06

1709 Kata
Bagi sebagian pendendam, membunuh secara perlahan adalah kesenangan. * **   Juan menatap tajam sosok Tristan yang saat ini duduk berhadapan dengannya. Tristan memasang wajah datar dan mengenakan kaus putih tanpa lengan dengancelana boxer.   Ini sudah seminggu dari setelah dia menerima Email dari Tristan, dan saat ini, di ruang kerjanya dia menyambut Tristan dengan persiapan yang sudah matang.   "Kau sudah yakin dengan pilihanmu, heh?" tanya Juan mengejek.   "Apa jawabanku penting bagimu, Juan Miller?" tanya Tristan menantang Juan. "Kau bebas melakukan apapun pada tubuhku, tetapi sesuai dengan syarat yang ku ajukan kau harus membebaskan putriku. Demi Tuhan, dia tidak tahu apa-apa." kali ini Tristan menghela nafas gusar. Dia berharap Juan mau membebaskan Raina-putrinya.   Juan melangkah mendekati Tristan, tangannya menggenggam benda tajam yang siap kapan saja menancap ditubuh Tristan. Seringan menyeramkan Juan sama sekali tidak membuat Tristan takut, baginya saat ini adalah keselamatan Raina adalah yang paling utama.   "Kau begitu menyayanginya, heh?"tanya Juan mengejek, kini benda tajam itu sudah bergerak menggores pundak dan menjalar hingga ke punggung Tristan. “Hingga kau merelakan nyawamu   Trista mengepal tangannya, sebisa mungkin dia menahan ringisan nya dan meyakinkan bahwa ini smua demi kebaikan Raina. Dia akan melakukan apapun demi Raina, meskipun Tristan harus mengorbankan nyawanya.   "Oh Tuhan, kau Kesakitan," Juan membuat nada suaranya sedramatis mungkin, tetapi tangannya tetap memberi tanda pada punggung Tristan..   Melihat wajah pucat dan ringisan tertahan dari Tristan membuat Juan semakin gencar melakukan penyiksaannya. Perlahan tangannya bergerak meraih jarum suntik yang di mana terdapat setetes cairan heroin yang akan dia suntikkan pada kepala Juan.   "Apa yang kau lakukan!" pekik Tristan lemah, nafasnya memburu keringat menetes membasahi permukaan wajahnya. Perih, Tristan merasakan perih yang teramat pada punggungnya. "b******n kau," lirih Tristan melemah ketika dampak heroin itu sudah bereaksi pada tubuhnya.   Tristan menggigil dan matanya terbelalak besar, menandakan kalau dia benar-benar tersiksa saat ini. "Dingin..," Juan tersenyum melihat Tristan yang menggigil. Tangannya semakin semangat membentuk pola-pola pada tubuh Tristan.   Brak.   ***   Raina melangkahkan kakinya mengelilingi mansion Juan, tadi pagi Juan memboyongnya kembali kesini. Dan itu artinya dia bisa selalu berdekatan dengan pria aneh itu.   Senandung kecil keluar dari bibirnya tak kala ketika tangannya bergerak menyusuri lukisan-lukisan indah milik Juan.   "Hhh, aku merindukan kamarku.." lirihnya lemah. Seharusnya jam segini dia sudah duduk santai menikmati bacaan novelnya, atau malah sebaliknya dia akan memulai meruntuki imajinasinya yang selalu berkembang untuk melukis tokoh-tokoh fiksi dalam novel yang dia baca. Sorenya setelah mandi Raina akan dengan semangat melangkah ke tengah-tengah Mansionya untuk bersenandung dan memainkan jari lihainya pada tuts piano. Raina memang memiliki darah pencinta karya seni, hatinya selalu bergetar ingin merangkai sesuatu melodi yang indah dari permainan piano dan jarinya akan dengan semangat menggoreskan pensil pada kertas gambar putih hingga menghasilkan suatu lukisan yang luar biasa.     Kaki jenjang Raina melangkah semakin mendekat kerah kamar Juan, dia ingin menemui pria dingin itu dan mengajaknya untuk berciuman. Huhuhu ciuman Juan benar-benar mampu membuat Raina melambung tinggi, dia mengaku kalau Juan bukanlah pria pertama yang pernah mencium bibirnya. Tetapi Juan adalah pria pertama yang dia beri ijin untuk meremas dan menghisap bagian tubuh sensitifnya.   Beberapa tahun lalu Tristan datang menemuinya dengan membawa seorang pria yang usianya terpaut 5 tahun darinya. Namanya Arkhan Hann, pria asal Jerman. Arkhan adalah anak didik Tristan. Seminggu penuh Arkhan bertugas menemaninya menggantikan tugas Sam yang saat itu ikut andil dalam misi Tristan.   Selama seminggu penuh Arkhan selalu memanjakannya, membuat dia tertawa. Hingga Malam sebelum Arkhan pergi, Arkhan memberikannya kenangan yang sangat indah. Arkah menciumnya dengan sangat lembut dan memeluk tubuh kecilnya sepanjang malam.     "Dingin.." Raina menghentikan langkahnya ketika mendengar suara rintihan seseorang di ruang kerja Juan. Pintu itu sedikit terbuka membuat Raina bisa mendengar dengan jelas suara rintihan itu.   Brak   Raina terpaku melihat penampakan di depannya. Juan dengan pisau dan tangan berlumuran darah sementara kini matanya beralih melihat sosok yang sangat dia kenali tergeletak tidak berdaya dilantai dengan tangan terikat. "Kau.." suara Raina tercekat melihat Tristan terkapar.   "Hei, kau ternyata. Sini mendekatlah." ajak Juan. Raina menggeleng, air matanya menetes membasahi pipinya. "Oh ternyata kau lebih memilih berdiri di sana, baiklah kalau itu maumu!" ujar Juan tajam.   Juan meraih pistol mungilnya dan menembakkan ke arah lengan kiri Tristan.   Suara tembakan yang menggegar dan teriakan kesakitan Tristan membuat Raina hampir limbung.   "Ka…kau membunuh Daddy-ku?" tanya Raina tercekat melihat di mana Tristan terkapar dengan tubuh yang tersayat di mana-mana.   Raina melangkah mundur, wajahnya memucat bibirnya bergetar menandakan dia benar-benar syok.   Tubuh yang terkapar di sana dengan nafas terputus-putus adalah Daddy-nya. Pria paling berharga dalam hidupnya.   "Ka..au membunuhnya," ulang Raina lagi. Matanya menatap kosong ke arah Juan yang tersenyum sinis.   "As you see," ucap Juan dingin.   "Kenapa?" tanya Raina. "Kenapa kau membunuhnya, b******k!?" Raina terduduk, dia menangis histeris mengetahui pria yang selama ini diam-diam dia kagumi adalah manusia yang tidak memiliki hati.   "Because I want to..." ujar Juan melangkah mendekati Raina yang saat ini merangkak mundur menjauhi sosok Juan yang mengerikan.   "Jangan mendekat, b******k!!?" maki Raina geram ketika Juan masih saja melangkah mendekat ke arahnya dengan mata yang tak lepas menatap tubuh Raina yang menggigil.   "Kau takut, honey?" tanya Juan mencengkeram dagu Raina. "Lihat Tristan!!! Putrimu menggigil ketakutan!" suara Juan yang menggelegar membuat Tristan membuka matanya.   Tristan ingin menoleh melihat kondisi putrinya, dia ingin bisa bangun dan membawa lari Raina dari sini. Seharusnya dia tidak gegabah mengambil keputusan, seharusnya dia sadar kalau Juan itu licik. Tapi semuanya sudah terjadi, dan Tristan sekarang hanya bisa menyesal.   "B..b..bu..nuh..a..a..k..u...."    ujar    Tristan    susah   payah. Dia lebih memilih mata sekarang Juga dari pada harus menyaksikan Raina menderita.   "Tidak, sebelum kau melihat putrimu mati perlahan!!!" Ujar Juan tajam. tangannya bergerak menjambak Raina dan menghempaskan Raina begitu saja ke lantai. "Ba..bajingan, aaakhh sakit Juan..." Raina berteriak menangis menahan nyeri pada pergelangan tangannya yang baru saja diinjak secara kejam oleh Juan.   "Jaga ucapanmu setan kecil." bisik Juan tajam. Dia meninggalkan Raina yang menangis tersedu-sedu dan Tristan yang mulai kehilangan kesadarannya.   ***   Juan menjambak rambutnya frustrasi, ada apa dengannya? Kenapa berat sekali bagi Juan hanya untuk menyiksa Raina. Hatinya seolah memberontak marah ketika melihat wajah ketakutan dan isak tangis gadis itu. Kenapa dengannya?   Juan meraih ponselnya dan menghubungi Tom untuk segera datang, tak lupa dia memerintahkan agar Tom membawa racun untuk melumpuhkan Tristan. ya, dia tidak akan membunuh Tristan untuk saat ini sebelum dia bisa meyakinkan dirinya untuk membunuh Raina terlebih dahulu. Seberat apapun harimu, jangan pernah biarkan seseorang membuatmu merasa bahwa kamu tak pantas mendapat apa yang kamu inginkan.   ***   Juan menatap sosok pria tinggi berisi dengan jas Dokter yang membalut tubuhnya. Wajahnya tampak kokoh dengan rahang keras dan dipadukan dengan tubuh yang tegap. Mata pria itu menatap Juan dengan tatapan tajam tanpa ada niat sedikitpun untuk menunduk memberikan hormat kepada Juan.   "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Juan dengan intonasi suara dingin. Matanya tidak lepas mengamati penampilan mantan kekasihnya itu.   Jonathan. Anak dari Tom yang dulunya adalah mantan kekasihnya. Selisih usianya dan Tom terpaut 3 tahun. Dulu disaat kedua orang tua Juan selalu pergi   meninggalkannya, Jonathan-lah yang selalu menemaninya dalam segala hal, hingga di umur Juan ke 18 tahun Jonathan mengungkapkan perasaannya kepada Juan. Dan tentu saja dengan senang hati Juan menerimanya, karena berada dekat dengan Juan mampu membuatnya merasa nyaman.   Tapi hubungan percintaan mereka terputus di tengah jalan, kedua orang tua Juan dengan tegas menentang hubungan mereka. Berbagai cara dilakukan Thomas dan Sophia agar Juan dan Jonathan putus hubungan.   Hingga tepat di hari jadian mereka yang ke 2 tahun, Jonathan menemukan Juan sedang bersetubuh dengan seorang gadis di kamar tempat mereka sering menghabiskan waktu bersama. Jonathan marah, dia merasa Juan telah mengkhianatinya dan malam itu juga dia memutuskan untuk menerima permintaan Thomas untuk melanjutkan study-nya ke Paris.   Juan sangat murka ketika ia mengetahui Jonathan pergi begitu saja meninggalkannya tanpa ada kata perpisahan. Semenjak saat itu Juan dan Jonathan diliputi rasa benci. Sebisa mungkin mereka akan menghindari untuk saling bertemu.   Jonathan tersenyum miring. Angkuh, seperti biasanya. "Menggantikan tugas Tom."   Juan mengeram kesal ketika ia melihat senyum miring dari Jonathan. ingin rasanya dia membidikkan pistolnya tepat mengenai kepala Jonathan, tapi itu mustahil dia lakukan mengingat Jonathan dulu adalah sosok yang berarti dalam hidupnya.   "Pergilah ke Parison di sana ada seorang gadis dan pria penyakitan yang harus kau rawat." ujar Juan dingin dan langsung berlalu meninggalkan Jonathan yang masih berdiri tegap.   Kau akan kembali ke dalam pelukanku..   ***   Jonathan dan beberapa Agen Juan, melangkah cepat ke arah tempat Raina dikurung. Beberapa menit lalu ada yang menginfokan kalau Raina mencoba membunuh diri.   Jonathan meraih Raina ke dalam gendongannya dan meletakkan Raina di atas ranjang kecil. Dia dengan cekatan membalut luka pada pergelangan tangan Raina.   *** "Siapa kau? Kenapa kau menyelamatkanku?" tanya Raina menatap sosok pria dewasa yang saat ini sedang membalut luka tangannya. Beberapa waktu lalu dia benar-benar ingin mengakhiri hidupnya ketika ia melihat Tristan tergeletak tidak berdaya. Juan benar-benar tidak punya hati, pria itu mengurungnya bersama Tristan ke Prison, tempat dia pernah dikurung.   Raina tertekan, hatinya serasa diremas melihat keadaan Tristan. Maka dengan pertimbangan matang Raina memilih untuk mengakhiri hidupnya, maka dengan begitu dia tidak akan merasakan sesakit ini.   Seolah Tuhan tidak mengizinkan Raina mati secepat ini, Tuhan mengirimkan seorang malaikat tampan yang menariknya dari kegelapan. Pria itu menyelamatkan nyawanya dan pria itu jugala yang Tristan menyelamatkan Tristan beberapa waktu lalu.   "Mati tidak akan menyelesaikan semuanya." ujar pria itu dingin. Tangannya bergerak dengan lincah membalut luka di tangan Raina dengan perban. "Kau memiliki agama bukan? Seharusnya sekuat apapun pergumulanmu dalam hidup, kau bisa berserah dan meminta bantuan kepada-Nya." ujar pria itu membuat Raina terdiam.   Agama? Raina tidak yakin kalau dia masih layak disebut sebagai manusia yang memiliki agama. Selama dia hidup, dia bisa menghitung menggunakan jari berapa kali dia berdoa dan menginjakkan kaki di dalam Gereja.   "Apa kau percaya Tuhan?" tanya Raina sendu. Hatinya masih meragukan Keberadaan Tuhan dalam hidupnya. Pria itu tersenyum samar dan mengangguk pasti. "Hidupku bisa hancur, tanganku bisa kotor dengan darah, hatiku bisa dipenuhi dengan dendam. Tapi aku percaya kepada Nya. Aku percaya akan kuasanya." jawab pria itu pasti.   "Tangan kotor dengan darah? Apa kau seorang pembunuh? Dan dendam? Apa maksudmu? Bukankah setiap agama itu melarang untuk mendendam dan membunuh?" tanya Raina bingung. Namun pria itu hanya mengangkat bahu acuh.   Raina mengerucutkan bibirnya melihat pria itu hanya diam dan ingin berlalu meninggalkannya dengan rasa penasaran. "Eh pria aneh siapa namamu?" tanya Raina judes.   "Jonathan" jawabnya dan langsung berlalu begitu   saja.   "Dasar pria aneh." dengusnya kesal.   ***   Prang..prang..   Juan menghempaskan semua barang-barang yang berjejer di kamarnya. Ada rasa kesal dan tidak rela melihat Raina terlihat tampak dekat dengan Jonathan yang notabene nya adalah anak Tom.   "b******n!!" makinya emosi. Tangannya terkepal di kedua sisinya. "Enyah kau wanita jalang!!!" "Apa semuanya sudah beres?"   "Sudah Tuan, semuanya sudah berjalan sesuai dengan rencana."   Pria berseragam serba hitam itu mengangguk, rahangnya yang kokoh, matanya yang tajam setajam mata elang terlihat sedang meneliti ke arah luar.   Tangannya terkepal memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi kepada Tristan dan kekasihnya Raina.   Kau akan mati di tanganku jika aku menemukan segores luka ditubuh gadisku Juan.. ***   #tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN