Hujan turun sore itu. Kafka sedang duduk di balkon kamarnya. Kakinya tertekuk, punggungnya bersandar pada dinding. Di sampingnya secangkir cokelat mengepulkan uap hangat. Hujan adalah salah satu hal yang Kafka suka. Mendengarkan suaranya yang jatuh menimpa atap rumah dengan mata terpejam, membuat Kafka bisa mendengarkan berbagai nada yang harmoni, seakan-akan alam sedang menyenandungkan sebuah lagu. Belum lagi aroma yang dibawanya, sejuk dan bikin hati cowok itu tenang. Dulu saat Bunda masih hidup, mereka sering menikmati hujan seperti ini. Duduk bersisian dengan kaki tertekuk ditemani secangkir minuman hangat untuk masing-masing orang. Kafka selalu memilih cokelat hangat. Sementara Bunda lebih suka dengan teh biji mahoni. Padahal biji teh mahoni rasanya sangat pahit. Kafka tidak pernah

