BAB TIGA BELAS

2891 Kata
Sekarang, di sinilah Ello dan Sharyn berada. Tepatnya di sebuah kedai masakan Jepang kesukaan Sharyn. Sepanjang perjalanan, Sharyn tak henti-hentinya bercerita betapa enaknya makanan di kedai ini. Ello hanya menanggapi cerita Sharyn dengan sesekali anggukan dan gumaman tidak jelas. Ello sampai menguap saking ngantuknya mendengar celotehan Sharyn yang menyebalkan. Dan sialnya celotehan itu masih terus berlanjut hingga saat ini. “Mas El, tempatnya bagus, kan? Nuansa Jepang-nya kerasa banget. Nanti di sana kita juga bisa lihat macem-macem karakter anime sama manga, loh.” Sharyn menunjuk rumah adat Jepang kuno yang terbuat dari kayu di tengah halaman. Ello mengangguk-angguk sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tempat ini tidak buruk juga. Benar kata Sharyn. Suasananya nyaman dan menyenangkan. Seperti Jepang yang tenang dan damai. Ello mendudukkan diri di lantai tatami beralas bantal duduk. Sebuah meja kayu berbentuk persegi berada tepat di depannya. Lalu satu set teh Jepang ocha dan macha terhidang di atasnya. “Mas, minum teh Jepang bagus buat kesehatan, loh. Apalagi macha green tea.” “Hm...” Ello menatap Sharyn. “Jadi, sekarang kamu mau nyeramahin dokter? Harusnya aku yang bilang begitu ke kamu. Lebih baik sekarang kamu aja yang minum. Biar kamu sehat dan nggak terus-terusan sakit kayak gini.” Sharyn memanyunkan bibir. “Ihh... Aku nggak sakit, Mas. Tuh kan—Mas El, sih! Jaja jadi bangun dari tidur.” Eza mengerjap-ngerjap sambil menatap sekeliling. Matanya melongok ke depan dan jemari telunjuknya siap terangkat ke atas. Seperti kebiasaannya setiap hari. Dan Ello tahu yang selanjutnya terjadi. “Bubububuu...” Eza memain-mainkan bibir menimbulkan suara-suara aneh yang membuat nafsu makan Ello menurun gara-gara air liur bayi itu meloncat kemana-mana. “Jaja mau takoyaki, nggak? Tante pesenin, yah.” Sharyn menawarkan pada Eza. Eza sendiri tidak paham. Masih terus memainkan bibirnya dengan ‘bububu’ yang semakin keras. Ello semakin jengkel dengan keponakannya satu itu. Tatapan tajamnya kini beralih pada Sharyn. “Heh, bayi nggak makan takoyaki! Mendingan bikinin bubur yang dikasih Echa aja. Terus kamu suapin biar dia diem. Berisik tahu nggak suaranya si Jaja?!” Sharyn menggigit bibir. Pada akhirnya mengangguk dan mengorek-orek tasnya mencari bubur bayi kemasan. Lalu diletakkannya bubur itu di atas meja sambil mengingat-ingat pesan Echa tadi pagi. Katanya, bubur kemasan bayi tinggal diseduh menggunakan air panas. Kalau sedang doyan, beri sedikit-sedikit saja. Kalau tidak mau, jangan dipaksa. Oke, ingatan Sharyn cukup bisa diandalkan kali ini. “Oh iya, Mas El pesan apa aja tadi?” Sharyn menarik buku menu dan membuka-bukanya sekilas. Ello berdeham-deham sebentar. “Aku mau ramen ebikatsu furai. Jangan pake katsubushi sama mayonaise. Aku nggak suka. Minumnya black kohi tanpa gula.” Sharyn mengangguk-angguk. “Mas El duduk sini dulu, ya. Aku mau minta air panas dulu di depan buat suapin Jaja. Sekalian kalau Incha bangun mau aku suapin juga dikit. Biar dia nggak nangis kelaperan pas pulang. Terus, nanti kalau makannya udah sampai, makan aja dulu,” katanya sambil mendorong kereta si kembar menuju dapur restaurant. Ello mendesis. Dalam hati menggerutu. Sok tahu sekali Sharyn itu. Padahal baru beberapa bulan ini dia mengenal si kembar. Harusnya Ello yang lebih tahu soal si kembar. Bukannya malah Sharyn yang sok memutuskan dan mengguruinya tentang cara mengurus si kembar. Ah, sudahlah. Ello tidak sedang ingin membahasnya. Sekarang dia lelah sekali. Seharian ini digunakannya untuk berjalan mengelilingi Ragunan yang luasnya sepuluh kali kampusnya dulu. Oh, Ello butuh istirahat. Akhirnya Ello menyenderkan sejenak punggungnya di pintu kayu. Matanya berputar menatap kolam air mancur yang mengalir tenang di bawah. Gemericik airnya mengalun indah secara konstan. Di bawahnya kumpulan koi berenang ke sana-ke mari menimbulkan perpaduan warna yang menyenangkan. Ekor mereka bergoyang seperti tarian hula-hula yang kerap dilihatnya di tv. Baru saja Ello memutuskan memejamkan mata, satu suara yang cukup dihafalnya mengalun begitu saja. Mau tak mau membuat Ello mengerjap waspada dengan suara itu. Ketika dia mendongak, si pemilik suara berada tak jauh di depannya dengan ekspresi bahagia. Nasha. “Loh, Mas Erro, kan? Malem Mas Erro.” Ello mengernyit ke arah Nasha tanpa niatan menjawab. Dari sekian banyak hal yang ada di dunia, Nasha adalah hal terakhir yang ingin dilihatnya. Oh, atau mungkin dia tidak ingin melihatnya sama sekali. Dan mengapa dari beribu-ribu restaurant yang ada di Jakarta, Nasha harus menampakan batang hidungnya di sini. Membuat nafsu makan Ello semakin turun saja. Nasha tak menyerah meski mendapat pengacangan dari Ello. Tanpa disuruh pun sekarang dia sudah mendudukkan diri tepat di seberangnya. “Tumben banget loh, Mas Erro di sini. Mbak Echa mana, Mas? Ehmm... El juga—nggak ikut?” Tanpa sadar Ello menjawab ketus. “Enggak! Mereka nggak ikut!” Nasha tersenyum bahagia. Tampak sekali wajahnya langsung sumringah. “Ya udah, daripada sendirian mending aku temenin makan ya, Mas. Nggak enak loh makan sendirian.” Ello semakin gusar. Mati-matian dia menahan amarahnya yang semakin mengepul. “By the way, Mas Erro butuh model tambahan nggak?” Nasha langsung salah tingkah. “Eh, maksud aku, semacam model pembantu gitu. Mmm... Gimana ya ngomongnya? Kalau Mas kekurangan model, aku mau loh jadi model-nya Mas Erro.” Dan ketika Nasha berusaha meraih tangan Ello, kesabaran Ello benar-benar habis. Tiba-tiba dia sudah menggebrak meja dengan penuh amarah. “Sorry, sayang banget lo salah orang!” Ello menatap tajam Nasha dengan senyuman miring. “Gue bukan Erro!” Nasha terpekik tak percaya. Mulutnya menganga shock. Matanya kini bergerak liar menjelajahi tubuh Ello. Benar. Dari suaranya saja terdengar dingin dan menyeramkan. Setelah diteliti memang sangat berbeda dengan sosok Erro yang sedikit lebih jangkung. Tapi selebihnya tampang mereka sama. Dan yang membuat Nasha semakin kaget adalah gaya berpakaian Ello yang lain dari hari biasanya. Hari ini laki-laki itu mengenakan jeans biru dan atasan kaos hitam gelap yang dilapisi donker tajam menawan. Astaga. Nasha tidak pernah sadar kalau Ello bisa setampan ini. “Ka—kamu beneran El?” tanya Nasha dengan suara lirih yang masih shock. “Lo pikir siapa lagi?” Ello menatap Nasha jengkel. “Udahlah, kalau lo nggak mau minggir. Mending gue yang pergi. Silahkan makan sendiri.” Tiba-tiba Nasha menarik pergelangan tangan Ello secepat kilat. Mulutnya tampak gemetaran. Raut ragu-ragu terpampang di wajahnya. Tapi akhirnya dia berani mengucapkan. “El, co—coba kalau sejak dulu kamu kayak gini. A—aku pasti nggak bakal bosen sama kamu. A—Aku juga nggak bakalan selingkuh. A—Aku nyesel sekarang udah ngelepasin kamu.” Ello menghempaskan tangan Nasha dengan kasar. “Oh, lo suka gue kayak gini? Yang kayak Erro gitu, kan, kesukaan lo? Sorry, sayangnya gue bukan Erro! Dan gue nggak suka cewek yang cuma bisa lihat orang dari tampilan luarnya aja!” “El, kamu salah paham. Ma—Maksud aku...” “Lo pikir selama ini gue nggak tahu?!” Ello tersenyum miring. “Gue tahu semuanya, Nas. Semua kebusukan lo gue udah tahu. Kalau dulu gue kejebak rayuan lo. Sorry, sekarang itu nggak akan pernah terjadi. Rayuan busuk lo nggak bakal mempan lagi di gue.” “El, aku bisa jelasin semuanya. Tapi kamu harus janji sama aku. Akhiri pernikahan kamu yang konyol itu.” Ello masih tertawa. “Apa yang mau kamu jelasin emang? Semua udah jelas, Nasha! Bahkan saat awal lo ditolak perusahaan Wide di ajang pencarian model, harusnya gue nggak kasihan dan simpati sama lo. Udah jelas-jelas lo suka sama Erro yang jadi fotografer di Wide waktu itu, kan? Tapi karena dia udah nikah, akhirnya lo mundur. Dan saat lo tahu Erro punya saudara kembar, lo deketin saudara kembarnya dengan rayuan lo yang busuk. Sampai dia jatuh dengan begitu bodohnya di tangan lo. Padahal, lo nggak pernah suka sama dia, kan?” Nasha menahan isak tangisnya. Memori tentang ajang pencarian model Wide yang sempat diikutinya berputar begitu saja. Ya, dia memang terpesona dengan salah satu fotografer di sana. Arnaferro Angkasa. Selama karantina, dia memang sering mengobrol dengan Erro. Bahkan Erro sendiri yang bercerita tentang keluarga kecilnya, kehamilan istrinya, bahkan tentang saudara kembarnya. Sejak Nasha tahu Erro mempunyai saudara kembar, Nasha memang bertekad untuk mengejarnya. Dan jujur saja, sewaktu dia mencari informasi di Jakarta Medical, dia memang shock saat tahu saudara kembar Erro sangat berbeda dengan yang ada di harapannya. Begitu dingin, pendiam, dan datar. Nasha melakukan segala cara untuk menjatuhkan hati Ello. Mulai dari berpura-pura sebagai pasien, membuntutinya setiap hari, bahkan mendatanginya di kantin rumah sakit setiap hari. Awalnya Ello sangat risih dengan adanya Nasha. Berulang kali dia mengabaikan Nasha dengan kata-katanya yang ketus dan pengusiran lainnya yang menyakitkan. Tapi Nasha tak pernah menyerah meruntuhkan bongkahan es dalam diri Ello. Sampai akhirnya Ello menyerah dan mencoba menerima Nasha. Dan sekarang, Ello menyesal pernah mengizinkan perempuan busuk ini untuk mengetuk pintu hatinya. “Lo tahu, apa yang lo lakukan ke gue itu jahat banget.” Ello tertawa miris. “Gue emang bodoh pernah percaya sama siluman kayak lo.” “Please, dengerin aku, El.” Nasha menjerit frustasi. “Aku sayang sama kamu, El. Aku—” “Bullshit! Udahlah, ngaku aja lo. Sebenarnya lo deketin gue karena gue kembarannya Erro, kan? Karena muka gue sama kayak dia? Tapi sorry, gue bukan Arnaferro! Gue Arviello! Dan kita berbeda!” Setelah meneriakkan itu, Ello berjalan pergi dengan angkuh. Di depan sana tampak musuh terbesarnya—Benny—tengah mencoba mendekati istrinya. Kekesalan dan amarah yang sejak tadi ditahannya semakin memuncak. Dengan kasar didorongnya bahu Benny hingga terjerembab ke tanah. Lalu ditariknya tangan Sharyn secepat yang dia bisa. “Lo, jangan pernah ganggu istri gue lagi!” teriak Ello penuh amarah sebelum akhirnya menarik Sharyn dan mendorong kereta si kembar menjauh. Begitu mereka sampai di parkiran, Ello bergerak semakin cepat. Sharyn tahu ada yang berbeda dengan Ello sekarang. Entah apa yang terjadi, tapi Sharyn bisa menangkap satu bentuk emosi yang terpancar dari matanya. Suara bantingan pintu terdengar menusuk-nusuk gendang telinga Sharyn. Dia masuk perlahan sambil memposisikan si kembar yang mulai mengantuk lagi di belakang. Lalu suara hening sampai Ello menggas mobilnya dengan kecepatan gila-gilaan. Sharyn memekik ketakutan ketika mobil Ello semakin lepas kendali. Langit sudah berubah malam dan cahaya mobil tampak tak terlihat. Sharyn takut jika sesuatu yang buruk terjadi. Dengan kasar ditariknya tangan Ello yang masih membabi buta di atas setir mobil. “Mas El, cukup! Sebenernya kenapa? Gara-gara Nasha?!” Sharyn berteriak. Detik selanjutnya terdengar bunyi decitan panjang mobil. Mobil audi putih yang dinaiki mereka berhenti di jalanan sepi yang mengarah menuju jalan raya. Ello mengerang frustasi sambil mengacak rambutnya. Beserta melepas kemeja kotak-kotaknya dan membuangnya begitu saja ke luar jendela. Sambil memukul-mukul setir, Ello berteriak kencang. “Erro! Erro! Erro! Selalu aja Erro! Semua orang suka sama Erro! Erro yang jenius, Erro yang baik hati, Erro yang ramah dan murah senyum, Erro yang jago olahraga, Erro yang pandai bergaul, Erro yang temennya banyak, Erro yang disayang semua orang! Erro punya segalanya! Sedangkan gue?! Apa yang gue punya?! Bahkan sejak gue lahir, gue nggak dapet apa-apa! Gue cuma bisa jadi bayangannya Erro!” Sharyn menatap Ello dengan raut wajah cemas. Tangannya bergerak gemetaran menyentuh pundak Ello. “Mas El, udah Mas—” katanya lirih penuh permohonan. Ello mengerang semakin frustasi. “Lo nggak tahu apa-apa! Yang terlihat nggak selalu sama di dalamnya! Gue sama Erro itu ibarat benda sama bayangannya. Sama tapi berbeda. Erro punya segalanya dan gue enggak!” Suara Ello melirih. Cengkraman tangannya pada setir mulai mengendur. Beberapa detik selanjutnya rangkaian kalimat kembali mengalir dari mulutnya. “Gue tahu sejak dulu kalau kita berbeda. Erro pinter banget dan disanjung semua orang. Sedangkan gue? Gue bahkan cuma dapet seperempat dari otaknya Erro! Gue bodoh! Daya tangkap otak gue lambat! Waktu TK gue sering dicap g****k gara-gara gue nggak bisa baca tulis dengan bener. Tapi Erro? Erro selalu jadi juara. Erro bisa hafalin bagan perkalian dalam satu jam. Bahkan buku cerita dongeng yang panjangnya ribuan kata pun bisa dia selesein beberapa menit waktu masih TK.” “Mungkin Mas Erro cuma beruntung. Buktinya Mas El sekarang lebih pinter, kan? Waktu udah jawab semuanya, Mas.” Ello menghempaskan tangan Sharyn. “Lo pikir apa yang gue raih sampai di titik ini gampang?! Enggak! Selama ini, mati-matian gue berjuang buktiin ke semua orang kalau gue bukan cuma bayangannya Erro. Setiap malem gue belajar supaya gue bisa kalahin dia. Awalnya susah, gue ulang-ulang tetep aja gue nggak hafal huruf sama angka. Tapi gue berusaha terus. Bahkan gue nggak peduli kalau gue kurang tidur demi belajar. Gue lalui semua itu sedikit demi sedikit sampai akhirnya waktu masuk SD gue berhasil kalahin dia.” Sharyn menggigit bibir berulang kali. Tangannya kembali bergerak meraih tangan Ello. “Mas El, nggak usah dilanjutin.” Tapi, Ello terus melanjutkan. “Dan akhirnya Papa sama Mama beliin gue mainan yang sama kayak punya Erro karena gue berhasil dapet nilai bagus. Gue seneng banget. Akhirnya gue juga bisa dapetin apa yang Erro punya. Tapi, nggak lama setelah masuk SD, temen yang gue suka malah sukanya sama Erro. Lagi-lagi Erro. Bahkan sampai hari ini pun Erro masih jadi saingan gue. Di saat gue udah jadi dokter dengan susah payah, dibandingin sama dia yang modal cekrak-cekrek doang, tetep aja semua orang sukanya Erro. Selalu aja Er—” PLAAAK Sebelum Ello sempat melanjutkan, tamparan kuat Sharyn menghantam pipinya keras-keras. Rasanya sakit dan panas. Membuat Ello tiba-tiba mematung dan memegangi pipinya dengan raut wajah kosong. Rambutnya acak-acakan dan pancaran matanya mulai mengabur. Saat itulah Sharyn menggunakan kesempatan ini untuk menyadarkannya. “Cukup, Mas El! Cukup! Mas Erro nggak sesempurna itu! Mas Erro juga cuma manusia biasa. Dibalik semua kelebihannya, pasti ada kekurangan yang nggak kalah banyaknya!” Sharyn mencengkram pundak Ello kuat-kuat dan mengguncangkannya. “Mas El pasti tahu kekurangan Mas Erro. Mas El yang paling tahu. Sekarang, sebutin semua kekurangan Mas Erro! Sebutin semuanya!” Tak ada jawaban selain isak tangis dari Ello. Sharyn yang semula bergejolak emosi kini terkaget dengan reaksi yang ditunjukkan Ello. Tidak pernah terpikirkan olehnya kalau manusia sedingin dan sedatar Ello bisa menangis begini. Dan barusan adalah curahan hati Ello yang terpanjang selama mereka bersama. Juga tangis pertamanya yang didengar Sharyn. “Mas—Maafin aku, Mas. Aku cuma—” Ello menjambak rambut frustasi. Dulu, dia malu menangis di depan banyak orang. Sekarang dia ingin menangis sepuasnya. Dia ingin menangis sekuat yang dia bisa. Sharyn benar. Ello terlalu kalap sampai melupakan semua fakta sebenarnya. Seharusnya Ello tidak seperti ini. Seharusnya Ello tidak lepas kendali dan menjelek-jelekkan Erro. Justru seharusnya dia bangga memiliki saudara seperti Erro. Lalu isak tangis Ello mengencang bersamaan dengan kepingan memori masa kecilnya. Kilasan kenangan tentang mamanya berputar begitu saja. Mamanya yang selalu tersenyum dan memeluk mereka. Mamanya yang sangat menyayangi Erro sampai rela meregang nyawa demi Erro. Dan saat itu, semua orang menuduh Erro yang masih kecil sebagai pembunuh mama. Papanya mulai membenci dan menjauhi Erro. Bahkan keluarga mamanya juga demikian. Dengan sangat bodohnya Ello juga melakukan hal yang sama. Menjauhi Erro dan mencari kesibukan sendiri lewat buku dan kegiatan belajarnya. Bahkan setiap kali papanya memukuli Erro, dia tidak pernah ada di sana untuk membela Erro. Dia hanya akan berlari menghindar dan bersembunyi di balik tumpukan buku tanpa peduli jerit kesakitan Erro dan suara tangisannya. Sekarang, Ello menyesal karena tidak pernah ada untuk Erro sejak dulu. Dia baru datang saat Erro benar-benar terpuruk. Saudara macam apa dia ini. “Mas El?” lirih Sharyn. Ello menggeleng sambil menutup wajah. “g****k! Gue yang jahat! Gue yang jahat, Ryn! Gue jahat banget sama Erro! Gue sadar, nggak seharusnya gue bicara kayak gitu tentang dia. Gue yang ha—” Ello masih mencerna apa yang terjadi sampai dia sadar ada sesuatu yang menempel di bibirnya. Sesuatu yang lengket, penuh, dan manis. Baru pertama kali ini dia merasakan bibir semanis ini. Dan dia tidak ingin ini berhenti. Semakin lama, hisapannya semakin kuat dan semakin menuntut. Sharyn seperti obat bagi emosinya yang meluap-luap. Sampai akhirnya tautan mereka terlepas dan nafas mereka tersengal-sengal, Sharyn bisa melihat wajah kacau Ello. Rambut yang acak-acakan, nafas yang ngos-ngosan, dan bibir yang seksi nan memikat di matanya. Sharyn memaksakan senyum sambil membuka dashboard mobil. Di sana ada kacamata dan sisir kesukaan Ello yang sengaja disimpannya tadi. Pelan diraihnya kacamata itu dan dipasangkannya ke mata Ello. Lalu tangannya bergerak lembut merapikan rambut Ello dan menyisirinya dengan rapi. Nah, begini baru Arviello. “Aku suka Mas El yang apa adanya, kok. Mas El yang datar, dingin, dan kayak tembok. Mas El yang bener-bener Mas Ello. Bukan karena mirip Mas Erro atau orang lain. Tapi emang karena Mas Ello ya Mas Ello.” Ello tersenyum miring mendengar suara Sharyn yang seperti rayuan bermulut lebah. Menghasilkan madu yang manisnya membuat ketagihan. Oh, sayangnya dia tidak mudah dirayu dengan bujuk rayuan murah begitu. “Ihh... Mas El kok senyum-senyum, sih?! Aku ngomong serius!” Sharyn berteriak dengan nada jengkel. Ello memasang sabuk pengamannya dan terkekeh. Perlahan mulai kembali menjadi dirinya sendiri. “Kamu pikir aku bakal percaya sama mulut domba kamu? Sorry, nggak bakal berhasil.” Sharyn menahan tawanya yang siap keluar. “Yeah, terserah Mas aja, sih. Aku udah ngomong jujur loh padahal. Tapi, ya udah kalau Mas El nggak mau percaya.” Ello tak menjawab dan kembali menjalankan mobil. Suasana hatinya sudah membaik dan jauh lebih tenang. Bodoh amat sekarang orang mau berpikir seperti apa. Yang terpenting, dia adalah Arviello. Yah, si dokter tembok yang datar, yang dingin, yang bahkan ketawa aja garing. Selamanya akan begitu dan dia menyukai dirinya yang begini. “Mas, janji satu hal dulu sama aku setelah ini.” Ello mengernyit. “Janji apa?” “Janji minta maaf sama Mas Erro. Pokoknya nanti di Champ, Mas El harus minta maaf sama Mas Erro. Titik.” “Hmm...” Dan Ello hanya bergumam sebagai jawaban. Yeah, beginilah dia. *** 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN