baru nya, walau Ia tidak menampik kenyataan bahwa lelaki itu sangat tampan. Ia telah jatuh cinta sedalam-dalam nya pada Dayat, kekasih nya jadi Ia tidak punya waktu untuk beralih kepada yang lain.
[***]
Entah angin apa yang membuat si Bos baru berbaik hati pada seluruh karyawan nya hari ini. Ia memberi ijin semua karyawan agar bisa pulang setelah salat Dzuhur. Cindy memekik senang karena bisa pulang cepat di hari kerja, biasa nya Ia akan sampai ke rumah paling cepat yaitu jam 5 sore.
Rahmat masuk ke kamar Cindy, gadis muda itu masih saja tertidur padahal sudah sangat sore, bahkan satu jam lagi menuju waktu maghrib.
“WOOIIII. . . .!” teriak Rahmat iseng di telingat Cindy. Sontak saja gadis itu terkejut dan reflek bangun dari tidur nya.
“Isssshh. . . .Angah usil banget !” rengek nya sebal atas tindakan Rahmat.
“Yuk, bangun. Solat dulu.” Ajak Rahmat pada gadis itu.
“Libur.” Rahmat mengangguk paham.
“Temenin gue ke kondangan yuk.”
“Nggak mau !” tolak Cindy cemberut. “Orang masih ngantuk kok di ajak-ajak.”
“Ayo lah. Males nih pergi sendirian.”
“Ajak Kak Sienna aja.”
“Ini mah kondangan Abang nya Sienna. Dia udah pasti disana lah.”
“Ih, malas ah. Orang mau tidur lagi.”
“Nanti boleh minta apa aja, Angah turutin.” Rayu Rahmat pada Cindy. Gadis itu tidak serta merta menerima ajakan Rahmat, tapi juga memikirkan segala pertimbangan.
“Mau nggak ? Jarang-jarang nih ada penawaran gini.”
“Yaudah mau. Tapi janji, nanti boleh minta apa aja.”
“Iya iya, janji dah.” Rahmat menautkan kelingking nya pada tangan kecil Cindy. “Mandi sono, jangan kelamaan dandan. Gue tunggu di mobil.”
“Iya iya, bawel ah.”
Beberapa jam berlalu, Rahmat dan Cindy sudah menikmati pesta pernikahan Kakak nya Sienna, Abisha. Lelaki itu menikah tahun ini dan meminta Rahmat agar menikahi adik perempuan nya tahun depan. Sebenarnya, Rahmat mau saja menjawab ‘InsyaAllah, siap, tahun depan’ tapi lagi-lagi mengingat status Ikram yang masih melajang dan membuatnya tidak bisa dengan mulus meminang Sienna sebelum Along nya itu berumah tangga. Mau tak mau, Rahmat hanya cengengesan saja.
“Na, kamu mau nggak tungguin Along menikah dulu, baru setelah itu kita yang menikah ?” tanya Rahmat pada gadis berjilbab ungu pastel itu. Sienna tersenyum lembut menanggapi Rahmat.
“Iya Pak. Saya mau kok.” Rahmat tersenyum bahagia walaupun sedikit miris.
Cindy terbahak keras mendengar panggilan Sienna pada Rahmat. Dulu nya mereka adalah anak magang dan bos, maka nya Sienna masih suka kaku saja saat memanggil Rahmat.
“Pak-pak Bapak !” ejek Cindy tengil.
“Maaf, Pak. Aku nggak terbiasa loh.”
“Makanya di biasain lah, Sayang.” Rajuk Rahmat. “Ini bocah selalu ngejekin gue.” Geram Rahmat pada Cindy lalu mengusap lembut kepala Cindy yang tertutup hijab hijau lumut.
“Cindy ambil makanan dulu, Ok !” pamitnya meninggalkan kedua sejoli itu yang sedang bermadu kasih.
Ia sangat senang datang kepesta Abisha malam ini, dia bisa menemukan banyak wanita – wanita memakai hijab disekitar nya dan itu membuatnya tidak insecure. Jujur saja, Cindy sangat jarang menggunakan hijab, Ia merasa lucu, tidak nyaman oleh pandangan orang lain yang biasa melihatnya melepas penutup kepala. Tapi, dipesta kali ini semua nya tampak normal, apa lagi keluarga Sienna hampir rata-rata memakai tudung kepala.
“Kak, aku cocok nggak sih pakai ginian ?” tanya Cindy setelah sampai kembali di tempat duduknya, Ia mengambil banyak makanan manis dari sana.
“Cantik. Kakak nggak nyangka kamu malah makai hijab malam ini.” Senyum Sienna lebar dengan tulusnya.
“Elaah, ini mah nggak di paksa mamah tadi juga ogah ini anak.” Cicit Rahmat pada Cindy.
“Yeee. . . . suka-suka dong.” Balas nya sewot.
Kedekatan Cindy dan Rahmat menjadi pantauan sepasang mata dari jauh sana, apalagi saat Cindy menyuapkan lelaki itu bolu, membuat pemilik mata itu bengis dan menahan amarahnya yang siap tumpah.
Sudah jam 10 malam, saatnya mereka berpamitan. Besok hari masih banyak hal yang harus dilakukan jadi butuh banyak energy yang disiapkan di malam hari.
Perjalanan pulang terasa lenggang, mulus-mulus saja, tidak macet seperti biasanya. Entah ide dari mana, Cindy meminta Rahmat membelikan martabak untuk di bawa ke kost milik pacarnya, Dayat. Lelaki yang dipacari Cindy itu adalah maniak martabak dan menurutnya tidak salah kalau sekali-kali Ia memberi kejutan untuk lelaki itu.
“Ini kos nya campur ?” tanya Rahmat begitu mereka memarkirkan mobil diluar gerbang kosan Dayat.
‘”Iya, yang ngekos nya udah pada gede-gede semua kok.” Balas Cindy santai. Rahmat tersenyum aneh mendengar penuturan Cindy.
Makin gede orang nya, malah makin bahaya sebenernya.
“Nih nggak lama kan ?” tanya Rahmat kurang nyaman. Masalahnya dari balkon atas kosan itu ada beberapa cewek yang menatap nya lapar, apalagi mereka memakai baju yang terbuka.
“Iya, masuk yuk, sekalian mau ngenelin Angah sama Dayat.”
Cindy masuk ke dalam lingkungan kosan Dayat dengan senyum mengembang, sudah semenjak seminggu lalu pacarnya itu kembali dari Bali namun masih saja sibuk hingga mereka tidak bisa bertemu. Dan entah kenapa firasatnya bahwa saat ini Dayat pasti sudah kelar kerja dan berada di kosan nya.
Cindy melihat dari jalusi bahwa kamarnya gelap, berarti lelaki itu tidak ada disana. Namun, sepatunya ada. Apa lelaki itu sudah tidur, tanya Cindy pada dirinya sendiri.
Cindy mengambil kunci serap kosan Dayat dalam tas nya lalu membuka pintunya hati-hati, takut Dayat terbangun. Biar saja martabaknya Ia taruh di kulkas nanti dan besok pagi bisa dimakan.
KLETAK.
Hening. Cindy terdiam lama menatap nanar keadaan kamar Dayat. Berantakan. Sangat.
“b******k !” Maki Rahmat begitu tahu apa yang terjadi di dalam kamar itu. Ada lelaki dan perempuan disana sedang berselimut tanpa baju. Dalaman mereka bahkan tercecer di lantai bawah, siapapun akan paham apa yang lelaki itu lakukan di dalam sana dengan wanita itu.
“Bangun lo !” Rahmat langsung masuk dengan membabi buta ke dalam kamar dan menarik Dayat keras hingga tersungkur ke lantai.
Tidak ada rasa kasihan dari Cindy, Ia merasa mati rasa sekarang. Bahkan sepertinya Ia tidak bisa marasakan jantung masih berdetak.
“Weeei !” teriak Dayat kaget, Ia mencoba memanggil kembali kesadaran nya. Dan crap, Ia menemukan pacarnya disana sedang berdiri mematung dengan tangan memengang kantong kresek di depan pintu dan juga lelaki yang tadi Ia lihat bermesraan dengan kekasih nya.
“Lo nggak berhak marah !” teriak Dayat di muka Rahmat. “Lo selingkuhan Cindy kan ?” tanya Dayat berkeras suara. Rasa nya bukan sekali saja Ia memantau Cindy dan menemukan bahwa kekasih nya itu sering bersama-sama dengan beberapa orang lelaki asing.
“Kau pun lucu !” Rahmat tertawa sinis. “Gue abang nya. Abang nya, Anj*ng !”
“A-apa ?!” bingung Dayat. Lelaki itu mengerutkan kening nya dan berusaha meminta penjelasan.
“Udah lah Yat, gue pikir martabak ini adalah tanda perpisahan kita.” Cindy sekuat tenaga menahan air matanya. Ia masuk dengan tenang, hatinya sakit sekali melihat seorang wanita disana bahkan dengan tidak tahu malu nya malah duduk santai sambil menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
“Bahkan lo nggak repot-repot nanya sama siapa gue pergi, langsung nuduh aja.” Ucap Cindy lagi.
Cindy menaruh martabak yang di bawanya ke dalam kulkas Dayat, lalu Ia bergerak menuju ke nakas dekat lemari lalu mengambil laundrian jaket nya yang Ia pinjamkan ke Dayat beberapa waktu lalu.
“Jangan pernah muncul lagi di depan Cindy.” Peringat Rahmat sambil mendorong kebelakang tubuh telanjang Dayat dengan tak santai.
“Ndy, maafin aku !” mohon Dayat putus asa. Ia merasa sangat bersalah sekarang. Pikiran bodohnya telah menguasai nya hingga menyebabkan orang yang Ia cintai pergi. Entah apa yang merasuki nya berani berbuat nekad tidur dengan wanita lain untuk melampiaskan amarahnya pada Cindy.
“Beri gue waktu.” Balas Cindy serak. Ia tak kuasa menangis di depan Dayat, nanti saat Rahmat membawa nya pulang Ia akan menangis sepuasnya.
Rahmat langsung membawa Cindy pergi dari sana. Melajukan mobilnya kencang meninggalkan seribu kesakitan yang berasal dari sana. Rahmat tak begitu konsentrasi mengendarai mobil karena suara tangisan dari Cindy.
Cindy merasa bodoh sekarang, Ia sudah menangis kejer bahkan sebelum sampai ke rumahnya.
“Selamat datang Ndi, di sesi patah hati.” Ungkap nya pada diri sendiri.
Ini bukan hal yang mudah, babak baru dalam hidup Cindy sudah di mulai.
[****]