BAB EMPAT

1498 Kata
Siangnya Ello nyaris tertidur di ruang kerja kalau saja dia tidak ingat jadwalnya hari ini sebagai dokter jaga padat sekali. Untuk menghilangkan rasa kantuknya, dia memilih membuat kopi di dapur. Baru beberapa langkah saja, sosok Suster Lana tampak menghampirinya. “Dokter El, ada tabrak lari.” Ello tak mempedulikan kopinya yang masih separuh, dia segera berlari mengikuti langkah Lana menuju ruang UGD. “Tabrak lari di mana?” “Saya kurang tahu, Dok. Tapi kami sudah menanganinya tadi. Tidak begitu parah, kok. Mungkin pasien bisa segera dipindah ke ruang rawat.” “Oke, segera, Na.” “Baik.” Lana tampak mengomando beberapa perawat lain. Sementara Ello hanya memandangi mereka yang sibuk. Diam-diam dia penasaran dengan sosok yang menjadi korban tabrak lari itu. “Maaf  Dok, kami jadi mengganggu.” Ello menggeleng. “Oh, nggak apa-apa. Kebetulan saya lagi breaklunch. Jadi nggak begitu sibuk.” Begitu sang korban dipindahkan, saat itulah Ello mengenali sosok itu sebagai perempuan yang dikenalnya semalam. Dia melangkah cepat mengikuti beberapa perawat yang memindahkannya. Ello masih terkejut. Tapi dia terus melangkah mengikuti Lana dan suster lainnya. “Dok, kami permisi dulu.” Ello mengangguk. Dia berjalan pelan memasuki ruang rawat itu. Tampak Sharyn tengah memegangi lukanya yang lecet-lecet. Dia mengaduh kesakitan. Bahkan memegangi luka di dahinya yang berdarah. “Cara lo ngilangin stres ampuh, ya? Dengan nabrakin diri di jalan?” Ello melenggang masuk dengan langkah cool. Suaranya terdengar begitu datar dan dingin. Sharyn menoleh. Tak percaya dengan penglihatannnya. Dia nyaris terjungkal ke bawah saking kagetnya. “Mas El? Kamu Mas El yang kemarin, kan? Ke—Kenapa di sini?” Ello mengedikkan bahu. Dia meraih stetoskop di leher dan memakainya. Dengan gerakan cepat dia memaksa Sharyn diam di tempatnya. Pelan dia mulai memeriksa perempuan itu. “Diem. Jangan gerak.” Ello bergumam lirih. “Gue lagi periksa lo.” “Ya ampun... Mas El dokter? Keren dong. Wah, Dokter El.” Sharyn berseru heboh sembari membiarkan Ello melakukan pekerjaannya. Ello menatapnya dengan raut wajah malas. “Keren bukan suatu pujian buat seorang dokter.” Sharyn langsung menyesali mulutnya yang pandai berbicara. Dia mengerucutkan bibir seperti anak kecil. “Jadi, kenapa lo bisa ketabrak?” “Emm... Karena—” Belum sampai Sharyn selesai menjawab, suara jeblakan pintu membuat keduanya terkaget. Dengan panik mereka menoleh ke sumber suara. Ello langsung mengumpat begitu tahu siapa yang datang. “Benny...” Sharyn memandang tak percaya. “Sayang, aku khawatir banget sama kamu. Jangan lari-lari di jalan lagi!” Benny tampak cemas. Dia menyelonong masuk begitu saja. Tatapannya langsung berubah dingin begitu melihat Ello. “Ya elah... Si dokter tembok lagi. Kenapa, sih, dia ada di mana-mana?” Benny mendengus sambil meraba beberapa lukanya. Dia meringis mengingat kejadian kemarin. “Kenapa? Lo mau gue bogem lagi?” jawab Ello dengan angkuh. Benny mendecih tak suka. Dia segera menarik paksa Sharyn menuruni ranjang. “Ayo pulang. Aku nggak suka kamu deket-deket dokter tembok ini.” Sharyn menepis tangan Benny kesal. “Apaan, sih? Kita kan udah putus.” “Nggak, Ryn. Kita belum putus. Kita bakal nikah. Oke?” “Nggak mau!” Sharyn menjerit. Benny mengernyit heran. “Kenapa? Bukannya sejak dulu ini yang kamu pengen? Sekarang aku bakal mewujudkan impian kamu. Nanti malem aku sama keluarga aku akan lamar kamu. Kamu harus siap-siap.” Ello dan Sharyn terkejut. Berjuta-juta sumpah serapah sudah Ello panjatkan dalam hati. Baru kali ini dia tahu ada laki-laki sebrengsek ini. Sudah berani meniduri kekasih orang, eh, sekarang malah terang-terangan melamar perempuan di depannya? Ckckck. Sangat b******k.  “Itu dulu sebelum aku tahu kalau kamu b******k. Sekarang aku udah nggak minat lagi nikah sama kamu, Ben.” Benny tampak emosi. Dia bergerak maju dan mencengkeram tangan Sharyn. “Nggak bisa gitu! Kamu harus tetep nikah sama aku!” Ello yang melihatnya tak tinggal diam. Dia menarik tangan Benny. “Jangan bikin keributan di sini. Ini rumah sakit. Tolong hargain pasien lain.” Benny memicingkan mata. “Nggak usah sok suci, deh. Lo nggak inget kemarin ngajak ribut gue?!” Ello terdiam. Skak mat. “Kamu yang nggak usah sok suci!” Sharyn berteriak marah. “Mendingan kamu pulang aja, Ben. Aku nggak butuh kamu di sini.” Benny menatap Sharyn marah. “Kamu pengen kita cepet nikah kan dulu? Ayo, sekarang aku bakal kabulin!” Sharyn menggeser tubuhnya mundur. Dia tampak ketakutan. Bibir dan bahunya sudah bergetar. Dia terus menatap Ello dengan tatapan memohon. Ello sendiri bingung harus berbuat apa. Dia bukan tipikal orang yang suka mencampuri urusan orang lain. “Dokter Ello...” Sharyn bergumam sedih. Tatapannya penuh harap. Dia segera berlari dan menarik lengan Ello. Membuat laki-laki berkacamata itu menatapnya heran.  “Dokter El, kemarin dokter udah ambil aku dari dia, kan?” Sharyn merajuk sambil bergelayut di lengan Ello. Matanya menyiratkan sebuah permohonan. Ello terdiam membeku. Sumpah bibirnya sudah membiru saking kagetnya. Benny tertawa jahat. “Ya ampun, kamu mau sama tembok datar ini? Yakin nggak nyesel?” Suara sengak itu membuat harga diri Ello jatuh. Benny belum tahu saja rupanya bagaimana kalau Ello marah. Bahkan dengan sekali sentuh pun, Benny pasti sudah menjadi potongan daging asap. Tak terima dengan penghinaan itu, Ello tersenyum miring. Cepat ditariknya lengan Sharyn. Dengan mantap dia berkata, “Sejak kemarin malem dia milik gue. Dan cuma akan nikah sama gue.” Senyuman di bibir Benny langsung memudar. Matanya mengedip tak percaya. Sebuah batu besar seakan jatuh di kepalanya. Rasanya sakit. Ello tersenyum bangga. Lawannya telah kalah. “Kenapa? Lo udah dapet Nasha, kan? Masak gue nggak boleh dapet dia?” “Kamu denger sendiri, kan, Ben? Aku cuma mau nikah sama Dokter El. Udah sana pulang!” Benny mendecih. “Oke, hari ini gue nyerah. Tapi inget—” mata tajamnya menatap Sharyn. “Aku akan ambil kamu lagi.” Benny melangkah keluar dengan cepat. Sharyn langsung menghembuskan nafas lega. Dia mengelus dadanya yang tadi hampir lepas. Begitu tenang, dia langsung melayangkan senyuman ke arah Ello. “Dokter El, makasih banyak, ya. Dari kemaren aku ngerepotin terus. Hehe. Makasih juga udah bohongin dia. Kalau nggak, dia pasti nggak mau pergi.” Ello terdiam dengan raut muka serius. Sharyn mengerjap bingung. Dia melambaikan tangan. “Halo... Dokter El?” Detik berikutnya Ello menoleh. Kali ini wajahnya semakin serius. Sharyn begidik ngeri. Terlebih ketika Ello berjalan mendekat. Menatapnya dengan mata setajam elang. Hal itu membuat Sharyn gugup seketika. “Gue nggak pernah main-main sama apa yang gue bilang. Gue serius mau nikahin lo.” Bola mata Sharyn membulat. Tak percaya dengan apa yang didengarnya. Bahkan mulutnya sudah menganga lebar saking kagetnya. “A—apa Dokter?” “Kita bakal nikah. Secepatnya.” “Tunggu Dokter! Pasti ini ada yang salah, kan?” tanya Sharyn gugup. “Nggak. Lo-sama-gue. KI-TA. Nikah.” Sharyn benar-benar sudah menjadi batu sekarang. Good! Ello mengirimkan senyuman miring. Senyuman palsu lebih tepatnya. Cepat dia mengecup kening di depannya.  Lalu bergumam dengan nada lirih yang seksi. “Sampai jumpa nanti calon istriku.” Sosok itu kemudian menghilang dari balik pintu. *** Astaga. Demi Tuhan. Tadi apa yang barusan dia katakan? Dia tidak mungkin menarik ucapannya, kan? Ello ingin sekali menjedorkan kepalanya ke tembok saking bodohnya. Hanya gara-gara dia terpancing emosi Benny, dia mengatakan hal yang di luar naluri otaknya. Dia benar-benar tidak sadar dengan apa yang dikatakannya barusan. Kecuali—fakta bahwa dia tidak terima harga dirinya dijatuhkan oleh orang b******k semacam Benny. Ah, baru kali ini dia tidak bisa berfikir rasional. Tapi. Sungguh. Sekarang dia berada dalam masalah yang sangat besar. Tolong digaris bawahi. Sangat besar. Jauh lebih besar dari kacamatanya yang rusak tempo hari. Lebih besar. Lebih besar lagi. Lebih, lebih, lebiiih... BRUUK Ello sudah jatuh di depan salah satu kamar. Wajahnya pucat pasi. Keringat dinginnya mengalir turun menjalar di seluruh dahinya. Layaknya pasien yang terkena diagnosis parah, sekarang dia seperti mayat hidup. Dengan pikiran melayang-layang tak tentu arah. Rio yang kebetulan lewat langsung berseru kaget. “Ya ampun El, lo kenapa? Sakit? Ayo gue anter ke ruangan lo,” jerit Rio panik. Dia segera membantu Ello bangkit. Ello menggeleng dengan tatapan kosong. “Ri—” “Kenapa? Gue di sini.” “Ri, la—laut di mana?” Rio mengernyit heran. “Anyer. Emang kenapa?” “Ba—bawa gue ke sana. Gu—gue pengen menjeburkan diri.” Sontak Rio melepas tangannya sehingga sosok Ello jatuh menubruk lantai. Ello tersadar dan langsung menatap Rio dengan tatapan sinis. “Sakit bego!” Rio menatap datar. “Lo yang sakit apa gue?” Kembali tersadar, Ello langsung meninju dinding di sampingnya.  “Bego banget, sih, gue?! Kok bisa ya barusan gue ngomong kayak gitu?! Sebenernya otak gue di mana?!” Rio semakin heran. Lagi-lagi kerutan di dahinya bertambah banyak. “Mmm... Sebenernya ada apa?” Ello menatapnya frustasi. “Ri, gue bakal nikah!” Rio langsung menganga lebar. Jauh lebih lebar dari mulut kuda nil. “Sumpah?! Nikah sama siapa? Bukannya lo sama Nasha udahan, ya?” Ello tampak panik. Dia tak menjawab pertanyaan Rio sama sekali. “Gue butuh Erro. Ayo temenin gue.” Rio mengangguk seperti robot. Mereka berlarian layaknya orang kesurupan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN