Kerusakan 25
Dua hari setelah undangan diterima, Neuri pun pergi ke wilayah Duke of Clemente bersama Loqestilla. Kabar pertunangannya dengan perempuan separuh rubah itu sudah tersebar, dan sudah masuk koran meskipun di pojok kecil yang kurang tersorot. Walaupun begitu, orang-orang akan tetap membicarakannya, karena mungkin terlihat seru dan menyenangkan. Lagi pula, siapa yang ingin ketinggalan gosip sepanas ini?
Belum lagi, kabar mengenai perseteruannya dengan Duke of Clemente juga menjadi bumbu-bumbu yang begitu mendebarkan untuk menjadi bahan gunjingan. Wah, lengkap sudah derita Neuri. Seolah, dia diundang ke tempat ini hanya untuk menjadi bahan cemoohan.
“Saya dengar, Anda dan Duke of Clemente sempat berkelahi gara-gara tunangan Anda itu?”
Saat Neuri berusaha berbaur sambil menikmati sampanye di ruang kartu, seorang bangsawan berbisik padanya dengan cengiran yang begitu lebar. Meskipun suara pria itu cukup kecil, tapi orang-orang di sekitar seolah memiliki telinga ekstra yang terlalu lebar. Bahkan, beberapa orang menghentikan aktivitas mereka hanya untuk mendengar bagaimana perbincangan tersebut akan berjalan.
“Kami tidak bertengkar. Saya rasa, itu hanya kesalahpahaman.” Neuri berusaha menjawab dengan tenang, meskipun ia sadar sedang ditatap dengan begitu intens oleh orang seruangan.
“Benarkah? Bukankah Anda merebut calon pengantin Duke of Clemente dengan cara-cara yang tidak bermoral?”
“Apa maksud Anda?”
Bangsawan tinggi kurus dengan jambang lebat yang tidak sesuai lebar wajahnya itu, kini menyeringai semakin lebar. Ucapannya pun menjadi lebih keras dan keras ketika bicara, seolah sengaja untuk menarik perhatian yang lain. “Saya dengar, Duke of Clemente sudah mendekati Nona Rubah itu terlebih dulu, bahkan mereka sepertinya sudah menjalin hubungan yang romantis. Bukankah, ketika Duke of Clemente mengunjungi Nona Rubah, Nona tersebut tidak pernah mengusirnya? Itu artinya, seharusnya mereka memiliki hubungan yang erat, bukan?”
“Apa yang terlihat di luar, bukan berarti sama dengan yang terjadi di dalam,” desis Neuri sedikit geram. Ia jelas tahu ke mana pembicaraan ini akan tertuju.
“Banyak orang yang tahu dan menyaksikannya sendiri. Hubungan Duke of Clemente dan Nona Rubah itu sangat romantis, mereka berbincang dan tertawa bersama. Namun, tiba-tiba saja Anda mengatakan bertunangan dengan Nona itu. Pasti ada yang salah, ‘kan?”
“Apa yang coba Anda katakan?”
“Saya mengerti jika Lord Lycaon memang yang mempekerjakan Nona Rubah di wilayah Anda, dan bahkan kalian tinggal serumah. Yah … mungkin benih-benih cinta bisa tumbuh dengan cepat di tempat yang seperti itu. Bisa jadi, Anda cemburu melihat Nona Rubah yang dekat dengan Duke of Clemente. Karena Anda selalu berada satu rumah dengan Nona Rubah, tidak ada yang tahu dengan apa yang kalian lakukan, ‘kan?”
Neuri mencengkeram gelas sampanye di tangannya. “Anda terlalu banyak bicara, dan semua yang Anda katakan juga hanya omong kosong yang tidak berdasar.”
Namun, bangsawan tersebut tertawa lebar dan licik. Ia melanjutkan, “Ya … saya mungkin salah bicara. Lagi pula, Anda orang yang terhormat. Jadi, mana mungkin berbuat seamoral itu. Tapi … bagaimana dengan wanita rubah itu … dia orang dari kalangan bawah, bukan? Apalagi yang bisa dijual darinya selain tubuhnya?”
Gigi Neuri bergemelutuk. Ia sadar jika sedang dipancing, dan jika ia gegabah dengan tiba-tiba meninju orang di depannya, berita yang tidak baik akan semakin menyebar tidak keruan.
Pada akhirnya, Neuri hanya mengambil napas panjang. Ia mencoba meniru bagaimana Loqestilla bersikap. Dihina seperti apa pun, rubah satu itu tidak pernah tersinggung dengan cara yang tidak elegan. Selalu tersenyum seperti orang bodoh dan kadang malah terkesan mengintimidasi. Jika Loqestilla saja bisa seperti itu, seharusnya Neuri pun lebih unggul ketika melakukannya.
“Tuduhan Anda benar-benar sangat sembarangan. Miss Loqestilla Vent, wanita yang Anda maksud itu bahkan lebih suci daripada pendeta di kuil maupun gereja. Bahkan orang yang punya berahi liar seperti Anda pun, akan bertaubat jika berada satu ruangan dengannya.”
“Apa kau bilang?!”
Neuri tidak menjawab, dia hanya tersenyum kecil, lalu memilih untuk beranjak pergi.
Bangsawan bermulut tajam tersebut masih tidak puas, dan tampak ingin meledakkan amarahnya. Untungnya, beberapa orang yang lebih waras menghentikannya.
Neuri pun dibiarkan pergi sendirian.
Di lorong yang remang-remang, Neuri berjalan seorang diri. Bibirnya tersungging kecil, tapi bukan sedang merasa bahagia atau puas. Dia hanya merasa miris dengan kejadian yang baru menimpanya beberapa saat lalu.
Rupanya, perasaan tidak enak yang selalu membuatnya khawatir, mulai terlihat wujudnya. Selama hampir satu bulan ia tidak pernah pergi ke luar dan bergaul dengan bangsawan lain, bermaksud untuk lebih fokus pada pembangunan desanya dan hal-hal lain yang lebih penting untuk dilakukan. Siapa yang menyangka, sikap abaiknya itu bisa menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Ia tidak begitu berminat dengan gosip di kalangan ton, sehingga ia tidak perlu bersusah-susah mencari tahu.
Sayangnya, sekarang ialah yang menjadi sumber gosip.
Namun, bagaimana bisa gosip ini begitu liar dan menjadi-jadi. Padahal Duke of Clemente juga akan menikah lagi, seharusnya sudah tidak ada masalah antara duke tersebut dengan Loqestilla.
Ah, Neuri terlalu naif.
“Aku diundang ke sini, hanya untuk dihancurkan.”
Neuri tersenyum kecut. Ia tidak tahu bagaimana caranya untuk bertahan di tempat ini selama tujuh hari ke depan. Dia sama sekali tidak mengkhawatirkan Loqestilla, wanita itu lebih pandai menangani masalah daripada dirinya. Yang Neuri khawatirkan malah dirinya sendiri. Sanggupkah dia dipergunjingkan dan menerima fitnah yang akan datang seperti hujan di musim semi?
“Miss Loqestilla, sepertinya aku harus meminta bimbinganmu.” Terkekeh kecil, Neuri berjalan dengan pikiran yang lebih penuh.
.
.
.
Walaupun Loqestilla datang bersama Neuri sebagai tamu, tapi ia tidak diberi kamar sendiri layaknya para bangsawan yang lain. Lady Freya, yang mengurusi pembagian kamar tamu, memerintahkan utusannya untuk mengantar Loqestilla ke kamar pelayan.
Tidak seperti kamar bangsawan yang bisa ditinggali seorang diri, kamar pelayan digunakan untuk banyak orang. Satu kamar berukuran enam kali tiga meter dihuni oleh sepuluh orang dengan ranjang bertingkat. Untungnya, Loqestilla datang bersama Opal yang diperintahkan Neuri untuk selalu menemani gadis rubah tersebut. Setidaknya, Loqestilla tidak merasa terkucil seorang diri, meskipun ia sebenarnya tidak begitu peduli jika dikucilkan atau bahkan diperolok oleh banyak orang.
Benar saja, ketika Loqestilla meletakkan tasnya, seorang wanita pelayan yang berada di kamar itu, lantas memandang Loqestilla dengan tatapan merendahkan. Wanita tersebut bahkan tidak menyembunyikan suara decihannya yang mengganggu. “Oh, inikah wanita rubah yang diperebutkan oleh Duke of Clemente dan Earl of Lunadhia? Berani sekali wanita ini menampakkan wajah di sini, di rumah seorang duke baik hati yang dikhianatinya.”
Suara itu begitu keras, seolah sengaja supaya Loqestilla mendengarnya. Dua orang wanita pelayan lain yang berada di sana lantas melihat Loqestilla takut-takut, khawatir jika ucapan teman satu profesi tersebut bisa melukai hati si rubah merah.
Masih di tempatnya, Loqestilla mendengarkan dengan seksama. Namun, meskipun mendapat hinaan yang seharusnya bisa menyakiti hati, ia tidak terlihat marah sama sekali. Ia bahkan seolah-olah tidak mendengar ucapan wanita pelayan tadi, dan terus saja melanjutkan aktivitasnya membongkar tas bersama Opal.
Melihat bagaimana Loqestilla mengabaikan cercaannya, wanita pelayan tersebut pun terus melanjutkan ocehannya. “Tidak heran mengapa Lady Freya mengirimmu ke kamar pelayan. Meskipun kau adalah tunangan Earl of Lunadhia, tapi statusmu tetaplah sama seperti kita. Jangan harap seseorang akan memperlakukanmu dengan spesial.”
Loqestilla tersenyum, meregangkan tangannya ke atas. “Opal, kau ingin tidur di bagian atas atau bawah?” tanyanya pada Opal yang sejak tadi ada di sampingnya.
“Di bawah saja, Nona.”
Loqestilla pun mengangguk. “Baiklah, aku tidur di kasur atas. Aku tidak akan banyak bergerak supaya tidak menganggu tidurmu nanti malam.”
Opal menggelengkan kepala. “Tidak apa-apa, Nona. Anda bisa bergerak sesuka hati, saya benar-benar tidak akan terganggu.”
“Kau sangat baik, Opal,” ucap Loqestilla seraya terkekeh kecil.
Merasa benar-benar diabaikan, wanita pelayan yang sedari tadi mencoba memancing amarah Loqestilla pun semakin merah wajahnya. Tidak ada hal yang lebih menyakitkan daripada tidak dipedulikan oleh orang lain, terlebih oleh orang yang teramat kamu benci. Meskipun, entah seberapa besar kebencian wanita pelayan itu kepada Loqestilla. Toh mereka sebenarnya tidak saling mengenal, ia hanya membenci karena mengikuti majikannya, dan majikannya membenci karena mengikuti temannya. Rantai kebencian tersebut tersulut hanya karena sebuah gosip yang dipercaya.
“Wanita Rubah, apa kau mendengarkan apa yang kukatakan!” Suara wanita pelayan tersebut mulai terdengar nyaring dan mengancam.
Mendapat hardikan yang demikian menyebalkan, Loqestilla pun mengembus napasnya pelan. Ia berbalik, tersenyum menawan seraya menatap si wanita pelayan. “Apakah Anda bicara dengan saya? Jika iya, nama saya Loqestilla Vent, bukan wanita rubah.”
Amarah yang tersulut dari wanita pelayan pun semakin membara. Merasa terpojok dengan bagaimana lembutnya Loqestilla meresponnya. “Siapa yang peduli dengan nama seorang p*****r sepertimu!”
“Tutup mulutmu!” Opal yang sudah tidak tahan sedari tadi, maju dengan berani. Ditatapnya si wanita pelayan dengan amarah menyala-nyala dan niat memusuhi yang kentara.
.
TBC
24 Juni 2020 by Pepperrujak