"Maafkan papa, Ma. Papa yang bersalah, membuat hubungan kita seperti ini." "Enggak, Pa. Bukan kamu yang salah. Tapi aku. Aku salah membuat keputusan. Kenapa dulu aku nggak membiarkan saja bisnis kita bangkrut, agar rumah tangga kita nggak hancur." Pak Bastian terguris mendengar kalimat itu. Dalam hati menangis. Merasakan begitu sakitnya sang istri. Sudah berjuang malah dikhianati. Bu Mega menarik napas dalam-dalam. "Kalau Papa ingin kita berdamai, kenapa nggak pernah mengusahakan ini sejak dulu. Sekarang Papa sudah ada yang ngurus. Kita bisa berpisah secara baik-baik. Aku akan melanjutkan hidup bersama anak-anak. "Soal perusahaan, silakan Papa urus sendiri. Fauzi bisa kan di andalkan? Aku nggak mempermasalahkan tentang perusahaanmu, Pa. Terserah Papa sekarang. Aku tidak mau membahasny

