London...
Kembalinya Elvrince ke ruang Kerja bukan untuk menyambung pekerjaan yang tertunda. Tapi, membuka album foto saat ia bersama Nancy dari usia 17 tahun hingga 22 tahun. Butiran bening jatuh satu persatu dan semakin deras setiap melihat gambar-gambar lama itu. Ia tidak tahu, mengapa sahabatnya itu tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Tidak ada satu orang pun yang tahu dimana keberadaannya saat ini, termasuk ayah Nancy sendiri. Dering ponsel yang terus memanggilnya membuat Elvrince mau tidak mau harus mengangkat.
Kriiingggg
Elvrince meraih benda pipih berbentuk persegi itu lalu menggeser tombol berwarna hijau dan wajah tampan seorang pria dari seberang muncul.
“Hai, sayang- mengapa kau menangis?” sapa seseorang dari seberang.
Elvrince hanya menggeleng sambil mengusap wajahnya yang basah oleh air mata.
“Aku baik-baik saja. Kau ingat aku?” jawab Elvrince jutek.
“Kau menangis tanpa memberitahuku tentang masalahmu, kau anggap apa aku?” marahnya lewat panggilan vidio.
“Kau belum menjawab pertanyaanku!” tagih Elvrince.
“Astaga. Kau tidak akan terlupakan meski satu detik. Kau istriku, hidup dan matiku.” Jawabnya lengkap.
Kedua pipi Elvrince merah merona. Lantas ia tersenyum manis melupakan sesuatu yang sempat mengingatkan dirinya.
“Cepatlah pulang! Aku merindukanmu Drey.” Ucap Elvrince dengan suara yang terdengar manja untuk Dreyhan. Pria yang menghubungi Elvrince ialah Dreyhan.
“Besok pagi aku pulang. Kemana singa junior?” ucap Dreyhan lalu menanyakan putranya.
“Papa dan pamannya datang bersama Nafala. Mereka sedang bakar ikan di taman.” Jawab Elvrince.
“Belum Natal, kenapa datang?” tanya Dreyhan.
“Kau ini apa-apaan Drey... tidak harus Natal untuk mengunjungi saudara. Selesaikan pekerjaanmu dan cepat pulang Tuan Singa!” ucap Elvrince dengan suara naik satu oktaf.
“Ya, baik. Aku akan cepat pulang. Apa kau senang,hm?” jawab Dreyhan cepat.
Panggilan itu terputus dan Dreyhan bisa bernafas lega. Sepuluh tahun telah berlalu hidup bersama wanita yang di cintai tentu sebuah anugrah yang paling indah. Pangeran kecil yang juga melengkapi hidup Dreyhan. Tapi, satu hal yang membuatnya sedih. Bukannya ia tidak tahu bahwa sang istri kerap menangis tiap malam. Sejak kehadiran putranya sang istri lebih banyak kesibukkan dan sedikit melupakan sahabatnya yang entah dimana berada. Setelah berbincang dengan sang istri, Dreyhan keluar apartemen untuk mencari angin segar. Pergi ke kedai seberang menikmati kopi dan Burger. Cuaca yang cukup panas membuatnya malas untuk mencari restoran. Setelah mengantri dan mendapat makanan yang ia inginkan, Dreyhan mencari tempat duduk dekat jendela Yang menghadap langsung ke jalan raya.
***
“Nona ingin makan dimana?” Tanya sang sopir pada Glowry.
“Tempat biasa pak” jawab Glowry sambil memainkan ponselnya.
Sang sopir tahu apa yang dimaksud Nona mudanya. Tempat biasa yang tak lain restoran siap saji yang terletak di depan kantor Auston. Restoran yang menyediakan hotdog dengan sosis black papper terbaik di Kanada.
“Aku tidak mau ada banyak pengawal. Cukup 1 orang.” Ucap Glowry menekankan.
“Tapi nona, jika ada seseorang yang ingin mencelakai anda, bagaimana? Kami bisa di gantung hidup-hidup dengan nyonya besar.” Bujuk pengawal.
“Aku membawa senjata. Kalian tidak perlu khawatir.” Bentak Glowry.
Akhirnya mereka menuruti apa yang diingkan sang majikan. Glowry turun dari mobil dan hanya diikuti oleh satu pengawal saja. Ia masuk restoran dan memesan apa yang ia inginkan. Setelah menunggu sedikit lama, akhirnya makanan Glowry siap. Ia membawa nampan itu lalu mencari tempat duduk. Tapi, semua tempat duduk penuh dan ia hanya melihat satu meja dengan 2 bangku yang satu kosong. Ia menghembuskan nafas pelan lalu berjalan menuju meja itu. Ia berharap pria dewasa itu mau berbagi bangku dengan bocak kecil seperti dirinya.
“Permisi, Tuan.” Ucap Glowry sopan.
Si pria dewasa itu menoleh kesamping “Ya..” jawabnya lembut.
“Bolehkah, aku duduk di bangku kosong depan anda?” tanya Glowry ragu.
“Tentu. Duduklah anak manis.” Ucap si pria dengan mata berbinar.
“Terimakasih.” Ucap Glowry riang.
Glowry meletakkan nampan di atas meja lalu segera duduk. Perutnya yang sudah meronta membuat Glowry melahap hotdog dengan sosis super jumbo. Satu gigitan yang masuk kedalam mulut membuat Glowry mendesah puas. Makanan yang paling ia gemari. Ia juga mengabaikan orang di depannya yang menatapnya penuh seksama.
“Pelan-pelan nak, kau bisa tersedak jika menggigit sebesar itu.” Tegur pria yang berada di depan Glowry.
“Paman, aku baik-baik saja. Ini sudah biasa.” Ucap Glowry dengan mulut yang penuh makanan.
“Astaga, minumlah dulu.” Ucap pria dewasa sambil menyodorkan minuman dan Glowry menerima.
“Paman baik sekali. Oiya, namaku Glowry. Nama paman siapa?” ucap Glowry sambil memperkenalkan diri.
“Namaku Dreyhan. Panggil saja paman Drey.” Jawab pria dewasa itu.
Pria yang duduk bersama Glowry adalah Dreyhan Clief Auston. Suami Elvrince. Gabungan kerajaan bisnis antara Auston dan Aurzach membuat Dreyhan sering bepergian ke luar negeri bahkan luar benua. Waktu bersama keluarganya juga sangat terbatas. Negara terakhir yang ia datangi saat ini ialah Kanada. Tanpa ia sadari, gadis kecil yang berada di depannya adalah anak Nancy. Wanita yang selama 10 tahun menghilang.
“Nama paman keren.”seru Glowry sambil melahap hotdog.
“Namamu juga cantik, seperti orangnya. Apa kau datang sendiri nak.” Tanya Dreyhan di ujung kalimat.
Glowry mencondongkan wajahnya hingga berada tepan di depan Dreyhan.
“Hidupku bagaikan di penjara, paman. 24 jam harus dijaga oleh makhluk yang bernama pengawal. Menyedihkan bukan.” Bisik Glowry. Setelahnya ia kembali duduk dengan tenang.
“Tidak baik seperti itu. Itu artinya, orang tuamu sangat menyayangimu.” Tutur Dreyhan bijak.
“Seharusnya tidak seposessive itu paman. Oke, mereka menjagaku karena kekayaan yang mereka punya. Huh, kenapa juga terlalu kaya? Menjadi anak Billionaire juga membosankan.” Oceh Glowry. Ia seakan menemukan tempat curhat yang tepat. Dreyhan tentu saja menjadi pendengar yang baik.
“Berapa usiamu?” tanya Dreyhan setelah Glowry selesai mengoceh.
“Empat hari lagi 10 tahun.” Jawab Glowry santai.
“Putra paman juga berusia 10 tahun, 4 hari lagi. Kurasa itu hari yang baik. Buktinya, aku bertemu dengan gadis kecil sepertimu yang baik dan menghargai orang yang lebih tua.” Ucap Dreyhan yang menceritakan putranya.
“Woah, benarkah. Baiklah paman, kita jadi teman mulai sekarang.” Ucap Glowry dengan bersorak ria.
“Baiklah. Kita teman. Emm...besok paman kembali ke London. Jika kau liburan kesana, ajak kedua orang tuamu singgah ke rumah paman.” Ucap Dreyhan.
“Oke, paman. Aku pasti akan mengunjungimu. Aku punya pesawat jet, jadi siapkan hotdog sosis blackpaper jumbo yang terlezat di tempat paman.” Ucap Glowry.
“Mengapa harus hotdog?” tanya Dreyhan heran.
“Karena aku sangat menyukainya.” Jawab Glowry enteng.
“Kau sangat mirip dengan adikku Glow. Dia juga sangat menyukai makanan itu.” Ucap Dreyhan yang seketika teringat Diego.
“Apa dia juga kaya?” tanya Glowry dengan melebarkan kedua mata.
“Tentu saja. Dia sangat kaya.” Jawab Dreyhan jujur.
“Sempurna. Aku akan mengajaknya duel makan hotdog. Jika aku menang, aku akan menguras saldonya.” Ucap Glowry bersungguh-sungguh. Tawa Dreyhan seketika pecah dan menggema satu ruangan, hingga pengunjung lain menatap Dreyhan aneh.
“Maaf.” Ucap Dreyhan pada semua pengunjung.
Dreyhan tidak menyangka jika di Kanada ini, ia menemukan bocah kecil yang membuatnya tertawa lepas. Ia yakin, bocah kecil bernama Glowry ini akan tumbuh seperti istrinya yang tidak menyombongkan kekayaan orang tuanya. Bertemu dengan Glowry adalah hiburan untuk dirinya yang beberapa bulan ini dipusingkan oleh pekerjaan.
Mereka melanjutkan makan dengan tenang, hanya obrolan ringan. Saat Glowry akan melahap potongan terakhir, kedua matanya tidak sengaja menangkap seseorang yang berada di balik tembok sedang mengacungkan senjata ke arahnya. Ia segera memasukkan potongan roti itu dan menyambar pistol yang berada di balik baju longgar miliknya.
Dor
Dor
“Arrrghhhh” teriak seseorang itu.
Pengawal Dreyhan dan pengawal yang dibawa Glowry segera mencekal penjahat yang mencoba mencelakai dan merebut senjatanya. Glowry berlari menghampiri penjahat itu dengan pistol yang berada di genggamannya.
“Bawa ke penjara bawah tanah milik mommy!” perintah Glowry.
Dibelakang, Dreyhan masih tidak menyangka jika gadis yang berbincang dengannya selama hampir satu jam bisa menembak tepat sasaran. Ia menggeleng pelan dan masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Ia mengusap wajahnya kasar.