BAB TUJUH

801 Kata
Di siang hari yang panas Sharyn terlihat bengong di meja kerjanya. Kertas-kertas yang berserakan di sampingnya dia acuhkan begitu saja. Oh, dia bisa gila. pikirannya terus berputar pada kejadian makan malam itu. Ya ampun, Sharyn benar-benar malu jika mengingatnya. Apalagi setelah dia menangis-nangis di depan Erro yang ternyata adalah saudara kembar Ello. Ugh, membayangkannya saja membuat Sharyn merasa tidak punya muka lagi untuk bertemu Ello dan keluarganya.  Sharyn memandang hampa draft-draft desain yang dikerjakannya sejak beberapa jam yang lalu. Draft-draft gambar desainnya  kacau, jelek, dan tidak beraturan. Ini bukan seperti pekerjaannya. Biasanya saat membuat desain Sharyn tidak perlu membuat draft terlebih dahulu dan langsung mengaplikasikannya ke dalam komputer. Tapi, hari ini  membuat draft saja pekerjaannya sudah kacau balau. Semua gara-gara bayangan wajah Ello dan keluarganya terus terngiang-ngiang! Sharyn menghembuskan nafasnya dengan kesal. Dia kemudian menyambar gelas air putih di sebelahnya dan langsung menghabiskannya dalam satu kali tegukan. Sharyn meremas-remas kertas gambar desain itu kemudian membuangnya di tempat sampah bawah meja kerjanya. Baru saja Sharyn akan beranjak dari kursinya ketika menyadari ponselnya yang sejak tadi diam kini mengeluarkan bunyi pertanda suatu pesan telah masuk. Sharyn kembali  menghempaskan diri di kursi. Dengan cepat meraih ponselnya. Mas El : Gue jemput jam 4 Sharyn mengernyit membaca chat dari Ello. Apa pesan ini artinya laki-laki itu akan datang menjemputnya sepulang kerja? Sharyn menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Aneh sekali. Ello mau menjemputnya sepulang kerja? Ada apa? Ello bukan orang yang senang menemui orang lain jika dia tidak punya urusan dengan orang itu. Mungkin saja Ello ingin membicarakan soal pernikahan dengannya. Yang terpenting adalah dia harus menyelesaikan desain-desain ini sebelum Ello datang. Tepat jam empat sore Ello benar-benar sudah ada di depan kantor Sharyn. Sharyn hanya bisa menganga saat keluar dari kantor melihat laki-laki itu sudah bersender pada audi putihnya. Ello berdiri menjulang dengan wajah lelah dan penampilan sedikit berantakan. “Ehm!” Pelan-pelan Sharyn mendekati Ello. “Ma—” “Lo telat lima menit!”  potong Ello cepat. Sharyn kembali menganga mendengar ucapan singkat Ello. Sepertinya Ello orang yang tidak pernah kenal dengan kata basa-basi. Dengan gerutuan tidak jelas Sharyn segera mengikuti langkah Ello memasuki mobil. Di dalam mobil  Ello suasana sangat hening. Ello sibuk menyetir. Sharyn  sibuk dengan pikirannya sendiri. Sesekali dia melirik Ello memperhatikan wajah tampan dokter itu sejenak. Sebenarnya Sharyn jengah dengan suasana seperti ini. Tapi, dia tidak tahan! “Ehm, Mas El suka jenis musik apa?” tanya Sharyn hati-hati. Ello menoleh dengan sebal. Sudah dibilang berkali-kali dia tidak suka dipanggil Mas. Tapi, tetap saja yang namanya Sharyn ini memanggil-manggil dia dengan embel-embel Mas. Huh, susah memang kalau berbicara dengan kepala batu begini. Jadi, ya sudahlah terserah dia saja mau memanggil apa. Akhirnya Ello menjawab. “Kalau lo pengin dengerin musik, nyalain aja.” Tepat saat itu lampu merah menyala. Mobil Ello berhenti. Ello menoleh ke arah Sharyn membuat wajah Sharyn memanas. Sharyn memegang kedua pipinya. Pasti wajahnya sudah memerah sekarang. Sharyn buru-buru mengalihkan perhatiannya pada tape musik di mobil Ello dan menyalakannya. Seketika suara merdu Christina Aguilera terdengar dengan lagu lamanya Come On Over. Sharyn ternyata cukup menikmati lagu itu. Kedua tangannya bergerak-gerak mengikuti irama lagu. Bibirnya pun ikut menyenandungkan lagu dengan pelan. Ello melirik perempuan di sampingnya. Selama hampir tiga tahun Ello memiliki mobil ini baru pertama kali ini di dalam mobilnya terdengar suara musik. Biasanya Ello akan melarang siapapun untuk menyalakan musik di dalam mobilnya. Bahkan saat masih berpacaran dengan Nasha sekalipun. Tapi hari ini berbeda. Dengan mudahnya Ello mengizinkan seorang Sharyn menyalakan musik di dalam mobilnya. Tiba-tiba terdengar dering ponsel berbunyi. Sharyn  mengambil ponselnya dari dalam tas. Gadis itu langsung cemberut begitu tahu bahwa Benny yang menelponnya. Sejak mereka putus Benny memang masih berusaha mengejar Sharyn. Dia juga sering datang ke rumah Sharyn meski  Arza sudah memperingatkan Benny supaya tidak mengagganggu adiknya lagi. Tapi sepertinya Benny tidak mengindahkan warning dari Arza. “Siapa?” tanya Ello  heran Sharyn tidak segera mengangkat panggilan dari ponselnya. “Benny.” Buru-buru Sharyn mematikan calling dari Benny. “Si b******k itu masih sering ngehubungin lo?” Sharyn mengangguk. “Padahal aku sama keluargaku udah menolak kehadiran Benny. Tapi dia tetep aja sering datang ke rumah.” Sharyn menoleh ke arah Ello merasa ingin tahu “Kalau mantannya Mas E, si Nasha itu gimana?” “Sama, sih. Tapi nggak gue tanggepin.” Nasha memang masih sering menghubungi Ello. Jika Ello tidak mengangkat teleponnya, perempuan licik itu ganti mengirimi dia chat yang isinya permintaan maaf dan blablabla. Membuat Ello semakin malas dan muak terhadap mantan pacarnya itu. “Oh iya Mas El, ini kita mau kemana, sih?” “Ke kafenya Bang Izzy.” “Kafe Paris yang waktu itu? Wah, kebetulan. Tadi aku belum sempat makan siang dan sekarang laper banget.” Tanpa sadar Ello mengeluarkan segaris senyum mendengar pengakuan jujur dari cewek itu. “Oke, kita ke sana.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN