Enam

1038 Kata
Rumah Sakit HPT. "Panggil Dokter sekarang! pasien butuh pertolongan segera!" teriak seorang perawat pada perawat yang berada di resepsionis sambil mendorong ranjang pasien menuju ruang ICU. Sesampainya di ruang ICU, perawat melakukan pertolongan pertama sesuai dengan tugasnya sebelum kemudian Dokter datang untuk memeriksa pasien. Kecelakaan sering terjadi di jalan. Diharapkan siapapun pengguna jalan wajib mematuhi aturan. Semua orang tidak ingin peristiwa apapun terjadi di jalanan. Selama bisa dihindari, sebaiknya mencoba untuk menghindari. Tidak ada yang tahu kehendak Tuhan, yang terjadi pasti terjadi sesuai kehendaknya. Namun alangkah baiknya sedia payung sebelum hujan. Mawas diri. Fredo sampai di rumah sakit dengan berlari, bertanya pada resepsionis lalu berlari lagi. Kekhawatiran besar melandanya, rasa takut pun ikut hadir apalagi mengingat keadaan istrinya yang tengah hamil empat bulan. Cukup dibilang masih muda kandungannya. Ia takut sekali akan terjadi apa-apa terhadap calon buah hatinya. Semoga tidak. Di belakangnya Aarav dan Dariel menyusul. Keduanya tidak mungkin membiarkan Fredo sendiri pergi ke rumah sakit. Sebagai rekan bisnis sekaligus teman dekat, mereka berdua tidak bisa menutup mata. Apalagi keluarga Fredo sudah banyak membantu keluarga Kedrick. Semestinya balas Budi dilakukan meski tidak diminta. Di tambah baik keluarga Fredo dan keluarga istrinya, tidak berada di negara ini. Ada kunjungan ke luar negeri yang tidak bisa ditinggalkan tapi sudah dihubungi oleh Dariel, meminta agar segera pulang. Fredo harus menelan kekecewaannya, ia masih belum bisa bertemu Fellice lansung. Fellice sedang menjalani pemeriksaan di ruang ICU dan tengah dilakukan penanganan. Fredo terlihat gusar berada di ruang tunggu. Gelisah, takut, khawatir berkecamuk dalam dirinya. Air mata senantiasa menetes. Ia tak pernah berpikir mendapat kabar seperti ini terhadap sang istri. "Tenangkan dirimu, Fredo. Semua akan baik-baik saja," ujar Dariel mencoba menenangkan meski hasilnya nihil. Tidak ada ketenangan dalam diri Fredo, Dariel cukup tahu itu selama ia melihat air mata Fredo mengalir. "Aku tidak tahu, kenapa semua ini bisa terjadi?" lirih Fredo. Ia menjambak rambutnya, menunjukkan betapa frustasi dirinya. Aarav dan Dariel hanya diam, tidak menanggapi. Keadaan seperti ini bisa menaikan amarah secara cepat. Lebih baik diam, cukup menjadi pendengar yang baik. Tak berselang lama Dokter keluar dan mereka semua langsung menghampiri. "Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" Sejenak dlDokter diam menatap Fredo lalu berkata, "setelah melakukan pemeriksaan dengan usaha yang maksimal. Maaf sebelumnya, istri anda sepertinya mendapat benturan hebat di bagian perut. Istri anda keguguran, Tuan." Seperti mendapatkan tamparan keras bagi Fredo setelah mendengarkan ucapan Dokter, dirinya pias seketika. Anak yang diharapkan kehadirannya selama bertahun-tahun sudah ... "Anda bercanda 'kan, Dokter? Coba periksa sekali lagi pasti Dokter salah?" teriak Fredo. Air matanya pun mengalir kian deras. Di kedua sisinya, Dariel dan Aarav memegang bahu Fredo, mencegah Fredo melakukan yang tidak-tidak. "Periksa lagi, Dok!" ... meninggal dunia. "Maafkan saya, Tuan. Saya turut berduka tapi inilah kenyataannya." Dokter terdiam melihat wajah penuh air mata yang mengalir di pipi Fredo. Sebagai seorang Dokter, ia cukup familiar akan kondisi ini. Tidak ada yang menginginkan akhir seperti ini begitu pun dirinya. Ia sungguh ingin bisa menyelamatkan pasiennya. Sayangnya, ia bukan Tuhan yang bisa segalanya. "Dan istri anda dalam kondisi kritis. Untuk menyelamatkannya, istri anda harus segera dioperasi untuk pengangkatan rahim yang telah rusak. Tentu ada risiko besar terhadap tindakan tersebut." Fredo merasa ditampar dua kali lebih hebat dari sebelumnya. Tubuhnya bergetar tak kuasa menahan tangis bahkan tubuhnya tak mampu menopang berat badannya sendiri. Ia luruh ke lantai. "Anda harus cepat mengambil keputusan Tuan, sebelum semuanya terlambat." Kedua tangan Fredo mengepal, ia terduduk di lantai. "Apa tidak ada jalan lain, Dok?" masih dengan tubuh bergetar Fredo bertanya. "Tidak, Tuan. Ini dilakukan, demi menyelamatkan istri anda juga." Semua orang menatap prihatin Fredo, ikut merasakan kesedihannya. "Kau harus bersikap bijak, Fred," nasehat Dariel pasalnya ia juga ingin yang terbaik untuk istri dari orang yang sudah ia anggap saudara. "Lakukan operasinya Dok, selamatkan istri saya," putus final Fredo, ia akan menanggung risiko. Tidak bisa memiliki anak demi bersama sang istri. Sangat sakit, namun ia tidak berdaya. "Baik, suster siapkan ruang operasi. Aku akan mencari Dokter untuk membantu operasi." *** Cerys sedang berada di ruangannya. Memeriksa beberapa data milik pasien. Ia mengistirahatkan dirinya usai memeriksa pasien yang datang ke rumah sakit. Terlalu lelah namun ini tetap tugasnya sebagai seorang dokter. Beruntung tidak ada jadwal operasi sekarang. Terlalu sibuk dengan pekerjaannya, Cerys dikejutkan ketukan pintu di luar ruangannya. "Masuk!" serunya sembari melepas kaca mata yang biasa ia gunakan ketika matanya terlalu lelah menatap layar. "Permisi, Dokter Cerys." Cerys menolehkan kepalanya kepada pemilik suara seraya tersenyum kecil. "Aa Dokter Dean, ada apa?" "Begini Dokter Cerys, saya membutuhkan bantuan anda untuk melakukan operasi mendadak. Dokter yang lain sedang sibuk. Namun operasi ini tidak bisa menunggu dan butuh keahlian anda sebagai Dokter bedah." "Kebetulan saya sedang kosong, kalau begitu kita harus cepat ke ruang operasi, sebenarnya apa yang terjadi?" Cerys sangat panik, jiwa kedokterannya muncul saat seseorang meminta tolong padanya. Tanpa tahu ia sendiri akan kembali terhubung dengan masa lalu. "Kecelakaan cukup parah, tulang kaki kiri retak hampir patah, keguguran dan kerusakan rahim. Rahimnya harus segera diangkat." "Oh Tuhan, kita harus cepat, Dok!" "Mohon bantuannya, Dokter Cerys!" Kedua Dokter itu berlarian di lorong rumah sakit. Tidak memperdulikan berbagai tatapan bertanya untuk mereka. Bagi orang-orang pekerja di rumah sakit hal itu cukup biasa tapi untuk orang biasa yang tidak mengerti terlihat mengganggu. Perawat datang menghampiri mereka, mengatakan jika operasi siap dilakukan. Cerys sampai di depan ruang operasi, melihat satu persatu orang di sana membuatnya terkejut. Ia berdiri kaku seketika, beruntung belum ada yang melihatnya. "Saya akan segera melakukan operasi Tuan, dan perkenalkan ..." Dokter Dean menunjuk Cerys di belakangnya, Aarav dan Fredo menatap terkejut sosok Cerys. Sosok perempuan yang sangat mereka berdua kenali. "Dia Dokter Cerys, dia akan membantu saya dalam operasi kali ini." "Cerys!" kaget Fredo. "Kita harus segera melakukan operasi Dokter, tidak boleh membuang waktu," sela Cerys, sungguh ia tidak siap dalam kondisi seperti. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, semua itu harus dialihkan. Menjadi Dokter harus dalam kondisi tenang. "Baiklah, kita permisi dulu, Tuan." Cerys dan Dean melewati Fredo, Aarav serta Dariel, sebelum sebuah suara menghentikan langkah kaki mereka berdua. "K-kau Ce-Cerys." Cerys menutup matanya, menarik nafas dan mengeluarkan secara perlahan. "Kau tidak berniat balas dendam pada kita dengan membunuh istriku, 'kan?" curiga Fredo. Cerys memutuskan untuk tidak menjawab tuduhan Fredo terhadapnya. Ia akan fokus melakukan tugasnya, sebagai seorang Dokter. "Aku tidak mau dia yang mengoperasi istriku, Dok!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN