Ranjang berukuran king size dengan dua orang gadis yang masih nyenyak menyelami dunia mimpi, sidikitpun tak terusik akan suara berisik di luar. padahal hari sudah menunjukkan jam 10 pagi. Neilh berjalan pelan menghampiri ranjang itu, setelah sampai ia mengangkat benda persegi dalam genggamannya. Tak lama bunyi Sirine darurat berbunyi sangat keras,
Toott...toottt..uwiww..uwiwww
Kedua gadis yang sedang nyanyak itupun bangun tergagap dan langsung turun dari ranjang sambil berlarian tidak jelas.
“Penjahat.....!” teriak Elvrince.
“Maling.......!” teriak Nancy sambil mengobrak-abrik isi lemari untuk mencari sesuatu.
Neilh memutar kedua matanya asal. Ia membiarkan kedua gadis itu berlari kalang kabut tidak karuan, berputar mengelilingi kamar. Ia sengaja menggunakan cara ini, karena cara membangunkan normal tidak akan ada reaksi apapun. Berkali-kali ia menyuruh asisten untuk membangunkan jam 8 pagi tapi setiap kali asisten itu keluar, saat itu juga terkena tendangan. Ia benar-benar menjelma seperti ayah tiri. Saat kedua gadis itu berlari tepat di depannya, Neilh menarik kaos masing-masing gadis itu.
“Berhenti!” bentak Neilh, akhirnya bersuara.
Buuuggg
Dua bogem yang melayang tiba-tiba menghantam wajah Neilh secara bersamaan, sehingga membuat Neilh terkejut dan pegangan pada kaos dua gadis itu terlepas. Sedangkan tubuhnya terhuyung ke belakang dan menghantam lantai.
“Ya Tuhan. Kakak!” teriak kedua gadis yang baru saja menyadari siapa yang mereka tonjok.
“Apa-apaan kalian, huh!” bentak Neilh. Hari masih pagi tapi sudah mendapat sarapan bogem. Ia yakin, setelah ini kedua matanya akan membiru seperti panda. Niat hati hanya ingin membangunkan, tapi dirinya malah mendapat kejutan yang komplit.
Nancy dan Elvrince segera berlari menghampiri sang kakak yang masih melantai. Mereka merutuki kebodohan masing-masing.
“Kakak tidak apa-apa kan?” tanya Nancy merasa bersalah.
“Kalian pikir, aku baik-baik saja” ucap Neilh menahan amarah.
“El akan mengompres kakak dan menyuapi kakak makan,” lirih Elvrince.
“Itu sudah tentu,” ucap Neilh datar sambil berdiri. Ia merapikan penampilannya yang sedikit berantakkan.
“Oke,” jawab serempak dengan nada lesu.
“Pelatih sudah datang 30 menit yang lalu, 10 menit harus siap di tempat latihan!” peringat Neilh, lalu ia meninggalkan kedua gadis itu. Sebelum menutup pintu kembali, ia menatap dua gadisnya yang masih diam mematung. Ia mengatur nafas terlebih dahulu sebelum menyuarakan,
“Cepat siap! Tunggu apa lagi!” bentak Neilh dengan suara tinggi. Bahkan suaranya sampai menggema.
Nancy dan Elvrince terkejut karena teriakan sang kakak. Mereka segera berlari tak tentu arah mencari baju untuk berlatih. Disaat waktu yang cukup minim, cuci muka dan gosok gigi adalah hal yang wajar. Persiapan kilat mereka selesai dan segera turun menuju tempat latihan yang berada di bangunan belakang Mansion.
“Nancy. Tunggu sebentar,” seru Elvrince saat melewati ruang makan. Ia berlari ke arah meja makan dan menyambar piring besar yang berisi roti. Ia juga meraih piring lain yang berisi Pancake yang masih panas. Tidak peduli siapa pemiliknya, yang terpenting ia datang tepat waktu dengan perut kenyang.
“Encer sekali otakmu. Aku bawa piring satunya. Eh, tunggu. Kita melupakan s**u,” ucap Nancy.
“Baiklah. Aku akan mengambilnya” jawab Elvrince. Detik berikutnya ia berlari ke arah lemari pendingin dan mengambil 2 box s**u juga beberapa minuman kaleng.
Ia berpikir cepat bagaimana membawa minuman itu, tangannya tak cukup. Tak lama salahbsatu asisten berjalan disampingnya dengan membawa keranjang kosong, ia meminta keranjang itu dan asisten itu memberikan pada Elvrince. Ia memasukkan dengan cepat dan segera berlari menyusul Nancy ke tempat latihan.
“El! Kita bukan pergi piknik,” seru Nancy saat Elvrince datang dengan membawa bakul tempat cucian.
“Kita memang tidak piknik, tapi kita membutuhkan semua ini,” jawab Elvrince santai sambil meletakkan bakul ke meja yang berada di tepi.
“Astaga...kenapa aku memiliki sahabat seperti itu,” lirih Nancy sambil memijat pelipis pelan.
“Nancy...aku mendengar!” teriak Elvrince.
Nancy memutar bola mata asal. Ia tidak ingin melayani ocehan sahabatnya itu lalu pergi begitu saja.
“Hai...apa kabar?” sapa seorang pria yang baru saja masuk.
“Hai, kak. Maaf kita terlambat” jawab Elvrince.
“Tidak apa-apa, lagi pula tadi aku memang ada keperluan dengan Neilh. Emb...boleh aku duduk?” ucap pria itu dan meminta ijin pada Elvrince untuk duduk.
“Ah, silahkan” Elvrince mempersilahkan.
“Terimakasih”
“Kak Agride sudah makan belum? Aku membawa banyak sekali makanan dan minuman,” tanya Elvrince ramah.
“Aku sudah makan” jawab pria bernama Agride.
“Kalau begitu minum ya? Gak boleh menolak!” Elvrince menawarkan paksa.
“Baiklah. Emb...besok malam ada party Hallowen,kan?” tanya Agride dan diangguki Elvrince.
“Sebelum kakak kembali ke Italia, bisakah kita bicara berdua? Ada sesuatu yang ingin kakak sampaikan. Tanpa Nancy,” ucap Agride pelan agar tidak terdengar Nancy.
“Bisa. Dimana?” jawab Elvrince antusias.
“Setelah acara utama selesai, temui kakak di kolam teratai” ucap Agride dan di acungi jempol oleh Elvrince.
Nancy yang sejak tadi memukuli samsak berhenti sejenak saat pandangannya tidak sengaja melihat Agride dan Elvrince mengobrol santai dan terlihat serius. Ia meninggalkan samsak dan melangkah menghampiri dua orang berbeda jenis itu,
“Sepertinya seru, membahas apa?” tanya Nancy saat ia telah sampai di hadapan Elvrince dan Agride.
“Ah, tidak ada. Aku hanya menawari kak Agride minum saja,” jawab Elvrince santai.
Nancy memicingkan mata kepada dua makhluk Tuhan itu untuk mencari sesuatu dari sorot mata mereka tapi tidak ada. Hanya sorot mata bahagia saja. Bahagia karena bisa bertemu. Ia tidak bodoh, dua orang yang berada di depannya saling memiliki rasa. Ia tidak mau memikirkan hal yang tidak berguna untuk dirinya, lebih baik ia kembali pada aktifitas yang sempat terjeda. Ia berputar 180° dan melangkah meninggalkan mereka.
Elvrince menoleh ke samping, Agride mengedipkan sebelah mata sontak membuat kedua pipi Elvrince memerah. Elvrince segera mengalihkan wajahnya agar tidak ketahuan jika saat ini dirinya seperti kepiting panggang. Tidak hanya wajahnya tapi seluruh tubuhnya memerah karena Agride. Sampai kapan ia akan mampu menyimpan perasaannya ini, mungkin besok saat ia dan Agride berdua. Seandainya tidak diterima, ia tidak akan malu karena Agride berbeda tingkatan dan berbeda gedung. Beruntung ia sekolah di Hidden Side. Sekolah yang memiliki tingkat kerumitan dan keamanan yang ketat, sehingga tidak mudah untuk menjangkau tingkat menengah dan University.
Agride tersenyum melihat Elvrince salah tingkah. Ia berharap rencana untuk menyatakan cinta besok berjalan sesuai rencana. Ia tidak bisa lagi menahan perasaannya yang semakin lama semakin menggerogoti dirinya. Ia bahkan rela mengemis bantuan pada Tuan Edruze untuk membantu perusahaannya yang diambang kehancuran karena salah satu kepercayaan sang ayah menghianati. Ia juga rela menjadi pelatih bela diri untuk kebutuhannya selama di Asrama.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuyarkan Glowry yang sedang fokus membaca buku milik sang ibu. Ia segera menutup dan menyimpan di bawah bantal.
“Waktunya makan malam, nona muda” seru salah satu asisten yang berada di balik pintu.
“Masuk!” teriak Glowry.
Dua asisten masuk dengan membawa nampan berisi makanan. Semua yang merwka bawa adalah makanan kesukaan Glowry,
“Terimakasih” ucap Glowry dengan senyum manis.
Setelah meletakkan nampan itu, dua asisten pamit undur diri. Terpaksa Glowry harus mengisi perut terlebih dahulu. Ia masih terbayang akan sekolah yang bernama Hidden side dalam buku itu.
“Apa sekolah itu benar ada? Atau hanya cerita fiktif yang hanya dalam cerita saja,” gumam Glowry sambil menikmati makan malam.
Glowry meletakkan pisau dan garpu, lalu meraih ponsel yang tak jauh dari sisinya. Ia mulai membuka di pencarian, namun tidak ada satu artikel pun yang menjelaskan tentang sekolah itu. Ia menghembuskan nafas kasar lalu meletakkan kembali ponselnya dan melanjutkan makan yang tertunda. Ia mengangkat bahu cuek dan ia akan menganggap semua itu hanya cerita rekayasa saja.
Di tempat lain, London...
Dor
Dor
Dor
Suara tembakan yang menggema dari belakang rumah. Tiga orang dewasa yang berjajar mengarahkan senjata ke titik jauh dan membidiknya dengan tepat.
“Wow! Bidikanmu selalu tepat sasaran El,” seru Diego yang berada tak jauh dari sisi Elvrince.
“Jika Dreyhan tidak ada, aku masih aktif melatih kemampuanku. Aku tidak ingin suatu saat ketika terjadi sesuatu, aku lupa cara membidik. Hahaha...” jawab Elvrince sambil membuka kaca mata dan disusul gelak tawa.
“Yeah, kau benar. Bahaya bisa datang kapan saja” ucap Diego membenarkan.
“Bahkan bela dirinya masih mampu melumpuhkan lawan,” Seru Agride dari belakang.
“Itu berkat kau yang melatihku dulu,” jawab Elvrince.
“El! Itu...senjatamu-“ ucap Diego menggantung.
“Aku merindukannya, Diego. Ini senjata yang kuinginkan saat itu. Dia memberikan sebelum pertandingan perebutan tahta Dragon light,” jawab Elvrince sambil mengusap benda yang di pegang. Kedua matanya berkaca-kaca dan saat air mata ingin jatuh, ia mendongak ke atas untuk menahannya.
“Bersabarlah! Tidak akan lama lagi, aku akan menemukannya. Minggu depan aku ada pertemuan dengan Neilh, mau tidak mau aku akan mengatakan hal ini” ucap Agride menenangkan Elvrince sambil mengelus bahunya.
“Terimakasih” ucap Elvrince tulus.
“Sudahi drama sedih ini. Aku lapar. Tidak bisakah kakak iparku ini memberiku makanan lezat?” seru Diego.
Diego sendiri juga sangat sedih jika teringat Nancy. Bisa dikatakan dirinya dan Nancy sangat dekat, tapi setelah malam pernikahan itu tiba-tiba Nancy menghilang. Sempat terbesit dalam hatinya untuk bersama tapi sosok wanita itu malah hilang bagai tertelan bumi.
“Dasar! Tukang lapar. Baiklah, ayo kita makan,” maki Elvrince pada Diego dan Diego hanya nyengir kuda.