RED - 44 : Lets Find The Way

1124 Kata
Puluhan lukisan ditumpuk menjadi satu, kemudian dengan sekali tebasan angin, tumpukan tersebut hancur menjadi kepingan-kepingan yang tidak lagi berharga. Di atas semua kerusakan tersebut, Neuri membakar surat-surat yang tadi sempat dibacanya dengan hati menahan marah. “Apa Lord Neuri tidak merasa sayang dengan semua lukisan ini?” Neuri yang ditanyai hanya bergeming di depan tumpukan benda-benda yang sudah menjadi sampah itu. Tangannya mengepal kuat, dan matanya memandang tanpa keraguan. “Ya. Ibuku pun akan merasa tersiksa jika melihat hal seperti ini. Setidaknya, sampai Ibuku mati, ia melihat Rowland sebagai seseorang yang budiman. Sebagai teman yang dapat diandalkan,” jawab Neuri tegas, tidak membiarkan Loqestilla tahu perasaannya yang masih saja terguncang hebat. “Lalu, setelah ini kita mau ke mana? Saya rasa sekarang sudah pukul tiga pagi. Sebentar lagi matahari akan menyingsing. Apa Lord Neuri masih ingin mencari Lord Rowland?” tanya Loqestilla pada akhirnya, mencoba fokus pada tujuan utama. “Ya, meskipun harus berurusan dengan banyak orang di pagi hari, aku akan terus mengejar orang tua itu.” Neuri menjawab dengan mantap. Loqestilla mengambil napas Panjang, lalu ia pun berujar, “Lord Neuri, Anda terlihat marah.” “Ya, aku memang sedang marah. Mengapa Anda harus menegaskannya?” pertanyaan retoris itu diucapkan dengan sisa-sisa kejengkelan yang ada. Namun, Loqestilla seolah terbiasa. Dengan senyuman yang terlihat pengertian, Loqestilla berujar, “Saat marah, apa pun keputusan yang diambil hanya akan berakhir buruk. Mengapa Anda tidak coba beristirahat sebentar untuk menenangkan diri? Mari pikirkan cara dan tujuan selanjutnya dengan kepala dingin.” “Tidak ada waktu.” “Selalu ada waktu, My Lord.” “Tidak ada waktu, Miss Loqestilla!” Nada suara Neuri meninggi, napasnya menjadi tidak teratur. Tanpa ikut tersulut emosi, Loqestilla mendekatkan diri pada tuannya yang tanpa sadar diliputi ketidakberdayaan. Tangannya mengelus punggung telanjang Neuri yang luka-lukanya hampir menutup sempurna. “Terakhir kali Anda marah, Anda bersekutu dengan iblis, dan Anda menyesalinya sampai sekarang, bukan?” Neuri terdiam. Namun, ia kemudian menyahut, “Dan Anda mengajak saya untuk semakin terjerumus. Kita sudah kepalang basah, Miss Loqestilla.” Loqestilla bicara lagi. “Lord Neuri mungkin terburu-buru, tapi saya yakin selalu ada jalan yang bisa dipilih ketika hati dan pikiran seseorang menjadi cukup jernih untuk berpikir.” Entah mantra magis apa yang membuat Neuri kali ini begitu penurut. Ia sama sekali tidak menyangkal dengan setiap kata yang dituturkan Loqestilla. Bahkan dalam hati, ia menyetujuinya begitu saja tanpa banyak keluhan. Pada akhirnya, Neuri pun mengangguk seraya mencoba menenangkan napasnya yang mulai tidak keruan. Setelah mengambil napas sangat panjang, wajah marahnya pudar begitu cepat. "Apa Miss Loqestilla memiliki petunjuk ke mana kita harus pergi? Atau, kita ikuti saja lorong yang tersisa?" tanyanya terdengar kasual, seolah aksi marah-marahnya tadi hanyalah drama panggung yang tidak berarti. Loqestilla pun tidak ambil pusing dengan bagaimana Neuri bersikap. Ia tampak merenung sejenak, memikirkan jawaban yang bisa ia berikan untuk majikannya. "Di tempat ini aroma darah dari luar tidak begitu tercium. Mungkin kita bisa lebih fokus mencari keberadaan Lord Rowland. Hanya saja, karena udara di sini juga tipis, aroma apa pun menjadi lebih samar." Neuri menyahut, "Tidak apa-apa. Mari mencarinya dengan pelan. Aku tidak ingin terburu-buru dan berakhir dengan menyakiti Miss Loqestilla nantinya." Mendengar itu, Loqestilla terkekeh ringan. "Terima kasih, My Lord. Di saat seperti ini pun, Anda masih saja sangat perhatian." Meskipun tidak ikut berwajah bahagia, Neuri memandangi Loqestilla dengan sangat lekat dan sejujurnya mengamini ucapan rubah betina itu. "Ya. Aku hanya bisa mengandalkan Anda saat ini. Anda satu-satunya yang dapat saya percaya," ucapnya tenang dan tanpa sedikit pun ragu-ragu. Ingatannya mengenai Loqestilla yang kerasukan masih membekas dalam kepala. Entah mengapa, hanya karena perkara bahwa mereka berdua sama-sama dimanfaatkan iblis, membuat Neuri merasa punya ikatan yang lebih erat dan dalam. Mirip perasaan seorang perantau yang menemukan saudara sekampung halaman. Neuri tidak tahu perasaan Loqestilla yang sesungguhnya padanya. Apakah wanita rubah itu menganggapnya saudara, majikan, atau malah lebih dari itu semua. Namun, rasanya cukup benar baginya untuk sedikit mengendurkan pertahannya jika bersama Loqestilla. Setidaknya, jika pada akhirnya ia dikhianati lagi, ia sudah tahu bagaimana cara menyalahkan Loqestilla. Sebab, ada banyak sekali, terlalu banyak momok yang bisa Neuri korek. . . . “Apakah, Anda tidak apa-apa, My Lord?” tanya Loqestilla sesaat ketika ia dan Neuri mulai menjelajahi lorong yang lembap sekali lagi. Meskipun ia tidak begitu tahu bagaimana hubungan Neuri dan Rowland terjalin selama ini, tetapi ada sedikit celah di mana ia tahu bahwa Neuri pasti sedang merasa frustasi. Entah karena kecewa pada Rowland, atau pada dirinya sendiri. “Aku baik-baik saja. Apa Miss Loqestilla mengkhawatirkan saya?” Loqestilla mengedikkan bahunya. “Anda seperti memiliki hubungan yang rumit dengan Lord Rowland, jadi saya tidak yakin siapa yang perlu saya khawatirkan. Anda, atau malah Lord Rowland.” “Apakah kau menaruh simpati pada laki-laki itu?” Kali ini Loqestilla menggeleng. “Saya hanya penasaran. Mengapa seseorang bisa begitu mencintai orang lain sedemikian besarnya. Saya ini … bukan manusia, sehingga saya tidak begitu mengerti apakah perbuatan Lord Rowland terhadap keluarga Anda merupakan kesalahan atau tidak. Sebab selama ini … saya pun … tampaknya melakukan banyak hal buruk pada orang lain hanya demi mendapatkan seseuatu yang saya inginkan.” “Jadi maksud Anda?” tanya Neuri sekali lagi. “Saya sebenarnya juga kurang faham, mengapa Lord Neuri bisa semarah itu ketika mengetahui Lord Rowland mencintai ibu Anda.” Kali ini Neuri mengambil napas panjang, tampak siap menjelaskan. “Tidak ada yang salah dengan mencintai orang lain, Miss Loqestilla. Namun, sesuatu menjadi salah jika sudah berkaitan dengan hak-hak orang lain.” “Oh.” Loqestilla mengangguk seolah menyadari sesuatu. “Apakah karena Lord Rowland mencoba mengambil paksa ibu Anda?” Neuri tidak lantas menjawab, kedua tangannya lantas mengepal erat. “Anda kadang terlihat seperti orang bijak, tapi di sisi lain Anda juga seperti orang bodoh. Saya tidak tahu, harus melihat Anda seperti apa, Miss Loqestilla,” ujar Neuri. Namun, Loqestilla hanya terkekeh seperti biasa. “Saya ini hanya seorang atsune yang sedang belajar, My Lord. Sesekali, saya juga merasa sedih ketika kehilangan teman-teman yang pernah saya temui. Namun, di beberapa kesempatan, saya malah merasa senang kehilangan mereka. Bukankah Anda sudah pernah saya beri tahu bahwa sebelum berada di Lunadhia, saya ini bisa melakukan pekerjaan apa pun?” Neuri tersenyum kering. “Terlalu lama melihat Anda menjadi guru, membuat saya lupa siapa Anda sebelumnya.” Kali ini Loqestilla terkekeh lagi. “Saya harap Anda jangan sampai lupa, My Lord. Banyak teman-teman saya yang sering lupa jati diri saya semula, dan mereka pada akhirnya celaka.” “Anda memang tidak bisa dipercaya.” Loqestilla mengangguk. “Ya. Saya memang tidak bisa dipercaya. Namun, saat saya memberikan kepercayaan seutuhnya, saya akan melakukan apa pun untuk kepercayaan itu.” “Semoga Anda bisa memegang ucapan Anda sendiri, Miss Loqestilla.” Lqestilla tidak menjawab apa pun, hanya mengulum senyum kecil seperti biasa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN