Sebuah taksi berwarna putih berhenti tepat di depan salah satu hotel bintang lima di Jakarta. Dengan langkah cepat Ghani memasuki restoran hotel tersebut. Kemarin Ghani begitu terkejut saat mendapat telepon dari Erro yang memberitahukan bahwa saudara kembarnya akhirnya memutuskan untuk segera menikah.
Ghani tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Karena saat-saat ini lah yang sangat dinantikan Ghani. Sebagai seorang ayah, melihat kedua anaknya membangun keluarga bahagia adalah keinginannya di masa tuanya kini.
Akhirnya Ghani sudah bergabung dengan anak dan menantunya. Ghani segera meraih Finza dari gendongan Erro dan menghujani cucunya itu dengan kecupan penuh kasih sayang. Ghani juga melakukan hal yang sama pada Eza yang berada di pangkuan Echa.
“Papa lama banget sih, Pa. Kita udah jamuran nungguin Papa!” Erro menatap Ghani malas.
Ghani hanya tertawa. “Maaf, Ro, tadi pesawat papa delay dari Batam. Papa pikir papa juga akan datang telat.” Ghani memperhatikan sekeliling restoran seperti sedang mencari seseorang. “Jadi, mana calon menantu Papa?”
“Belum dateng.” jawab Erro. “Lagian yang punya acara juga belum muncul.” Erro juga heran kenapa kembarannya yang selalu tepat waktu itu belum menampakkan batang hidungnya.
“Iya, nih. El kok belum datang juga, ya? Dia kan nggak pernah ngaret,” ujar Echa bingung.
Sebuah suara yang khas muncul dari belakang punggung Erro. Suara itu hanya berupa dehaman yang pelan, singkat, dan jelas. Membuat Erro, Ghani, dan Echa yang sedang mengobrol kaget dibuatnya. Ello muncul dari balik punggung Erro. Ello terlihat tampan dengan jas kasual dan kacamata hitamnya yang tak pernah ketinggalan.
“Lo ngagetin aja sih El?!” Erro mengelus dadanya seakan habis melihat hantu.
Ello mengambil tempat duduk di samping Erro. “Sorry telat.” Kemudian dia duduk tenang di kursinya meski hatinya berdebar entah mengapa.
“Papa senang akhirnya kamu memutuskan untuk menikah. Ini yang Papa tunggu-tunggu dari kamu, El.” Ghani tersenyum senang melihat anak bungsunya.
“Angh.... Anghh...” Tangan Eza yang berada di pangkuan Echa mencoba untuk meraih ke arah Ghani. “Angh.... Anghh...”
“Wah! Kayaknya Eza juga mau di peluk nih sama Opa!” Echa mendirikan Eza di pangkuannya dengan tangan yang masih menggapai-gapai ke arah Ghani.
Ghani hanya tertawa. Lalu meraih Eza dari Echa setelah sebelumnya Finza diambil alih oleh ayahnya. Eza terlihat senang berada dalam dekapan sang kakek.
“El, Papa pesen yang beginian juga ya sama kamu?” Ghani melirik Ello dengan penuh arti.
“Hah? Apa, Pa?” Ello menoleh ke arah Ghani dengan tatapan tidak mengerti.
“Maksud Papa anak, El.” terang Echa.
“Hah? Anak siapa? Finza sama Eza?” Ello semakin tidak mengerti.
Ghani hanya menggeleng malas. “Sudahlah El...” Dia mengalihkan perhatiannya pada Eza yang kini sibuk bermain dengan kancing kemejanya.
Erro hanya tertawa melihat Ello. Terkadang saudara kembarnya yang pintar ini bisa terlihat bodoh juga.
Ello kembali termenung masih tidak mengerti kenapa jalan hidupnya jadi aneh seperti ini. Dia sadar bahwa yang membawanya pada situasi ini adalah kebodohannya sendiri. Tapi Ello juga penasaran akan seperti apa permainannya dengan Sharyn nanti. Makanya, sebisa mungkin dia akan melakoni perannya.
***
Tepat pukul delapan malam Sharyn beserta keluarganya tiba di hotel tempat pertemuan mereka. Ridwan dan Anisa—orang tuanya—terlihat tidak sabar ingin bertemu dengan keluarga calon besannya. Sharyn terlihat cantik dengan gaun sederhana berwarna putih. Dia terus mengamati orang-orang yang berlalu-lalang di lobby hotel ini. Tapi di antara orang-orang itu tidak ada laki-laki yang dicarinya. Laki-laki yang membuat kepalanya pusing akhir-akhir ini. Laki-laki yang membuat hatinya terus berdebar keras selama perjalanan menuju hotel ini.
Kedua mata Sharyn melebar saat melihat sosok yang mirip dengan Ello berjalan berlawanan arah darinya. Tapi ada yang aneh dengan Ello hari ini. Ello tidak sama seperti Ello yang dia lihat beberapa hari lalu.
Ello yang ini terlihat berbeda. Rambutnya berantakan tidak rapi seperti kemarin. Gaya berpakaiannya juga terlihat lain. Apalagi Ello yang ini tidak memakai kacamata. Sharyn tidak mengerti, Ello seperti datang dari dimensi yang lain. Meskipun begitu Ello tetap terlihat tampan di mata Sharyn.
“Mas El!” Dengan langkah cepat Sharyn menghampiri Ello. Keluarganya mengikuti di belakang. “Maaf kita telat,” Sharyn meringis di hadapan Ello.
Erro memandang perempuan cantik di depannya dengan tatapan aneh. Dia merasa tidak mengenal gadis ini. Kenapa gadis ini dan beberapa orang di belakangnya menghampiri Erro? Membuat niatnya untuk pergi ke toilet jadi tersendat.
Karena merasa tidak mendapat respon dari laki-laki di hadapannya. Sharyn melambai-lambaikan tangannya di hadapan Erro—yang di kiranya Ello. “Hallo... Mas El? Kamu baik-baik aja, kan?”
“Kamu siapa?”
Sharyn ternganga mendengar dua kata yang meluncur dari bibir Erro. Entah mengapa saat mendengar kata-kata itu hatinya terasa sedih. Raut kecewa tercetak jelas pada paras cantiknya.
“Mas El, aku Sharyn. Mas mau pura-pura nggak ngenalin aku, ya?” Nada suara Sharyn terdengar sangat sedih dan kecewa.
Sharyn? Erro memiringkan kepalanya. Sepertinya dia pernah mendengar nama itu? Tapi di mana? Sharyn? Oh, Erro ingat sekarang.
Sharyn adalah...
Baru saja Erro akan membuka mulutnya saat sebuah cengkeraman kuat pada kerah bajunya datang tiba-tiba. Membuatnya mendelik kaget dan bergerak mundur menghindar.
“Heh! Jangan-jangan lo mau mainin adik gue, ya?!” Arza bersiap melayangkan bogem mentahnya pada wajah Erro. “Lo bilang mau nikahin adik gue?! Tapi lo malah berlagak pikun. Lo mau nipu kita sekeluarga!”
Setelah mendengar cerita Sharyn mengenai kelakuan b******k Benny. Mulai saat ini Arza tidak akan membiarkan laki-laki manapun menyakiti adiknya lagi. Tangan Arza di kerah baju Erro belum terlepas meski Melan sudah memperingatkan suaminya agar tidak membuat keributan di tempat umum.
“Sharyn...”
Suara itu.
Sebuah suara yang khas muncul di belakang Sharyn. Suara yang beberapa hari ini terus terngiang di telinganya. Suara itu berat, singkat, dan datar.
Sharyn berbalik dan langsung terkejut melihat sosok di depannya. Sosok itu sosok Ello yang dia temui beberapa hari lalu. Masih Ello yang sama.
Ello dengan muka datarnya. Ello dengan dengan rambut rapinya. Ello dengan kacamata hitamnya yang membuatnya semakin terlihat tampan di mata Sharyn. Sharyn mengerjap-ngerjapkan matanya untuk memastikan objek di depan matanya tidak menghilang begitu saja.
Objek itu benar-benar tidak menghilang!
Berarti dia benar-benar Ello. Arviello yang entah sejak kapan sudah mulai bersarang dalam pikiran Sharyn.
“Sorry, gue lupa bilang, gue itu kembar.”
Ucapan Ello sukses membuat Sharyn menganga untuk ketiga kalinya. Oh... Tidak! Sharyn butuh pegangan sekarang juga. Kalau tidak dia bisa mendadak pingsan. Jadi, laki-laki yang satunya ini adalah kembaran Arviello? Oh, Sharyn sudah salah paham!
***