Kerusakan 11
.
Loqestilla sampai di depan estat Earl of Lunadhia saat hari sudah terlalu petang. Lampu di sepanjang jalan taman sudah menyala dengan khidmat, sesekali apinya akan bergerak-gerak gusar ketika angin dingin tidak sengaja lewat.
Saat Loqestilla membuka pintu berlambang bulan, seseorang sudah menyambutnya dari atas tangga.
“Anda terlambat, Miss Loqestilla.”
Seraya mendongak, Loqestilla tersenyum penuh sesal. “My Lord,” ucapnya seraya menekuk kaki. “Maafkan saya karena pulang selarut ini.”
Neuri tidak lekas menjawab, hanya melihat Loqestilla secara saksama. Diperhatikannya rubah tersebut dari kaki hingga kepala. Dahinya kemudian mengernyit tidak suka. “Anda sangat kotor. Apa saja yang sudah Anda lakukan?” tanyanya terdengar marah.
Dengan cengiran yang begitu canggung, Loqestilla hanya bisa menggaruk belakang tengkuk. “Saya … terlalu asik bermain di hutan, dan tidak sengaja tercebur rawa,” jawabnya sambil mengangguk-angguk malu.
Mendengar penuturan yang seperti orang bodoh itu, Neuri hanya bisa menghela napas panjang. “Anda sudah dewasa, tapi mengapa bisa bertingkah seperti balita?”
“Saya benar-benar minta maaf.”
Pada akhirnya, Neuri cuma menggeleng kepala. “Bersihkan tubuh Anda, dan mari makan malam dulu sebelum kita bicara.”
Loqestilla tersenyum kecut. Perutnya sudah sangat penuh, tapi sekarang orang yang dihormatinya mengajaknya makan malam. Tidak mungkin ia berani terang-terangan menolak. Dengan berat hati, ia hanya bisa menjawab, “Baik, My Lord.”
Setelah mengangguk singkat, Neuri pergi meninggalkan Loqestilla sendiri di tengah aula rumah yang luas. Dalam perjalanannya ke ruang makan, Neuri menyempatkan berhenti di depan cermin besar yang terpasang kaku di koridor. Di depan cermin tersebut, ada vas bunga beserta anggrek bulan yang sudah layu nan kering.
Seraya memandangi bunga mati yang sebentar lagi menjadi debu, Neuri menggemeretakkan gigi.
“Tubuhnya, beraroma darah,” gumamnya.
.
***
.
Neuri sedang melamun seraya mengudap gula, ketika pintu ruang kerjanya diketuk dari luar. Saat ia memberi perintah, “Masuk.” Pintu pun dibuka perlahan.
Di sana, tampak Loqestilla yang malam ini mengenakan gaun sederhana berwarna abu-abu, tidak ada renda dan kancingnya tinggi. Neuri menatap rubah betina tersebut cukup lama. Dalam hati sangat menyetujui siapa saja yang memuji paras rupawan Loqestilla. Sayangnya, sampai sekarang Neuri tidak menemukan sesuatu yang membuatnya terpikat secara lebih. Mungkin karena gadis itu bukan tipenya, atau mungkin karena ada perasaan gelisah setiap kali Loqestilla di dekatnya.
Ah, pikirannya sudah berlarian sesuka hati, membuatnya tidak fokus dengan tujuannya. “Silakan duduk, Miss Loqestilla,” perintah Neuri pada akhirnya.
Mengangguk sekali, Loqestilla pun duduk di kursi yang biasanya ia tempati ketika mengunjungi ruang kerja sang Lord. Ia merasa terbiasa. Bahkan jika terlalu sering, mungkin ia akan merasa bahwa kursi ini sudah menjadi miliknya. Ia benar-benar tidak boleh terbiasa.
“Sebelum itu, ini, ambillah.” Neuri memberikan sebuah bungkusan terbuat dari kain.
Dengan agak ragu dan penasaran, Loqestilla mengambilnya. Ketika bungkusan tersebut dibuka, ada sekotak dendeng sapi yang siap dilahap dan berbau sedap. “Dendeng!” seru Loqestilla bersemangat. Matanya berkilat-kilat, bercahaya.
“Seseorang dari desa mengirimnya ketika Anda sedang membersihkan diri tadi,” jelas Neuri.
“Siapa yang mengirimnya?”
“Ibunya Venecia.”
Loqestilla mengangguk-angguk saja. “Venecia, dia murid saya. Dia sangat pintar dan bisa diandalkan. Benar-benar murid teladan. Suatu saat, Lord Neuri harus melihat potensinya.”
Neuri hanya tersenyum kecil. “Anda sangat menyayangi murid yang satu ini, ya?”
Loqestilla mengangguk lagi. “Hu’um. Dia yang paling harum dan menggugah.”
Kali ini senyum Neuri luntur seketika. Dengan wajah yang begitu serius, dia mulai berujar, “Miss Loqestilla, ada hal penting yang ingin saya tanyakan.”
Melihat bagaimana Neuri lagi-lagi mengubah suasana hati, Loqestilla tidak berani banyak bertingkah. Ia mengangguk dengan patuh dan menegakkan tubuh.
“Sebenarnya, selama ini di luar sana, bagaimana cara Anda bertahan hidup?”
“Hm?” Loqestilla menelengkan kepala ke kiri. Menurutnya, pertanyaan Neuri terlalu sederhana. Tapi, mengapa wajah Earl Lunadhia tersebut begitu menyeramkan. “Dengan bekerja, tentu saja,” jawab Loqestilla tanpa beban.
“Bekerja yang seperti apa?”
Loqestilla mengetuk-ngetuk bawah dagunya. “Humm, macam-macam. Banyak sekali sampai saya sendiri mungkin lupa jenis pekerjannya.”
Neuri mendengkus agak jengkel. Namun, ia masih bersabar, dan mencoba memancing dengan kalimat yang lain. “Apakah pekerjaan Anda sangat berbahaya?”
Kali ini Loqestilla mengangguk-angguk cepat. “Beberapa sangat berbahaya, beberapa biasa saja.”
“Seperti apa contoh pekerjaan yang menurut Anda berbahaya?” Neuri tidak mau berhenti sampai di sini.
“Hmm.” Lagi-lagi Loqestilla menggosok dagunya. “Banyak, macam-macam. Misalnya, ikut sayembara memburu monster berbahaya, menjadi mata-mata, atau menjadi pelayan restauran,” jelasnya cepat. “Saya tidak suka menjadi pelayan restauran,” tambahnya.
Melihat bagaimana Loqestilla menjawab, Neuri pun mulai mengambil napas dalam. Ia harus benar-benar mengerahkan semua keahliannya untuk menggiring rubah yang satu ini. “Anda bilang, Anda pernah meninggalkan teman-teman Anda, dan mereka semua dihukum mati. Saat itu, Anda bekerja sebagai apa?”
“Oooh.” Loqestilla seolah mengangguk paham. “Saat itu, saya bergabung dengan grup perampok bawah tanah. Mereka semua sangat egois dan jahat, saya tidak suka berada di kelompok perampok yang seperti itu.”
“Memangnya, ada perampok yang tidak jahat?”
“Tentu saja ada,” jawab Loqestilla cepat. “Beberapa kelompok perampok suka mengambil barang dari orang kaya. Setelah itu mereka membagikan hasil jarahan kepada warga desa yang miskin-miskin. Saya suka berada di kelompok seperti itu. Sayangnya, karena idealisme mereka tinggi, kadang saya diusir dari grup.” Wajah Loqestilla tampak menahan kesal dan sedih.
“Kenapa Anda diusir?”
“Hmm.” Kepala Loqestilla meneleng lagi. “Kenapa, ya? Saya tidak tahu pasti. Tapi setipa kali saya mengatakan bahwa ketika merampok, membunuh bukanlah hal yang dilarang, mereka langsung marah pada saya. Karena menurut mereka saya beda ideologi, saya disuruh pergi.”
Diam-diam, Neuri mengamati Loqestilla lebih dalam lagi. “Ooh. Jadi menurut Anda, jika menjadi perampok, tidak masalah untuk menjadi pembunuh juga?”
“Memangnya hal itu salah? Saya sudah banyak masuk kelompok seperti itu, dan rata-rata mereka melakukan pembunuhan.”
Kali ini Neuri benar-benar mengambil napas dalam. “Lalu, jika sekarang Anda menjadi guru, apa Anda juga tidak masalah jika melakukan pembunuhan?”
Loqestilla diam sejenak. Hingga akhirnya dengan mata yang begitu berani, dia pun menjawab, “Tentu saja menjadi masalah. Saya sudah menjadi guru, tentu saya tidak boleh sembarang melakukan perbuatan tercela.”
Neuri benar-benar hampir tidak bisa mengerti pola pikir Loqestilla. Wanita di depannya ini, meskipun bertubuh dewasa, tapi cara berpikirnya masih sangat terikat dengan cara pikir anak kecil. Sangat polos dan menakutkan. Pantas saja Neuri merasa Loqestilla sangat berbahaya baginya.
“Perilaku Anda sangat tidak umum, Miss Loqestilla,” celetuk Neuri.
Namun, Loqestilla hanya berkedip-kedip, tidak begitu menangkap maksud ucapan majikannya. “Tidak umum? Bukankah semua orang juga seperti itu?”
“Apanya?”
“Menjadi orang baik, saat memiliki profesi yang baik. Menjadi orang jahat, saat profesi mereka jahat.”
“Coba jelaskan kepada saya arti kata-kata Anda.”
Loqestilla pun menegakkan tubuhnya. “Misalnya begini, saya bekerja sebagai pencuri. Di masyarakat, pencuri adalah profesi yang buruk. Artinya, saya orang yang buruk, jika saya melakukan perbuatan buruk, hal itu bukan menjadi masalah, karena saya memang orang yang berprofesi buruk. Namun, saat saya menjadi guru, yang di masyarakat dianggap sebagai profesi yang baik, maka saya pun harus menjadi orang baik. Saya tidak boleh menjadi orang yang berkelakuan buruk karena saya memiliki profesi yang baik.”
Mendengar semua penuturan itu, Neuri kehabisan kata-kata. Ia memeijit pelipisnya, kemudian mengudap sebalok gula untuk meredakan perasaan gelisah yang tiba-tiba menusuk hatinya.
Namun, meskipun sudah lelah dengan kejutan-kejutan yang dihadiahkan Loqestilla, Neuri tidak segera menghentikan obrolannya. “Lalu, bagaimana jika saat menjadi guru, Anda diserang oleh sekawanan pembunuh. Apa Anda akan diam saja karena sedang menjadi orang baik?”
Loqestilla kembali diam, kali ini cukup lama dan tenang. Bahkan Neuri sampai bisa mendengar letikkan api di perapian.
Setelah mengambil napas sangat panjang, Loqestilla memberi senyum lembut yang tampak mendamaikan. Sayangnya, dari mulut yang tampak manis tersebut, ia berkata, “Tentu saja saya akan melawan. Jika mereka ingin membunuh saya, tidak ada salahnya saya membela diri, dan tidak ada salahnya jika saya membunuh mereka, bukan?”
Neuri pun kembali mengambil sebalok gula. Kali ini ia mengunyah gula-gula tersebut dengan terlalu cepat, bunyi geramusannya bahkan cukup membuat ngilu telinga.
“Miss Loqestilla, mari lanjutkan pembicaraan kita esok hari. Saya ingin segera beristirahat.”
Tanpa banyak bertanya, Loqestilla mengangguk taat. “Kalau begitu, saya permisi kembali, My Lord.”
“Ya.”
Loqestilla pun beranjak, berdiri dengan anggun dan ke luar dari ruang kerja Neuri seperti tidak pernah membicarakan hal-hal rumit. Wajahnya tetap kalem seperti biasanya, senyumnya tetap hangat tanpa sedikit pun tampah susah.
Padahal, di dalam ruangan berpenerang lilin itu, Neuri sudah hampir kehilangan akal sehatnya. Dengan wajah yang lelah, ia menyenderkan punggung ke sandaran kursi.
Rasanya, rasanya ia telah kecolongan sesuatu. Makhluk yang diselamatkannya saat itu, ternyata lebih menyeramkan daripada yang diduga. Mungkinkah, mimpinya saat itu memang sebuah pertanda, bahwa sebuah bencana akan merangkul tubuhnya dan membuatnya bermandikan darah?
“Tubuhnya, benar-benar berbau darah.”
Pada malam tanpa purnama, tidur Neuri saat itu sama sekali tidak nyenyak. Padahal tidak ada mimpi, padahal tidak ada wangi yang mengganggu. Namun, rasanya sangat sulit untuk sekedar memejamkan mata tanpa berpikir apa-apa.
.
***
.
Pada malam yang sama, Lady Freya Clemente yang jelita tengah menggenggam sebuah kertas laporan di tangannya. Setelah membaca isi di dalam surat tersebut, wajahnya berkerut-kerut murka. Dengan angkara yang tiba-tiba tersulut, ia melempar surat di tangan ke perapian.
Tanpa memiliki tenaga berlebih, ia berbaring lemah di sebuah sofa panjang di depan perapian. Mata saphire yang berkilau, menatap kosong kobaran api yang menjilat gelisah.
“Padahal mereka bertujuh adalah assassin pilihan yang selalu kuandalkan. Bagaimana bisa mereka hilang begitu saja.”
Setelah meludah, u*****n dari mulutnya tidak bisa dicegah, “Wanita rubah sialan. Aku pasti akan menghancurkanmu. Demi kakakku … demi klanku.”
Tampaknya, Lady Freya Clemente pun malam ini masih belum bisa tidur dengan nyenyak. Berbotol-botol anggur ia minum, tapi semakin membuat hatinya memburuk. Bayang-bayang wajah sang kakak yang sangat disayanginya berputar pudar di depan mata.
Hingga pagi menjelang, ia tertidur karena pingsan.
.
TBC
10 Juni 2020 by Pepperrujak