*** Telepon masih terhubung dengan Santi, wanita yang Satrio pilih sebagai kekasihnya yang baru. Aku mengepalkan tanganku dengan erat, mencoba menahan amarah yang kian meledak. Tak kusangka semua ini akan terjadi padaku. Tak hanya Satrio yang berani menyakiti, tetapi Santi juga berani memaki. Seolah hanya dia yang mengenal Satrio dan aku tidak. Demi apapun ini sangat menyakitkan bagiku. Ingin aku membalasnya, tetapi tak ada Satu kata pun yang mampu aku ucapkan. Mulutku bungkam seakan membenarkan apa yang Santi katakan. Padahal, tidak seperti itu. Aku tahu betul bahwa diriku hanya korban perselingkuhan mereka berdua di sini. Aku lah yang paling tersakiti. Bukan Santi apalagi Satrio. Lelaki itu justru menjadi biang keladi dari hancurnya hati ini. “Mbak dengar apa kata saya? Jangan cari

