Suara kokokan ayam mulai terdengar, artinya fajar telah datang. Di tengah perjalanannya di lorong-lorong gelap, Loqestilla sempat menghentikan langkah. Telinganya berjentik-jentik hanya untuk memastikan bahwa yang didengarnya memanglah kokokan ayam betulan.
“Sudah mulai pagi, My Lord,” ucapnya memberi informasi.
Neuri yang sedari tadi hanya mengikuti si rubah, tidak menyahut apa-apa. Ia sepenuhnya percaya pada apa pun yang ditangkap indera Loqestilla, sehingga tidak berani membantah atau membuat gugatan yang terburu-buru.
“Udara di sekitar mulai berbeda. Bau darah di luar juga mulai masuk hingga ke sini. Mari bergegas,” ujar Loqestilla lagi.
“Ya.”
Tanpa banyak berkata-kata lagi, keduanya melangkah lebih cepat dan pasti, menyesuaikan dengan indera penciuman Loqestilla yang semakin menguat.
Namun, di tengah perjalanan yang begitu serius, tiba-tiba saja Loqestilla berlari, seolah menemukan sesuatu yang harus segera dilihat. Neuri tentu mengikutinya begitu saja.
Siapa sangka, langkah mereka membawa ke sebuah pintu besar yang terbuat dari baja. Pintu tersebut tidak memiliki gagang, desainnya lebih mirip gerbang dengan ukiran-ukiran rumit yang entah apa artinya.
"Sebuah pintu?" tanya Neuri memastikan.
Loqestilla mengangguk. "Banyak aroma darah orang hidup yang tercium dari sana," jelasnya.
"Ya, aku pun menciumnya. Sepertinya, rata-rata yang ada di dalam sana adalah penyihir," tambah Neuri. Ia pun mulai mencoba mengendus-endus, mencoba menghirup aroma lebih teliti. Saat ia melakukannya, tidak disangka, ia menemukan aroma darah yang sangat familier baginya. "Ah, anak itu ada di dalam sana juga rupanya," gumamnya lirih.
Meskipun ucapan Neuri begitu lemah, tetapi berkat ketajaman telinganya, Loqestilla tetap bisa mendengar dengan baik. "Siapa yang Lord Neuri maksud?" tanyanya penasaran.
"Orang yang sempat kupercayai dan akhirnya menjadi pengkhianat," jawab Neuri cepat. Nada bicaranya terdengar agak terluka.
Mendengar jawaban tersebut, Loqestilla pun langsung tahu siapa yang dimaksud. "Ah ... anak itu, ya."
Neuri mengambil napas dalam. "Tidak perlu mempedulikan perasaan sentimentilku, Miss Loqestilla. Sekarang, bisakah kita membuka pintu baja ini?"
"Akan saya coba," jawab Loqestilla.
Setelah itu, Loqestilla segera memosisikan dirinya di tengah pintu baja tersebut. Ia mundur beberapa langkah untuk mengambil ancang-ancang. Kemudian dengan sekali ayunan tangan, angin-angin yang dipanggilnya berkumpul dan menerjang pintu baja tersebut.
Satu kali, dua kali, lebih dari sepuluh kali Loqestilla mengayunkan anginnya.
Suara yang ditimbulkan dari hantaman angin-angin tersebut begitu keras sampai memengangkan telinga. Namun, Loqestilla maupun Neuri tidak begitu peduli dengan kebisingan tersebut. Padahal, telinga mereka sendiri pun berdengung tidak keruan. Untuk beberapa saat ada kalanya mereka tidak dapat mendengar apa-apa.
Beberapa waktu kemudian, pintu baja pun mulai penyok secara perlahan di beberapa bagian. Hingga lima belas menit berlalu, pintu tersebut hancur di bagian tengah, menciptakan lubang besar yang bisa dilewati manusia dengan mudah.
Sayangnya, ketika Loqestilla dan Neuri memasuki lubang tersebut, mereka sudah disambut dengan formasi menyerang maupun bertahan dari sekumpulan penyihir. Padahal, ruangan di balik pintu tersebut sangatlah luas, mirip sebuah hall untuk berpesta. Kandelir menggantung di atas, lilin-lilin menyala dengan begitu terang. Hanya saja, suasana yang timbul sangat tidak mengenakkan hati.
Disambut dengan cara yang tidak ramah, Neuri mengepalkan tangannya erat, merasa marah dan terhina. Kemudian dengan lantang ia berujar. "Di mana Rowland Lubbock berada?! Aku tidak ingin menyakiti kalian, tapi jika kalian melindungi Lubbock, jangan salahkan aku untuk menghabisi semua orang di sini."
Sebenarnya, semua orang tahu jika ancaman tersebut bisa saja hanya gertakan sambal. Namun, meskipun seandainya Neuri hanya menggertak, semua orang di ruangan tersebut memang sudah tidak pernah ragu untuk memberi perlawanan dengan sepenuh hati. Bahkan jika pada akhirnya keputusan itu yang harus merenggut nyawa mereka sendiri.
.
Di bawah tanah yang tersembunyi, orang-orang cenderung kehilangan kewarasan. Ada yang bilang, udara yang lembap dan pengap adalah sumber segala penyakit, mulai dari penyakit kulit hingga penyakit hati. Mulai dari sekadar perasaan bosan, hingga menjadi gila sampai ingin mati.
Di bawah tanah yang seperti itulah Loqestilla dan Neuri memantapkan hati untuk berperang sekali lagi. Keduanya seolah sudah tidak peduli bahwa sedari kemarin belum menyuap apa-apa ke dalam mulut, tubuh penuh luka dan lebam, lelah dan sakit hati memadu menjadi amarah. Tidak salah jika sesekali perasaan ingin mati kadang datang menghampiri.
Namun, seterluka apa pun mereka kini, belum pantas rasanya untuk menyerah. Apa gunanya semua p*********n yang dilakukan Loqestilla jika ujung-ujungnya mereka harus berakhir kalah dan kecewa. Apa gunanya pula warga desa Lunadhia sampai memanggil iblis dengan mempersembahkan darah jika Neuri tidak bisa membawa kabar baik di akhir perjalanannya pulang kembali ke rumah.
“Lempar!” Seorang pemimpin pasukan berteriak lantang. Memberi perintah untuk anggotanya supaya melakukan serangan.
Benar saja, tembakan-tembakan sihir lantas diluncurkan dengan begitu beringas. Gumpalan bercahaya seperti api datang bertubi-tubi, bagai meteor yang menghujani bumi tanpa belas kasih.
Loqestilla mencoba menghadang berbagai serangan yang berusaha menghancurkan dirinya. Angin yang kuat bergerak-gerak di sekelilingnya, berputar bagai angin puyuh meskipun tidak begitu besar. Beberapa serangan berhasil ditangkis dan menghilang begitu saja di dalam angin ciptaannya, tetapi satu sampai dua serangan mampu lolos dan menerjang tubuhnya. Bahu kiri dan kaki kanan Loqestilla tertembak, rasanya panas terbakar, meninggalkan daging yang melepuh dan mulai berdarah. Apalagi, api yang tidak bisa terlalap, malah menjadi besar dan hampir membakar seluruh ruang.
Sangat tidak menguntungkan. Para penyihir itu menggunakan api sebagai serangan, sementara senjata utama Loqestilla adalah angin. Jika keduanya bertemu, sudah pasti api yang kecil akan semakin membara. Sulit rasanya bagi Loqestilla mengendalikan tiupan anginnya supaya dapat memadamkan api-api yang terus-menerus melompat padanya.
“Miss Loqestilla!” Neuri yang dalam perlindungan si rubah pun tidak bisa berhenti khawatir.
“Tidak apa, My Lord. Saya akan membuka jalan untuk Anda. Carilah Lord Rowland, saya sepertinya mencium aroma tubuhnya di sekitar tempat ini.” Dengan tubuh yang sudah tidak baik, Loqestilla menjawab seraya tersenyum. Seolah menyimpan pahit dalam luka-luka yang semakin menganga.
Neuri mengangguk meskipun hatinya merasa tak tega. “Ya, aku dapat menghirup aroma darahnya. Tapi, apa benar Miss Loqestilla bisa kutinggal sendiri?”
“Ya. Tenang saja, saya ini tidak mudah mati.” Loqestilla tersenyum kecil, senyumnya manis seperti biasa.
Melihat itu, hati Neuri menjadi lebih tenang tapi juga merasa miris. Ia pun menegakkan tubuhnya setelah mengambil napas panjang. “Ya, aku percaya pada Anda, Miss Loqestilla. Jika Anda terbunuh di sini, tenang saja, aku akan bunuh diri untuk menemani Anda.”
Loqestilla terkekeh. “Lord Neuri benar-benar tidak pernah mengecewakan.”
“Begitu pula dengan Anda, Miss Loqestilla.”
Pembicaraan keduanya pun usai. Loqestilla mengubah putaran angin yang mengelilinginya, membuatnya menjadi seperti sabit-sabit tajam yang dapat membelah udara, dan untungnya serangan-serangan lain lebih mudah terpental dan hancur tanpa sisa.