04

2108 Kata
Mencintaimu sama seperti memakan ikan mentah tanpa dicuci.   ***  Raina menatap dirinya pada pantulan kaca, matanya menyipit melihat tubuhnya yang semakin kurus.   Kedua tangannya dia letakkan pada kedua sisi pinggang, dia memutar tubuh bak model. Namun ringisan kesal langsung keluar dari mulut Raina ketika postur tubuhnya tak seperti dulu lagi. Dia melangkah ke arah tempat tidur dan menjatuhkan langsung tubuhnya di sana. Dia hanya mengenakan pakaian dalam dan bra yang menutupi tubuh indah berisi milik Raina.   Matanya menerawang menatap etalase kamar yang saat ini dia sebut sebagai kamar..   Kamar ini tak seindah kamarnya di Mansion milik ayahnya, kamar ini tidak memiliki rak yang berisikan jejeran buku seperti di Mansion ayahnya, kamar ini tidak bernuansa pink, dan kamar ini tidak memiliki tempat untuk bersantai karena kamar ini biasa saja!! Tanpa ada yang istimewa selain nuansa elegan.   Dia merindukan buku novel bacaannya, dia merindukan baju zumba dan baju seragam baletnya, dia merindukan ruang kecil tempat dirinya melukis, dan dia sangat merindukan gitarnya.    "Aaarrtghh, di sini jauh lebih membosankan ketimbang di Mansion.." lirihnya jenuh, badannya bergerak gelisah di atas ranjang. Apa yang bisa dia lakukan sekarang? Membaca? Please di sini tidak ada buku bacaan yang menarik minat Raina.   Kedua jari telunjuknya dia letakkan pada kedua sisi kepalanya, matanya terpejam mencari ide untuk menghilangkan kebosanannya. Hingga di mana Raina terduduk cepat dan menyunggingkan senyum di kedua sudut bibirnya.   Dia melangkah keluar dari kamarnya tanpa memedulikan penampilannya yang nyaris telanjang. Dia sudah biasa seperti ini, karena baginya para pria yang berpakaian serba hitam itu adalah pria penyuka sesama jenis. Dan itu benar-benar menjijikkan..   Matanya melongok ke kiri dan ke kanan, Raina harus memastikan bahwa saat ini pria menyebalkan itu sedang tidak ada. Karena kalau pria itu berada di sini bisa dipastikan dia akan tersungkur jatuh dengan b****g indahnya mencium lantai.   Setelah yakin bahwa semuanya aman Raina melangkah ke arah pintu utama, aman. Di sana tidak ada penjaga yang biasanya akan berlalu lalang. Dia melangkah keluar dan langsung berlari ke arah taman mini tepat di depan Mansion. Tangannya ia rentangkan melebar dengan kepala mendongak ke atas. rasanya benar-benar menyenangkan ketika dia bisa menghirup udara segar dengan puas.   ***   Juan menekan tombol merah pada sisi ranjangnya. Dia membutuhkan air, dan dengan menekan tombol merah itu, air segar akan dia dapatkan dari para Maid-nya.   Tapi setelah menekan tombol itu beberapa kali, Maid tak kunjung datang. Ke mana mereka?   Juan menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya dengan kesal, dia benci diabaikan dan saat ini Maid yang bekerja kepadanya telah berani mengacuhkan perintahnya. Matanya menyipit melirik ke arah dinding yang menunjukkan pukul 3 sore.   Dor..   Suara tembakan langsung menyambutnya ketika membuka kaca balkon kamarnya yang langsung memperlihatkan keindahan taman mini milik mendiang ibunya.   "Bajingan..." desisnya yang langsung menarik tirai gorden kamarnya ketika Juan melihat tubuh gadis yang beberapa hari ini membuat mood nya memburuk tersungkur jatuh di atass tanah dengan darah mengalir deras pada lengan kanan gadis itu.   Setelah berhasil turun dari lantai dua, Juan langsung berlari ke arah tubuh lemah Raina. Dia menarik Raina masuk ke dalam Mansion nya. Dia meletakkan tubuh Raina pada sofa ruang tengah, dia meraih acak pistol darurat yang terletak pada setiap sisi nakas. Dengan kecepatan penuh Juan merakit pistol dan mengatur ulang kecepatan tembakannya. Setelah dirasa cukup, Juan kembali meraih Raina ke dalam pelukannya dan mengarahkan pistolnya ke arah sekelompok orang yang sedang mengepungnya.   Dalam hati dia merutuki semua kecerobohan para Agennya yang telah berhasil membuat musuh-musuhnya memiliki kesempatan untuk menyerang Mansion nya.   Dor..Dor...Dor..   Juan menembakkan pelurunya ke arah d**a kiri beberapa penyusup yang berani mendekatinya. Tangan kirinya semakin erat memeluk tubuh lemah Raina yang telah setengah pingsan akibat timah panas yang mengenai lengan kanannya.   "Aarrrkkk...."       teriak       Raina       mendongakkan   kepalanya ke atas, akibat merasakan satu peluru mendarat mulus dipunggung kanannya. Darah segar mengalir membasahi tangan Juan. Hal itu membuat Juan mengeram kesal dan semakin membabi buta menembakkan anak pelurunya kepada semua penyusup yang berani bermain dengannya.   30 menit adalah waktu terlama bagi Juan untuk melumpuhkan penyusup itu, dia memberikan tanggung jawab sepenuhnya kepada Paige yang baru saja datang dan langsung turun tangan ikut membasmi penyusup itu. Juan meraih tubuh Raina ke dalam gendongannya dan membawanya keluar dari Mansion mewah miliknya dari pintu belakang. Dalam perjalanan menuju Rumah Sakit rahasia milik Juan. Sepanjang perjalanan, tangan kanan Juan selalu menggenggam tangan kanan Raina, dia menatap cemas wajah polos Raina yang merintih kesakitan. Juan semakin mempercepat laju kendaraannya, dia menghiraukan setiap umpatan bahkan kejaran mobil polisi, saat ini yang terpenting adalah keselamatan Raina.   setelah tiba ditempat yang dia tuju, tangan Juan langsung meraih Raina ke dalam gendongannya dan berteriak memanggil Dokter Tom.   Dengan tergesa-gesa Dokter Tom datang menghampiri Juan. Seolah mengerti Tom langsung meraih peralatan medisnya dan mulai memeriksa luka tembakan pada tubuh Raina.   Dokter Tom menekan tombol biru untuk memanggil beberapa Juniornya untuk membantun dalam mengoperasi Raina. Peluru itu harus segera dikeluarkan dengan cara operasi.   Melihat kesibukan Dokter Tom dan dua orang pria muda dalam menangani Raina, membuat Juan melangkah mundur untuk keluar.   Diruang tengah milik Tom, Juan mengacak gemas rambutnya. Kedua tangannya mengepal marah. siapa yang berani-beraninya mengusik ketenangannya, hingga mengakibatkan Raina terluka? Tunggu dulu, kenapa dia bisa begitu khawatir dengan anak dari musuhnya?   Tidak, tidak. Aku tidak sedang mengkhawatirkan keselamatannya. Aku hanya tidak ingin kalau dia mati sebelum mendapat siksaan dariku. Batin Juan menepis dugaan-dugaan yang berputar di kepalanya.   ***   Juan menatap lampu ruang operasi yang menyala. Lampu merah itu berkedip sama cepatnya seperti detak jantungnya. Demi Tuhan, ini adalah kali pertama dia mau menunggu seseorang yang dioperasi. Dulu ketika Thomas dalam masa kritis akibat peluru yang bersarang di d**a kiri,, menyebabkan Thomas harus menjalani operasi selama 8 jam dan selama itu pula Juan hanya memantau dari jauh. Dia begitu jengah dan muak dalam hal menunggu sesuatu yang tidak pasti.   Tapi kali ini berbeda. Juan seperti menjilat air ludahnya sendiri, di sini di depan pintu ruang operasi dia menunggui anak dari musuh besarnya. Hatinya memberontak ketika logikanya menyerukan agar dia pergi dari sini, hatinya masih terlalu was-was untuk pergi, Juan takut kalau bakal ada lagi penyusup yang akan mengincarnya dan Raina.   Perlahan lampu ruang operasi mati dan disusul dengan terbukanya pintu ruangan itu. Terlihat beberapa orang Dokter kepercayaannya keluar dan menarik bangkar yang di atasnya terdapat tubuh Raina berbaring telungkup untuk di bawa ke ruang rawat. Juan menahan bahu Tom untuk dia tanyai perihal kondisi Raina saat ini. "Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Juan menatap tajam ke arah punggung telanjang Raina yang tertutupi kain putih tipis.   Tom mengangguk dan ikut menatap ke arah Raina. "Dia akan segera pulih dalam waktu beberapa hari, mengingat saat operasi tadi saya menggunakan obat bius yang di rancang khusus, Tuan." jelas Tom.   Juan mengangguk, dalam hati dia bersyukur dia memiliki beberapa orang yang pintar dalam meracik obat-obatan yang bisa menyembuhkan secara instan.   Obat-obatan itu diracik dari beberapa jenis obat terlarang seperti narkotika jenis Opiat.   Opiat adalah obat terlarang yang berbentuk bubuk yang dihasilkan oleh tanaman yang bernama Papaver Somniferum. Kandungan morfin dalam bubuk ini biasa digunakan untuk menghilangkan rasa sakit. Jadi dengan keunggulan Opiat, orang-orang kepercayaan Juan meracik obat-obat untuk kebutuhan mendadak.   "Saya permisi dulu Tuan," ujar Tom pamit.   Drrrrtrr.....drrrrttt...   Juan menatap nama Raina yang tertera dalam poselnya. "Apa!!!!?" bentak Juan kepada Paige dari ponsel yang terhubung dengan Paige.   Paige yang mendengar suara keras Juan dari seberang sana membuat Paige merinding ngeri. "Kenapa kau diam saja!!! Siapa yang telah berani mencari masalah denganku Paige!!!" tanya Juan yang kembali tersulur emosi.   Di seberang sana Paige mulai menarik nafasnya dalam, dan mengucapkan satu nama yang membuat Juan semakin mengeram kesal.   “siap kan Agen kita. Malam ini juga kita akan mengirimnya pada Malaikat maut..” Juan berujar dengan nada pelan berdesis tajam dan langsung memutus panggilan dengn Paige.   Beraninya kau bajingan..   ***   Juan memarkirkan mobil asal di depan Mansion yang berada di pelosok pinggiran kota Santa Clara Amerika serikat.   kota Santa Clara merupakan kota kecil yang terletak di bagian barat Amerika Serikat, tepatnya dinegara bagian California.   Dengan tangan yang mengepal dan dua pistol bertengger di pinggang membuat sosok Juan menjadi sangat mengerikan. Juan melangkah dengan mata tajam ke arah sosok Paige dan beberapa Agen kepercayaannya. Kali ini Juan tidak akan membiarkan pria b******n itu untuk bisa lepas dari tangannya. Sebisa mungkin dia akan membuat pria itu memohon mengemis agar segera diizinkan untuk mati. "Apa kau sudah pastikan dia ada di dalam?" tanya Juan menatap Paige yang mengangguk.   "Iya Tuan, Mr. Miller ada di dalam dengan beberapa wanitanya." jawab Paige.   Juan mengangguk dan mengalihkan tatapannya ke arah Mansion yang di dalam sana terdapat sosok pria yang hidupnya hanya akan menunggu hitungan jam.   Juan menggerakkan tangan kanan, memberi kode kepada Paige agar melakukan apa yang sudah mereka rencanakan tadi.   Dengan cepat Paige bergerak mengikuti perintah Juan, dia dan beberapa Agen kepercayaannya masuk untuk melumpuhkan orang-orang yang menjaga Mansion itu.   Suara tembakan dan pekikan kesakitan tidak membuat langkah Juan goyah, pria itu malahan semakin semangat untuk memijakkan kaki masuk ke dalam Mansion itu. Sesekali dia akan mengarahkan pistolnya untuk menembak orang yang berani menghalangi langkahnya.   Thimos Miller, adik angkat dari Ayahnya Thomas Miller. Pria yang telah dengan kejinya berani mengkhianati kepercayaan Thomas demi bisa menduduki bangku kekuasaan Thomas.   Thimos dengan kelicikan yang dia miliki telah beberapa kali berusaha menggagalkan transaksi ilegal yang dia lakukan, bahkan pria tua itu tidak segan-segan meneror dirinya dengan orang-orang bertopeng agar membunuh Juan jika ada kesempatan. Dan Juan masih memberinya ampun untuk kesalahan tersebut, namun kali ini tidak akan ada lagi ampun bagi Thimos, Juan akan langsung membunuh pria tua itu dengan kedua tangannya.   Langkah kaki Juan berhenti tepat di pintu kamar yang bercat coklat, pintu itu tampak elegan dengan ukiran-ukiran yang terpahat indah pada pintu itu. Dengan sekali tembakan pada engsel pintu dan satu tendangan darinya, kini pintu itu terbuka lebar. Juan dapat melihat dengan jelas bagaimana reaksi terkejut dari Thimos dan dua orang wanita yang saat ini terpampang bugil di depannya.   Juan membuang ludahnya jijik, dengan langkah gontai dan jari telunjuk kanannya yang sedang memainkan pistol miliknya, Juan berdiri tiga meter dari Thimos.   Mata Thimos dan kedua wanita itu bergidik ngeri melihat sosok Juan yang seperti iblis.   "Lama tidak berjumpa Thimos," ujar Juan yang kini menaikkan alisnya menatap wajah ketakutan Thimos.   "Ju....u...an....."   Dor    Ahhhhkkk.. suara lirihan Thimos hanya berjarak beberapa detik dari suara tembakan dan pekikkan dari salah seorang wanita Thimos.   Wanita malang itu terkapar tidak bernyawa di atas tempat tidur dengan peluru yang bersarang dikepalanya. sementara satu wanita lagi beringsut turun dari tempat tidur dan menyembunyikan tubuh telanjangnya dipinggir pojok dinding dengan wajah yang memucat.   Sementara Thimos hanya diam menatap kaku ke arah sosok Juan yang tersenyum licik ke arahnya.Saat ini dia hanya bisa pasrah, karena mau berteriak atau melawanpun tidak ada gunanya.   "Jangan pernah serukan namaku dengan mulut menjijikkan milikmu itu!!" ujar Juan dingin.   Sebelum Juan membunuh Thimos, dia terlebih dahulu membunuh satu wanita menjijikkan milik Thimos. Dan sekali lagi suara pekikkan dan tembakan menggema nyaring dikamar itu.   Setelah itu Juan meringsut naik ke atas tempat tidur dan dengan gesit tangannya bergerak menggulung tubuh Thimos dengan selimut tebal yang berada disitu.   Setelah tubuh Thimos terbungkus ketat oleh selimut hingga pria tua itu memberontak meminta dilepaskan karena nafasnya yang mulai sesak. Juan kembali mendaratkan pelurunya ke arah AC yang menyebabkan AC itu tidak berfungsi. Suhu udara kamar yang semakin panas membuat Thimos semakin mangap-mangap merasakan nafasnya yang semakin sesak akibat kegilaan Juan yang ingin menyiksanya. Tidak cuma itu, kali ini Juan mendekatkan   pisau cater yang baru saja dia keluarkan dari kantongnya.     Pisau kecil tajam itu dia gerakkan pada permukaan wajah Thimos, dia menggambar bentuk pola lingkaran pada wajah Thimos yang sudah meringis kesakitan.   "Aaaashhhkkk..." pekik Thimos merasakan perih pada wajahnya.   Juan tersenyum senang melihat gambar pola pada wajah Thimos.   "Ini adalah bayaran yang harus kau bayar karena telah berani mengusik ketenanganku." ujar Juan mengeram marah ketika bayangan tubuh Raina terjatuh didalam pelukannya dengan bersimpuh darah.   "Cepat bunuh aku Juan.." pinta Thimos memohon karena ia melihat Juan yang sudah menuangkan wine ke gelas. Dia sudah bisa menebak apa yang akan Juan lakukan lagi kepadanya.   "Ohh secepat itu kah kau menyerah?" tanya Juan penuh remeh. Dia menumpah Wine itu ke arah wajah Thimos yang terluka. "Aaaarrrkjhhhh" erangan penuh kesakitan Thimos malah membuat Juan semakin semangat untuk menyiksa pria itu.   Juan mendaratkan satu peluru pada paha Thimos. Setelahnya Juan mebalikkan tubuh Thimos hingga Thimos telungkup, Juan menyibak selimut dan mulai mengukir nama „Juan‟ dengan pisau pada punggung Thimos.   Suara erangan Thimos semakin membuat Juan semangat untuk menyiksa Thimos. Juan kembali mengoleskan wine pada punggung Thimos, mengelus luka itu dan menusuknya dengan pisau. Mata Thimos memerah semakin memeperlihatkan betapa Thimos tersiksa menahan siksaan Juan.   “Apa kau sudah tahu kalau Juan Miller itu akan pernah segan-segan membunuh siapapun yang berani mengusiknya, Thimos?” Tanya Juan.   Thimos mengangguk lemah, rasa perih yang menusuk hingga keluluh hatinya membuat tenaga Thimos terkuras habis. Ingin rasanya Thimos memohon kepada malaikat kematian agar sudih mau mencabut nyawanya, agar siksaan menyakitkan Juan tidak dia rasakan lagi.   “Bunuh aku Juan,” erang Thimos memohon.   Tawa Juan menggelegar ketika mendengar permohonan Thimos, kondisi tidak berdaya Thimos bernar-benar membuat Juan bahagia. “Baiklah. Aku akan memberimu kematian.” Juan turun dari king size Thimos, dia memanggil Paige yang berdiri di ambang pintu dengan wajah tanpa ekspresi. “kau bakar rumah ini dan biarkan dia tetap terkurung dalam selimut itu dalam kondisi hidup hingga api itu sendiri yang akan membunuhnya secara perlahan.” Ujar Juan kepada Paige yang langsung dianggukin oleh Paige.   “Baik, Tuan.”   *** #tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN