Kerusakan 26
.
Opal adalah gadis yang sabar, begitu kata orang-orang.
Sejak usia tujuh tahun, ia sudah bekerja sebagai pelayan di kediaman Earl of Lunadhia. Ibu dan ayahnya pun bekerja di tempat yang sama, mereka ditempatkan pada bagian dapur dan kandang kuda.
Tinggal dan besar di kediaman Earl of Lunadhia menjadi keberkahan sendiri bagi Opal. Setiap hari, banyak makanan enak yang bisa dinikmati, banyak orang-orang baik yang memberikan perhatian lebih. Kedua orang tuanya juga merasa senang karena mereka dapat melihat Opal tumbuh dengan sehat dan bersemangat.
Apalagi, Opal adalah pekerja terkecil di sana, sehingga orang-orang dewasa kerap memanjakannya, diam-diam memberinya permen atau kue kering yang baru dipanggang.
Hal yang paling berat bagi Opal mungkin adalah ketika harus menghadapi anak perempuan Earl of Lunadhia, Lacresia Anna Lycaon, atau yang sering dipanggil sebagai Nona Lacre.
Nona Lacre memiliki tabiat yang bertentangan dengan kakaknya, Neuri. Jika Neuri adalah anak penurut yang patuh pada ibu-ayahnya, Lacre memiliki sifat yang agak pemberontak, sangat usil, dan hiperaktif. Kadang Nona Lacre juga sangat galak ketika perasaannya sedang tidak enak.
Dikarenakan usia Opal sama dengan Nona Lacre, ia pun sering diperintah menemani Nona Lacre menghabiskan waktu. Saat Nona Lacre selesai dengan pelajaran dari para tutor dan governess, Nona Lacre akan mencari Opal untuk mengajak bermain. Kadang bermain boneka, kadang kejar-kejaran, kadang bermain putri dan pangeran.
Sebagai pelayan, Opal akan mendapat bagian yang sedikit menyusahkan. Misalnya, ketika bermain petak umpet, jika Opal yang jaga maka dia harus berpura-pura tidak bisa menemukan Nona Lacre, harus menyerah dan membiarkan majikannya menjadi juara. Saat bermain putri dan pengeran, Nona Lacre akan menjadi tuan putri, sedangkan Opal akan berusaha keras memerankan sosok pangeran yang jatuh cinta dan tergila-gila pada sang putri.
Walau kelihatannya butuh banyak usaha untuk bisa bermain bersama Nona Lacre, nyatanya Opal sangat menikmatinya. Mungkin karena tidak memiliki teman sepantaran karena tidak sekolah maupun bergaul di desa, Opal pun merasa gembira hanya dengan bisa bersama Nona Lacre. Lagi pula, Nona Lacre sangat baik, sering mengajak makan biskuit bersama, membelikan macam-macam hadiah ketika sedang bepergian ke kota, atau bahkan mengajari Opal membaca dan menulis.
Semakin dewasa, Opal semakin suka bekerja dengan Nona Lacre. Saat usianya tiga belas tahun, ia sudah ditugasi menjadi dayang pribadi Nona Lacre. Ikatan yang terjalin bahkan semakin tidak terputuskan. Nona Lacre dan dia sudah seperti sahabat baik yang saling berbagi perasaan.
Ketika Nona Lacre tiada di usia lima belas tahun akibat p*********n besar-besaran di keluarga Lycaon, Opal pun seolah kehilangan keinginan untuk bertahan hidup. Ia sudah tidak memiliki ayah ketika usianya menginjak sepuluh tahun, lalu ibunya juga meninggal akibat sakit-sakitan ketika Opal berusia empat belas tahun. Tentu saja, kematian Nona Lacre seperti pukulan yang menghancurkan alasannya untuk tetap hidup di dunia.
Terlebih, saat peristiwa p*********n itu terjadi, Opal sedang tidak berada di samping Nona Lacre.
Kadang ia berpikir, mengapa ia tidak ikut mati saja bersama majikannya jika hidup menjadi seperti ini.
Lalu, satu tahun terlewat, dua tahun, tiga tahun, waktu berjalan seperti biasa. Hidup Opal terasa kosong dan tidak berarti. Hingga Lord Neuri pulang ke rumah dengan membawa seseorang di punggungnya.
Orang itu, Miss Loqestilla Vent adalah pelita baru di kehidupan Opal.
Miss Loqestilla sangat baik, sangat menghargai Opal, dan mau menjadi teman bicara yang menyenangkan. Meskipun sifat Miss Loqestilla sangat berbeda dari Nona Lacre, tapi kehadirannya selalu membuat Opal merasa bahagia.
Bahkan, meskipun Miss Loqestilla akhirnya berstatus pekerja sama sepertinya, Opal tidak pernah keberatan untuk selalu melayani Miss Loqestilla.
Opal menghormati Miss Loqestilla dari dalam lubuk hatinya.
Untuk itulah, Opal sangat murka ketika mendengar orang yang dihormatinya diperolok dengan begitu kejam. Hati Opal meradang dan ikut terluka.
.
.
.
Seperti saat ini, ketika seorang wanita pelayan begitu angkuh dan tidak tahu malu menggunjing Loqestilla, Opal pun sudah tidak bisa menali mati kesabarannya. Dengan tubuh yang lebih pendek, ia dengan berani berdiri menantang di depan seorang wanita pelayan. Matanya melotot penuh, aliasnya menukik bak sabit,
“Katakan sekali lagi jika berani! Atau aku akan menyobek mulutmu itu sampai telinga, dan menjahitnya supaya kau tidak bisa bicara apa pun lagi!”
Tidak menyangka akan digertak balik, wanita pelayan dengan rambut digelung itu sedikit berjengit. Meskipun begitu, ia seperti tidak gentar dan ikut menatap Opal tidak kalah garang.
“Memang benar, bukan? Dia memang p*****r, lalu apa salahnya? Memangnya ada gadis biasa-biasa saja yang hanya bermodal wajah cantik dan sikap baik sampai hari ini? Jika didekati seorang bangsawan, dengan iming-iming pernikahan atau bahkan sebuah cincin berlian, dia pasti sudah menyerahkan tubuhnya!”
PLAK!
Tangan Opal mendarat kasar di pipi si wanita pelayan. Suara tamparan yang keras mengagetkan tiga orang lainnya yang ada di ruangan tersebut.
“Miss Loqestilla tidak seperti itu! Miss Loqestilla punya harga diri yang tinggi, tidak sepertimu!”
“Beraninya kau menamparku!”
Pada akhirnya, peraduan pendapat yang tidak menyenangkan itu, berubah menjadi aksi saling menjambak.
Dua gadis pelayan lain tidak berani melerai, hanya menonton dengan mata ketar-ketir.
Hingga akhirnya, Loqestilla lah yang harus memisahkan Opal dan si wanita pelayan. Ia menyeret Opal menjauh, dan mengusap punggung temannya itu. “Sudah, tidak perlu dihiraukan. Yang dikatakan olehnya semuanya salah, jadi aku tidak merasa sakit hati. Kau juga, tidak perlu sakit hati, oke?” bisiknya lembut pada Opal yang mulai menenangkan diri.
“Aku tidak akan membiarkan semua ini berlalu begitu saja. Akan kulaporkan kalian pada majikanku dan Lady Freya!”
Setelah menyerukan ancaman, wanita pelayan itu pergi dari kamar dengan tergesa-gesa.
“Maaf, Miss Loqestilla, saya membuat Anda terlibat masalah.” Opal menunduk pilu, merasa bersalah dan tidak berdaya.
“Tidak masalah. Hal-hal seperti ini memang tidak bisa dihindari. Semua orang pernah mengalaminya,” ujar Loqestilla kalem, senyumnya mengembang manis dan lembut. Hati Opal pun merasa lebih tenang, pikirannya lebih cerah dan waras.
Akan tetapi, tiba-tiba saja seorang butler masuk ke kamar yang belum ditutup. Namun, ia hanya berada di ambang pintu dengan sikap tegap dan mata yang fokus. “Miss Loqestilla Vent,” panggilnya.
Loqestilla menoleh, lalu ia mendekat kepada butler yang berdiri kaku. “Ya? Apa ada yang bisa saya bantu?”
“His Grace, Duke of Clemente, memanggil Anda ke ruangannya.”
Mendengar jawaban tersebut, Loqestilla tidak tahan untuk mengernyit dalam. “Lord Lubbock?”
“Benar, beliau menunggu kehadiran Anda sekarang. Mari ikut saya.”
Loqestilla pun mengangguk. Ia menoleh ke arah Opal dan memberi isyarat bahwa ia akan pergi sebentar. Setelah itu, Loqestilla pun mengikuti si butler pergi.
Dalam perjalanan, ia bertanya-tanya, untuk apa Lord Rowland Rathmore Lubbock memanggilnya. Apakah ingin balas dendam dengan menghujatnya langsung di depan mata, atau ada maksud lain yang Loqestilla tidak tahu? Yang manapun itu, Loqestilla hanya perlu tetap waspada.
.
TBC
25 Juni 2020 by Pepperrujak