Malam itu Azel terbangun saat mendengar suara rintihan. Ia mengerjapkan mata, menyesuaikan penglihatan dengan pengcahayaan yang minim. Setelah penglihatannya cukup baik, Azel duduk lalu menoleh ke kanan, ke arah meja nakas di samping ranjang dan mengulurkan tangan untuk menyalakan lampu meja. Cahaya berhamburan membanjiri ruang kamar yang semula gelap. Rintihan itu terdengar lagi. Asalnya dari sebelah kiri Azel. Saat ia menoleh, ia mendapati Abytra meringkuk dengan tangan memeluk tubuh, gemetaran. Wajah pria itu pucat, dan dari bibirnya keluar rintihan pelan. Azel beringsut sedikit, memangkas jarak di antaranya dan Abytra. Di dorong rasa penasaran, Azel memberanikan diri menyentuh pipi pria di sampingnya itu. Alangkah terkejutnya Azel saat telapak tangannya merasakan sesuatu yang panas.

