RED - 49 : The One

1223 Kata
Seorang laki-laki muda bertanya, senyumnya begitu ramah dan bersahaja. Baru pertama Ferguso melihat orang tampan berpakaian rapi yang mau bicara padanya tanpa marah-marah. Tanpa sadar, Ferguso terus menatap laki-laki muda tersebut, seolah terpaku dan terpesona. Kekaguman yang bahkan Ferguso tak mampu menjelaskan dengan benar. “Mungkin dia masih syok, My Lord.” Seorang laki-laki lainnya menyahut. Laki-laki yang ini lebih tua, tapi tidak kalah ramah dan santun. “Apa kau haus? Mau s**u?” laki-laki muda bertanya lagi. Mendengar dia akan diberi minum s**u, Ferguso mengangguk dengan cepat. Entah sudah berapa lama ia tidak meminum s**u, Ferguso sangat menantikannya. Ia bahkan sudah lupa rasanya. Ketika diberi segelas s**u hangat dengan campuran madu yang manis, Ferguso segera meneguknya sangat cepat. Tidak ada sisa sedikit pun di dalam gelas, benar-benar ia telan seluruhnya untuk meredakan dahaga dan rasa lapar yang mendera sedari kemarin. Melihat betapa rakus Ferguso menghabiskan s**u di gelas, laki-laki muda itu pun terkekeh geli. “Apa kau begitu haus?” tanya laki-laki muda sekali lagi. Ferguso mengangguk. Matanya mengerjap-ngerjap, memandangi seseorang yang terus tersenyum padanya. Hati Ferguso dilingkupi kebahagiaan tak terkatakan. “Apa kau juga lapar? Mau makan apa?” Cepat-cepat Ferguso mengangguk lagi, tetapi tak tahu harus menjawab ingin makan apa. Sudah bisa makan saja hatinya sudah berbunga, Ferguso tidak akan pilih-pilih makanan. Pada akhirnya, laki-laki muda itu memberikan banyak sekali makanan lezat. Mulai dari bubur hangat, sup, daging bakar, hingga buah-buahan. Ferguso dibiarkan makan di atas ranjang, si laki-laki muda menatapnya seraya duduk nyaman di atas sofa yang letaknya tidak jauh. Tanpa banyak bicara, Ferguso melahap satu demi satu sajian di atas meja lipat. Semuanya terasa enak, sangat enak sampai Ferguso ingin menangis bahagia. “Kau sangat lapar, ya?” Ferguso mengangguk-angguk, mulutnya tak mampu memberi tanggapan, terlalu penuh dengan makanan. “Siapa namamu?” Mendengar namanya ditanyakan, cepat-cepat Ferguso menelan makanannya. Ia tidak ingin membuat malaikat penolongnya itu menunggu lama. “Ferguso, Ferguso Albanero.” “Namamu sangat bagus.” Apa Ferguso tidak salah dengar? Ini adalah pertama kali juga seseorang memuji namanya. “Na-nama Anda?” takut-taku Ferguso bertanya. Ia begitu penasaran dengan nama pemuda ramah yang menggetarkan hatinya. “Aku? Namaku, Neuri. Neuri Turkadam Lycaon.” Neuri Turkadam Lycaon. Namanya begitu agung dan menawan. Ferguso mengingatnya terus-menerus. Takut lupa, takut lupa bahwa pernah ada seorang dermawan yang pernah menolongnya di saat sakit, memberinya makan di saat lapar, dan melemparkan senyum ramah saat ia kesepian. . *** . Dengan keberuntungan yang diberikan Lord Neuri, Ferguso diangkut ke Lunadhia. Bocah kumal lima tahun itu dibawa ke kepala desa, dirawat oleh seorang wanita janda yang tak memiliki anak setelah ditinggal mati suami. Meskipun kaki Ferguso yang cedera saat itu sulit disembuhkan sehingga membuat jalannya terpincang-pincang, ia tetap merasa senang bukan kepalang. Ia bahkan berani menganggap bahwa mungkin satu kakinya adalah sebentuk pengorbanan kepada dewa demi kehidupannya yang lebih bahagia. Bibit kesetiaan dan pemikiran yang ekstrem mengenai kebahagiaan, sudah tertanam sejak ia belia. Di Lunadhia, Ferguso diizinkan bersekolah. Meskipun gurunya saat itu segarang singa di padang savana, sering mencambuk dan menjambak, tapi Ferguso tidak lekas merasa sakit hati. Kehidupannya di jalanan lebih berat dari sekadar sebuah cambukan karena lalai mengerjakan tugas rumah. Satu atau dua hukuman hanya seperti jeda kebahagiannya. Hanya saja, karena Neuri adalah seorang bangsawan, tidak setiap hari Ferguso bisa melihat malaikat penyelamatnya itu. Bahkan kadang di hari minggu pun Lord Neuri tidak berkunjung ke kuil, katanya sedang sibuk pergi ke kota untuk bergaul dengan sesama pemilik darah biru. Ah, kehidupan bangsawan yang hanya mimpi semu bagi Ferguso. Ia dapat melihatnya, tapi tak lantas bisa masuk ke dalamnya. Itulah mengapa, setiap kali bertemu Neuri, Ferguso akan menempeli pemuda tanggung itu seperti benalu. Untung saja Neuri adalah orang yang ramah, alih-alih risih, putra pertama Earl of Lunadhia itu selalu menanggapi Ferguso dengan sikap yang terlalu terbuka. Sebelum usia Ferguso sepuluh tahun, Neuri bahkan sering menggendongnya, mencubiti pipinya dengan gemas, memberinya hadiah, atau membawakan oleh-oleh dari kota. Ferguso seolah memiliki seorang kakak baik hati yang hanya ada dalam buku-buku dongeng, atau angan-angan seorang anak tunggal. Meskipun begitu, tentu Ferguso mengerti posisinya. Neuri adalah seorang bangsawan, sedangkan dia hanya seseorang yang dipungut dari jalanan. Oleh sebab itu, untuk menjadi dekat dengan panutannya, Ferguso belajar segala hal mati-matian. Supaya bisa menjadi orang yang dipercaya Neuri dan selalu ada di sisi tuannya itu kapan saja. Ia membaca banyak buku di perpustakaan, belajar mengolah bahan makanan, belajar menyeduh teh, belajar bersikap terhormat, belajar ini, belajar itu. Di desa Lunadhia yang kecil, sosok Ferguso sudah seperti anak jenius yang luar biasa. Para gadis ingin bergaul dengannya, orang-orang tua memujinya, anak-anak kecil bercita-cita menjadi seperti dirinya. Semua pengorbanan dan pencapaian Ferguso tidak lain ia persembahkan untuk Neuri seorang. Hingga tanpa sadar, perasaan yang hanya dianggap sebagai rasa kagum itu berubah menjadi sesuatu yang lain. Seiring waktu, Ferguso mulai menyadari bahwa obsesinya pada Neuri sudah bukan lagi sesuatu yang dianggap wajar. Dalam mimpi-mimpi malam yang dipenuhi nafsu membara, seharusnya Ferguso memimpikan seorang wanita desa yang sering mencoba mendekatinya. Namun, yang dia impikan selalu penyelamatnya, selalu Neuri. Wajah Neuri yang basah oleh keringat, kulitnya yang panas bagai kobaran api, yang memerah dan lengket. Ferguso kira, dia sudah dikendalikan setan. Namun, seperti apa pun ia bertobat dan berdoa pada Dewi Bulan, perasaannya pada Neuri malah semakin tidak terkendali. Semakin bertemu Neuri, debaran didalam dadanya seperti genderang musim panen. Sangat bersemangat dan bahagia. Sampai akhirnya Ferguso benar-benar menerima bahwa ia memang telah jatuh hati. Bertahun-tahun perasaan seperti itu dipendam seorang diri, berharap memudar tapi juga tanpa sadar ia nikmati. Terlebih, Neuri juga tidak pernah terlibat skandal cinta dengan seorang lady, sehingga Ferguso semakin merasa nyaman dengan perasaannya sendiri, memendam fantasi dan berharap dapat menikmatinya sampai mati. Sayangnya, sebuah bencana datang pada hari-hari indah Ferguso. Bencana itu pertama kali hadir dengan senyum sopan yang menawan. Saat itu, seseorang diperkenalkan sebagai seorang guru baru yang begitu bermartabat dan terdidik dengan baik. Namun, entah mengapa Ferguso langsung merasa bahwa wanita berambut merah yang bersahaja itu adalah sebuah ancaman untuk hidupnya. Benar saja, waktu berlalu dengan cepat, dan wanita itu sudah mengambil posisinya dari sisi Lord Neuri. Wanita itu tinggal di istana, bersama, satu atap dengan Lord Neuri yang Ferguso puja puji. Wanita itu semakin sering terlihat berdua, kadang tertawa dan menyimpan rahasia bersama Neuri. Ferguso merasa, ada sebuah tanjakan berduri yang tidak dapat ia lewati. Padahal, ia lebih lama mengenal Lord Neuri, tapi dibandingkan wanita berambut merah itu, Ferguso tampak mirip orang luar yang hanya dapat memperhatikan. Perasaan itu sangat tidak nyaman. Berkali-kali Ferguso meyakinkan diri bahwa Loqestilla bukanlah selera Lord-nya. Tuannya pasti memiliki kriteria wanita yang lebih baik. Setidaknya lebih bermartabat, bergelar tinggi, berwajah bak dewi, dan lebih segala-galanya dari Ferguso yang hanya orang biasa ini. Meskipun begitu, apa mau dikata. Badai tiba tanpa aba-aba, sering lewat membawa masalah dan prahara. Di suatu hari yang begitu cerah, Lord Neuri yang dipujanya mengumumkan mengenai pertunangan dengan wanita rubah itu. Sebuah pertunangan yang memupus habis harapan Ferguso bersama tuan tercintanya. Seolah dikhianati, Ferguso merana tak terkira. Dunianya benar-benar rusak, lebur menjadi bubur, jatuh ke lumpur, diinjak-injak pemulung, ditumpuki sampah dan belatung. Dijabarkan dengan ribuan kata pun, tidak akan bisa mewakili betapa sakit hati Ferguso kala itu. Sakit hatinya berjuta-juta. Sangat sengsara … terlampau sengsara. Sampai bernapas pun rasanya susah, hidup pun rasanya jengah. Luka hati itu dengan cepat berubah menjadi amarah, tanpa tahu kemarahannya adalah sumber segala kemalangan. O Dewa, mengapa kemalangan hidupnya tidak sudah-sudah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN