Sejak berbaring dua jam lalu, abytra sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya terasa penuh, hatinya gelisah. Sudah sering ia berganti posisi yang nyaman hanya agar bisa terlelap, nyatanya ia tidak juga tenggelam dalam dunia mimpi. Abytra mendesah. Ia meraba meja nakas, menarik laci dan mencari-cari gawai miliknya. Saat benda mungil itu berhasil ia dapatkan, ia melihat jam di layar ponsel. Sudah subuh ternyata. Sepertinya ia tidak akan bisa tertidur lagi. Lalu, suara Azel kembali mengisi pendengarannya. Terngiang-ngiang, seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang. Nada sedih, mata berkaca-kaca, dan bibir bergetar Azel tidak bisa Abytra lupakan. Sekali lagi Abytra berganti posisi. Kini ia miring ke kanan, satu tangannya terlipat dan diletakkan di bawah kepala. Di hadapan

