Rowland Rathmore Lubbock semakin sadar dengan apa yang dihadapinya sekarang. Ia bukan lagi berurusan dengan seorang wanita, atau bahkan tunangan wanita tersebut. Namun, ia tengah berurusan dengan seekor dedemit betina dan tunangan yang sama jenisnya.
Padahal, seumur hidup Rowland sudah sering berurusan dengan hal-hal terlarang semacam itu. Ia pernah mengirim kutukan, mempelajari mantra hitam, hingga memberikan persembahan pada penyihir-penyihir kegelapan. Semua itu ia lakukan demi mendapat kepuasan duniawi. Wajahnya yang dulu b***k kini menjadi tampan, musuh yang suka berkoar telah habis dimakan setan, dan bahkan wanita-wanita yang dulu pernah menghinanya telah berakhir menjadi abdi kepuasaan seksualnya.
Akan tetapi, menghadapi makhluk semacam Loqestilla Vent adalah hal yang tidak pernah terpikir olehnya. p*********n di rumahnya benar-benar sebuah malapetaka. Entah sudah berapa puluh prajurit dan penyihir utusannya yang habis menjadi korban. Rowland tidak tahu lagi harus meminta bantuan siapa untuk mengalahkan wanita rubah itu. Bahkan penyihir Nybe, sudah mewanti-wantinya sejak lama dan tidak ingin berurusan dengan Loqestilla. Ah, mengapa Rowland tidak mendengarkan penyihir Nybe saat itu.
“Your Grace, pengintai di atas sudah tidak lagi memberi kabar. Sepertinya semua orang yang tidak ikut ke tempat persembunyian telah tewas.”
Rowland hanya bisa menyandarkan punggungnya ke sofa usai mendengar laporan yang diberikan Mario padanya. "Kemungkinan dua monster itu telah menemukan jalan ke tempat ini," ujarnya pasrah dan tampak lelah. “Dalam semalam, rumahku yang dikenal sebagai dukedom palace paling tangguh ini pun telah porak-poranda. Dua orang itu, mungkin bisa saja membantai kerajaan tanpa terkecuali.”
Mario, sebagai seorang butler, tidak mampu memberi sedikit pun tanggapan. Takut salah bicara, takut memperburuk suasana hati majikannya.
“Suruh semua penyihir yang tersisa untuk memperkuat pertahanan. Jika bisa, minta tolong juga pada penyihir hitam yang mendukung keluarga Clemente,” perintah Rowland pada Mario.
Mendengar hal itu, alis Mario menaut ragu. “Tapi, Your Grace. Kita tidak punya waktu untuk menghubungi penyihir hitam yang keberadaannya tersembunyi di seluruh wilayah Norland.”
“Tidak masalah, karena kewajiban mereka bukan melindungiku, melainkan melindungi Lady Freya.”
Alis Mario semakin bertaut dalam. “Lady Freya?”
“Ya. Dia terlalu banyak terlibat dengan permasalahan ini, kemungkinan Miss Vent akan mengincarnya juga. Istri-istriku yang lain telah berada di kediaman mereka sendiri-sendiri, jadi tidak perlu mengkhawatirkan mereka.”
Kali ini Mario mengangguk mafhum. “Baik, Your Grace. Perintah Anda adalah kehormatan bagi saya.”
Mario tidak perlu berbasa-basi lagi, ia segera melangkah keluar dengan kepercayaan diri tinggi. Padahal, meskipun tampak tegar, hati terdalamnya banyak diselimuti kekhawatiran.
Apakah tuannya bisa menang?
Apakah ia bisa selamat?
Ia bahkan sudah memikirkan bagaimana tubuhnya akan dikuburkan jika sewaktu-waktu terbunuh ketika berpapasan dengan Loqestilla Vent.
Apakah tubuhnya masih utuh, atau malah tercabik seperti daging di p********n?
Ia sudah begitu lama menjadi abdi Duke of Clemente, tetapi baru kali ia merasa putus asa dengan masa depan. Padahal biasanya, seperti apa pun situasinya, Rowland Lubbock selalu menang. Pria itu, entah bagaimana pun caranya, selalu mampu menghabisi musuhnya dengan cara tidak terduga. Sebab ada banyak penyihir hitam di belakangnya, yang menopang sekokoh tiang besi.
Mario pun menggelengkan kepalanya satu kali, lalu mengambil napas sangat-sangat panjang untuk mengembalikan inti pikirannya.
Di lorong yang gelap, ia melepas kedua sepatunya, lalu berjalan ringan supaya langkahnya tidak terdengar dari arah berlawanan. Akan gawat jika ketepak sepatunya didengar Loqestilla yang telinganya cukup ajaib itu.
Semakin ia berjalan ke luar, aroma amis terasa lebih menyengat. Tidak terbayangkan di pikiran Mario, berapa ratus orang yang dibutuhkan untuk menciptakan bau tidak mengenakkan tersebut. Mungkin ini adalah pengalaman paling berdarah yang pernah Mario saksikan sepanjang hidupnya, lebih buruk daripada pengalamannya terjun langsung ke medan perang di masa lalu.
Mario tidak ambil pusing, ia melanjutkan langkahnya dengan hati-hati. Sedikit menguatkan tekat dan tampaknya siap mati.
‘Setidaknya aku harus bersiap untuk bertemu Rubah itu. Kebetulan selalu menjadi sesuatu yang menyeramkan’ batin Mario terdengar putus asa.
Di antara banyak lorong bercabang, Mario dapat dengan mudah menemukan jalan keluar. Ia memilih jalan berbeda dari sebelum datang, karena jika Loqestilla mengikuti jejaknya, sudah pasti wanita itu memilih jalan utama yang memiliki aroma kuat Lord Lubbock.
‘Kudengar penciuman wanita itu seperti anjing’ Mario membatin lagi. ‘Ah, rubah memang sejenis anjing. Mereka satu famili’ Ia pun merasa bodoh dengan pikirannya sendiri.
Pada akhirnya, seraya memikirkan ini dan itu, Mario sampai juga di tangga besi yang mengarah ke atas. Lamunannya bahkan sempat membuat lupa jika ia sekarang sedang berusaha kabur dan menjalankan tugas sebagai seorang pelayan pribadi.
Sebelum Mario naik ke tangga besi, ia sempat berhenti dan melihat ke belakang. Perasaannya sedikit tidak enak, seolah jika ia menaiki tangga sekarang, selamanya ia tidak akan bertemu lagi dengan Lord Lubbock.
Hanya saja, jika ia sekarang kembali, ada kemungkinan ia akan tercincang. Tugasnya tidak akan pernah selesai, dan ia mati sia-sia.
Mengambil napas panjang, Mario pun mulai meniti anak-anak tangga yang sedikit licin dan berbau besi. Ia terus naik dengan cepat, lalu membuka ventilasi yang terhubung dengan permukaan.
Saat Mario berhasil keluar dari lorong, hal pertama yang ia rasakan adalah tajamnya aroma darah yang menusuk hidungnya. Aromanya lebih tidak enak daripada ketika ia menyembelih seekor kuda. Amis dan busuk, bercampur dengan embun pagi yang lembap dan segar. Benar-benar perpaduan yang sukses membuat perut Mario melilit mual.
Cuih!
Suara Mario membuang ludah terdengar cukup kencang. Ia mengeluarkan sapu tangan dalam kantung celana, dan menggunakannya sebagai masker untuk melindungi hidungnya dari bebauan menyengat.
Seraya menali ujung sapu tangan di belakang kepala, Mario kembali berjalan ringan dengan bertelanjang kaki. Sesekali ujung matanya melirik mayat-mayat yang bergelempangan, karena ia sendiri tidak berani melihat dengan jelas bagaimana kondisi para prajurit yang terbantai secara tragis.
‘Mimpi burukku akan cukup panjang’ batinnya.
Sekarang, ia hanya harus pergi dari sini. Mencari kuda atau apa pun kendaraan yang ada, semakin cepat semakin baik.
Namun, sebelum menemui Lady Freya untuk melaporkan kondisi terkini, Mario harus lebih dulu mencari para penyihir yang tersebar di berbagai tempat di Norland. Setidaknya, ia bisa mengumpulkan orang-orang itu sebelum Loqestilla Vent melakukan perbuatan lebih buruk lagi.
“Jika Lady Freya yang memegang kendali, kurasa wanita rubah itu akan mati sebentar lagi.”
‘Aku hanya berharap Lord Lubbock bisa bertahan sampai Lady Freya berhasil mengumpulkan kekuatannya’
Meskipun hatinya penuh harapan, tapi Mario tidak bisa begitu saja mengabaikan rasa khawatir yang selalu mengganjal.
Bisakah ia meninggalkan Rowland sendirian?