BAB SATU

2470 Kata
Suara ketukan pintu membuat Ello mendongak sebentar dari pekerjaannya. Dia bergumam lirih memberi izin pada sang pengetuk, lalu kembali menekuri hasil lab di tangannya. “Siang Dokter Arviello, mau lunch bareng?” Ello melirik lagi. Bola matanya melebar melihat Rio berdiri dengan senyum menawan di ambang pintu. Cepat dia bangkit dan berjalan mendekat ke arah Rio. Laki-laki itu tengah tersenyum bangga. “Kok lo udah disini sih, Ri?” Rio menggerak-gerakkan alisnya bangga. “Udah dong.” “Gimana Riska? Proses lahirannya sukses, kan?” “Sukses dong. Bayinya cewek. Cantik banget kayak mamanya. Nggak rewel lagi.” Rio menjelaskan sambil senyum-senyum. “Sumpah deh, rasanya jiwa gue udah bapak banget.” Ello menatapnya jijik. “Diih! Apa banget muka lo?” katanya sinis. Rio terkekeh. Seakan mengabaikan wajah mengejek di hadapannya. “Lo kapan, nih? Tinggal lo aja yang belum ngapa-ngapain, El. Masak stuck aja, sih?” “Jangan ngehina gitu, deh.” “Eh, gue nggak ngehina. Gue serius. Gini nih ya gue jelasin...” Rio tampak menghitung-hitung. “Bang Izzy anaknya udah satu. Erro malah sekalinya punya anak langsung dua, tuh. Fathur istrinya lagi hamil. Gue juga baru kemarin dapet baby. Sedangkan lo? Nikah aja belum, El. Astaga.” Ello mendengus. Tampak tak menghiraukan cerocosan rekan kerjanya. Dia memilih sibuk membereskan dokumen. “Berisik! Gue laper! Jadi makan nggak, nih?” “Jadilah. Jam makan siang bentar lagi abis. Buruan. Pasien gue juga banyak.” Ello mengangguk sekilas. Kemudian melangkah keluar dari ruangannya disusul oleh Rio. Mereka hanya berbincang sekilas tentang beberapa pasien yang bermasalah, penyakit yang banyak dikeluhkan, dan obat-obatan yang dipakai pasien mereka. Tapi lagi-lagi pembicaraan Rio berhenti pada masalah itu. Ello mendesah jengkel. “Kenapa bahasnya itu lagi?” “Yah gue serius. Mending lo buru-buru ngelamar si Nasha. Terus kalian nikah. Abis itu bikin kerajaan kayak kita-kita.” “Lo bahas itu lagi gue hajar, nih!” “Hajar aja, ayo...” Rio terkekeh. Segera mengambil tempat di pojok kantin. Ello mendesah frustasi. Tiba-tiba nafsu makannya hilang. Melihat Rio yang masih terus bersemangat dan menceritakan kelahiran bayi pertamanya dan Riska membuatnya kehilangan selera. Sumpah dia malas sekali mendengar hal yang sama diulang berkali-kali. Membosankan. Atau bisa saja dia tak mau mendengar karena—cemburu? “Nih, fotonya. Cantik banget, kan?” “Iya, Ri. Cantik kayak badut.” Ello menjawab dengan kejam. “Jahat banget, sih!” timpal Rio tak terima. Dia masih terus memandangi foto bayinya di ponsel. “Papi kangen sama kamu. Pengen buru-buru pulang.” Ello meliriknya malas. Tangannya sibuk memainkan ponsel. Apa saja boleh asal tidak mendengar celotehan Rio. Rio menceletuk tiba-tiba. “Eh, malem ini free nggak, El? Temenin gue ke tempat Erro yuk. Mau berguru, nih, sama dia. Gue kan belum paham soal bapak-bapakan. Siapa tahu dia mau ngajarin.” Ello melotot. Colla di mulutnya nyaris muncrat kemana-mana. Astaga. Barusan Rio bilang apa? Berguru? Ya ampun, Ello baru sadar kalau Rio sudah ketularan sindrom happy family yang dibawa kembarannya. Sekarang dia sudah mirip orang gesrek. Ello menyesal dulu pernah mengagumi sosoknya yang cool. Sekarang cool sama sekali tidak pantas disandang oleh orang seperti Rio—yang setiap pagi tertawa-tawa sendiri sambil memutar-mutar kursi kerjanya. Ello begidik ngeri. Dia bisa gila dikelilingi oleh orang-orang seperti Rio dan Erro tentu saja. Terlebih mereka selalu mendesaknya untuk segera menikah. What fudge? “Sorry ya, gue sibuk. Selamat ngurusin bayi kalian berdua. Gue nggak ada waktu buat nontonin kalian ganti popok!” tandas Ello dengan tajam. “Bye, kerjaan gue menumpuk.” Rio melongo di tempat. Ello sudah menghilang di balik kerumunan kantin Rumah Sakit Jakarta Medical. Anehnya, makanan mereka bahkan belum sampai tapi laki-laki itu sudah pergi. Rio mengedikkan bahu cuek dan kembali tersenyum memandangi ponselnya. Tak peduli orang-orang sudah terkikik melihat ekspresi wajahnya. *** Ello menatap jalanan ramai di hadapannya. Lagi-lagi macet. Memang nasibnya sial terus belakangan ini. Dimana-mana perasaan macet mengular. Dasar menyebalkan. Padahal dia sudah menargetkan jam delapan malam nanti dia sampai di apartement Nasha. Sebenarnya Ello sudah memikirkan ini matang-matang. Tentang rencananya untuk melamar Nasha, pacarnya. Lagipula dia juga tidak mau jika diledek terus menerus oleh Rio selama di rumah sakit. Atau Erro yang akan mengatainya cemen, nggak macho, nggak gentle, atau apalah itu. Dipikir-pikir banyak juga untungnya kalau dia menikah. Pastinya akan ada yang membangunkannya setiap pagi. Jadi dia tidak akan telat ke rumah sakit. Akhirnya setengah jam kemudian dia berhasil lolos dari kemacetan Jakarta. Mobil putihnya kini masuk ke area parkir salah satu mall pusat di Jakarta. Ello terdiam sejenak. Setelah memantapkan hati dia segera masuk ke mall dan mencari-cari toko perhiasan yang pas. “Selamat malem Mas, ada yang bisa kami bantu?” sapa seorang pramuniaga bermuka manis. Ello tersenyum canggung. Dia menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Sialnya hal seperti ini bukan dirinya sama sekali. Harusnya sebelum memutuskan membeli cincin dia mengajak Erro saja. “Emm, saya mau cari cincin mbak. Tapi, nggak tahu yang kayak gimana.” Ello menjawab lirih. Pramuniaga itu menahan tawa melihat wajah gelagapan Ello. Dalam hati Ello sudah merutuki pramuniaga yang menertawakannya itu. “Oke, sebentar ya Mas, kami punya yang bagus.” Ello tersenyum datar.  Ugh, harga dirinya sebagai laki-laki cool hancur hanya gara-gara hal sepele seperti ini. Sial kuadrat. Pandangan Ello kini tertuju pada beberapa cincin yang tersusun rapi di etalase. Dia menatapnya satu per satu. Kemudian tanpa sadar dia tersenyum miring menatap sebuah cincin permata yang indah. “Mbak, coba yang ini aja, deh.” Sang pramuniga yang tengah mencari-cari cincin di etalase lain itu segera bangkit. Datang pada Ello dan tersenyum melihat pilihannya. “Jadinya yang ini aja, Mas?” “Hmm... saya suka.” Ello bergumam. “Saya ambil yang ini aja.” Setelah keluar dari toko perhiasan itu, Ello terdiam di bangku panjang mall. Diam-diam mengamati kotak beludru merah di hadapannya. Seulas senyum tipis muncul dari wajahnya. Dia menghembuskan nafas panjang dan segera mengambil langkah cepat menuju parkiran. Pokoknya hari ini dia harus membuat orang-orang gempar. Ello tersenyum lagi. Rasakan orang-orang menyebalkan itu. Dia akan membuat mereka heboh dan merasa kalah karena tak bisa meledeknya lagi. Gedung apartement mewah itu sudah berada di depan mata. Ello memasuki area basement dan segera masuk ke dalam lift. Sambil menggenggam sebuket bunga dan kotak cincin di saku, dia menekan angka dua puluh. Tempat apartement Nasha berada. Ello tidak pernah tahu melamar seseorang akan semendebarkan ini rasanya. Dia jadi tahu sekarang bagaimana perasaan kembarannya dulu. Mungkin Erro pernah merasakan hal yang sama. Tanpa sadar pintu bernomor 105 itu sudah berada di hadapannya. Ello menahan nafas, mencoba menguatkan diri. Namun perasaan tegangnya berubah saat dia melihat sebuah celah dari pintu itu. Aneh, kenapa pintunya seperti tidak dikunci. Ello mengedikkan bahu cuek. Cepat dibukanya pintu itu dan melangkah masuk. Dia sudah sering ke sini, jadi dia tahu persis tempat ini. Sayangnya sebuah kecurigaan datang ketika dia melihat sepasang sepatu asing ada di muka rumah. Ello menyipitkan mata. Seakan tak percaya dengan penglihatannya. Tiba-tiba dadanya bergemuruh hebat. Sungguh baru kali ini dia melihat sepatu asing di rumah Nasha. Parahnya i sepatu itu adalah sepatu laki-laki. Dengan sangat penasaraan, Ello berjalan mengendap ke dalam apartement. Langkahnya terhenti begitu dia melihat pintu kamar Nasha. Pintu itu sedikit terbuka menampilkan—Astaga. Dia bisa melihat Nasha hanya dengan selimut menutupi tubuhnya. Juga seorang laki-laki asing dengan sebuah boxer hitam sebagai bawahan. Ello menahan nafas. Perasaannya sangat kacau. Terlebih dia bisa mendengar suara-suara aneh dari dalam sana. Ya ampun, Ello benar-benar ingin marah saat ini juga. Dia bahkan hanya sebatas ciuman di pipi saja dengan Nasha. Ello menggeram. Dia semakin memundurkan tubuhnya supaya mereka yang di dalam tidak menyadari keberadaannya. Kekesalannya semakin bertambah saat mendengar percakapan mereka. “Sayang, kamu udah putusin si dokter tembok itu belum?” “Belum. Mana aku berani sih, Hon. Dia itu kalau marah serem banget. Udah gitu mukanya datar lagi. Berasa pacaran sama patung. Senyum cuma segaris dua garis gitu. Males banget.” “Kasihan banget sih kamu, say. Mending udah sama aku aja, kan aku nggak kayak patung. Dan yang jelas nggak workaholic. Apalagi pacaran sama buku? Hih sorry abis, pegang aja ogah.” “Kamu bener, hon. Aku juga nggak mau punya suami kayak gitu. Amit-amit, deh.” Sudah cukup. Ello tak tahan lagi. Tanpa sadar dia sudah mendorong pintu dengan kasar. Suaranya begitu keras hingga pintu itu nyaris patah kenopnya. Seketika kedua orang yang tengah bergelung di dalam selimut tersebut melonjak kaget. Terlebih Nasha yang kini sudah ketakutan. Wajah cantiknya tampak pucat pasi melihat sosok yang datang. Ello menatapnya sekilas dan mendecih. “b******k!” Ello berteriak keras dan segera melayangkan satu tinjunya pada si laki-laki asing. “E—El... kamu... salah... paham...” ujar Nasha susah payah. Ello memicing. “Salah paham lo bilang? Sorry aja gue udah muak sama lo.” Satu bogem balasan melayang di wajah Ello. Bingkai hitam kacamatanya patah dan lensanya remuk. Ello menggeram marah. Cepat dia membalas perlakuan laki-laki asing tersebut sehingga kini terjadi adu jotos yang mengerikan di dalam kamar Nasha. Nasha meringkuk di pojokan sambil menggenggam selimutnya erat-erat. Dia sangat takut melihat Ello yang seperti ini. Baru pertama kali ini dia melihat laki-laki kalem itu sekalap iblis. Dia tidak pernah mengira. “Dasar b******k!” Ello mengakhiri perkelahian dengan satu tendangan di perut Benny. Dia menghapus darahnya di sudut bibir dan bergerak menghampiri Nasha dengan angkuh. Nasha semakin ketakutan. “El—akuh.... bisah... jelasin...” jawab Nasha dengan nada bergetar. Ello tersenyum sinis. “Nggak perlu. Tadi gue juga udah denger sendiri. Mulai sekarang kita putus. Dan—selamat lo bebas dari pacaran sama PATUNG!” katanya dengan kejam. Nasha menggeleng. Tidak. Dia berbohong. Sebenarnya dia menyukai Ello. Hanya saja. Hanya saja kadang dia jenuh dengan sifat Ello yang datar dan tanpa ekspresi. Lebih dari itu dia sangat mencintainya. Nasha menjerit dan menangis ketika Ello sudah menghilang. Dia menjambak rambutnya frustasi dan mengacak-acak kamarnya seperti orang gila. “Puas lo Ben?! Puas?! Dia mutusin gue! Gara-gara lo!” Laki-laki itu—Benny, hanya tersenyum miring di balik rasa sakitnya. Dia tersenyum penuh kemenangan. “Itu yang gue tunggu dari dulu!” ***   Ello memukul-mukul setirnya frustasi. Tak peduli sama sekali dengan bercak-bercak darah yang muncul di sekitar wajahnya. Rasanya sakit memang. Tapi hatinya jauh lebih sakit. Dia tidak menyangka seorang Nasha ada berselingkuh di belakangnya seperti ini. Dan apa yang mereka lakukan tadi? Bisa saja mereka sudah— Shit! Pikiran itu membuat Ello menggeram dan tanpa sadar memutar mobilnya memasuki area kompleks perumahan asri di persimpangan jalan. Ello butuh pelampiasan saat ini. Sangat butuh. Dia segera membanting pintu mobilnya begitu sampai. Kaki panjangnya melangkah cepat memasuki teras rumah bertingkat dua tersebut. Cepat dia menekan bel. Begitu pintu dibuka, sosok yang nyaris sama dengannya muncul—yang membuat mereka berbeda hanya rambut dan kacamata. Erro tampak terkejut melihat penampilan saudara kembarnya. Muka babak belur. Bibir sobek dan berdarah. Rambut acak-acakan. Serta yang paling parah kacamatanya rusak dan pecah. “Gila El, kenapa lo—” Belum sempat kalimat itu selesai, Ello sudah menghantamkan tinjunya pada Erro. Satu tinju tak cukup. Jadi dia melayangkan tinjunya yang lain. Erro tampak kaget. Sebisa mungkin bersikap biasa melawan tinju Ello. Padahal, kalaupun mau Erro bisa membalas lebih. Tapi dia hanya terus berusaha menghalau tangan Ello yang bergerak kalap. “b******k! b******k!” maki Ello sambil terus memukul-mukul saudara kembarnya. “Astaga. Lo kenapa, sih? Jangan main pukul gini dong.” Erro berteriak marah. Tapi Ello malah semakin kalap dan memukul Erro lebih. Akibatnya terjadilah perkelahian hebat di antara mereka. Erro juga tidak mungkin diam saja dipukuli terus menerus. Sehingga dia membalas dan membalas. Begitu pula Ello, meskipun sebenarnya dia tidak selihai Erro dalam adu jotos. Suara perkelahian mereka membuat Echa berlari tergopoh-gopoh dari lantai dua. Wajahnya tampak cemas. Dia berlari mendekat dan menengahi mereka. “Ya ampun, kalian kenapa sih?! Aduh, berhenti dong!” teriak Echa panik. “El, Ro, please udah. Jaja sama Incha bisa bangun. Please berhenti! Berhenti!” “Dia yang mulai duluan!” Erro berteriak tak terima. Ello mulai diam. Tangannya yang tadi bergerak hebat kini mulai teredam. Dia mengepalkan tangan kuat-kuat. Berdiri lama. Dan akhirnya pertahanan tubuhnya rubuh. *** Ello hanya diam menatap Echa yang tengah sibuk mengobati luka-luka di wajah Erro. Dia sedikit merasa bersalah karena malah membuat kekacauan di rumah kembarannya. Padahal niat awalnya hanya mencari pelampiasan. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. “El, lo kira-kira dong kalo mau mukulin—aww sakiiitt...” Erro meringis ketika cotton bud di tangan Echa menyenggol bibirnya yang berdarah. “Sayang, pelan-pelan dong.” “Ihh, kamu aja yang nggak bisa diem. Makanya diem dong. Baru diobatin, nih.” Echa segera menarik punggung Erro kembali ke pangkuannya. Sehingga laki-laki itu tiduran lagi di paha istrinya. “Buka bibirnya, Ro.” Erro menurut, tapi masih sambil mengoceh. “Sialan lo, El. Padahal lo tahu gue udah nggak bisa adu jotos lagi. Kaki gue rawan banget soalnya. Kena bogem dikit aja bisa patah.” Ello mendesah. “Sorry, gue lupa.” “Jaweban macem apa tuh?” Ello mendesah lagi. Kali ini tampak frustasi. “s**t! Gue bener-bener kelepasan. Sorry, Ro.” “Sebenernya ada apa sih, El?” tanya Echa penasaran. Dia mendekat dan duduk di samping Ello. “Sini aku obatin juga.” Erro meliriknya. “Awas  nggak boleh modusin istri orang.” Ello tampak tak menggubris ucapan Erro. Dia malah membiarkan Echa mengobati luka di lututnya. Rasanya perih. Sama seperti hatinya. “Gue putus sama Nasha.” Seketika Erro dan Echa terbelalak kaget. Keduanya langsung bangkit dari posisi masing-masing. Mata mereka melotot, nyaris jatuh. Ello melirik mereka malas. Pasangan suami istri lebay. Reaksin mereka sangat berlebihan. “Ya ampun! Terus lo mau cari siapa abis ini?” Erro membrondong seenaknya. Ello menatapnya datar. “Cari apa? Emang barang?” Erro ingin sekali mencekik wajah Ello yang t***l itu. Dasar bodoh. Dia sudah cukup umur, tapi bukannya menikah malah main putus-putus seenaknya. Seperti ABG labil. “Lo pasti diputusin gara-gara kelewat datar.” “Enak aja!” Ello mendesis. “Dia ada main di belakang gue.” Erro membelalak. Jadi karena itu—Hah? Serius? Nasha ada main? “b******k banget!” amarah Ello muncul lagi. Dia tampak memukul-mukul sofa yang didudukinya. “Gue tadi ke apartement-nya. Niat awal sih mau ngelamar dia. Tapi dia malah sama cowok lain di ranjang. Hah... sial!” Erro dan Echa membelalak. “RANJANG?!” kemudian jeritan mereka terdengar koor. Lalu yang terjadi berikutnya malah seringaian nakal Erro ke arah istrinya. Astaga. Ello ingin sekali menggetok kepala mereka berdua. Bisa-bisanya disaat dia serius seperti ini mereka malah sempat berpikiran m***m. Dia menyesal menceritakan masalah ini ke mereka. “Ehem... gue mau numpang tidur.” Ello mendesis jengkel. Seketika dia langsung merebahkan tubuhnya ke sofa dan berusaha memejamkan mata. “El, lo belum selesai cerita!” gertak Erro marah. Ello melirik sekilas. Tampak mengabaikannya. Kembali dia menutup mata. “Buruan tidur sana. Gue tahu kalian mau main di ranjang,” sindirnya. Erro terkekeh. “Oke, besok aja lanjut ceritanya. Night.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN