#8: HARI-HARI YANG TAK SAMA LAGI

812 Kata
Bagaimana perasaanmu ketika bangun tidur dan yang pertama kali kau lihat adalah pria yang sama sekali tidak kau kenal? Itulah yang dialami Azel di awal-awal pasca pernikahannya. Azel sering terkejut ketika terbangun dan melihat Abytra tidur di sisinya. Memang ada guling yang membatasi mereka. Tapi tetap saja, Azel tidak terbiasa dengan kehadiran pria itu. Sudah seminggu mereka menikah. Dan Azel masih merasa terkejut. Ia masih tidak menyangka sudah menjadi istri Abytra. Lagipula hubungan mereka terasa aneh. Mereka hampir tidak pernah berkomunikasi. Abytra tidak pernah mengajak Azel berbicara. Dan Azel pun tidak tahu harus memulai dari mana. Abytra juga tidak pernah meminta Azel untuk melakukan hal apapun sebagai seorang istri. Misalnya menyiapkan air hangat untuk mandi ketika Abytra pulang bekerja, menyiapkan handuk dan baju bersih, memasangkan dasi, ataupun menyiapkan sarapan. Pria itu juga tidak pernah menyentuh Azel. Sebenarnya, keadaan ini cukup melegakan bagi Azel. Hamil di usia 17 tahun sudah jadi masalah terbesar dalam hidupnya. Dan Azel tidak ingin menambahinya dengan melayani pria yang sama sekali tidak ia kenal. Kalau boleh jujur, bagi Azel, Abytra hanya seorang pria asing yang menikahinya dan berbagi ranjang dengannya di malam hari. Hanya itu. Tidak lebih. Dan juga tidak kurang. *** "Sekarang apa yang akan kau rencanakan?" Abytra mengalihkan pandangan dari keramaian lalu lintas yang ia lihat dari balik jendela kafe, dan menatap wanita di hadapannya. Wanita itu juga menatap Abytra, masih menunggu jawaban atas pertanyaannya. "Entahlah," Abytra mengendikan bahunya, kemudian menambahkan, "Aku masih memikirkannya." Maura, nama wanita itu, menggeleng kepala mendengar jawaban Abytra. Ini bukanlah jawaban yang ia inginkan. "Bukannya kau sudah lama menginginkan kesempatan ini?" Abytra tersenyum dan mengangguk. "Lalu apa yang kau tunggu?" "Aku tidak ingin terburu-buru." "Terburu-buru katamu? Ini sudah seminggu, dan kau sama sekali belum punya rencana," sergah Maura. Lalu "Atau jangan-jangan kau malah menikmati kehidupan barumu bersama gadis kecil itu?" Abytra tertawa. Lalu diraihnya tangan Maura yang terkepal di atas meja, dan menggenggamnya. "Apa kau cemburu?" Goda Abytra. Maura membuang muka dan berusaha menarik tangannya agar terlepas. Namun, Abytra menggenggamnya makin erat. "Dengarkan," kata Abytra dengan lembut dan itu berhasil membuat Maura menghentikan usahanya untuk melepaskan tangannya dari genggaman Abytra. "Apapun yang kau pikirkan, itu tidak akan pernah terjadi. Kau tidak perlu takut aku akan jatuh hati pada gadis kecil itu dan meninggalkanmu. Sampai kapanpun, kau akan tetap jadi orang terpenting bagiku. Kau mengerti?" Maura menatap Abytra. Mencari kesungguhan di mata gelap pria itu. "Lalu kenapa kau menunda-nundanya?" Abytra mengusap punggung tangan Maura dengan ibu jarinya dan berkata, "Aku hanya ingin berhati-hati. Ini kesempatan yang sudah aku tunggu bertahun-tahun, dan aku tidak ingin gegabah. Aku harap kau mengerti." Maura menarik napas panjang. Lalu mengangguk. Ia memilih percaya pada Abytra, sama seperti yang ia lakukan selama ini sejak mengenal pria itu. *** Banyak perubahan yang dialami Azel sejak hamil dan menikah. Dulu, pagi-pagi seperti ini ia pasti berada di sekolah. Belajar dan memerhatikan guru menerangkan pelajaran di depan kelas--dan menahan kantuk jika itu pelajaran eksak atau sejarah. Bergosip dengan teman-temannya jika guru tidak masuk. Ke kantin di jam istirahat. Atau mojok bersama Falih di gudang belakang sekolah. Tapi sekarang, hari-hari itu sudah hilang. Sekarang, Azel harus menjalani 24 jam waktunya setiap hari di rumah. Papa berpesan agar ia tidak keluar rumah. Perut Azel kini sudah membuncit, dan orang-orang tidak boleh melihat itu.  Papa tidak ingin orang lain tahu Azel hamil. Dan sekarang inilah yang dilakukan Azel untuk membunuh waktunya. Azel belajar merajut. Kemarin ia minta tolong Kafka untuk membeli buku merajut beserta bahan-bahan yang diperlukan, seperti jarum, benang wol, dan lainnya. Dengan ditemani instrumen musik klasik, Azel mulai merajut. Untuk percobaan pertama, Azel akan membuat kaus kaki bayi. Azel mengusap perutnya, dan tersenyum. Mungkin dulu Azel tidak menginginkan kehamilan ini. Tapi, makin hari, ada ikatan yang tercipta tanpa Azel sadari. Dan, kini Azel bersyukur ia tidak jadi mengugurkan kandungannya karena ia merasa tidak sendirian menghadapi ini semua. Ada bayi dalam perutnya yang akan selalu ada bersamanya. Aku akan menjagamu, bisik Azel sambil mengusap-usap perutnya. Memang, sekarang kehidupan Azel sudah sangat jauh berbeda. Ia tidak akan lagi mengalami hari-hari yang sama seperti remaja lainnya. Dan mulai sekarang, Azel akan berusaha menerimanya dengan lapang d**a. Meski Azel tahu itu tidak akan pernah mudah. *** "Kau tidak mampir?" Tanya Maura saat ia turun dari mobil Abytra di depan rumahnya. Abytra melihat jam tangannya, lalu berkata, "Lain kali saja. Ini sudah terlalu larut. Kau harus istirahat." Maura cemberut mendengar penolakan Abytra. "Kau menolak karena ingin segera bertemu gadis kecil itu, ya?" Abytra tertawa, lalu diusapnya pipi Muara dengan saya. "Sudah kukatakan, kau tidak perlu cemburu. Bukankah kau tahu betul bagaimana hatiku?" Abytra memajukan wajahnya lalu mengecup bibir Maura. "Kau yang ada di sini," kata Abytra menunjuk dadanya, "selamanya akan tetap begitu." Maura tersenyum, lalu mengangguk. "Aku percaya." Abytra menepuk pelan puncak kepala Maura, lalu menyuruh wanita itu untuk segera masuk dan beristirahat. "Besok aku jemput dan kita sarapan bersama," kata Abytra sebelum pergi dari rumah Maura.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN