#21: CINTA YANG MELEMAHKAN

1008 Kata

Sore itu langit mendung. Dari jauh sudah terdengar suara guruh. Angin berhembus kencang, membuat suhu udara terasa dingin menggigit kulit. Abytra merapatkan jasnya, mendongak, memastikan hujan belum akan turun dalam waktu dekat. Ketika memasuki gerbang pemakaman, Abytra mempercapat langkah. Ia tidak punya banyak waktu. Langkah Abytra begitu pasti, pertanda ia sudah hapal sekali tempat ini. Abytra berhenti di antara dua makam. Tangannya mengepal, lalu mengembuskan napas berat. Setiap kali melihat dua nama itu terukir di batu nisan di hadapannya, d**a Abytra terasa sesak. Abytra memejamkan mata, berusaha mengendalikan diri. Matanya sudah terasa panas, dan sudut matanya perih, seolah ada sesuatu yang mendesak ingin keluar. Jangan, jeritnya dalam hati. Ia tidak ingin menangis di saat sepert

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN