Mobil audi putih milik Ello memasuki parkiran luas Champ setelah melalui macet panjang di sekitar Ragunan. Jam menunjukkan pukul 9 malam. Padahal seharusnya mereka sampai di sini dua jam lalu. Semua gara-gara insiden menyebalkan yang sangat tidak diharapkan Ello. Apalagi kalau bukan si pasangan pengganggu sekaligus penghianat Benny dan Nasha.
Sharyn masih terlambat-lambat di belakang sambil mendorong kereta si kembar masuk. Di atasnya si kembar sudah tertidur pulas. Sharyn bergerak sangat lambat seakan takut membangunkan mereka. Sementara Ello sendiri sudah bergerak cepat memasuki lantai atas. Tempat biasanya mereka berkumpul. Sekarang tempat itu diperluas oleh Izzy dan ditambah area bermain anak. Agar mereka semua bisa berkumpul dengan santai bersama anak-anak mereka.
Di ujung sofa sana Erro tengah meminum kopinya sambil bermesraan dengan Echa. Suara lonceng berbunyi mengusik kemesraan mereka. Begitu tahu Ello yang datang, Erro buru-buru bangkit. Begitu juga dengan Echa yang buru-buru memindahkan si kembar ke dalam kamar anak.
“Lo keasyikan, ya, sampai lup—”
Erro bahkan belum menyelesaikan kalimatnya. Tapi Ello sudah berlari ke arahnya dan menerjangnya. Memeluknya kuat-kuat sambil menahan seluruh isakannya yang tertahan. Erro membeku di tempatnya berdiri. Tak habis pikir apa yang terjadi dengan adik kembarnya sampai bertindak berlebihan begini.
“Ro, maafin gue. Maafin gue udah ngomongin yang enggak-enggak tentang lo.” Suara Ello terdengar serak.
Erro memaksakan tawa. “Apaan, sih, El? Jangan bikin gue geli gini, deh. Emangnya ada apa?”
“Selama ini, gue cuma bisa menilai lo dari satu sisi tanpa tahu sebenernya ada sisi-sisi lain di mana lo merasa kekurangan dan cuma gue yang seharusnya bisa menutupi itu. Tapi gue pura-pura nggak tahu.”
“Udahlah, El. Malu tahu dilihatin Bang Izzy sama Rio. Mereka udah cengar-cengir nggak jelas di belakang gara-gara lo cengeng kayak gini.”
Ello tak menjawab. Hanya terdiam sambil memukul-mukul pundak Erro. Di belakang mereka Sharyn menahan senyuman dan tangis harunya. Sementara Rio, Fathur, dan Izzy yang tadinya asyik menertawakan aksi sok mesra Ello kini mulai ikutan terharu.
“Ah, kayaknya bakal ada gosip terbaru besok pagi.” Rio mengangkat alis dengan senyuman jahil yang segera mendapat cubitan ganas dari Riska.
“Awas ya, Ri, kalau kamu bikin masalah lagi!” ancam Riska dengan wajah garang membuat nyali Rio menciut. “Aku nggak mau kamu bikin Papa marah-marah lagi.”
Erro tertawa mengejek. “Yeah, makanya buruan bikin rumah sendiri, dong. Jangan numpang melulu sama orang tua. Malulah. Malu. Kayak nggak punya duit aja lo.”
Dan seperti yang sudah diduga, suasana haru yang terjalin tiba-tiba rusak oleh adu mulut antara Rio dan Erro. Membuat yang lain menghembuskan nafas jengah karena tangisan mereka yang tadinya sempat ingin keluar sekarang malah gagal total.
“What? Jangan salah, Ro! Gue ini dokter, penghasilan gue ini bisa dua kali lipat dari fotografer ecek-ecek kayak lo.”
Erro mulai tak terima. “Eh, gue ini bukan fotografer murahan! Sialan lo, Ri! Sekali projek aja bisa puluhan juta.”
“Dokter juga puluhan juta.”
Izzy menyela dengan jengkel. Buru-buru berdiri di tengah mereka yang bertikai. “Hush... Berisik! Mau jadi dokter kek, atau fotografer kek, sama aja!”
Erro menyedekapkan tangan. “Maksud gue kan supaya Rio buru-buru beli rumah gitu. Abisnya nggak bebas amat kalau bareng sama Om Fabrian.”
Fathur memekik. “Shut up! Bebas apa maksud lo? Dasar m***m lo, Ro!”
“Hehe...” Erro cengengesan sambil tersenyum menggoda. Suaranya mulai seperti bisikan. “Gue kasih tahu, ya, yang namanya begituan nggak enak kalau cuma di ranjang doang. Sekali-kali di sofa, dapur, meja, atau kalau perlu kamar mandi tuh. Lah kalau lo rumah aja campur sama Om Fabrian gimana mau have fun?”
Dan sebelum Erro sempat melanjutkan suaranya, Riska sudah melempar sekotak kardus tisu berukuran besar tepat di wajah Erro. Membuat Erro meringis tertahan melihat Riska dengan muka garangnya. Dia lupa kalau sejak tadi masih ada Sharyn dan Riska di tengah-tengah mereka.
“Ro, jangan kamu racunin otak suamiku, ya!” teriak Riska garang.
Erro mengaduh kesakitan diikuti suara tawa penuh ejekan dari Fathur dan Rio. “Ah, nggak asyik lo, Ris.”
Rio tertawa terbahak-bahak. “Makanya kalau jadi orang jangan m***m-m***m amat. Nanti nular tuh ke Jaja. Kasihan punya bapak m***m kayak lo.”
“Apaan, sih, Ri? Kok selalu bawa-bawa nama Jaja, sih?” Erro mencibir. “Jaja masih kecil ya! Lagipula, nanti kalau udah gede, Jaja itu bakal jadi anak yang baik, berbakti sama orang tua, pinter, rajin, penurut, pokoknya perfect deh. Emangnya Aren?!”
Rio tak terima. “Lo juga jangan bawa-bawa Aren, dong—”
Izzy menyela tiba-tiba. “Weitsss... Fa nggak bakal kalah dong! Fa pasti paling pinter!”
Rio dan Erro tertawa. Buru-buru menolak mentah-mentah pendapat Izzy.
“Jaja paling pinter!”
“No, of course Aren! Lo lupa papanya Aren siapa? Dokter Mario Fabrian!”
“Jaja, Ri, yang paling pinter!”
“Enggak, Ro! Aren paling pinter!”
“Oh, lihat aja besok anak siapa yang paling pinter di antara kita!” Erro memutuskan.
“Oke! Siapa takut?” Rio tak mau kalah.
Fathur mulai jengkel. “Heh, anak gue yang paling pinter!”
“Ya ampun, lahir aja belum, Thur!” jawab Erro malas membuat Fathur cengengesan.
Ello sendiri sejak tadi hanya diam. Tiba-tiba merasa tersisih. Lagi. Seperti jaman ketika dia belum menikah dulu. Selalu tersisih di antara pembicaraan mereka. Selalu menjadi yang paling tidak mengerti maksud pembicaraan mereka. Dan yang bisa dilakukannya hanya menghela nafas sambil melirik Sharyn yang tertawa bersama Riska tak jauh darinya.
Diam-diam hati Ello mulai bertanya. Apa Sharyn sering merasakan hal seperti ini ketika bersama Echa, Riska, dan Zaza? Perasaan seperti tidak mengerti tentang apa yang sedang mereka bicarakan. Kalau iya, pasti rasanya tidak enak dan hanya bisa berpura-pura tertawa.
Echa muncul tiba-tiba dari kamar anak dengan Finza yang menggelendot. “Incha bangun gara-gara kalian berisik!” teriaknya jengkel. “Ro, ayo pulang!”
Erro dengan sigap bangkit seperti komandan perang. “Oke, kita pulang sayang.” Lalu dia menghilang menuju kamar anak dan kembali beberapa menit kemudian dengan Jaja di gendongannya. Sementara mulutnya asyik memerintah Zaza membawakan kereta dorong si kembar.
“Aku bukan pembantu, ya, Ro!” Zaza bersungut-sungut sambil sedikit takh ikhlas membawakan kereta dorong si kembar. “Lain kali kalau bikin anak jangan yang kembar. Bikin repot banyak orang tahu nggak?!”
Izzy berseru dan berlarian mengejar mereka yang menghilang dari tangga. “Sayang, jangan mau disuruh bawa keretanya si kembar! Jangan mau!”
Rio tertawa lebar sambil merangkul bahu Riska. Asyik menikmati pemandangan yang terjadi. “Sayang, kamu pasti nyesel pernah suka sama orang kayak Erro. Lihat tuh, ribet banget hidupnya. Bikin banyak orang susah lagi. Mending sama aku kan, mandiri, dewasa—”
Riska tersenyum galak. “Dan berisik. Saking berisiknya sampe pengen aku lakban mulut kamu!” teriaknya sambil melangkah turun. “Ayo kita juga pulang!”
Rio memaksakan tawa. Detik berikutnya meninju lengan Ello dan berlarian mengejar Riska. “Say, jangan marah, dong. Tunggu aku! Masak aku ditinggal—”
“Makanya jangan kebanyakan omong!” Riska masih berteriak. Sampai akhirnya dia berbalik tiba-tiba dan berlarian nyaris menubruk langkah Rio. “Eh, ya ampun! Aren ketinggalan di kamar!”
Ello dan Sharyn menganga kaget melihat keribetan keduanya. Mereka hanya bengong melihat Rio dan Riska yang berlarian tidak jelas di dalam ruangan. Rio yang berlari ke sana-ke mari mencari perlengkapan Mauren yang tercecer. Riska yang tergopoh-gopoh menggendong Mauren yang menangis mencari orang tuanya. Dan blablabla. Belum lagi suara tawa Fathur yang ritmenya mengencang saat melihat keribetan Fabrian family. Dia sampai tak dengar sejak tadi Nella berteriak ke arahnya.
“Thur, ayo kita juga pulang! Kaki aku udah mulai pegal-pegal, nih. Kayaknya mau bengkak lagi.” Nella muncul dari ujung pintu. Langkahnya agak lambat karena kehamilannya sudah mencapai bulan ke sembilan.
Fathur yang tadinya masih menertawakan Izzy dan Rio langsung stop segera. Tak kalah sigapnya dengan Erro, sekarang dia berlari menghampiri Nella secepat jet coaster. Lalu memapahnya dengan penuh perhatian.
“Gue juga balik, ya. Mau pijetin istri gue. Bye semua.” Fathur melambaikan tangan.
Nella ikutan pamit. “Malem semuanya.”
Yang lain hanya tersenyum sambil menjawab salam Nella. Sampai akhirnya terdengar seru-seruan dari keduanya di ujung tangga yang masih dapat didengar penghuni di ruang atas.
“Kamu, sih, Thur, jadi orang lambat banget! Kamu nggak tahu dari tadi kaki aku kram? Aku sampai nggak bisa gerak ke mana-mana! Sementara kamu malah ketawa-ketawa nggak jelas sama Rio!”
“Ampun sayang... Ampun... Lain kali nggak bakal ketawa-ketawa lagi, deh.”
Dan hening. Tak ada yang tersisa. Hanya tinggal Ello dan Sharyn saja di ruangan itu.
Ello masih bengong di tempatnya. Sudah hampir setengah jam tadi dia menjadi penonton mereka. Benar-benar menyebalkan. Sekarang dia dan Sharyn ditinggal sendirian di tempat bak kapal pecah ini. Gelas-gelas kotor, piring dengan sisa-sisa saus, s**u bubuk bayi yang bertaburan, dan bahkan popcorn yang bertebaran di setiap sudut meja.
Sampai akhirnya Sharyn yang tadi masih menertawakan Fathur menyeka air mata bahagianya. “Tadi itu dahsyat banget, Mas.”
Ello mengedarkan pandangan dengan cuek. “Apanya?”
“Mas Rio, Mas Erro, Mas Fathur, Mas Izzy, pokoknya semuanya!” Sharyn menggaruk rambutnya dengan seulas senyum. “Mereka semua lucu-lucu, ya. Heboh banget kalau udah bahas soal anak, istri, mertua, sama banyak hal lainnya.”
Ello berdeham-deham. “Maksudnya?”
Sharyn menggeleng. “Enggak, kok. Ayo pulang, Mas. Sebelum pecah lagi kalau Mas Izzy sama Mbak Zaza ngambek kafe kesayangannya berubah kayak gini.”
Lalu akhirnya Ello mengiyakan.
***
Sharyn dan Ello berjalan terlambat-lambat menuju mobil mereka. Sharyn masih asyik tertawa sejak kejadian di dalam Champ tadi. Ello tidak tahu apa yang membuat Sharyn jadi sebahagia ini mendengarkan obrolan saudara dan sahabatnya yang menurutnya sangat menyebalkan itu. Dan jujur, Ello tidak tahu letak lucunya di mana sampai Sharyn menyeka air matanya ketika tertawa.
“Udah pamit sama Mas Izzy dan Mbak Zaza?”
Ello mengangguk cepat. “Iya, tapi mereka lagi ngurus pegawai. Udah jam sepuluh. Mau tutup soalnya.”
Sharyn mengangguk-angguk sambil memasang seatbelt. Matanya berputar cepat dan menemukan sepasang boneka di bagian belakang jok mobil. Sharyn berseru riang sambil meraih boneka gajah dan jerapah itu dari belakang. Lalu memeluknya kuat-kuat.
Ello yang sibuk menyetir menoleh sambil memicing menatap boneka di pelukan Sharyn. “Loh, itu bonekanya Jaja sama Incha yang aku beli tadi, kan?”
“Kayaknya ketinggalan deh, Mas.”
Ello kembali memfokuskan diri pasa jalanan. “Oh, besok biar aku kasih Erro.”
Sharyn tak menjawab apa-apa selain memeluk boneka-boneka itu. Sesekali dengan gemas mencubiti gajah pink yang ada di tangannya. Juga menciumi leher jerapah yang panjangnya melebihi si Bona gajah.
Ello merasa risih tiba-tiba. “Kamu kenapa, sih?”
“Baru ditinggal bentar aja aku udah kangen sama Jaja-Incha. Rasanya seharian tadi mereka kayak anak aku sendiri, Mas. Anaknya kita gitu. Aku jadi berharap banget kalau sebenernya Jaja sama Incha anak aku, Mas.”
“Mendingan sekarang kamu pergi ke rumah Erro terus buka aktenya Jaja sama Incha.” Ello menjawab malas. “Kalau kamu kangen sama si kembar, besok bisa ke rumah Erro. Kamu kan hafal jalan rumahnya.”
Sharyn tak mengindahkan perkataan Ello. Jemarinya asyik memainkan belalai si Bona dengan lembut. “Setiap sahabatnya Mas El ngobrolin hal kayak gitu, Mas El ngerasa aneh nggak, sih?”
“Aneh gimana?” Ello mengangkat sebelah alis.
Sharyn menatap Ello serius. “Maksudku kayak ngerasa penasaran gitu. Punya anak itu kayak gimana. Terus kalau mereka ngomongin anak mereka, Mas El nggak pengen ngomongin anak Mas El juga?”
Ello mengedikkan bahu cuek. Dia tidak ingin membahas masalah seperti itu. Dia paling benci dengan hal-hal berbau rumah tangga.
Tahu Ello tidak akan menjawab membuat Sharyn menghembuskan nafas panjang dan berpaling menatap jendela sambil memeluk bonekanya. Perlahan menutup mata merasakan kantuk yang luar biasa.
***