Kerusakan 13
.
Suara burung gagak tiba-tiba terdengar di tengah ketegangan yang tercipta. Dengan matanya yang setajam parang, Neuri melirik sedikit ke atas pepohonan, melihat burung-burung hitam yang menyaru hampir sempurna dengan kegelapan.
“My Lord.”
Neuri mengalihkan pandang kepada Loqestilla yang memanggilnya. Rubah merah tersebut berdiri di sampingnya dengan begitu berani sekaligus waspada. Seolah ingin melindungi Neuri dengan segenap jiwanya.
Melihat Loqestilla yang seperti itu, sebenarnya Neuri ingin tertawa. Ternyata, sosok menakutkan yang sering membuatnya bermimpi buruk, tahu juga apa itu hutang budi.
“Miss Loqestilla fokus saja. Jika Anda bisa menyerang mereka, lakukan sesuka hati, saya tidak akan melarang,” ujar Neuri.
“Bahkan jika saya menghabisi mereka?”
“Ya. Bahkan jika Anda menghabisi mereka.”
Loqestilla mengangguk, di bibirnya tersemat senyum kecil yang aneh.
Neuri tidak ambil pusing dengan apa pun yang akan dilakukan Loqestilla. Toh, semua itu demi keselamatan dirinya juga. Masalah barang bukti, dia bisa menyelesaikannya nanti. Yang terpenting adalah sekarang dirinya bisa pulang hidup-hidup. Jika bisa tanpa terluka.
Di sisi lain, Loqestilla yang merasa merdeka karena perintah Neuri, mulai melakukan serangan-serangan yang lebih brutal daripada sebelumnya. Ia tidak segan menebas apa pun yang ada di depannya. Mulai dari pepohonan, semak-semak, hingga sekadar daun yang tidak sengaja jatuh di depan matanya.
Para assassin dari ras elf juga semakin keras mengeluarkan serangan. Puluhan anak panah diarahkan langsung ke tubuh Loqestilla, tetapi semuanya ditangkis dengan kasar dan bersemangat.
Merasa percuma terus menerus hanya berfokus pada Loqestilla, beberapa dari para assassin tersebut mulai membelokkan serangan kepada Neuri.
Sejumlah pisau kecil dengan ujung runcing melesat cepat ke tempat Neuri. Namun, sang Lord Lunadhia mampu menghindarinya meskipun dengan susah payah. Neuri pun berlari untuk menghindari serangan lanjutan, ia bersembunyi di balik pepohonan, berpindah-pindah supaya pisau-pisau terbang tersebut tidak melukai dirinya.
Dalam wujud manusia seperti ini, kemampuan Neuri sudah pasti jauh di bawah para elf. Apalagi, elf yang menyerangnya merupakan pribadi-pribadi terlatih. Dari pakaian yang dikenakan, sudah pasti mereka adalah para assassin. Mereka dapat menggunakan berbagai macam senjata, menyerang di kegelapan seperti ini bahkan menjadi semacam ciri khas. Paling menyebalkan adalah jumlah mereka yang tidak sedikit. Suatu keberuntungan sampai sekarang Neuri masih sehat bugar begini.
Merasakan pergerakan lawan yang seperti terhenti, Neuri mengawasi sekitar lebih waspada. Tubuhnya bersandar pada pohon pinus yang tebal. Ia mengatur napas pelan-pelan, berusaha supaya suara napasnya tidak terdengar.
Sayangnya, saat Neuri hanya memusatkan perhatian pada sisi kanan, kiri dan depan, serangan tiba-tiba datang dari atas. Sebuah bola hitam terjun bebas dari arah yang tidak diduga.
Neuri hampir tidak bisa menghindar, tetapi tubuhnya tiba-tiba dihempas oleh sebuah angin besar yang datang dari samping. Ia terpelanting ke kiri, bola hitam jatuh di tempatnya berdiri tadi dan akhirnya meledak.
Melihat hal itu, Neuri hanya bisa membelalakkan mata. Dia selamat, dia selamat, dengan serangan seperti itu, dia masih selamat.
“Lord Neuri.”
Suara Loqestilla terdengar memanggil dari jauh. Rubah tersebut terlihat masih kesusahan dengan urusannya sendiri, tetapi dengan berani dan rela hati masih menyelamatkan Neuri.
Entah Neuri harus tersentuh dengan perilaku seperti itu, atau menganggap semuanya adalah hal yang wajar mengingat Loqestilla berhutang banyak padanya.
Ah, yang manapun, Neuri tidak mempermasalahkannya. “Saya tidak apa-apa. Fokus pada lawan Anda, Miss Loqestilla.” Tanpa mengucap terima kasih, ia hanya bisa memberi perintah. Dengan susah payah, ia pun akhirnya bisa berdiri.
Namun, serangan datang lagi dan lagi, tidak mengenal istirahat sama sekali. Neuri hanya bisa menghindar dengan berlari ke sana ke mari. Setelah beberapa saat, ia pun bersembunyi di dalam semak tumbuhan merambat, mencoba beristirahat dan mengatur napas.
Percuma, benar-benar percuma. Neuri pikir, jika dia seperti ini terus, tidak akan ada akhirnya. Ia akan tetap dikejar, dan hanya bisa menghindar. Yang dipertaruhkan hanyalah seberapa besar stamina yang tersisa.
Neuri mengintip rembulan yang bersinar tidak sempurna. Ia pun mengepalkan tangan. Dalam hati membatin, mengapa harus ada serangan di saat ia tidak bisa berubah. Jika begini, apa artinya dia meminum darah setiap bulan purnama.
Di persembunyian yang entah akan bertahan sampai kapan, Neuri mengingat-ingat kembali bagaimana dulu dia mendapatkan kekuatan terkutuk itu.
Apa yang harus dilakukannya?
‘Berdoalah pada titisan kegelapan, My Lord. Berdoalah pada Sang Malpas.’
“Sang Malphas?”
Samar-samar, ia mengingat suara seseorang yang menyebutkan satu nama. Sang Malphas. Siapa itu Sang Malphas? Neuri tidak mengingatnya lagi. Sebab, pada malam p*********n di estatnya dulu, ia hanya ingat tentang kekuatan maha dahsyat yang merasuki tubuhnya. Membuatnya terbakar dahaga. Kekuatan itu pula yang berubah menjadi kutukan sampai sekarang.
Mengepalkan tangan, Neuri pun membulatkan tekad. Entah siapa nama yang tiba-tiba terlintas dalam benaknya. Saat ini, ia tidak punya waktu untuk duduk merenung dan menekuri masa lalu.
Menutup mata, Neuri mencoba memanggil nama itu ….
“Sang Malphas.”
Mulut terus merapal, dengan suara yang kecil, berbisik lembut. Pada panggilan ke seratus, Neuri merasakan tangannya bergetar. Ketika ia melepas sarung tangannya, benar saja, ada urat-urat merah yang tampak menyembul. Rambut-rambut halus mulai bermunculan dan menjadi semakin lebat. Kuku jarinya memanjang dan menghitam, mulai berubah menjadi cakar.
Yang membuatnya sedikit aneh adalah kali ini akal sehatnya tidak termakan begitu saja. Ia sepenuhnya sadar, waras dan merdeka. Apa mungkin ia telah bisa mengendalikan kekuatan ini?
Neuri tidak lagi sempat memikirkan apa pun, sebab keberadaannya telah ditemukan. Beberapa anak panah dan senjata-senjata kecil menyerbunya bersamaan. Namun, berkat kekuatan baru yang dia dapatkan, Neuri bisa menghindar dengan lebih mudah. Bahkan pisau-pisau runcing yang tadinya tidak dapat ia tangkap, kini bisa ditangkis tanpa usaha keras.
Dengan berani, Neuri menampakkan diri. Ia mengamati sekitarnya, tetapi para assassin itu tampaknya telah bersembunyi.
Assassin biasanya tidak muncul begitu saja ketika menghadapi lawannya, mereka selalu membunuh dan menyergap dalam diam.
Inilah mengapa, berurusan dengan mereka sangat menyulitkan. Neuri harus lebih jeli dan cerdik.
Pada akhirnya, Neuri pun memejamkan mata, mencoba mengendus satu demi satu aroma darah yang ada di sekitarnya. Benar saja, cara ini ternyata cukup efektif. Ia bisa menebak-nebak di mana lawannya berada.
Karena para assassin itu tidak ada yang mau keluar, maka Neuri yang akan menghampiri. Ia berlari cukup cepat, menerjang sebuah bayangan di balik sebuah pohon. Benar saja, di sana ada seseorang yang bersembunyi.
Mereka pun bertarung cukup sengit, sehingga memicu elf lain untuk memberikan serangan jarak jauh. Neuri tidak ambil pusing, dengan kuku tangannya yang sudah seperti monster, ia pun berhasil menusuk d**a lawannya sampai menembus punggung. Lawannya mati tergeletak tidak berdaya.
Untuk menghindari serangan dari assassin yang bersembunyi, Neuri pun menghindar lagi dan menyembunyikan dirinya kembali di balik pepohonan. Hidungnya mengendus sedikit, memastikan di mana lokasi lawan selanjutnya yang harus dia atasi.
Hingga waktu pun berjalan cukup cepat. Sekitar setengah jam, Neuri berhasil mengalahkan lima orang yang mengejarnya. Mereka semua mati mengenaskan di tangannya.
Saat Neuri melihat ke sekeliling, ia baru sadar bahwa telah terpisah dari Loqestilla cukup jauh. Meskipun ia menganggap bahwa Loqestilla menakutkan, tetapi di situasi yang begini menegangkan, ia pun tetap kepikiran.
Neuri pun mengendus udara, berusaha mencari keberadaan Loqestilla yang sangat ia kenal aromanya. Lagi pula, hanya Loqestilla yang baunya seperti mawar balerina.
Sayangnya, yang dapat Neuri tangkap hanya bau darah para elf. Ia pikir, mungkin karena di dekatnya bergelimpangan mayat-mayat elf dengan d**a berlubang dan darah yang mengalir pekat, sehingga sulit baginya untuk merasakan wangi Loqestilla yang selalu membuatnya mimpi buruk itu.
Neuri pun memutuskan untuk mencari Loqestilla dengan cara yang lebih sederhana. Ia berjalan ke tempat terakhir kali mereka berpisah.
Hanya saja, ketika Neuri akhirnya menemukan atsune betina yang dikhawatirkannya, pemandangan di depannya sangat tidak mengenakkan indera.
Bau darah para elf sangat menyengat, melumuri tubuh Loqestilla seperti tumpahan cat. Mayat-mayat bertumpuk seperti sampah, kering kerontang hingga menyerupai mumi di peti-peti jenazah.
Neuri memandang seseorang di depannya dengan nanar.
Orang itu, Loqestilla Vent, tengah menyesap darah seorang elf yang kejang-kejang dengan sangat serakah. Taringnya runcing dan tajam, kukunya mencabik gemas pada kulit lembut yang mulai mengeriput. Setelah darah di dalam tubuh seorang elf itu habis, Loqestilla melemparkan tubuh tersebut ke tumpukan mayat lainnya yang sudah membukit.
“Miss Loqestilla.”
Bahu Loqestilla sempat tersentak mendengar panggilan tersebut. Namun, ia dengan tenang mengusap noda di sekitar bibirnya menggunakan ujung lengan pakaian. Saat ia berbalik, ia tersenyum seperti putri baik hati di dalam dongeng anak-anak. “Lord Neuri. Di sini sudah selesai,” ujarnya lembut dan sopan.
Neuri hanya mengangguk. Dengan tenggorokan yang seperti tercekik, Neuri memaksakan diri untuk bicara. “Ya. Ayo pulang.”
Loqestilla mengangguk riang.
Di perjalanan pulang, Neuri sama sekali tidak mengatakan apa-apa. Dibanding rasa penasaran mengenai identitas orang yang mengirim assassin, Neuri lebih penasaran dengan identitas makhluk bertelinga rubah yang selalu mengekor patuh di belakangnya.
.
TBC
12 Juni 2020 by Pepperrujak