BAB TIGA

1835 Kata
Malam ini jalanan terasa sedikit lengang. Ello merutuki jalanan itu. Dia berharap terjadi kemacetan saja sehingga dia punya alasan untuk tidak datang di acara resepsi sahabat kembarannya. Sayangnya keinginan selalu bertolak dengan kenyataan. Ah, kenapa sekarang macet sangat dibutuhkan? Ello merutuk kesal ketika audi putihnya berhasil masuk ke area basement Hotel Grandwich. Semua terasa lancar hari ini. Sangat menyebalkan. Sebentar lagi dia pasti akan menjadi bahan ejekan karena datang sendiri tanpa pasangan. Ello mengendap-endap. Dia menatap mobil di sekelilingnya. Mengabsen mobil satu persatu. Milik Erro, Rio, dan Fathur sudah terparkir rapi. Bagus. Lengkap sudah penderitaannya malam ini. Ello berusaha tak mempedulikannya. Dia melenggang masuk dengan gaya cool yang biasa. Sebisa mungkin mengabaikan pandangan orang-orang. Lebih-lebih para pengejek itu. Dia tidak akan mempedulikannya. “Hai El, kok masih sendiri aja?” begitu tanggapan Angga ketika mereka bersalaman. Ello hanya tersenyum tipis. “Nanti Ga, masih sibuk kerja nih,” bohongnya. “Makanya jangan kerja melulu. Nanti keriting loh. Mending married.” Ello tertawa garing. Setelah selesai mengucap salam, dia berniat mencari santapan. Baru selangkah memasuki ballroom saja dia sudah langsung melihat Erro beserta istri dan anak-anaknya. Astaga. Sempat-sempatnya dia membawa anak kembarnya ikut ke acara resepsi seperti ini? Memangnya ini acara ulang tahun bocah? Ello mengamati Erro dan keluarganya dari kejauhan. Sekarang beberapa tamu sibuk mengerubungi mereka. Sepertinya terkagum sekaligus gemas pada anak kembar di atas stroller itu. Jadi Echa dan Erro sibuk tertawa sambil menanggapi setiap pertanyaan yang dilontarkan seorang tante. Ello mengejek dalam hati. Ya ampun, anak juga dipamerin! Ello segera mengambil langkah mundur. Takut bila Erro melihatnya. Tapi sayang, ketika dia berbalik dia malah melihat Rio dan Riska di balkon. Tampaknya sibuk menatap bintang sembari menyantap es krim. Ah, mereka juga romantis. Ello menggertak jengkel. Dia berbalik ke arah lain. Lagi-lagi ada masalah. Dari jauh tampak Izzy dan Zaza. Mereka juga bisa saja mengejeknya. Ello mengambil langkah lagi sehingga tanpa sadar dia malah menubruk seseorang. “Maaf.” “Emm, gue yang harus bilang—” Ello tertegun melihat perempuan di hadapannya ternyata tengah menangis. “Eh,  lo nggak apa-apa?” Perempuan itu menggeleng. Lalu pergi begitu saja. Ello menatapnya aneh. Misterius sekali. Dan kenapa dia menangis? Ello mengedikkan bahu—memilih segera berjalan mencari tempat yang aman dari para pengejek itu. *** Suara berat yang tak asing itu membuat Ello menoleh dan memasang wajah datar. Susah-susah dia sembunyi di pojokan ruangan sambil meminum sirup, akhirnya dia tertangkap basah juga. Harusnya dia ingat sebuah peribahasa. Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya dia jatuh juga. “El, gue kirain lo nggak datang.” “Gue datang, kok.” Ello menjawab sambil menatap Erro yang sibuk menggendong Finza. Lainnya ada di tengah ruangan asyik mengobrol. “Kok nggak gabung yang lain, sih?” “Nggak ah, nanti juga gue diejekin. Lagian gue juga udah mau balik.” “Yah, kok gitu.” Erro mendesah kecewa. Dia menoleh pada Finza. “Cha, Om El mau pulang tuh. Jangan boleh dong.” “Ungh... ungh...” Finza tampak mengangkat-angkat tangannya seakan meminta Ello tetap tinggal. “Ro, kok lo bawa si Finza, sih? Kenapa nggak dititipin ke tempat Om Farhan aja?” “Nggak apa-apa, dong. Gue kan nggak sanggup pisah sama my little sweetheart.” Erro tampak menciumi puncak kepala Finza. Diih... Ello menatap kembarannya. Datar. Seperti garis lurus. Dalam hati dia mengejek dengan muak. Lebay banget ah jadi bapak. Males. “Kimm... kim...” Finza menggerutu tiba-tiba. Suaranya terdengar lucu dan menggemaskan. “Incha mau es krim, ya? He-eh? Yuk, ambil.” Erro bersiap melangkah menuju stand es krim yang paling dekat. “Ro, Finza lo kasih es krim? Kasihan, ah.” Ello menyeletuk. “Dia doyan soalnya. Dikit nggak apa-apa.” Erro menjawab sekenanya kemudian melenggang begitu saja. “Bentar ya, gue mau ambilin princess gue es krim.” Ello menatap Erro dengan mulut setengah menganga. Sekarang kembarannya itu sibuk meraih segelas es krim strawberry di ujung ruangan. Ello menatapnya dari jauh, lalu memilih segera kabur sebelum Erro datang kembali dan menyeretnya pada gerombolan berisik di tengah sana—yang pasti siap mengejeknya secara telak. Dia mengendap-endap melewati teman-temannya. Begitu sampai di taman hotel, Ello menghembuskan nafas lega. Dia harus segera berlari ke basement. Tapi langkahnya terhenti tiba-tiba karena dia malah mendengar suara seperti tangisan. Ello segera berjingkat dan mengendap. Dari balik tembok besar hotel dia melihat seorang perempuan tengah menangis di hadapan seorang laki-laki. Ello mengerutkan kening. Kalau tidak salah itu perempuan yang tadi menubruknya. Dan laki-laki yang ada di hadapannya adalah—laki-laki b******k yang bersama Nasha di apartement. Astaga. Kebetulan yang sangat kebetulan. “Kamu jahat, Ben! Kamu bilang kamu mau lamar aku? Tapi apa? Kamu malah selingkuh!” “Apaan sih, sayang? Aku nggak selingkuh! Kamu dengerin aku dulu, dong.” “Aku tahu sendiri kamu sama si Nasha-Nasha itu. Kamu jahaaat. Kamu bilang sama Mama dan Papa akan lamar aku secepatnya.  Tapi apa? Kamu malah selingkuh. Tadi sore waktu aku ke apartement kamu, aku lihat sendiri kalian di ran.... jang... Hiks... hiks.... Aku nggak pernah nyangka kelakuan kamu liar kayak gitu.” “Say, dengerin aku du—” BUGH... Satu tinju melayang mengenai wajah Benny. Laki-laki itu terkapar di atas reremputan sambil memegangi pipinya. Dia meringis kesakitan. Sementara perempuan di sampingnya membekap mulut. Panik dengan apa yang dia lihat. Ello tersenyum penuh kemenangan. Dia menghantamkan satu bogeman lagi hingga Benny benar-benar tak berkutik. Sekarang Ello sudah menginjak perutnya. “Itu hukuman buat cowok b***t macem lo!” “Lo kan pacarnya—akh... Sialan! Lepasin gue!” Benny mengerang ketika sepatu hitam milik Ello menghantam dadanya. “Pacar? Lebih tepatnya mantan. Sorry aja, gue udah nggak butuh Nasha. Dia buat lo. Dan—” Ello menoleh pada perempuan di samping mereka yang masih sesenggukan. Ditatapnya perempuan itu dengan senyuman miring. “Sebagai gantinya gue minta dia.” Perempuan itu tampak terkejut. Terlebih saat Ello menarik tangannya dan menyeretnya menjauh. Dia menjerit histeris dan meronta-ronta minta dilepaskan. Tapi, Ello tak melepaskannya sama sekali. Malah semakin mengencangkan pegangannya di tangan perempuan itu. Benny bangkit tak terima. “Sialan lo! Jangan bawa cewek gue!” Ello berbalik sekilas. “Oh, ya? Gue nggak peduli. Harusnya lo mikir dulu konsekuensi kalo mau ngembat cewek orang.” Benny terdiam. Ello tersenyum miring. “Kita impas. Oke?” Dan selanjutnya Ello sudah melenggang jauh. *** Ello terus berjalan tanpa mempedulikan teriakan sosok di belakangnya. Perempuan itu terus meronta-ronta. Tampak berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Ello. Tapi Ello seakan tak peduli. “Lepass... Hiks... hiks... Lepas! Kamu siapa? Aku nggak kenal kamu.” Ello menghembuskan nafas kesal. “Diam.” Ello terus menyeretnya memasuki lift. Hingga kini mereka sudah sampai di area basement. Ello segera membuka pintu mobilnya dan memaksa perempuan itu untuk duduk. Dan di dalam mobilnya perempuan itu masih terus menangis. “Nangis aja terus.” Ello bergumam dengan nada kejam. Dia meraih sekotak tisu dan melemparnya ke dashboard. “Kamu siapa sih... Hiks... hiks... Kamu kalo jadi orang... Seenaknya gitu, ya? Narik-narik... paksa... orang...” “Lo punya hutang sama gue.” Ello mulai memainkan setir mobilnya. “Rumah di mana?” “Kenapa tanya-tanya? Hiks... hiks...” Ello mendengus. “Gue antar pulang.” “Kemang.” Ello mengangguk paham. Perlahan melajukan mobilnya menembus jalanan malam Jakarta. Sialnya sekarang malah terjadi kemacetan parah. Padahal, tadi ketika dia berdoa meminta kemacetan, doa itu tidak dikabulkan. Tapi sekarang? Jangan tanya. Macet di mana-mana. Mobil Ello tidak bisa bergerak sama sekali. “Nama?” Ello bergumam tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. “Asharyn Tharia Swanda. Panggil aja Sharyn.” “Umur?” Sharyn menoleh dengan kerutan di dahinya. Serius laki-laki ini sedang bertanya, atau—sedang menginterogasinya? “Dua puluh empat. Ka—kamu kalau ngajak omong orang gitu, ya?” “Hmm... Kurang lebih gitu,” jawab Ello sekenanya. Lagi-lagi dia masih fokus pada beberapa mobil di depan. Sekali pun tidak menoleh pada Sharyn yang kini tengah menatapnya dengan pandangan menelisik. “Oh gitu...” Sharyn mengangguk. Pura-pura paham. Meski sebenarnya dia tak percaya ada orang yang mengajak bicara hanya dengan satu-dua patah kata. “Lo pacarnya cowok b******k tadi?” Oke, pertanyaan ini lebih dimaafkan. “Benny?” tanya Sharyn meyakinkan. Lagi-lagi tangisnya pecah. “Iya... Hiks... hiks... Benny pacar aku. Tapi... dia...” “Bisa kan ngomongnya nggak begitu?” Sharyn meraih tisu dengan cepat. Lalu mengeluarkan ingusnya. Sambil terisak dia melakukannya berkali-kali. Ello meliriknya dengan jijik. Merasa tidak rela mobilnya dicemari oleh aktivitas menjijikkan perempuan itu. “Buang-di-tempat-sampah. Bawah-kaki-lo.” Ello memperingatkan dengan nada sinis. Seakan tidak sudi mobil serba higenisnya dikotori dengan ingus. Sharyn segera membuang beberapa tisu ke bawah. Dia memaksakan senyum di tengah wajah merahnya. “Thanks. Aku jadi lupa nanya. Nama kamu siapa?” “Ello.” “Oh. Cuma Ello?” “Arviello.” “Cuma Arviello?” Astaga. Ello menggeram kesal. Dia nyaris membanting setir mobilnya. Memangnya dia harus menyebutkan nama panjangnya apa? “Harus, ya?” Sharyn menggigit bibir dan menggeleng. Dia jadi ingat pertanyaan Ello tadi. Kemudian dengan wajah setengah menunduk dan memegangi hidung menggunakan tisu, dia menjawab. “Benny pacar aku sejak tiga tahun lalu. Terus dia udah bilang mau lamar aku. Tapi dia bohong. Dia selingkuh. Aku lihat sendiri tadi sore di apartement dia. Kamu tahu mereka di—di ranjang...” Shit! Ello menekan rem mobil mendadak. Jadi, tadi sore pun mereka masih melakukan hal b***t itu? Sialan. Harusnya mereka ke neraka saja. “Kamu kenapa?” tanya Sharyn kaget dengan suara decitan mobil yang tiba-tiba. “Nggak! Terusin ceritanya.” Sharyn menatapnya heran. Lalu segera melanjutkan, “Aku nggak pernah nyangka dia ngelakuin hal jahat kayak gini. Apalagi sampe—Hiks... Jahaaat. Padahal dia janji mau lamar aku ke Papa. Tapi ternyata—” “Lo semudah itu percaya ke dia? Dasar.” Ello mencemoh sinis. “Aku nggak tahu kalau dia kayak gitu. Aku bego ya, bisa dibohongin gitu?” Ello meneguk ludahnya kasar. Ya ampun. Dia baru sadar kalau selama ini dia juga ditipu Nasha. Berarti dia sama bodohnya dengan perempuan kekanakan ini. Ugh, Ello tak mau mengakuinya. Tanpa sadar pukul 11 malam mobil Ello telah sampai di kawasan perumahan daerah Kemang. Cepat mobilnya menepi di depan rumah bercat kuning dua lantai yang tampak megah itu. Ello menatap sekilas. “Rumah lo?” Sharyn mengangguk. “Makasih, Mas Arviel—” “Panggil gue, El. Gue nggak mau kedengeran tua gitu.” Sharyn menggigit bibir. Merasa salah bicara. Akhirnya dia mengangguk dan tersenyum tipis. “Oke, makasih ya, El. Kalau nggak ada kamu aku pasti tadi udah histeris.” “Hmm...” Sharyn langsung merutuk dalam hati. Percuma saja dia bilang terima kasih kalau hanya mendapat balasan sepatah kata seperti itu. Huh. Bahkan ‘hmm’ tidak ada dalam daftar kata. Itu hanya berupa dengusan. Tapi Sharyn tetap memasang senyum cerianya. “Sampai ketemu lagi.” Ello tak menggubris. Dia malah mengubah topik. “Cepet putusin dia. Dia bukan cowok yang baik.” Sharyn mengangguk. Bersamaan dengan itu kaca mobil Ello menutup. Pelan-pelan audi putih itu menghilang dari pandangannya. Entah mengapa, ada satu perasaan aneh yang tiba-tiba menceletuk di hatinya. Seperti sebuah harapan. Harapan bahwa mereka akan bertemu kembali. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN