Dendam tidak akan dapat di hapuskan melalui tindakan balas dendam. Karena dendan hanya dapat kita hapuskan jika kita dapat menerima dan mengiklaskannya.
***
Seminggu setelah kejadian Raina tertembak dan seminggu setelah Juan membunuh paman tirinya dengan tangannya sendiri. Kini Juan dengan perasaan sedikit degdegan datang untuk melihat perkembangan kesehatan Raina. Satu minggu ini Juan habiskan untuk mengurus beberapa transaksi penjualan IQ-23, yang merupakan salah satu produk terbaru Juan dalam jenis narkotika terlarang.
IQ-23 adalah jenis dua narkotika paling berbahaya di dunia yang dipadukan menjadi satu. IQ-23 memiliki keunggulan yang mampu membuat sang pemakai tidak kecanduan dan akan meningkatkan daya tahan tubuh sang pemakai hingga 100℅ .
Untuk saat ini IQ-23 masih menjadi obat terlarang no 1 yang paling mematikan di dunia dan pihak berwajib sangat mewanti-wanti obat ilegal ini bisa menyebar ke belahan dunia lain.
Setelah tiba di depan Rumah sakit rahasia miliknya, Juan langsung melangkah cepat untuk menemui gadis yang satu minggu ini selalu menari-menari di dalam benaknya.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Juan ketika Tom berlari menghampirinya.
"Kondisinya sudah membaik, tuan." Tom mengiring Juan menuju ke kamar tempat Raina dirawat.
"Pergilah," ujar Juan menyuruh Tom pergi. Dengan langkah berdebar ala-ala pengantin pria Juan melangkah mendekati kamar yang tadi ditunjuk Tom. Matanya menyipit tajam ketika melihat Raina tertawa keras seraya melompat-lompat di atas king size yang di perisapkan khusus oleh Juan untuk Raina.
Mata Juan semakin melebar ketika menyadari pakaian apa yang dikenakan Raina saat ini. Demi Tuhan!! apa yang saat ini ada di pikiran Raina sehingga gadis itu biasa saja ketika ia hanya memakai dalaman.
Bam
Juan menghempaskan pintu ruang rawat Raina dengan kesal. Dia tidak bisa membayangkan kalau selama seminggu ini Raina sudah memampangkan tubuh sintalnya pada Tom dan lainnya.
"Kau datang?" seru Raina semangat. Kakinya dengan cepat bergerak menghampiri Juan yang masih berdiri dengan tampang kesal di depan pintu rawatnya. "Aku sangat merindukanmu Mr.ice. " bisik Raina mengaitkan tangannya pada leher Juan. Dia menggesek-gesekkan wajahnya pada d**a bidang Juan. Oh shitt dia merindukan pria yang sudah menculiknya, bahkan dia sendiri juga tidak tahu siapa nama pria yang saat ini dia peluk.
"Mr.Ice?" ulang Juan. Tangan Juan bergerak menarik b****g Raina untuk naik ke dalam gendongannya dan membawa Raina naik ke arah king size. Dia menurunkan Raina perlahan sebelum dia beranjak turun untuk mengunci pintu. “Bagaimana keadaanmu?” Tanya Juan.
"Habisnya aku nggak tau namamu sih," ujar Raina manja. Saat ini dia sudah berbaring menanti Juan datang menghampirinya. Perasaannya begitu berdebar menanti Juan ikut berbaring dan memeluk tubuhnya. Antahlah, rasanya pelukan Juan mampu mengalihkan rasa rindunya dari Tristan. “keadaan ku sudah jauh membaik. Dokter Tom merawat ku dengan begitu baik.” jawab Raina.
"Come closer dear, let me hug you." Juan menarik pinggang Raina untuk lebih mendekat ke arahnya. Wajahnya dia sembunyikan di atas pucuk kepala Raina. nyaman.
Untuk saat ini biarkan dia menikmati rasa nyaman yang diberikan Raina, dan biarkan dia melupakan sejenak rasa bencinya kepada Tristan.
"You are very fragrant," Raina mengendus-endus leher Juan.
"Kau membuatku kegelian," ujar Juan, ia menjauhkan lehernya dari wajah Raina.
Raina terkekeh dan semakin mendesakkan wajahnya ke dalam lekukan leher Juan.
"Stop, honey," dengus Juan menahan kepala Raina. matanya menatap penuh minat ke arah bibir mungil penuh milik Raina, rasanya saat ini dia begitu ingin menggigit, menghisap bibir itu.
"Apa kau akan menciumku?" tanya Raina ketika melihat wajah Juan yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Nafas Juan seperti menggelitiki permukaan wajahnya yang kini sudah bersemu merah.
Juan hanya diam, hidungnya dan Raina kini bersentuhan. Cantik. Pujinya membatin.
"Apa kau akan menciumku?" tanya Raina lagi. Demi Tuhan, saat ini jantungnya sudah memburuh ingin meledak. "Sudahlah, jangan mendekat lagi!! Kau mempermainkan perasanku!!" dengus Raina kesal, dia mendorong kesal wajah Juan agar menjauh darinya.
Raina membalik tubuhnya agar terbaring membelakangi Juan. Dia marah, dia kesal karena Juan mempermainkan hatinya dan tubuhnya.
Juan tersenyum menggaruk tengkuknya, dia saat ini seperti orang linglung yang tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia ingin memukul dan memaki Raina tapi hatinya memberontak itu semua.
"Kalau aku menciummu, boleh?" tanya Juan dengan wajah memerah. Demi Tuhan, ini adalah pertama kalinya dia meminta izin hanya untuk mencium seorang
gadis, biasanya dia akan langsung mencium lalu meniduri gadis yang dia kehendaki. Dan demi apapun Raina berhasil membuatnya berubah menjadi pria i***t, yang begitu penasaran dengan rasa bibir gadis itu.
Raina berbalik dan mengangguk sederhana. "But before that, please tell me what your name is, mr ice."
"Call me Juan, honey.." jawab Juan yang langsung menarik tengkuk Raina mendekat ke arahnya. Dia melumat, menggigit dan menjilat dengan semangat bibir Raina. Rasanya begitu mengagumkan ketika dia berhasil menyatukan bibirnya dengan Raina.
Erangan tertahan yang keluar dari bibir Raina membuat Juan semakin semangat menjelajahi rongga bibir Raina. Dengan bibir yang masih saling bertautan Juan membawa tubuhnya naik ke atas tubuh Raina.
Juan melepaskan tautan bibirnya dan berpindah ke arah leher Raina, gigitan-gigitan kecil yang diberikan Juan pada lehernya membuat Raina bergetar merasakan geli dan nikmat secara bersamaan. Raina menggigit bibirnya untuk menghalau suara erangannya yang siap meluncur.
"I want you...
***
Tristan menghantam satu persatu orang suruhannya yang dia berikan tugas untuk memantau perkembangan Raina-putrinya.
"Kalian benar-benar tidak bisa diandalkan." Ujarnya membentak. Tangannya yang sedari tadi sudah memegang pistol langsung ia arakan
Ke arah kelima bawahannya yang telah membawa kabar mematikan baginya. Raina tertembak dan sekarang jejak Raina menghilang.
Dor.Dor.Dor.Dor.Dor
Suara tembakan terdengar menggema di ruangan itu, Tristan bahkan melempar tatapan mematikan bagi seluruh orang suruhnya.
"Cari Putriku sekarang juga, b******n!!" suruh Tristan murka. Wajah tuanya kini memucat membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi pada Raina.
"Josh, siapkan anggotamu. Aku akan mengirim lettera kepada Juan." ujar Tristan final. Dia akan menyerahkan nyawanya demi putri tunggalnya.
"Tap___
"Segera lakukan b******k!!!"
***
"Aahrrrrggg...." Juan mendesah panjang ketika
dia sudah mendapat pelepasannya. Nafasnya memburuh, matanya menatap sendu ke arah Raina yang kini memejamkan mata dengan nafas yang memburuh.
Jua menjatuhkan tubuh polosnya di samping Raina, dia menarik selimut tipis yang terkapar tidak berdaya dilantai.
Puas. Adalah satu kata yang mewakili perasaannya saat ini. Hanya dengan menggesekkan miliknya dengan milik Raina dia sudah bisa mencapai kepuasannya, hanya dengan mendengar erangan suara Raina saja Juan bisa merasakan nafsunya berkobar begitu pesat.
"Tidurlah," ujar Juan menarik Raina ke dalam pelukannya. Tangannya bergerak mengelus punggung Raina yang kini berbekas akibat jahitan beberapa waktu lalu. "Apa masih sakit?" Raina menggeleng menjawab pertanyaan Juan.
Raina memejamkan matanya menikmati elusan tangan Juan pada punggungnya, rasa nyeri itu masih ada tapi rasa nyaman dan nikmat lebih kentara dari elusan tangan Juan.
Sebelum Raina benar-benar terlelap, bayangan kemungkinan dia hamil terbesit dalam pikirannya menyebabkan ia terbangun dan terduduk tepat di samping Juan yang kini sudah menatap aneh kepadanya.
"Kenapa?" tanya Juan bingung.
"Kalau aku hamil bagaimana?" tanya Raina gusar. Air matanya udah siap menetes membanjiri pipinya, kedua tangannya memegang erat ujung selimut yang menutupi tubuh telanjangnya.
Juan memijit pangkal hidungnya, kepalanya pusing mendengar rengekan Raina. Demi Tuhan!! Dia belum menyentuh gadis itu, dia hanya meraba dan meremas sedikit bukan membobol gawangnya. Kalau Juan tahu Raina itu sangat bodoh, dia pastikan dia tidak akan mau menyentuh gadis datar itu.
"Kau tidak akan hamil," dengus Juan kesal.
Buk
Raina memukul kepala Juan kesal dengan bantal, bagaimana bisa pria itu sangat yakin kalau dia tidak akan hamil?
"Dari mana kau tahu kalau aku tidak akan hamil? Kau sudah menyentuhku dan tadi…tadi aku sudah pipis dan itu artinya huaaaa Daddy putrimu yang cantik ini sudah ternodai." tangis Raina pecah, dia menendang-nendang tubuh Juan dengan kakinya bahkan dia tidak memedulikan kalau saat ini tubuhnya sudah terpampang polos di depan Juan.
Raina membayangkan kejadian-demi kejadian yang pernah dia baca dinovel. Kalau dinovel kemungkinan besar dia bakal hamil, terus perutnya besar, Juan pergi meninggalkannya lalu dia bersembunyi didesa terpencil untuk mempertahankan kehamilannya dan terakhir dia akan dipertemukan lagi dengan Juan yang tampak menyesal. Juan akan berusaha membujuknya agar dia mau kembali dengannya dan see dia akan menerima Juan karena anaknya merengek meminta Juan tetap stay.
Raina tersenyum memikirkan kemungkinan demi kemungkinan yang berputar indah dikepala cantiknya. Tapi itu kan cuma kisah novel yang sebagian besar cuma khayalan. Batin Raina dengan wajah kembali murung.
Raina menatap Juan yang meringis sakit karena tendangannya. "KALAU AKU HAMIL KAU HARUS MENIKAHIKU, TITIK!! KAU TIDAK BOLEH PERGI, AKU TIDAK MAU MENGIKUTI KISAH NOVEL YA MR ICE!" ujar Raina terengah-engah.
"KAU TIDAK AKAN HAMIL, TITIK!!
KARENA AKU BELUM MEMBOBOL GAWANGMU!!" Juan tak mau kalah, dia dengan senang hati membalas teriakan Raina. Gadis gila, bodoh, sinting. Bagaimana bisa seorang Tristan Jamaika memiliki putri sebodoh ini!
"TAPI BURUNGMU MENYENTUH SEGITIGAKU, b******n!" ujar Raina geram. Tadi beberapa waktu lalu burungnya Juan menyentuh segi tiganya. Burung panjang besar itu menggesek itunya dan Juan juga tadi menyemprotkan spermanya pada itunya dan itu artinya dia bakal hamil.
"TIDAK!!!" Raina menghalau semua kemungkinan kalau dia bakal hamil. Dia masih muda, masih berusia belasan tahun jadi belum waktunya dia mengandung anak dari pria yang menculiknya.
Juan menenggelamkan kepalanya pada bantal. Dia kesal dan pusing mendengar rengekan tak bermutu Raina.
"Mr.ice aku tidak mau hamil," rengek Raina manja. Kini badannya merangkak naik ke atas perut Juan.
"Kau tidak akan hamil bodoh, kau masih perawan!!" ujar Juan mendengus kesal. Dia mencoba menjauhkan Raina dari atas tubuhnya, demi apapun saat ini Raina sudah memancing mosnteR kecil dari dalam dirinya.
"Ta__
"Percaya padaku kalau kau tidak akan HAMIL, kalau kau HAMIL aku akan menikahimu" lalu membunuhmu dan baby sialanmu. tambah Juan membatin.
Mendengar ucapan Juan, Raina menjadi sedikit lega. Dia turun dari atas tubuh Juan dan membaringkan tubuhnya untuk tidur. Dia lelah dan dia ingin tidur.
***
Juan menatap serius pada ponselnya yang menampilkan email dari Tristan Jamaika. Ada senyum sinis yang terukir disudut bibirnya ketika ia mendapatkan apa yang dia mau. Tristan menyerahkan diri kepadanya dengan syarat Juan harus membebaskan Raina.
Membebaskan Raina? Mimpi saja kau Tristan!! Karena sebelum kau mati, kau harus melihat bagaimana menderitanya putrimu. Batin Juan tertawa senang.
***
#tbc