Abytra terbangun saat matahari mulai menukik ke barat. Bias cahayanya masuk lewat jendela, lalu membentuk garis lurus di lantai yang dilapisi karpet bunga-bunga sampai ke dinding kamar yang bercat warna kuning gading. Pria itu mengerjapkan mata sesaat, sebelum menghela napas. Rasa sakit di kepalanya sudah berkurang. Tubuhnya juga tidak lagi menggigil. Hanya tenggorokkannya masih terasa sakit, tapi tak sesakit tadi pagi. Namun secara keseluruhan ia sudah merasa jauh lebih baik. Lalu Abytra teringat dengan mimpinya semalam, mimpi yang terasa begitu nyata. Ibunya datang, dengan wajah lembut dan senyum yang selalu ia temui setiap hari. Ibu, Abytra menyebut nama itu dalam hati. Menyebut nama itu saja membuat hati Abytra tertusuk. Tangan Abytra terangkat, merenggut handuk kecil di dahinya. Ke

