Cinta dan kasih sayang adalah perasaan yang rumit, meskipun sering berujung bencana, tetapi manusia selalu mengais-ngaisnya seperti anjing jalanan yang kelaparan. Bukankah, Tuhan menciptakan dan membiarkan makhluk-makhluknya hidup, karena perasaan kasih yang dimiliki-Nya? Jika itu sesuatu yang bahkan diberikan Tuhan sejak lama, seharusnya cinta adalah sesuatu yang baik, bukan?
Harus diakui bahwa semua orang menginginkan cinta untuk kehidupannya, dan semua orang membutuhkan kasih sayang untuk kebahagiannya. Bahkan untuk anak seperti Ferguso, yang sepanjang dia mengingat dalam hidupnya tak pernah menerima kucuran manis seperti cinta dan kasih sayang. Dia tetap menginginkannya, menginginkan sesuatu yang tabu tetapi tampak layak untuk diidam-idamkan.
Di usia dua tahun, ibu Ferguso meninggal karena sakit TBC. Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit terkutuk itu, dan hidup ibu Ferguso pun berakhir begitu saja dengan penderitaan di akhir hayatnya.
Sejak ibunya meninggal, ayahnya yang sedari awal memang sudah tidak bisa diandalkan, semakin menjadi-jadi kelakuannya. Setiap hari pergi mabuk-mabukkan, mencari wanita penjaja di rumah b****l, bahkan berjudi hingga rumah mereka pun diambil paksa oleh entah siapa.
Luntang lantung hidup Ferguso dan ayahnya yang menyebalkan. Namun, bukannya segera menyadari dosa-dosanya pada anak satu-satunya, ayah Ferguso malah pergi meninggalkan anaknya yang saat itu masih tidak tahu apa-apa tentang dunia. Meninggalkan seorang bocah dekil berusia dua tahun yang bahkan bicara pun masih belum pintar.
Entah bagaimana caranya, tapi Ferguso berhasil hidup sampai usianya genap lima tahun. Akan tetapi, selama tiga tahun itu tidak ada hal baik yang datang pada hidupnya. Hari-harinya selalu digelayuti sengsara, ia mengemis ke sana ke mari, berebut makanan dengan anjing liar, ditendang orang-orang gila yang suka mabuk-mabukan, kelaparan, kedinginan, kepanasan … bahkan saat sakit pun … saat sakit pun ia harus bertahan seorang diri. Hanya bermodal belas kasihan orang yang lewat, ia dapat bertahan hidup ketika tubuhnya tergeletak tidak berdaya di tepi jalan.
Selalu seperti itu, berulang-ulang, setiap hari. Ingin mati tapi tak sanggup bunuh diri, ingin menghilang tapi tak menemukan jalan keluar.
Hidup yang putus asa seperti itu terlalu memilukan untuk ditanggung seorang diri, terlalu memilukan untuk anak-anak yang seharusnya tidak pernah menanggung dosa. Salah siapa hidup Ferguso seperti ini? Salah siapa sebenarnya?
.
Hingga di suatu sore, kehidupan Ferguso yang pahit sudah benar-benar ada di ujung jurang. Saat itu, ia kelaparan setelah dua hari tidak ada apa-apa untuk dimakan.
Menghirup aroma roti yang baru dipanggang, air liurnya mengucur tidak dapat ditahan.
Didatanginya tempat penjual roti yang mengumbar-umbar aroma begitu mematikan. Lewat jendela kaca yang agak buram, Ferguso hanya berdiri mematung, memandangi deretan roti yang samar-samar mengepulkan uap hangat.
Ah, betapa beruntungnya orang yang bisa memakan roti baru matang di sana.
Ferguso memegangi perutnya sendiri, mengelusnya pelan untuk menenangkan bunyi-bunyian dari sana yang semakin berisik.
Namun, ketika ia akan pergi, sebuah tangan kecil menahan ujung bajunya. Ferguso pun berbalik dan melihat seorang gadis kecil berigigi ompong yang memberikan sepotong roti padanya.
“Untukku?” tanya Ferguso ragu.
Gadis itu mengangguk bersemangat. Kemudian, dengan bersemangat pula Ferguso menerima roti hangat tersebut. “Terima kasih, terima kasih banyak,” ucapnya dengan begitu gembira. Bahkan jika bisa, Ferguso akan menyembah kaki gadis itu karena mau berbaik hati memberinya makanan yang layak.
Tanpa bicara apa pun, gadis kecil berkepang dua itu berlari pergi, kembali ke dalam toko roti yang menguarkan aroma harum.
Terlalu lapar, Ferguso pun memakan roti yang empuk dan hangat di tangannya. Pada gigitan pertama, rasa manis tercecap lidahnya, membuatnya bahagia tak terkira.
Sayangnya, pada proses menuju gigitan ke dua, sebuah tangan besar menyambar roti di tangannya. Ferguso pun terbelalak kaget. Ketika ia mendongak untuk melihat orang yang begitu tega mengasarinya, ia melihat seorang wanita besar yang tampak murka padanya.
“Kau mencuri roti di tokoku!” Itu bukan pertanyaan, melainkan tudingan sepihak yang sepertinya sengaja dilakukan.
Dituduh dengan begitu tega, Ferguso pun menggeleng sekuat tenaga. “Ti-tidak.”
“Lalu apa yang baru saja kau makan ini, hah?! Memangnya dari mana kau bisa mendapatkan roti jika bukan dengan mencuri!”
Suara wanita itu sangat tinggi dan besar, membuat Ferguso ketakukan bukan kepalang. Meskipun ia berusaha untuk membela diri, tapi suaranya sendiri sulit untuk keluar. Terbata-bata, ia pun berkata, “A-anakmu, mem-memberinya.”
Wanita pemilik toko roti itu pun terkesiap. “Lagi-lagi anak itu memberi makan gelandangan!” Wajah bulat dan garang itu pun memerah, semakin marah. Tanpa belas kasih, wanita itu pun melempar roti yang sudah digigit Ferguso ke jalanan, meradang bukan kepalang. “Roti itu sudah kau gigit! Ambil saja!”
Setelah itu wanita pemilik toko kembali masuk seraya memanggil-manggil nama anaknya, membiarkan roti yang dilemparnya menggelinding ke jalanan, dan tidak sengaja diinjak beberapa orang.
Melihat makanan yang tersia-sia, hati Ferguso begitu merana. Ia berlari dengan tertatih-tatih, mencoba mengambil roti yang sudah penyet dan penuh dengan kotoran.
Hanya saja, ketika roti buluk itu sudah berada di tangan, sebuah kereta kuda lewat di depannya. Meskipun Ferguso berusaha melarikan diri, tetapi ia malah terbelit kakinya dan jatuh menyusruk tanah. Sebelah kakinya terlindas roda.
Sebagai anak yang baru berusia lima tahun, Ferguso tidak mampu menahan jerit dan tangis. Ia menjerit, menjerit, menangis, lalu menjerit lagi. Hingga kereta kuda itu hilang dari pandangan, Ferguso masih menangis meratap-ratap, seorang diri. Orang-orang yang lewat pun hanya menatapnya iba, tapi tak ada rasa empati lebih dalam untuk membantunya.
Roti yang penyet masih di genggaman, tapi Ferguso sudah tidak mampu lagi untuk memikirkannya.
Di tengah tangis dan kepasrahannya yang menyayat hati, tubuh Ferguso tiba-tiba diangkat oleh sebuah lengan yang tidak begitu besar. Lengan itu menggendongnya dengan hati-hati, menimang dengan sayang dan bahkan meniup-niup matanya.
“Astaga, mengapa ada anak yang terluka begini tidak ada yang mau menolong.” Pemilik lengan itu tampak berujar marah. Meskipun suara yang dikeluarkan begitu lembut, tapi Ferguso yakin orang itu sedang memprotes sekelilingnya.
“Dia hanya pengemis jalanan, Lycaon. Biarkan saja. Banyak yang seperti itu di dunia ini. Memangnya kau mau membantu mereka semua?”
Namun, orang yang dipanggil Lycaon itu terdengar tidak sependapat. “Karena tidak bisa menolong semua, apa salahnya menolong satu atau dua yang dapat terjangkau tangan.”
Perdebatan itu tidak begitu panjang, karena setelahnya tubuh Ferguso dibawa dengan cepat menaiki sebuah kereta kuda. Dalam perjalanan tersebut, Ferguso masih tidak mampu memproses apa pun di sekitarnya, yang bisa dia rasakan hanya kakinya yang begitu menderita.
Sampai entah berapa lama, tiba-tiba saja Ferguso sudah mulai lebih tenang dan tak lagi menangis. Ketika ia memperhatikan sekitar, ia sudah berada di sebuah ruangan sederhana dengan dua laki-laki di depannya. Tubuhnya terbaring lunglai, kakinya yang terlindas tampak diperban.
“Syukurlah kau tidak menangis lagi. Apa kau haus?”