Cuaca sangat cerah hari ini, mengiringi langkah Ken dan Yama menuju ruang rapat yang disebutkan resepsionis tadi. Surat Izin mengemudi belum ia dapatkan, jadi Yama menjemputnya di sekolah usai makan siang lalu pergi ke perusahaan Kedrick bersama-sama.
Semua mata memandang kearah Ken dan Yama setelah keluar dari lift, paling banyak berjenis kelamin perempuan. Ada yang berteriak senang, ada yang menyatukan alisnya berkata tanpa sadar wajah orang itu terlihat mirip seseorang. Namun Ken tidak memperdulikannya, tubuhnya sudah berkeringat dingin. Ia gugup.
"Tidak perlu gugup, Tuan Ken." sahut Yama "Semuanya akan baik-baik saja."
"Aa, aku mengerti Paman Yama. Aku sudah berusaha tenang."
Yama mengetuk pintu. Tak lama kemudian terdengar suara dari dalam memintanya untuk masuk.
"Masuk."
Yama masuk terlebih dulu disusul oleh Ken selanjutnya. Ketiga orang yang sama seperti waktu Aldrich menghadiri rapat kemarin, berdiri dari duduknya dan menatap intens Ken dan juga Yama.
Yama menundukkan tubuhnya sebagai tanda hormat, diikuti dengan Ken setelahnya. "Kami dari perwakilan INC Company, akan mendiskusikan desain untuk Resort kerja sama kita," jelas Yama.
Sontak ketiga orang di sana berdiri, lalu melakukan hal yang sama. Menunduk untuk menghormati atau rasa terima kasih.
"Saya Yama, saya mendampingi Tuan Ken dan beliau--"
"Panggil aku Ken saja," timpal Ken cepat memotong perkataan Yama, semua orang di sana tetap diam namun mata tak lepas memandang Ken dan Yama. Lebih ke arah Ken sih sebenarnya sebelum sebuah seruan lantang mengudara.
"Dia mirip sekali denganmu Aarav!"
Fredo berteriak memecah keheningan yang sempat terjadi.
Takut akan ada pendapat lain lagi akibat dari teriakan Fredo, Ken lebih dulu menyela, "setiap orang di bumi ini memiliki wajah serupa tapi tak sama. Kau tahulah Paman, kata orang terdahulu." Acuh tak acuh Ken meski begitu hatinya bertalu-talu, berdebar juga.
"T-tapi--"
"Maaf, Paman. Aku tidak punya banyak waktu. Bisa kita mulai sekarang," potong Ken.
Ken berusaha mengalihkan pembicaraan dan menyadarkan dua orang yang tengah menatapnya lama.
"Aa, maafkan kita, Tuan ... Ken. Silahkan duduk," pinta Dariel selaku pemimpin rapat. Semua orang berada di sana pun duduk di tempatnya masing-masing. Sejujurnya ia ragu memanggil pria di depannya dengan nama kecil. Terasa tidak sopan, tapi ia sendiri tidak tahu nama belakang Ken. Dariel merasa hanya perlu bersikap baik meskipun Ken hanya seorang karyawan. Karyawan di perusahaan besar maksudnya. "Perlukah kami mengenalkan diri?"
Ken menggelengkan kepalanya setelah duduk.
"Tidak perlu Tuan Kedrick dan panggil aku Ken saja tanpa embel-embel nama keluargaku. Tidak usah bingung memanggil namaku. Lagipula aku hanya karyawan biasa."
"Kenapa? bukankah harusnya bangga bisa bekerja di sana. Kita sangat menghormatimu karena kalian sangat baik kepada perusahaan ini."
Sambil fokus mengutak-atik benda canggih berbentuk persegi Ken bergumam, "karena aku masih muda Paman, bukan orang tua sepertimu." Ken terkekeh pelan, hiburan baginya melihat wajah aneh Dariel walau sesaat.
Dariel melotot, sementara Fredo menyeringai senang bahkan ia tertawa terbahak-bahak tadi.
"Jangan salah paham, Paman. Kami baik karena perusahaan ini akan menguntungkan nantinya. Banyak pekerja memiliki etos kerja yang tinggi di sini. Jika perusahaan kalian hancur, kami yang akan merekrut mereka. Mudah bukan?" selesai Ken berbicara, suasana di ruangan mendadak hening. Dan Ken merutuki mulut sembarangannya muncul di waktu yang salah.
"Sungguh licik sekali. Tapi kita tidak akan menyia-nyiakan kesempatan, Tuan Ken," balas Dariel. Ia menopang dagunya di atas tautan tangannya, menatap Ken penuh keyakinan.
Ken tertawa, bersyukur Dariel tidak terlihat kesal ataupun marah. "Aku hanya bercanda, Paman. Kami juga yakin kalian bisa mengatasinya."
"Bercanda mu sesuai kenyataan anak muda, aku hampir terkena serangan jantung. Memang berapa--"
"Memang berapa umurmu?" Sebuah suara memotong perkataan Fredo. Suara ini, Ken begitu mengenalnya, orang yang selama ini selalu ia tunggu kehadirannya. Berharap bisa ia peluk meski hanya sekedar mimpi.
"16 tahun, Paman." Lidah Ken terasa kelu, memanggil orang tersebut dengan panggilan Paman. Padahal jelas-jelas pria itu mengalirkan darah padanya.
"Apaa?!" Suara Fredo lagi-lagi menggema di ruang rapat, lainnya hanya tersentak kaget. Tentunya tidak selebay Fredo.
"Kau cukup muda."
Ken menatap Aarav. "Untuk ukuran seseorang bekerja di perusahaan maksud anda, Paman?"
Aarav tidak menjawab, tetapi ia terus memandangi Ken yang tengah menyiapkan bahan-bahan presentasinya.
Ken meneguk ludahnya, ia menutup mata sejenak guna menetralkan detak jantungnya. "Jika itu yang anda pertanyakan, jawabannya sederhana. Aku hanya seorang adik yang tidak bisa melihat kakakku bekerja keras seorang diri."
"Kau punya kakak?" tanya Fredo, kali ini bersikap tenang. Jadi terlihat sedikit berwibawa dibanding tadi. Terlihat tidak ada wibawanya sama sekali.
"Tentu saja, kalian baru bertemu dengannya kemarin."
"Siapa?"
Ken melihat Dariel sekilas sembari menyeringai, tersenyum penuh arti. "Aldrich Axton."
Terdengar bunyi kursi jatuh, bersamaan dengan teriakan yang keras.
"Apa?!"
Siapa lagi pelakunya jika bukan Fredo, pria dewasa paling apa adanya di ruangan ini. Bersikap paling jujur maksudnya.
***
Rapat berjalan lancar, Ken menjelaskan desain kerja sama mereka dengan baik. Dan mereka setuju karena memang desain yang dibuat Ken sangat bagus dan juga menarik.
Rapat berlangsung satu jam. Banyak yang perlu dibahas, mengenai bahan bangunan sampai furniture yang akan digunakan.
Mengenai tempat, sudah dibahas pada rapat kemarin.
Ken sedang asyik membereskan berkas- berkas beserta laptop kesayangannya dibantu Yama dengan sangat serius.
"Ken, kenapa diusiamu yang masih terlalu muda kau lebih memilih bekerja dibanding bersenang-senang bersama temanmu? Menghabiskan masa remaja mungkin?"
Ken menghentikan kegiatannya, mendengar pertanyaan yang tertuju padanya.
"Aku maksudku kita, ingin mempertahankan perusahaan yang dibangun Papa dari nol," jawab Ken setelah terdiam cukup lama.
Dariel mengangguk, "Kita, maksudmu kau dan kakakmu?"
"Ya."
"Hmm, kau masih muda tapi kau sangat jenius, hebat." Senyuman lebar terukir di wajah Ken atas pujian yang diberikan untuknya.
"Di mana Papamu?" tanya Aarav tanpa tahu pertanyaan yang ia lontarkan, membuat Ken ingin berteriak, "kaulah Papaku!"
Pemuda 16 tahun itu, tersenyum tipis. "Papa sudah tenang di surga, Paman."
Mereka bertiga terhenyak, apalagi Aarav.
"Maafkan aku."
"Tidak apa-apa, Paman," ucap Ken, ia berdiri dari duduknya. Bersiap untuk pergi. "Kalau begitu aku pamit dulu, kita akan bertemu lagi saat proyek pembangunan akan dimulai."
"Tentu saja." Dariel, Aarav, dan Fredo memandang punggung Ken dan juga Yama dalam diam sampai kedua punggung itu menghilang dari balik pintu.
"Dia luar biasa. Idenya sungguh cerdas. Aku percaya proyek ini akan sukses dan banyak diminati wisatawan dalam negeri maupun luar negeri. Sesuatu yang baru dan berbeda. Aku bahkan tidak sempat memikirkannya."
"Kau benar Fredo, sayangnya aku merasa ada yang janggal. Bukan mengenai kerja sama ini, aku percaya pada mereka. Tapi rupa pemuda itu jika ditelisik lebih jauh lagi, mirip sekali denganmu Aarav. Apa kalian tidak berpikir seperti itu?"
Fredo menatap Dariel dan Aarav bergantian, berharap ada yang setuju dengan pendapatnya.
"Awalnya, aku kira iya. Tapi tidak mungkin. Dia punya orang tua sendiri. Yang dia katakan benar tentang kemiripan wajah manusia di bumi." Dariel mengutarakan pendapatnya meski dalam hatinya meragu.
Setelah itu, Dariel memukul kepala Fredo, pelan. "Apa kau pikir Aarav mempunyai anak berusia 16 tahun. Kau bahkan tahu dengan mantan istrinya saja tak ada hasil. Mantan istrinya meminta Aarav tidak membuatnya hamil bahkan selalu minum obat pencegah kehamilan, melakukan KB juga untuk berjaga-jaga. Jadi mana mungkin, Fredo?"
Aarav mendengar semua itu, menggemeletukkan giginya, ia mendecih tidak suka walau benar adanya.
"Jangan bawa-bawa wanita sialan itu. Aku tak sudi lagi mendengarnya."
"Oow Aarav, bukan aku." Fredo mengangkat kedua tangannya setelah mendapat pelototan tajam ala keluarga Kedrick. Kemudian menunjuk Dariel yang tersenyum tanpa dosa. "Salahkan Kakakmu tuh, dia yang mengatakannya."
"Sudahlah kalian, jangan ribut. Lebih baik kalian kembali ke tempat kalian masing-masing. Tidak perlu kau masukkan hati Aarav. Aku hanya menguji mu tadi." Sebagai orang paling tua diantara mereka, Dariel melerai agar tidak terjadi keributan konyol. Tidak ada gunanya. Padahal ia sendiri yang menyulut sang adik. Ck, dasar Dariel. Emang pinter.
Tepat setelah Dariel menyelesaikan ucapannya, ponsel Fredo berdering bersamaan dengan munculnya seseorang lagi masuk ke dalam ruang rapat.
"Maaf ponselku tertinggal."
"Ah, ambil lah, tak perlu sungkan."
Fredo tersenyum lebar melihat nama orang yang telah menelponnya. Sang istri yang kini tengah hamil empat bulan. Fellice. Dengan cepat Fredo menerima panggilan tersebut.
"Hallo sayang, ada apa?"
"Maaf tuan, apa anda mengenal pemilik ponsel ini?" ujar suara di seberang telepon.
"Tentu saja, ini ponsel istriku. Di mana dia? Kau siapa? Kenapa ponselnya ada padamu?" Fredo bertanya tanpa henti, membuat heran Aarav, Dariel dan seseorang yang baru saja masuk.
"Maaf tuan, saya menelpon orang yang terakhir kali menghubungi si pemilik ponsel, kebetulan itu anda suaminya saya bersyukur."
Fredo tak sabaran, sangat tak sabaran. Jawaban orang di seberang telpon tidak memuaskannya "Dimana istriku?!" tanyanya sekali lagi dengan nada tinggi.
"Maafkan saya, Tuan. Istri Tuan kecelakaan dan sedang dilarikan ke rumah sakit terdekat sekarang."
"A-apa?" tubuh Fredo terasa kaku, ponselnya hampir saja terjatuh jika saja Dariel dengan cepat tanggap tidak menangkap ponsel tersebut.
"Ada apa, Fred?" yang ditanya diam tak bergeming.
"Hallo, ada apa ini?" Dariel berinisiatif mengangkat telepon yang belum terputus itu, firasatnya tidak enak setelah melihat wajah Fredo.
"Begini tuan, istri anda mengalami kecelakaan. Keadaannya cukup parah dan sedang dilarikan ke rumah sakit terdekat. Rumah sakit HPT."
Dariel menyudahi teleponnya dan mengucapkan terima kasih. Pandangan bertanya ia dapatkan dari Aarav sedang Fredo masih diam tak bergerak sama sekali.
"Fellice kecelakaan, keadaannya cukup parah dan dilarikan ke rumah sakit HPT."
Ken terdiam, ia tahu rumah sakit itu, sangat tahu. Tempat di mana sang ibu bekerja. Mungkinkah ibunya akan bertemu orang-orang ini?
Ya, orang yang masuk untuk mengambil ponsel adalah Ken.