RED - 12 : Party Party Noisy

1588 Kata
Kerusakan 12 . Sejak pembicaraan terakhir di ruang kerja itu, satu minggu berlalu begitu saja. Entah mengapa Neuri enggan membahasnya lagi, sedangkan Loqestilla juga sepertinya sedang menikmati hari-harinya bersama murid-murid dan warga desa. Bisa dibilang, dalam seminggu ini, semuanya baik-baik saja. Pada hari libur seperti ini pun, Loqestilla dan Neuri menyempatkan diri untuk bermain di desa usai doa bersama di kuil. Warga desa yang ramah dan menyayangi Tuan Tanah, tentu menyambut kehadiran tersebut dengan bahagia. Pesta dadakan digelar, daging dibakar, bir dengan es batu disajikan, anak-anak bermain kejar-kejaran dan berlomba memetik buah beri untuk membuat jus. Seandainya situasi seperti sekarang bisa diabadikan bukan hanya di dalam kanvas, mungkin Neuri memilih tinggal dan hidup seperti ini saja sampai ia meninggal. Melihat warganya tertawa gembira, bersuka cita seolah tidak pernah memikirkan pelik dan rumitnya dunia fana. “Lord Neuri.” Ketika sedang duduk sendiri di kursi dengan pelitur paling bagus di bawah pohon, Neuri sempat tersentak kaget karena tiba-tiba Loqestilla menghampirinya. Ia terlalu banyak melamun, sampai-sampai tidak merasakan kehadiran seseorang yang mendekat ke sampingnya. Lagi pula, salahkan Loqestilla yang datang secara diam-diam dari belakang. “Ini, iga babi bakar. Bibi Ruli yang membuatnya.” Dengan senyum manis seperti biasa, Loqestilla memberikan sepiring iga bakar dengan lumuran saus kacang. Seraya menerima piring iga tersebut, Neuri mengernyitkan dahi. “Bibi Ruli?” tanyanya. “Ibunya Venecia,” jawab Loqestilla cepat. Neuri menghela napas. “Namanya Ruliana, kenapa Anda memanggilnya Ruli. Jadi mana mungkin saya tahu.” Namun, Loqestilla hanya terkekeh. “My Lord. Meskipun kita sudah cukup lama tinggal dalam satu atap, mengapa Anda tetap bicara sesopan itu pada saya?” Dengan ujung matanya, Neuri melirik Loqestilla yang masih berdiri di sampingnya. Ia kemudian mengambil satu iga menggunakan tangan, dan memakannya perlahan. Di tengah kenikmatannya mengunyah daging iga, Neuri berkata, “Karena Anda tamu. Dan jangan menggunakan bahasa seperti ‘tinggal dalam satu atap’ karena orang-orang akan mengira Anda adalah kekasih saya.” Loqestilla terkekeh cukup kencang. Agak tidak mengira bahwa Neuri sepertinya sangat enggan dijodoh-jodohkan dengannya. Bahkan, ketika warga desa menanyakan hubungan antara sang Lord dengan si rubah, Neuri akan menjawab dengan tegas bahwa Loqestilla hanyalah tamu dan seseorang yang dipekerjakan sebagai guru. Neuri tidak segan memarahi siapa pun yang mencoba menggodanya dengan membawa-bawa nama Loqestilla, apalagi dengan bumbu ‘kekasih’ atau ‘pernikahan’. Benar-benar laki-laki yang tegas. “My Lord, Anda benar-benar membenci saya, ya?” tanya Loqestilla dengan tawa yang tidak kunjung berakhir. “Saya tidak membenci Anda.” ‘Aku tidak membencimu, tapi aku takut padamu’ Kali ini Loqestilla mengangguk-angguk saja. “Benar, jika Anda membenci saya, mungkin Anda sudah mengusir saya sejak lama.” Setelah itu, Neuri tidak lagi menanggapi. Ia asik sendiri dengan daging iga yang lembut, berair, dan berbumbu gurih. Loqestilla pun tampak tidak ingin mengangguk kenikmatan tersebut. Anehnya, dia tidak beranjak dari posisinya kini, hanya berdiri diam di samping Neuri dengan mata yang awas mengawasi sekitarnya. Saat itu hari sudah mulai sore, matahari yang bersinar tidak terasa terlalu panas, sinarnya hangat dan lembut, seperti belaian seorang ibu pada banyinya. Angin berdesis-desis, pohon di sebelah Neuri berdiri tegap, tetapi ranting dan dedaunannya menari-nari gagap, tersapu angin ke kanan- ke kiri dengan canggung. Di tengah keheningan yang seharusnya sangat damai tersebut, Loqestilla tiba-tiba bersuara. “Sebagai bangsawan, Lord Neuri sangat baik dan dermawan. Anda tidak sungkan maupun malu berada bersama rakyat biasa. Pantas saja, orang-orang di Lunadhia sangat menghormati Anda.” Sepotong daging iga belum dihabiskan, tetapi mendengar Loqestilla berbicara, Neuri mendadak merasa kenyang. Ia pun memberikan piringnya kepada Loqestilla. “Makanlah,” ujarnya. Mata mata berkerlipan karena senang, Loqestilla menerima sepotong daging sisa majikannya. Ia memakannya dengan lahap, tanpa peduli Neuri memperhatikannya dengan ekspresi yang campur aduk. Sebenarnya Neuri ingin tertawa, tapi ketika melihat taring Loqestilla yang menyembul sedikit, ia jadi merasa sedikit takut. Mengambil napas dalam, Neuri pun akhirnya menanggapi ujaran Loqestilla dengan lebih serius. “Aku hanya sendirian sekarang. Ayah, ibu, dan adikku sudah lama tiada. Tidak ada lagi yang bisa kubahagiakan dengan harta maupun kasih sayang. Daripada aku sendirian dan merasa sepi, mengapa aku tidak mencoba membuat orang lain senang?” Loqestilla yang selesai makan pun menjilati jemarinya, merasakan sisa-sisa bumbu kacang yang gurih dan menggugah selera. Walaupun tidak begitu suka rasa biji-bijian, tapi ia cukup menikmati yang satu ini. Setelah mengelap jari-jarinya dengan sapu tangan, ia pun tersenyum gembira. “Anda sangat bijaksana, bisa memikirkan hal-hal demikian. Saya juga tidak punya keluarga, tapi pikiran saya tidak bisa seperti Anda. Saya harus banyak belajar dari Lord Neuri.” Neuri hanya mengangguk sekali. “Mungkin karena cara pikir kita yang berbeda.” “Hm?” “Bukan apa-apa.” Neuri menggeleng dan memberikan senyum kecil. “Ngomong-ngomong, mengapa Miss Loqestilla tidak bergabung dengan yang lain?” Dengan senyum seperti bocah yang suka berbuat usil, Loqestilla menjawab, “Karena Lord Neuri sedang sendirian, jadi saya pikir, saya bisa menemani Anda.” Kali ini Neuri benar-benar bisa terkekeh geli. “Apa Miss Loqestilla pikir saya terlihat sangat kesepian?” Loqestilla menggeleng kuat-kuat. “Bukan seperti itu. Saya hanya ingin menemani Lord Neuri, itu saja.” “Anda sangat baik hati, Miss Loqestilla.” “Tidak sebaik Anda, My Lord.” Neuri mengangguk. “Sudah terlalu sore. Mari pulang,” ajaknya ramah. Ia berdiri dan mengulurkan satu tangannya supaya digandeng Loqestilla. “Baik, My Lord.” “Apakah Anda masih ingin menikmati makan malam di rumah, Miss Loqestilla?” “Sebenarnya, saya sudah sangat kenyang, My Lord.” Neuri pun sudah tidak bertanya apa-apa lagi. Seraya berjalan bersama ke kerumunan, lengan mereka saling bertautan. . *** . Rupanya, hari sudah begitu petang ketika Neuri dan Loqestilla sampai dari seberang. Bahkan pendayung perahu sudah menyalakan lampu minyak supaya melihat kondisi sekitar. Saat melewati hutan, Neuri berjalan di depan, sedangkan Loqestilla mengekor di belakang seperti biasa. Keduanya diam saja, bergerak tanpa ingin berbicara. Hanya tangan Loqestilla yang tidak henti-hentinya bermain dengan sebuah ranting. Ia menemukannya secara tidak sengaja, dan menyukai bentuk ranting tersebut, sehingga memainkannya terus menerus. Suara ranting yang kadang berisik ketika digunakan untuk menampar pepohonan sama sekali tidak membuar Neuri gelisah. Malah kadang ia menikmatinya karena perjalanan jadi tidak begitu bisu. Namun, ketika memasuki tengah hutan, langkah kaki Loqestilla tiba-tiba berhenti. Neuri pun melakukan hal yang sama. Meskipun pendengarannya tidak setajam Loqestilla, tapi indera-indera Neuri cukup bagus untuk ukuran manusia, terlebih indera penciumnya yang mirip hidung anjing. “Miss Loqestilla,” panggilnya dengan suara rendah dan pelan. “Ya, My Lord.” “Ada berapa?” “Lima belas.” Lima belas, angka yang cukup tinggi. Dengan wujud manusia seperti ini, Neuri tidak yakin bisa mengatasi lima belas orang. Jika ‘mereka’ manusia, mungkin mudah baginya untuk bertindak. Namun, jika ternyata ras lain yang lebih kuat, mungkin malah Neuri yang bisa tewas di tempat. “Miss Loqestilla, pancing mereka keluar.” “Ya, My Lord.” Usai menerima perintah tersebut, Loqestilla segera memfokuskan diri. Angin-angin mulai terbentuk di bawah kakinya, ketika ia menghentakkan satu kaki, pisau angin segera menyebar ke segala penjuru. Menggunakan kedua tangannya, Loqestilla mengendalikan angin-angin untuk mengejar siapa pun itu yang bersembunyi di balik bayang-bayang. Benar saja, setelah serangan dadakan tersebut, beberapa orang akhirnya menampakkan diri. Jumlahnya hanya sepuluh, tapi setidaknya Neuri dan Loqestilla sudah memastikan bahwa memang ada orang-orang yang mencoba mengincar mereka. “Siapa kalian?!” tanya Neuri tegas. Suaranya berat dan keras, getarannya sampai ke relung hati, seperti menusuk jantung. Bahkan Loqestilla pun sampai merinding mendengarnya, terlebih baru kali ini melihat Neuri sebegini serius. Sayangnya, orang-orang yang menghadang tersebut tidak mengeluarkan sepatah kata. Di belakang Neuri, Loqestilla menghela napas jengah. Orang-orang tersebut, berpakaian sama seperti yang pernah menyerangnya. Mereka memakai baju hitam yang menutupi seluruh tubuh hingga kepala, tidak mau bicara bahkan jika dipaksa. Kemungkinan besar, mereka juga merupakan elf, sama seperti kemarin. “Kalian … elf?” Tanpa disangka, Neuri mengeluarkan pertanyaan tersebut. Tentu bukan hanya ‘mereka’ yang terkejut, Loqestilla bahkan tidak bisa menutupi ekspresi wajahnya. “Lord Neuri, Anda tahu siapa mereka?” tanya Loqestilla kemudian. Neuri pun menjawab, “Jika ditanya dari ras mana mereka. Saya pastikan bahwa mereka merupakan elf. Namun, jika berasal dari mana mereka, tentu saya tidak tahu.” “Bagaimana Anda tahu jika mereka elf?” tanya Loqestilla lagi. “Aroma darah mereka.” Mata Loqestilla melebar. Aroma darah, aroma darah katanya. Bahkan Loqestilla yang seorang atsune, yang sudah familier dengan wangi segar darah, masih tidak bisa membedakan jenis darah dari ras yang berbeda. Baginya, darah hanya berbau segar atau busuk. Itu saja. Itulah mengapa ia suka anak-anak, karena bau darah mereka segar. Terlepas dari jenis kelamin maupun ras, Loqestilla tidak terlalu mempermasalahkannya. Namun Neuri … Neuri bahkan tahu jenis ras seseorang hanya dari bau darah. Betapa … betapa menawan. Di tengah lamunannya yang tidak tahu sampai mana, seseorang melesatkan anak panah berapi hijau ke arah Loqestilla. Namun, karena lengah, ia lupa untuk menghindar atau pun menangkis. Untung saja, Neuri mampu menepis tembakan tersebut dengan tongkat jalannya yang terbuat dari perak. “Miss Loqestilla, jangan melamun,” hardik Neuri keras. Mendengar suara Neuri, Loqestilla tersadar dengan gelapan. Ia berkali-kali mengucapkan maaf karena teledor di situasi yang tidak menguntungkan. Neuri hanya memberi debasan sebagai balasan. Setelah itu, pertarungan pun tidak bisa dielakkan. Lesatan anak panah menghujani Neuri dan Loqestilla dengan sangat cepat dan banyak. Tidak seperti kemarin, para elf tersebut lebih gesit dan cepat dalam bertindak. Mereka dapat menembakkan tiga anak panas sekaligus, dengan semua ujung-ujung panah dilingkupi api sihir berwarna hijau. Bahkan kali ini, ada beberapa elf dengan kemampuan sihir tertentu. Mereka menembakkan berbagai macam peluru, mulai dari peluru air, hingga dedaunan yang menjelma seperti mata pisau. Meskipun sudah dibantu Neuri, bahkan Loqestilla masih kewalahan mengurusi musuh-musuh baru ini. Sabetan-sabetan angin dan berbagai macam peluru sihir saling berbenturan di udara. Loqestilla yang mulai kehilangan fokus, akhirnya menerima satu serangan di bahunya. Hanya sebuah goresan dari ujung anak panah, tetapi goresan tersebut menciptakan rasa panas yang menyala-nyala. Api hijau bertahan di luka yang tergores tersebut. Bahkan ketika Loqestilla berusaha memadamkan apinya, nyalanya malah semakin besar. Melihat hal itu, Neuri pun segera mengambil langkah. Ia mencabut pedang yang tersembunyi di balik tongkat jalannya, dan dengan satu lemparan, ujung pedang tersebut menusuk tepat di jantung seseorang. Orang tersebut menggelepar di tanah, langsung sekarat dan tampak akan segera mati. Namun, berkat hal itu, nyala api di luka Loqestilla langsung padam begitu saja. “Terima kasih, My Lord.” Neuri hanya mengangguk singkat. Sekarang, ia tidak punya pertahanan berarti. Tongkatnya tertancap di d**a seorang mayat, dan ia tidak memiliki senjata lain yang bisa digunakan untuk menangkis lemparan-lemparan panah. Menghindar adalah satu-satunya cara untuk bisa bertahan hidup, tapi sampai kapan ia hanya akan mengandalkan Loqestilla untuk membangun serangan?  . TBC 11 Juni 2020 by Pepperrujak
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN