#9: BALAS DENDAM

1241 Kata
Pagi itu, sesuai janji, Abytra menjemput Maura untuk sarapan bersama. Maura sudah menunggu di depan rumah dengan dandanan rapi. "Selamat pagi," kata Maura seraya mengecup pipi Abytra saat masuk ke dalam mobil. "Kemana kita?" lanjutnya kemudian. Abytra memutar kontak, lalu menyalakan mobil. Mesin menderu pelan. "Tempat biasa atau mau suasana baru?" Tanya Abytra. "Terserah." Abytra menggeleng kepala. "Kau tahu, terserah adalah jawaban jitu yang diberikan wanita setiap kali diminta memilih. Sayangnya, jawaban itu selalu menyulitkan kaum kami." Maura tertawa sambil menyalakan radio. Lalu, "Menyulitkanmu adalah tugasku," sahut Maura sambil mencari siaran yang menarik. "Ya-ya, aku tahu itu." Abytra menginjak pedal gas dan mobil pun mulai meninggalkan pekarangan rumah Maura. *** Abytra menganggap Maura adalah seseorang yang ditakdirkan bersamanya. Saat itu kondisi Ibu makin memprihatikan. Rasa kehilangan membuat Ibu tidak lagi punya semangat hidup. Makin hari tubuhnya melemah. Hingga akhirnya Ibu harus dirawat di rumah sakit. Masa-masa itu adalah masa tersulit dan terkelam dalam hidupnya. Kehilangan Ayah untuk selamanya, dan melihat Ibu yang masih bernapas tapi mati, Abytra tidak dapat melukiskan perasaannya saat itu. Di sanalah, ia bertemu Maura, yang juga mengalami masa sulit dan kelam. Ibunya--satu-satunya keluarga yang Maura miliki--mengidap kanker otak. Maura harus melihat kehidupan ibunya terkikis secara perlahan. Dua orang remaja, yang bersama-sama menemani ibunya di rumah sakit. Kesamaan itu membuat mereka saling mengenal dan menjadi dekat. Mereka sering menghabiskan waktu di lorong-lorong rumah sakit, bersama-sama mencari makan--yang makanannya sama sekali tidak enak--di kafetaria rumah sakit. Hingga akhirnya mereka harus kehilangan orang yang berarti bagi mereka di hari yang sama. Mereka menangis bersama-sama. Saat itulah mereka sadar bahwa mereka memang ditakdirkan bersama. Setidaknya saat itu mereka tidak merasa sendirian. Ada orang lain yang merasakan apa yang mereka rasakan. Dua orang yang mengalami kehilangan dan terluka, akhirnya bersama-sama untuk saling menyembuhkan. *** "Perusahaan Danuwijaya sedang masa sulit," kata Maura setelah menyesap teh miliknya. Abytra menatap Maura dan bertanya, "Kau yakin?" Maura mengangguk mantap. "Aku dapat infomasi ini dari salah satu kenalanku yang bekerja di sana." Maura memajukan tubuh dan menumpukan sikunya di atas meja. "Aku rasa ini saat yang tepat bagi kita." Abytra terdiam sejenak. Keningnya mengerut karena berpikir. "Kau benar," aku Abytra. "Tapi kita harus hati-hati. Sekali kita salah bertindak, maka penantian kita selama ini sia-sia. Kau tahu pasti maksudku, kan?" Maura tersenyum dan mengangguk. Ia tidak akan pernah lupa hal itu. Menghancurkan keluarga Danuwijaya adalah kesempatan yang mereka tunggu sejak lama. "Aku punya rencana," kata Maura. Abytra menegakkan punggungnya. "Apa?" Tanyanya tertarik. Maura mulai mengungkapkan rencana--yang sudah ia pikirin sejak mendapatkan informasi dari kenalannya itu--pada Abytra. Abytra mendengarkan. Sesekali ia menyela, ketika merasa ada cela di rencana Maura. "Kau yakin ini akan berhasil?" "Kita tidak akan pernah tahu jawabannya sebelum mencoba, kan?" Abytra berpikir. Jari-jarinya mengetuk permukaan meja. "Bagaimana kalau kita gagal?" Maura tersenyum, meraih jemari Abytra lalu menggenggamnya. "Saat ini, bantuan apapun pasti akan mereka terima. Setelah itu, kau bisa masuk ke perusahaan itu dan mengambilnya. Pria itu pasti tidak akan menyadarinya mengingat saat ini kau adalah menantunya." Abytra tersenyum dan membalas genggaman Maura. "Aku tidak salah memilihmu." "Nah sekarang mari kita pikirkan rencana selanjutnya. Apa kau sudah ada ide untuk gadis kecilmu itu?" Abytra menyeringai dan mengangguk. "Ya," kata pria itu. Lalu menambahkan, "Mari kita mulai pertunjukannya." *** Pagi itu Azel terbangun tidak seperti biasanya. Ada yang memegang bahunya lalu mengguncangnya. Saat kelopak matanya terbuka, dan mengerjap, Azel menemukan seraut wajah yang membuatnya terkesiap. Abytra, si pemilik wajah, menyeringai lebar melihat ketakutan yang mengintip dari mata bulat Azel. Lalu ia duduk di tepi ranjang, membuat Azel beringsut hingga punggungnya bersandar pada kepala ranjang. "Tolong siapkan seragam untukku ke kantor," pinta Abytra. Azel mengerjap. Terlalu terkejut dengan permintaan yang tidak biasa itu. Selama ini Abytra tidak pernah meminta ... atau lebih tepatnya berbicara dengannya. Pria itu selalu mengurus segala keperluannya sendiri. Tapi, kenapa pagi ini berbeda? "Kau dengar apa yang aku pinta?" Suara Abytra kini penuh penekanan dan urgensi. "Kenapa?" Satu kata itu akhirnya lolos dari bibir Azel. Kenapa ... satu kata tanya yang mungkin bisa menguraikan benang kusut yang kini memenuhi kepala Azel atas tindakan Abytra yang di luar kebiasaan. Abytra mendengkus lalu terkekeh. "Kenapa katamu?" Abytra berdiri, lalu berkacak pinggang. "Aku ini suamimu. Apa kau lupa hal itu?" Azel menggeleng. Tentu saja ia tidak lupa akan siapa dan apa status pria di hadapannya itu. Momen pernikahan yang tidak menyenangkan itu tidak akan mudah ia hapus begitu saja dari ingatannya. "Tapi selama ini kau tidak pernah meminta ...," Azel berhenti sejenak lalu meralat, "Ah tidak, kau bahkan tidak pernah berbicara denganku. Seakan-akan kita tidak pernah saling menyadari keberadaan satu sama lain." "Anggap saja kemarin-kemarin itu aku memberimu waktu untuk beradaptasi. Sekarang aku minta kau untuk siapkan segala keperluanku. Selayaknya tugas seorang istri. Kau bisa memulainya dengan apa yang kupinta tadi." "Tapi ak--" Kata-kata yang ingin diucapkan Azel tertahan di lidah. Abytra memotongnya cepat. Lelaki itu menatap Azel penuh intimidasi. "Aku tidak punya banyak waktu untuk dibuang-buang olehmu. Lakukan tugasmu sekarang juga!" Terkejut oleh bentakan Abytra, Azel segera berdiri. Tapi, tanpa disangka, kakinya tersangkut seprai yang tergeletak di lantai dan tersungkur. Lutut Azel menyentuh lantai dengan keras. Beruntung ia bisa menyangga tubuh dengan tangan sebelum perutnya bertemu lantai. Napas Azel memburu, rasa nyeri menyerangnya. Melihat apa yang terjadi, Abytra menggeleng kepala dan berdecak tidak sabar. Ia berderap menuju Azel, meraih lengan gadis itu dan memaksanya untuk berdiri. Azel memejamkan mata dan meringis saat rasa sakit menyerangnya secara bersamaan. Tempurung lututnya sakit sekali, telapak tangannya merah dan terasa perih. Tapi, Abytra tidak peduli dengan itu, ia tetap memaksa Azel berdiri. "Makanya apa yang dikatakan suami itu segera laksanakan biar tidak kualat." Azel tidak berkata apa-apa. Ia hanya berdiri dengan kaki gemetar. Tangannya merangkul perut, seakan memastikan bayinya baik-baik saja. "Inilah akibatnya kalau terlalu dimanja. Menyusahkan." Abytra masih saja menyerang Azel dengan kata-kata menyakitkan seraya menarik lengan Azel menuju lemari pakaian. Mata Azel terasa panas dan perih. Pandangannya mengabur. Segumpal air mata sudah menggenang di sudut mata. Lalu pecah dan beruraian membasahi pipi. Abytra mengesah saat mendapati wajah Azel basah oleh air mata. Pria itu menyentakkan tangan Azel hingga terlepas. Tubuh Azel terhuyung, membentur lemari, lalu merosot dan bersimpuh di lantai. "Benar-benar merepotkan!" Abytra menatap Azel sambil menyugar rambutnya. "Istri yang sama sekali tidak berguna!" lanjutnya. Setelah mengatakan itu, Abytra berbalik dan berjalan menuju kamar mandi. Lalu menutup pintunya dengan bantingan keras. Azel menunduk. Tangannya masih merangkul perut. Bahunya bergetar. Azel terisak. Jangan menangis. Jangan menangis. Jangan menangis, bisik Azel dalam hati. Tapi setiap kali ia memaksa dirinya untuk berhenti menangis, airr matanya tidak mau berhenti keluar. Isak tangisnya malah makin menjadi. Pada akhirnya Azel membiarkan dirinya menangis. Karena terkadang, hanya tangisan yang mampu melarutkan rasa sakit yang ada di hati. *** Di dalam kamar Mandi, Abytra menatap pantulan wajahnya di cermin. Ada sepercik rasa bersalah yang mengintip di balik mata sehitam jelaga yang balas menatapnya itu. Juga segumpal sesal yang memenuhi d**a. Abytra tercekat dan sulit bernapas. Tapi, Abyta segera mengenyahkan rasa itu dari dirinya dengan memejamkan mata. Kau sudah melakukan yang benar. Memang seharusnya seperti ini, bisiknya mencoba mencari pembenaran. Tapi, ada suara lain yang menyangkal, mengatakan bahwa apa yang dilakukannya salah. Abytra membuka mata. Lalu menyugar rambutnya. Sial! Makinya frustasi. Ini baru awal, tapi ia sudah merasakan sesal dan rasa bersalah sebesar ini. Tapi, Abytra tidak bisa berhenti. Ada janji yang harus ia tepati. Demi kedua orangtuanya yang mati dalam penderitaan. Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Abytra masih terus menyugesti dirinya. Berharap kata-kata itu mampu mengusir rasa bersalah di matanya. Juga mencairkan gumpalan sesal yang memenuhi hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN