Sinar matahari yang menelusup dari celah jendela membuat Ello terbangun dari tidurnya. Dia menguap sebentar dan mencoba bangkit. Sial, tubuhnya sakit semua. Ello meraba luka-luka di wajahnya. Hampir mengering meski masih begitu perih.
Suara tangisan bayi membuatnya menoleh ke arah dapur. Dia baru ingat bahwa semalam menginap di rumah Erro. Cepat dia melangkah memasuki dapur. Di sana tampak kakak iparnya sibuk menyuapi Finza. Sementara Erro yang sudah rapi sibuk menggendong Eza.
Ello menatap mereka dengan seksama. Ribet juga punya anak kembar. Serius dia tidak mau punya anak kembar.
Eh, barusan dia bilang apa? Serius dia mau punya anak? Nikah aja belum. Pikiran itu membuatnya merasa tertampar. Belum lagi bayang-bayang Nasha dan si laki-laki b******k.
Lagi-lagi Ello mendesis jengkel. Dia tidak mau ingat. Sama sekali.
“Om Ello udah bangun, tuh.” Echa bersuara sambil sibuk menyuapi bayi perempuannya. “Ayo kasih salam dulu dong.”
Finza tertawa sambil menepuk-nepuk tangan. “Agihh...”
Ello tersenyum. Dia mendekat dan segera mengelus puncak kepala Finza. Bayi itu tertawa lagi. “Pagi keponakan Om yang cantik. Sarapan pakai apa?”
“Pakai bubur, Om. Ayo akh dulu sayang,” jawab Echa.
“Akhh...”
“Pinter. Jaja mau juga?”
“Mau. Sini dong Jaja laper, Cha.” Ini yang berteriak Erro.
“Jaja buka mulutnya dulu—akh... Pinter.” Echa bersorak sambil menyendokkan bubur kembali pada Finza.
Ello yang melihat kesibukan mereka hanya terkikik.
“Apaan lo ketawa? Besok lo juga bakal ngerasain gini juga kali.”
Seketika Ello stop tertawa. Wajahnya kembali pada posisi semula. Datar. “Sorry, abisnya kalian rempong banget pagi-pagi gini.”
“Yes, ini emang kehidupan rumah tangga. Rempong-rempong tapi seneng.”
Ello mendengus. Jawaban macam apa itu. Dia hanya melenggang santai sambil meraih sebotol colla dari dalam kulkas.
“Pagi-pagi nggak bagus minum es, El.” Echa berseru dengan tampang angry mom.
“Hmm...” Ello segera memasukkan colla itu kembali. Dia duduk di samping Erro yang tengah bermain dengan Eza. Kembarannya itu sudah rapi dengan kemeja biru donker dan celana katun.
“Pagi-pagi kok udah rapi sih, Ro?”
Erro yang tengah mengelap mulut Eza menoleh. “Gue ada projek baru. Jadi hari ini rapat crew.”
“Majalah Grenada udah selesai?”
“Bulan ini udah. Mungkin dapet job lagi bulan depan. Sekarang gue lagi ada projek film era sembilan puluhan.”
Ello hanya mengangguk-angguk. Dia paham betul kerjaan Erro juga menumpuk sama seperti dirinya. Sebagai fotografer sekaligus kameramen handal, tentu saja job yang didapatnya banyak sekali. Belum dia harus mengurus pemotretan beberapa majalah. Bahkan kadang mengambil beberapa shooting film. Tapi yang dia sukai dari Erro adalah motto hidupnya yang santai. Take it easy, begitu katanya.
Beda sekali dengan dirinya yang serba serius. Semua hal dibawa serius.
“Gila udah jam delapan. Gue bisa dimarahin si Boss. Mana meeting mulai jam sembilan.” Erro berteriak heboh. Sekarang laki-laki itu sibuk mondar-mandir. Masuk-keluar kamar berulang kali.
“Cha, kameraku dimana? Duh, nggak bisa kerja dong kalo gini.”
Echa ikutan panik. “Bukannya kemarin DSLR yang baru kamu taruh di kamar. Masak nggak ada?”
“Aku lupa naruh dimana.”
“Ya ampun.” Echa berdecak sebal. “Mending pake yang lain, kamera kamu kan banyak.”
“Tapi garapanku disitu.”
Ello menatap mereka dengan malas. Mereka semalem ngapain saja sih jadi pikun begini? Ah, bodoh amat. Dia mengedikkan bahu cuek. Kemudian melenggang masuk ke dalam kamar mandi setelah menyambar handuk biru milik kembarannya.
“Ro, gue minjem kaos.” Ello menyahut cepat.
“Ambil—Kamera sialan dimana, sih?”
“Coba di meja kamar, deh. Cek dulu semuanya. Barang penting gitu kok bisa hilang, sih.”
Dan teriakan-teriakan lain mulai bersahutan. Ello memilih segera membanting pintu kamar mandi. Sehingga suara cempreng Erro dan Echa beserta tangisan bayi kembar mereka tidak terdengar.
***
Ello menatap pantulan wajahnya di cermin. Dia hanya mengenakan kaos putih polos milik Erro dan celana hitam kasual. Tunggu—serius dia mau ke rumah sakit pakai baju ini?
Ello melotot. Dia melirik jam tangannya. Ah, dia bisa disindir Rio berangkat telat lagi. Akhirnya dengan cuek dia melangkah keluar menggunakan kaos Erro. Di teras tampak Erro yang kini sudah memegang kameranya. Asyik mengambil foto si kembar di dalam stroller.
“Jaja senyum dong, jangan jutek banget ah jadi cowok. Ntar nggak ganteng, loh. Eh, Incha cantik banget. Sini Papa jepret dulu.”
Erro mengarahkan kameranya. Tersenyum-senyum sendiri sembari bergerak maju mundur mencari angle yang pas. Lalu dia bersorak heboh ketika mendapat foto yang lucu. Echa hanya tertawa di sampingnya sambil membenarkan kerah baju suaminya yang tidak rapi.
Ello menatap mereka datar. “Udah ketemu?” sindirnya.
“Hehe... di meja ternyata.” Erro terkekeh.
“Ro, udahan dong. Lagian foto Finza sama Eza udah berjuta-juta di kamar. Buruan sana berangkat, nanti telat lagi.” Echa memulai sesi ceramah.
“Tau tuh!” Ello menceletuk. “Gue duluan ya, ada praktek jam sembilan. By the way, kaos lo gue pake nih, Ro.”
“Iya, ambil aja. Bye.”
“Hati-hati, El.”
Ello melambaikan tangan. Dari jauh sibuk mengamati Erro dan Echa yang masih bersama si kembar. Asyik sekali mereka sepertinya. Bahkan Erro rela-rela saja telat pergi kerja. Ah, dasar!
Tapi kalau dipikir-pikir—Happy Family?
Ah, bagus juga kelihatannya.
***
Ello menghembuskan nafas panjang. Akhirnya hasil lab yang baru diterimanya pagi ini selesai juga dia diagnosis. Sesaat Ello merasa lega. Tapi beberapa detik kemudian dia baru sadar ada masalah baru yang datang.
Matanya.
Matanya kini mulai terasa kabur dan berat. Akh, dia butuh kacamata. Sayangnya benda sialan itu sudah rusak.
Ello mendesis. Dia segera melemparkan diri ke kursi dan memejamkan mata rapat-rapat. Mencoba memberi ketenangan pada matanya dan kepalanya yang mulai pusing. Efek kehilangan kacamata.
Namun, sebelum dia berhasil mendapat ketenangan, suara di pintu membuat imajinasi damainya buyar. Dia melirik malas ke arah pintu. Kalau itu Rio, dia pasti sudah melayangkan sepatunya.
Sayangnya bukan Rio. Tapi—Erro dan sahabat sekaligus rekan kerjanya yang tidak kalah berisik, Fathur.
Oke, sama saja. Mereka semua pembawa masalah.
Ello jadi ingat tentang grup chat di w******p yang mereka bertiga buat bersama Izzy. Dari nama grupnya saja sudah menjijikkan. Papa Papa Idaman. Lalu waktu dia bertanya pada Erro itu grup apa. Dengan sombong kembarannya itu menjawab, “Nikah dulu baru gue masukin ke sini”.
Ya ampun, sorry-sorry saja, sampai dia jadi kakek pun dia tidak akan pernah sudi masuk grup konyol itu. Catat itu baik-baik. Tidak akan sudi.
“Tumben ke sini, kenapa?” tanya Ello dengan malas.
Erro tersenyum sekilas. Dia mengulurkan sebuah kotak persegi panjang pada Ello. “Kacamata lo ketinggalan. Udah gue benerin di optik tadi.”
“Serius?” Ello membukanya dan tampak senang melihat kacamatanya kembali tanpa cacat sedikit pun. “Thanks banget, Ro. Gue nggak bisa hidup tanpa ini.”
“Yup.” Erro mengangkat jempolnya. Lalu dia menoleh pada Fathur yang entah kenapa sibuk mengamati stetoskop di meja Ello. “Thur, kenapa, sih? Ah, lo mah ngelamun mulu. Sini dong undangan Angga tadi.”
“Oh, eh, gue cuma mikir ini bisa dengerin suara bayi dalam kandungan atau enggak.” Fathur menunjuk-nunjuk stetoskop milik Ello.
Erro menahan tawa. Sementara Ello sudah menatap dengan wajah mengerikan.
Fathur gelagapan. Dia memaksakan tawa begitu melihat aura gelap di wajah Ello. “Hehe. Nggak usah dijawab.”
Fathur segera meraih tas hitam besarnya—yang berisi kamera seperti milik Erro. Dan mengeluarkan sebuah undangan dari bawah. Tampak sekali dia kesusahan.
Ello mendecak. Masih tak percaya akhirnya Fathur terjun di bidang yang sama dengan Erro. Padahal dulu Erro sering bercerita bahwa Fathur sama sekali tidak berbakat di bidang fotografi. Malah dulu pernah membuat kekacauan di galeri foto SMA 40.
And look at he now? He is a photographer.
“Nih punya lo, El. Angga mau married.” Fathur melempar sebuah undangan berwarna keemasan ke arah Ello. Lalu satu undangan lagi tampak dia main-mainkan. “Si Mario Maurer gadungan mana, nih?”
Erro tak menggubris Fathur. Kali ini sesi ceramahnya dimulai. Ello hanya mendengarkan dengan wajah mengantuk. Sama sekali tidak berminat.
“Lihat tuh, El. Angga aja yang nggak ganteng-ganteng amat udah mau married. Lo mau sampai kapan jadi latu gini?”
“Latu apaan?” tanya Ello.
“Lajang tua.”
Sialan. Ello bersiap melempar sekotak kapas ke arah Erro kalau Fathur tidak segera mencegahnya. Lalu ketika mereka sibuk berperang, satu masalah datang. Masalah itu mengetuk pintu perlahan seperti hantu. Siapa lagi hantu itu kalau bukan Rio.
Rio berseru heboh. “Ro, lo ternyata di sini?! Tadi gue udah nge-chat lo. Kok nggak dibales, sih?!” teriaknya sambil duduk seenak perut di atas meja Ello.
Erro terkejut. Dia jadi melupakan ceramah pentingnya. “Ya ampun, Ri. Kalau pasien lo tahu tingkah lo kayak gini mereka bisa pada kabur.”
“Dia mah gelantungan di pohon juga udah biasa,” Ello menceletuk dengan nada kejam.
“Rekan jahat!” sinis Rio sesaat sebelum kembali fokus pada Erro. “Eh, gue mau curhat penting. Mauren kenapa ya pipisnya berkali-kali? Gue jadi cemas, nih.”
Fathur yang pertama kali bereaksi. Dia menarik stetoskop yang ada di leher Rio dengan heboh. “Buset deh, Dokter Mario yang terhormat, ini gunanya apaan, sih? Buat gantungan doang,ya?”
Erro masih shock. “Astaga. Lo dokter beneran bukan, sih? Masak nanya gituan ke gue? Mana gue tahulah. Gue aja nggak sempet ngamatin Jaja sama Incha waktu pipis.”
“Katanya lo jago soal bayi-bayi.” Rio menggerutu merasa dibohongi.
Erro menjambak rambut frustasi. “Tapi ya nggak masalah gitu juga kali. Yang tahu hal gituan kan harusnya lo.”
Rio tampak berpikir. Dia baru sadar. Dia kan—Dokter. Ahaha, kenapa dia baru ingat. Ah, mungkin gara-gara dia lebih ingat jabatan pentingnya sekarang—Papa. Jadi, dia lupa jabatan lama yang dulu dibanggakannya.
“Omong-omong Mauren siapa?” Ello bertanya tiba-tiba. Merasa penasaran.
Satu buah pulpen melayang di wajah Ello. Siapa lagi yang melemparnya kalau bukan Rio. “Gue udah bilang tadi pagi, kan? Nama anak gue Mauren, bego. Lo nggak peka banget sih jadi orang? Jangan-jangan tadi pagi lo nggak dengerin gue ngomong sama sekali?”
Ello langsung terdiam. Dia menghembuskan nafas kesal. “Sorry deh, Ri. Abisnya lo ngomong kayak kereta. Nggak inget gue.”
Fathur dan Erro tertawa kompak.
“Eh, emang gimana si Mauren? Udah bisa apa aja?” tanya Erro penasaran.
Rio langsung menatap Erro dengan datar. “Ya ampun, bayi baru lahir kemarin sore lo tanyain bisa apa? Please deh, Ro.”
Erro tertawa lagi. Baru sadar pertanyaannya kelewat konyol.
“Minum s**u doang kali.” Fathur menebak-nebak.
“By the way, gue mau pamer, nih. Jaja udah bisa ngerangkak loh. Terus Incha sekarang suka banget tepuk tangan. Jadi tiap hari kita nyanyi biar Incha tepuk tangan. Lucu banget pokoknya.”
Fathur tak mau kalah. “Ah, bayi gue sekarang udah nendang-nendang. Nella sering banget nih bangunin gue tengah malem.”
Rio berteriak heboh. “Dia mau dielus tuh berarti.”
Erro melirik Rio yang sok tahu. Dia mulai berargumen sendiri. “Ah, enggak, artinya dia mau diajak bicara sama papanya. Lo ajak bicara aja, Thur.”
“Enggak, Ro. Biasanya dielus biar nggak banyak gerak. Gue udah pengalaman.” Rio masih bertahan.
“Ri, gue lebih pengalaman.” Erro semakin tak terima. “Lo ajak ngobrol aja, oke?”
“Nggak, Thur. Dielus.”
“Apaan sih, Ri? Udah bener diajak ngobrol.”
“Nggak.”
“Thur—”
“Nggak, Ro! Nggak!”
Fathur mulai kebingungan. “Nggak jelas banget, sih. Mana yang bener?”
Dan celotehan mereka memanas. Erro dan Rio masih terus mempertahankan argumen masing-masing. Sementara Fathur sudah menjedor-jedorkan kepala ke sofa karena bingung akan mempercayai yang mana.
Ello hanya bisa terdiam menatap mereka yang heboh. Berusaha menutupi ketidak-pahamannya sebaik mungkin, dia pura-pura sibuk memainkan ponsel. Astaga, dia sungguh-sungguh tidak mengerti pembicaraan mereka.
Dia-merasa-sangat-tersisih.
Jika ada laut yang dalam. Dia ingin terjun.
Sekarang juga.
***