Usai serangan yang cukup besar tersebut, angin di sekitar pun padam begitu saja. Saat itu juga, Neuri berlari ke tempat yang dirasanya ada Rowland di sana. Beberapa prajurit mencoba menyerangnya, tetapi segera dihempas oleh Loqestilla yang mengeluarkan sabetan-sabetan angin layaknya sabit terbang.
Di tengah pertikaian antara Loqestilla dan prajurit sihir, Neuri berlari ke pojok hall. Di sana hanya ada dinding putih tanpa ukiran. Namun, dari sana lah darah Rowland tercium begitu kuat.
Dengan bersusah payah, Neuri mencoba mencari pintu masuk yang ada. Sayangnya, hingga beberapa saat tidak ditemukan apa pun, entah itu benang tersembunyi atau petunjuk lainnya.
Saat sibuk dengan dunianya sendiri, Neuri bahkan tidak menyadari jika ada seseorang yang berusaha menusuk punggungnya.
Benar saja, pisau tajam yang dibawa orang berjubah itu menembus punggung hingga ke perut. Tanpa meringis sakit atau merasa kaget, Neuri berbalik dan dengan cepat mencengkeram tangan orang yang menusuknya. “Jadi, ini pilihanmu? Setelah mengkhianatiku, kau juga ingin membunuhku dengan tanganmu sendiri?”
Orang berjubah itu, yang kini tampak wajahnya dengan sangat jelas, menatap Neuri dengan pandangan sulit dideskripsikan. Entah mengapa, ia seperti ingin mengumpat sekaligus menangis. Bibirnya berkerut menahan emosi yang ditahan sampai membuatnya gemetar.
“Jawab aku, Ferguso!”
Meskipun dihardik begitu keras, Ferguso Albanero, yang kini akhirnya bertatapan kembali dengan majikannya, sama sekali tak mampu mengeluarkan sepatah kata atau pun sekadar mencicit. Ia mengigit ujung bibirnya, takut bersuara.
Melihat betapa kakunya Ferguso saat ini, Neuri benar-benar merasa tidak tega. Padahal sudah dikhianati, padahal sudah hampir dibunuh, tapi tetap saja, tetap saja Ferguso adalah orang kepercayaannya yang tidak bisa benar-benar dibenci. Kebaikan Ferguso di masa lalu tiba-tiba saja terbayang dalam benak.
Pada akhirnya, Neuri pun memelankan nada suaranya. Sebab, dalam hati paling dalam, masih ada harapan supaya Ferguso bisa kembali menjadi temannya, menjadi salah satu orang yang mau mendukungnya. “Ferguso ….”
“Ini semua salah Anda!” Namun, tiba-tiba saja Ferguso menjerit. Air matanya menerbos kelopak matanya, mengalir bagai banjir. “Anda yang mengkhianati saya lebih dulu! Anda yang pengkhianat!”
Merasa tidak paham arah pembicaraan ini, Neuri bertanya pelan. “Apa maksudmu?”
Sekali lagi, Ferguso masih menjawab dengan jeritan yang menyakitkan. “Anda bilang, saya adalah orang yang paling Anda percaya. Anda bilang, Anda tidak bisa hidup tanpa saya. Tapi, tapi Anda bertunangan dengan orang lain! Anda ingin menikah dengan orang lain!”
Awalnya, Neuri sama sekali tidak paham. Namun, semakin lama dipikir, semakin tahu ke mana pembicaraan ini berjalan. “Apa kau … memandangku seperti itu? Kau memandangku sebagai seorang laki-laki?” tanyanya kemudian, memastikan prasangkanya yang cukup membuat hatinya berjengit khawatir.
Ferguso terdiam, tangannya yang masih digenggam Neuri terasa sangat bergetar. Seolah takut sekaligus gugup. “Memangnya salah jika saya seperti itu?!” dan ia pun berteriak kembali. “Saya benar-benar … saya benar-benar memandang Anda sangat tinggi, sangat tinggi dan berarti.”
Melihat wajah frustasi Ferguso, Neuri hampir tidak bisa berkata apa pun lagi. Ia merasa kasihan, tapi juga menyesal.
Mengapa Neuri tidak menyadari tendensi perasaan Ferguso sejak awal? Apa dia setidakpeka itu, atau memang berusaha tidak ingin memikirkannya?
Sejak kecil, Ferguso memang selalu menempel padanya. Jika bertemu, anak itu akan memeluknya dengan wajah gembira dan pipi memerah. Bahkan sampai dewasa, Ferguso juga masih sering tersipu malu jika bersamanya.
Neuri pikir, Ferguso memang seperti itu, pemalu sejak dulu.
Akan tetapi, ada kalanya di beberapa kesempatan anak itu menjadi terlalu gugup dan seolah-olah mencuri kesempatan untuk bisa menyentuhnya. Entah sekadar menggandeng lengan Neuri melewati jalan berbatu yang licin, atau menemani Neuri berjalan-jalan di sekitar taman labirin untuk berbincang panjang.
Neuri tidak berpikir apa pun, tidak pernah memikirkan bahwa tindakan Ferguso memang memiliki tujuan tersendiri.
Bukan berarti jika tahu perasaan Ferguso, Neuri lantas akan menjauhi anak itu. Hanya saja, mungkin ia akan lebih menjaga sikap supaya tidak timbul kesalahpahaman.
Sayang sekali, nasi dalam kuali sudah diaduk menjadi bubur. Perasaan Ferguso sudah Neuri rusak secara tak sengaja, dan semua itu berubah menjadi bencana yang tidak diduga.
“Apakah jika tidak bisa memilikiku, kau lebih memilih melenyapkanku, Ferguso?” tanya Neuri pada akhirnya.
Meskipun ingin menjawab iya, tapi entah mengapa tiba-tiba bibir Ferguso terasa kelu. Ia tidak mampu menjawab apa-apa.
“Aku tidak bisa melarangmu menyukaiku, aku tidak punya kendali atas itu. Tapi, aku juga adalah seseorang yang merdeka. Bukan milik siapa-siapa,” ujar Neuri kemudian. Ia lalu melanjutkan, “Sebagai seseorang yang sudah bersamaku sejak kecil, bukankah kau yang paling tahu hal itu, Ferguso?”
Ferguso menggigit salah satu sudut bibirnya, tangannya mengepal dengan gemetar. Air matanya menetes tiba-tiba, tidak bisa dikendalikan. “Saya hanya … hanya berharap sangat tinggi pada Anda, My Lord. Dan bukankah, tidak apa-apa jika berharap pada seseorang? Bukankah itu juga hak saya sebagai manusia yang merdeka?!”
Neuri kehabisan kata, entah bagaimana lagi harus bicara dengan Ferguso yang seperti ini. Memaksakan pendapat pun mungkin akan percuma.
“Kalau begitu, seharusnya kau juga sudah siap untuk dikecewakan. Sebab aku tidak pernah menjanjikan apa-apa, hanya harapanmu yang terlalu tinggi padaku.”
Bola mata yang berair melotot tajam, Ferguso hampir tidak dapat menyangkal.
Mungkin benar apa yang diucapkan Neuri. Mungkin memang dirinyalah yang meletakkan impian terlalu besar. Padahal, manusia mudah sekali berubah. Mudah memberi tapi juga gampang menyakiti. Meskipun orang yang bersangkutan mungkin tidak sadar bahwa perilakunya membuat seseorang kehilangan hati.
Begitu juga Neuri. Laki-laki itu tidak lebih dari seorang manusia. Kebaikannya membuat Ferguso terlena, sehingga tidak sadar akan realita.
“Ferguso, kau mungkin mencintaiku. Namun, kau juga tidak pernah mengatakan apa pun padaku. Tindakanmu sampai sekarang adalah hasil dari pikiranmu seorang diri. Kau bahkan tidak meminta pendapatku tentangmu.”
Ferguso tetap membeku. Seolah menyadari bahwa ia selama ini memang berada dalam pikiran-pikiran sempit yang dia ciptakan sendiri. Dia marah pada Neuri, lalu bertindak gegabah hingga mengakibatkan ratusan nyawa melayang.
Dialah yang membuat Neuri ditangkap, dia pula yang membuat Loqestilla mengamuk. Semua berawal dari sikap egosinya dan rasa marah sesaat.
Betapa kejam dirinya. Seharusnya, seseorang memancungnya di depan khalayak. Mencambuknya hingga ia tidak ingin hidup lagi.
Sebenarnya, dari mana semua ini dimulai? Apakah dari pertemuannya dengan Neuri? Ataukah dari perasaan iri dan dengki yang ia lampiaskan pada sembarang orang?
Jika saja waktu dapat dikembalikan, mungkin Ferguso tidak akan menjual rahasia Neuri pada Lord Lubbock yang sejak lama mengincar keluarga Lycaon.
Ferguso benar-benar ingin memperbaiki segala hal, tapi semuanya sudah terlanjur hilang kendali.