Sharyn masih terdiam di depan layar komputernya. Tangannya bergerak sesekali melanjutkan design gambar di depannya. Tapi, lagi-lagi pikirannya tertuju pada sosok berkacamata itu. Sedikit menggerutu, dia menekan-nekan keyboard dengan kesal.
Dokter El. Dokter Ello. Dokter Arviello.
Sedari tadi tiga hal tersebut terus berputar-putar di pikirannya. Aneh. Dia tidak pernah memikirkan orang dengan sebegini dalamnya. Pikirannya berputar lagi. Teringat akan perkataan Ello kemarin.
Gue serius mau nikahin lo.
Sharyn menggigit bibir. Tanpa sadar mukanya memerah. Dia buru-buru menepis pikirannya yang tiba-tiba penuh pengharapan. Bisa saja Dokter Ello cuma bercanda. Atau dia hanya main-main saja?
“Ryn, ada yang nyari.”
Panggilan Meta—rekan kerja satu timnya—membuatnya menoleh. Mengerjap sesaat dan kembali pada realita, Sharyn segera bangkit dan melangkah keluar dari kubikelnya.
“Siapa Mbak yang nyari aku?” tanya Sharyn penasaran. Takut-takut dia menebak. “Jangan-jangan Benny, ya?”
Meta menggeleng. “Bukan, Ryn. Ini cowok ganteng banget gila. Pake kacamata item. Namanya A—Arviello bukan, ya?”
Sharyn membekap mulut. Tiba-tiba pipinya memerah. Dia segera berlarian turun tanpa menghiraukan teriakan Meta—yang menyuruhnya memperkenalkan laki-laki itu.
Dari langkah jauh saja Sharyn dapat melihat tubuh tegap sosok berkacamata itu. Dengan langkah cepat Sharyn mendekatinya. Nafasnya nyaris habis karena berlarian dari lift.
“Dokter El ngapain di sini?” tanya Sharyn tersengal-sengal.
Ello tersenyum miring. Setelan kemeja hitamnya tampak rapi dan bersih. Rambutnya disusun teratur. Harum parfumnya nyaris membuat Sharyn pingsan karena begitu maskulin. Belum lagi kacamatanya yang berkilauan. Sharyn harus mengambil oksigen sebanyak-banyaknya karena pemandangan itu sangat indah.
“Gue ada perlu sama lo. Ayo ikut gue.” Ello menjawab santai sembari melangkah menuju audi putihnya.
Sharyn menatap Ello dengan mulut menganga. Namun, sepersekian detik kemudian dia berlari cepat menyusul langkah Ello.
“Tapi Dokter, aku lagi kerja. Design yang belum selesai banyak banget.” Sharyn memprotes.
Ello menoleh datar. “Udah gue bilang jangan panggil gue dengan embel-embel Mas atau Dokter. Gue nggak suka. Panggil gue El aja.”
Sharyn menutup mulut. “Oke, El,” ralatnya cepat. “Tapi aku masih ker—”
“Gue cuma bentar. Ini urgent!” Ello menyela cepat. “Nanti gue anter balik lagi ke kantor.”
Melihat tatapan tak terbantahkan itu membuat Sharyn hanya bisa mengangguk patuh. Begitu Ello membuka pintu mobil audinya, Sharyn merangkak masuk. Dia menggerutu sepanjang perjalanan. Merasa sedikit heran karena dia diculik tiba-tiba.
Tak lama kemudian mobil itu sampai di halaman parkir sebuah bakery cafe. Sharyn sedikit mendongak untuk melihat baleho berwarna campuran golden-silver yang terpasang cantik di atas puncak kafe. Disana tertulis Champ de Mars. Terdengar sangat unik dan menarik untuk sebuah nama kafe.
“Kamu mau ngopi?”
Ello tidak menjawab. Dia berjalan keluar dengan santai tanpa menghiraukan Sharyn yang masih bengong di dalam audinya. Perempuan itu tampak sedikit cemberut dengan perlakuan Ello. Tapi, segera melangkah keluar menyusul langkah cepat Ello.
Mereka disambut suara lonceng yang manis ketika pintu terbuka. Belum lagi aroma sedap roti yang tengah di oven berbaur dengan aroma nikmat kopi yang langsung membuat Sharyn kelimpungan. Dia meraba perutnya dan menjilat bibir. Ah, ini pasti aroma tiramisu dan karamel.
“Hai, El. Tumben ke sini siang-siang. Nggak lunch di kantor?”
Suara berat seseorang menghentikan langkah mereka. Sharyn langsung menoleh dan mendapati seorang laki-laki berpakaian santai tengah berjalan dari ujung ruangan.
Ello langsung mendesah kecewa. Merasa menyesal karena memilih tempat ini. Ah, harusnya dia tahu tempat ini sangat rawan dengan orang-orang usil sekaligus tukang mengejek. Bisa-bisa privasinya dan Sharyn terbongkar sudah. Tapi mau bagaimana lagi, dia sangat menyukai kafe ini. Kafe ini seolah mempunyai magis tersendiri yang membuat orang betah berlama-lama menghabiskan waktu di sini.
“Eh, hai Bang Izzy. Nggak, kok. Lagi ada perlu sama dia soalnya.” Ello menunjuk Sharyn.
Seketika langsung membuat Izzy tertawa heboh dan melemparkan kalimat-kalimat godaan. Ello sudah menduga hal itu pasti terjadi.
“Pacar baru, nih. Kok nggak dikenalin, sih?”
Ello segera memberi kode kepada Sharyn. Perempuan itu langsung mengulurkan tangan ke arah Izzy. Tersenyum malu-malu dan memperkenalkan diri dengan gaya polos nan lugu yang membuat Ello sendiri terkikik.
“Sharyn, gimana pacaran sama El? Nggak dikacangin, kan?” Izzy masih terus menggoda.
Sharyn tersenyum lagi. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Toh, dia memang bukan pacar Ello. Lebih baik tidak usah menjawab saja kalau begini.
“Apaan, sih, Bang?” Ello memprotes. Dia segera mengalihkan topik. “Bang Izzy nggak kerja emang?”
“Hari ini cuti. Jadinya gue nganterin Zaza ke sini.”
Ello mengangguk-angguk. “Bang, omong-omong gue ada hal penting yang harus diomongin sama Sharyn. Jadi, please banget jangan nguping,” katanya begitu memilih salah satu meja kosong tepat di samping jendela.
Izzy langsung pasang wajah menggoda. “Emang mau ngomongin apa, sih? Kasih tahu dong.”
Ello memasang wajah datar. Izzy tahu arti dari wajah itu. Berarti Ello sedang serius dan tidak bercanda.
Oh, Ello memang seperti itu. Serius dan tidak pernah bercanda. Semua orang tahu itu.
“Oke, gue panggilin Gita dulu buat ke meja kalian. Have a nice time.”
Ello langsung menghembuskan nafas lega begitu sosok Izzy menghilang. Dia segera meraih buku menu dan mengulurkannya pada Sharyn. Sementara Ello sendiri kini sibuk mencatat pesanan mereka. Tanpa melihat buku menu pun, dia sudah hafal menu-menu di sini. Dan yang menjadi favoritnya adalah cappuccino latte.
“Mau pesen apa?”
Sharyn tersenyum manis. “Red velvet sama caramel macchiato.”
Ello mengangguk paham. Cepat menyalin perkataan Sharyn di atas kertas. Kemudian menyerahkannya pada Gita—salah satu pelayan kafe.
“Bang Izzy itu temen kamu?” tanya Sharyn begitu sosok Gita menghilang.
“Hmm, bisa dibilang gitu. Tapi lebih tepatnya kakak ipar saudara gue.”
“Oh...” Sharyn membulatkan mulut. “Jadi, dia yang punya kafe ini?”
Ello mengangguk. “Dulu Bang Izzy pernah tinggal di Paris hampir satu tahun. Dan di sana dia kerja di salah satu kafe daerah Champ de Mars. Terus pas balik ke Indonesia, jadi deh kafe yang penuh nuansa Paris ini.”
Sharyn mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dia baru sadar bahwa nuansa yang disuguhkan kafe ini adalah singgasana Paris. Dimana-mana dia bisa menemukan gambar menara Eiffel. Bahkan beberapa tempat kebanggaan Paris menghiasi dinding kafe. Seperti Moseum Louvre, Gerbang Kemenangan Versailes, dan keindahan Sungai Seine.
“Wah, pantesan tempat ini Paris abis.”
Pesanan mereka datang. Zaza sendiri yang mengantarkannya. Perempuan itu langsung melemparkan senyuman sama seperti Izzy. Ello menatapnya tak suka. Buru-buru dia mengusir.
“El bawa yang baru nih. Cieee...”
“Apaan sih, Za? Udah sana!” usir Ello pada Zaza.
Zaza terkekeh. Dia buru-buru pergi sebelum Ello mengusirnya dengan kalimat yang jauh lebih kejam.
Sharyn memandangi punggung Zaza dengan heran.
“Nah, itu istrinya Bang Izzy,” jelas Ello seakan tahu kebingungan yang dirasakan Sharyn. “Sebenernya yang tergila-gila sama Paris itu dia. Zaza lahir di sana soalnya.”
Sharyn mengangguk paham. Tiba-tiba dia tersadar. “Oh iya, tadi kamu mau ngomongin apa?”
Ello memasang wajah serius. “Tentang pernikahan.”
Mendengarnya, Sharyn langsung tersedak. Dia meraih cangkir caramel-nya dengan buru-buru. “Ka—kamu beneran serius?”
Ello berdecak sebal. “Gue nggak pernah narik kata-kata gue.”
Sharyn tampak memainkan garpu mininya. “Tapi, kita kan—”
“Gimana? Lo setuju nggak?” Ello memotong cepat.
Sharyn terdiam. Sibuk berperang dengan pikirannya.
“Diem berarti iya.” Ello menaikkan satu alisnya. Masih menunggu jawaban dari Sharyn. “Sekali lagi gue nanya. Lo setuju nggak?”
Sharyn masih diam. Dia malah menggigit bibir saking bingungnya.
“Oke, lo masih diem. Berarti setuju.” Ello memutuskan sambil mengulurkan tangan. “Deal?”
Sharyn menatap tangan Ello ragu. Pipinya merona merah. Aneh rasanya melakukan ini. Seakan mereka sedang melelang barang di pegadaian. Semakin aneh lagi saat tangannya tanpa sadar terangkat membalas uluran tangan Ello. Pertanda dia menyetujui perjanjian mereka.
“Berarti deal. Kita nikah.” Ello tersenyum miring.
“Tapi—” Sharyn menggerakkan kaki gelisah. “Apa nggak terlalu cepet?”
Ello tak terlalu menggubris Sharyn. Dia malah sibuk mengeluarkan sebuah amplop besar dari tas hitamnya. Kemudian amplop cokelat itu diulurkannya ke arah Sharyn.
“Itu apa?” Sharyn mengerutkan kening.
“Oke, gue akan jelasin. Jadi, pernikahan kita ini namanya wedding dash.” Ello menerangkan.
“Wedding dash?” kerutan di kening Sharyn bertambah. Dia semakin tidak mengerti.
“Gampangnya aja, sebut ini sebagai pernikahan balas dendam. Lo mantan Benny dan gue mantan Nasha. Kita sama-sama dikhianati. Jadi, sebut ini sebagai ajang pembalasan buat mereka.”
Senyuman jahat terbentuk di wajah Ello. Dia tampak mengetuk-ngetukkan bolpennya pada meja kaca. Sementara tangan satunya menopang dagu. Lalu matanya menatap Sharyn tajam. Seolah menunggu reaksi perempuan itu.
“Jadi, kita nggak nikah beneran?”
Ello mengedarkan pandangan ke sekeliling. Lalu tersenyum misterius. “Kuncinya ada di lo. Lo yang memegang kendali permainan ini. Gue akan ngikutin alur permainan yang lo bikin.”
Tunggu? Sharyn semakin tidak mengerti. Apa maksud dari semua ini?
“Gue yang memulai permainan ini. Dan lo yang bakal mengakhiri. Setelah dendam kita terbalas dan mereka hancur, lo bisa ngatur permainan ini sesuka lo. Gue akan ngikutin.”
Sharyn menggigit bibir. “Pernikahan bukan mainan, El.”
“Emang bukan. Lagipula kita nikah secara sah. Tapi, lo harus ingat—” senyum misterius Ello terbit lagi. “Hidup itu nggak indah tanpa ada permainan di dalamnya.”
“Kalo suatu hari nanti kamu nyesel main wedding dash?” tanya Sharyn tiba-tiba.
“Gue akan jauh lebih nyesel kalo dendam gue belum terbalaskan. Lagian, Benny kayaknya cinta mati sama lo. Itu bisa jadi senjata ampuh.”
Sharyn terdiam. Seketika pipinya memerah. Ah, bagaimana pun Benny sudah mengisi hari-harinya selama beberapa tahun. Semua memori indahnya dengan Benny kini berkeliaran. Membuatnya tidak fokus.
Tapi, tiba-tiba bayangan kejadian di apartement Benny membuat kenangan indahnya hancur. Sharyn meremas garpu di tangannya. Diam-diam membenarkan ucapan Ello. Mungkin dia juga tidak akan pernah bahagia sebelum melihat Benny hancur.
Hmm, Benny sepertinya juga harus merasakan bagaimana indahnya sebuah penghianatan.
“Oke, aku setuju.”
“Bagus.” Ello menyesap kopinya.
“Tapi cara mengakhiri yang kamu maksud itu apa?”
“Kita lihat aja besok. Gue udah kasih kunci ke lo buat ngelanjutin permainan. Tapi, kalo sebelum ngelanjutin permainan lo udah minta cerai, berarti lo kalah. Dan akhirnya gue yang menang karena secara otomatis kunci pindah ke gue.”
Sharyn menatap senyuman sinis Ello. Dia membalasnya tak kalah sinis.
Menarik juga. Ello berhasil membuat perempuan polos semacam dia menjadi sedikit licik.
“Tapi aku nggak bisa kalah semudah itu, El.”
“Bagus. Jangan kalah sama gue.” Lagi-lagi Ello mengeluarkan senyuman misterius. “Seperti kata gue tadi. Lihat aja besok permainan wedding dash kita.”
“Aku jadi nggak sabar.” Sharyn tersenyum manis. “Apa salah satu dari kita menang? Atau kita kalah semua? Atau—permainan kita berlanjut selamanya?”
“Rahasia.” Ello mengulurkan kertas dan bolpen. Sharyn menandatangani persetujuan itu dengan cepat.
Sungguh. Dia sudah tidak sabar lagi untuk memulainya.
***