Dendam itu yang akan membunuhmu..!
***
Raina menatap sendu ke arah Tristan yang terlihat berbaring dengan tubuh dipasangi beberapa peralatan medis. "b******n kau Juan," makinya emosi. Darahnya mendidih melihat Juan menyiksa Tristan di depan matanya.
Ke dua tangannya terkepal memperlihatkan kuku-kuku pucatnya, matanya menatap tajam ke arah dinding yang mengurungnya. "Aku harus mencari cara untuk bebas," pikirnya membatin. Dia mengedarkan pandangannya ke arah seluruh penjuru ruangan sempit ini, ia berharap dapat menemukan setitik cela untuk bebas. Tapi nihil! Cela itu sama sekali tidak dia temukan, ruangan kecil ini benar-benar dibuat untuk menjadi neraka bagi Raina dan Tristan.
"Ayo berpikir Raina, kau pasti bisa." ujarnya menyemangati dirinya, telunjuknya dia letakkan di atas keningnya dan kakinya sibuk berjalan hilir mudik. Dia harus berpikir keras untuk bisa bebas dari Prison sialan ini.
Seutas senyum muncul disudut bibirnya. Kakinya yang mungil melangkah cepat ke arah Tristan yang terbaring lemah, dengan cekatan kedua tangannya bergerak membuka berbagai peralatan medis yang terpasang ditubuh renta Tristan.
Bertahanlah Dad. Ini akan sedikit sakit tapi percayalah ini demi kebaikanmu dan aku. ujarnya membatin.
Tidak berselang beberapa waktu, tubuh Tristan tampak mengejang dan matanya terbelalak lebar dengan mulut mengeluarkan busah.
Melihat rencananya berhasil, maka Raina dengan langkah cepat menekan tombol hijau itu dengan semangat.
"Tolong, siapapun di sana tolong aku!!" Raina menjerit sejadi-jadinya. Air matanya menetes membasahi pipinya. Suaranya mendering mengisi rorong-rorong sempit itu. "Demi Tuhan tolong aku!!" Raina semakin menjerit sejadi-jadinya. Kali ini jeritannya benar-benar tulus dari hati dan itu karena dia takut kalau Tristan akan benar-benar celaka.
"Ada apa? Apa yang terjadi dengannya?" tanya seorang pria berjas putih yang beberapa waktu lalu menolongnya.
"D...da...ddyku... T...ad...i maa...u.."
Bruk
Tubuh Raina limbung, wajahnya yang memang berwarna putih pucat semakin tampak pucat saat ini.
"Cepat bawa mereka ke ruangan Ayahku!!" ujar Jonathan memerintah Agen Juan.
***
Jonathan menghela nafas gusar melihat luka dalam yang dialami Tristan, beberapa fungsi tubuh Tristan sudah tidak bisa digunakan lagi. Kalaupun Tristan sadar, kemungkinan untuk hidup normal sangat-sangat kecil.
Sementara kondisi Raina saat ini tidak terlalu mengkhawatirkan, gadis itu hanya kelelahan dan syok berlebihan.
"Jaga mereka, jangan sampe mereka melarikan diri." perintah Jonathan dan langsung berlalu pergi.
Mendengar langkah Jonathan yang menjauh, perlahan mata Raina terbuka. Seukir senyum terbentuk menghiasi wajah pucatnya.
Dokter bodoh!. Ejeknya dalam hati.
Raina beranjak dan langsung melangkah mendekati Tristan. Ia menggenggam tangan Tristan yang mendingin. "Aku harus pergi dan aku berjanji akan kembali untuk menjemputmu, Dad." ujar Raina berjanji. Setitik air mata membasahi pipinya.
Dia tidak bisa lemah, dia harus bisa keluar dari neraka ini dan segera mencari Arkha.
Perlahan dia melangkah ke arah pintu, dia yakin pintu itu tidak dikunci karena selama dia tinggal di sini tidak satupun ruangan memiliki rongga kunci, kecuali kamar Juan.
Raina membuka pintu itu dengan perlahan, pandangannya dia edarkan keseluruh penjuru ruangan.
Hanya ada beberapa pria berseragam hitam yang tampak terlihat sedang mengobrol. Dengan mengendap-endap Raina melangkah ke arah kamar Juan, dalam hati dia berharap bahwa saat ini kamar itu tidak terkunci, dan benar saja pintu kamar Juan tidak di kunci.
Di dalam kamar Juan ada ruangan khusus untuk bisa langsung keluar dari Mansion ini. Dia tahu itu karena beberapa waktu lalu dia pernah memergoki Juan keluar masuk dari ruangan itu.
Ckrek
Raina melangkah masuk ke dalam kamar Juan dan langsung berlari ke arah ruangan kecil itu. dia harus bergerak cepat karena kesempatan yang dia miliki saat ini tidak akan datang dua kali.
Setelah berhasil keluar dari Mansion Juan, dia langsung melangkah menyusuri jalan setapak itu dengan kaki telanjangnya. Kerikil-kerikil kecil yang menusuk dan panasnya aspal sama sekali tidak membuat Raina menghentikan langkahnya.
"Itu dia di sana!!"
Tidak!! Demi Tuhan, kenapa dia bisa tertangkap basah secepat ini. Tidak! Dia tidak bisa menyerah begitu saja. dia harus bisa bebas dari kejaran orang-orang itu.
Mata Raina mengedar mencari jalan yang bisa mengelabuhi anak buah Juan. Tapi hasilnya nihil. Jalan ini hanya setapak yang lurus dengan tembok-tembok berdiri kokoh disebelah kanan dan kiri.
Bantu aku Tuhan. Doanya dalam hati, hingga ada sebuah tangan kokoh yang menarik tubuhnya masuk ke dalam sebuah mobil. Semuanya begitu cepat hingga kesadarannya hilang tergantikan dengan cahaya gelap.
***
Juan menatap tajam ke arah beberapa sosok berpakaian jas Dokter yang berlalu lalang di depannya. Di sana keenam Dokter itu sibuk memeriksa dan membeda 6 mayat Dokter terbaik miliknya yang baru saja ditemukan mati mengenaskan, dan salah satu dari Dokter tersebut adalah Tom, ayah dari Jonathan.
"Bagaimana?" tanya Juan kepada Yoel salah satu Dokter senior yang selamat.
Dokter Yoel mengisyaratkan Juan agar mendekat ke arahnya, Yoel memasukkan jarinya ke dalam rongga leher Tom dengan hati-hati. Membuka tenggorokan itu agar lebih terbuka lebar, menggeser beberapa inci kerongkongan dan batang tenggorokan hingga rongga melingkar itu terlihat licin dan berwarna abu-abu.
"Siapapun yang membunuh mereka adalah pembunuh yang sangat pintar dan licik, tetapi dia sama sekali belum bisa mengimbangiku." ucap Dokter Yoel yang terlihat masih fokus meneliti mayat Dokter Tom.
Jonathan dan Juan sama-sama menatap fokus ke arah rongga yang menganga itu.
"Bila kau mengeringkan banyak cairan Cerebrospinal dari bawah ini," Yoel menepuk punggung tangannya. "Kematian seketika, nyaris tidak ada tanda. Bahkan pengambilan cairan tulang belakang pun harus diambilkan dengan cara sangat hati-hati sekali. Jika kau mengambil terlalu banyak cairan itu, maka dipastikan pasien itu akan mati. Dokter Tom dan yang lainnya memiliki jumlah cairan CSF yang cukup ditulang belakang dan tidak ada bekas luka tusukan dipunggung. Jadi aku mengambil satu kesimpulan kalau dia memotong jalan tengah dan langsung menusuk." ucap Doter Yoel menjeda ucapannya.
Dokter Yoel mendorong kulit kepala Dokter Tom yang sudah terkalibrasi itu diantara tulang belakang dan dengan hati-hati Dokter Yoel mengambil sedikit myelin caul putih. "Ke jaringan syaraf itu sendiri." lanjut Dokter Yoel.
"Jaringan syaraf?" tanya Jonathan membeo ucapan Dokter Yoel.
"Benar." Dokter Yoel mengambil sampel jaringan dari Dokter Maya dan membungkuk untuk mengamatinya. "Heumm.." dengan hati-hati Dokter Yoel menggerakkan pisau bedah. "Tidak! Aku keliru. Ini tidak dilakukan dengan menyedot CSF."
"Tidak?" kali ini Juan yang membeo. Pandangannya masih fokus menatap penampakan ke enam mayat itu."
"Tidak. Tapi pernah ada sesuatu yang menyebar di sini. Begini, jaringan syaraf adalah struktur yang sangat halus. Kau hanya perlu memasukkan jaruk ke medulla oblongata, memutarnya sedikit, dan setiap fungsi fisiologis akan berhenti. Seperti yang terjadi pada ke enam Dokter." jelas Dokter Yoel.
"Kematian seketika?" tanya Jonathan.
Dokter Yoel mengangguk. "Tepat sekali! Aku tidak melihat kerusakan parah yang kau harapkan dengan teknik itu, tapi tidak berarti ada sesuatu yang diinjeksikan di sini. Jantung dan paru-paru bisa berhenti fungsinya dengan seketika."
"Dan tadi kau sempat mengatakan selain Ayahku tidak ada Dokter lain yang melawan, benar begitu?" tanya Jonathan.
Dokter Yoel hanya mengangguk sekilas.
"Lalu bagaimana? Bagaimana cara pembunuh b******n itu membuat mereka tanpa perlawanan?" tanya Juan mulai kehabisan kesabaran.
"Aku bisa memperkirakan jawabannya ketika analisis perut, darah dan jaringan dalam lewat toksikologi keluar aku baru bisa memastikan kenapa mereka diam." jawab Dokter Yoel.
"Yah, Dokter Yoel benar. Kita harus segera melakukan tes alkohop, Rohypnol, brbs dan..." Jonathan menjeda ucapannya. Matanya fokus menatap titik-titik aneh yang berada di sekitar pinggang Tom.
"Aku menemukan hal yang aneh..." Ujar Jonathan memperlihatkan titik-titik yang seperti bekas tusukan jarum melingkar menghiasi pinggang Tom. "Pembunuh itu meninggalkan tanda." ujar Jonathan yang juga memperlihatkan tanda titik yang sama pada lima mayat lainnya.
Juan menunduk memperhatikan tanda itu. Apa tanda ini sebuah lelucon? "Bagaimana tanda ini dibuat?" tanyanya.
"Aku belum tahu, tapi aku bisa memastikan kalau pembunuhnya memiliki pemahaman tentang dasar-dasar pembedaan." jawab Dokter Yoel.
Jonathan mengangguk setuju. "Aku juga berpikiran begitu. Dan dia juga bisa menemukan syaraf dan itu benar-benar mengagumkan." Jonathan melangkah menjauh untuk mencuci tangannya dan melepaskan pelindung matanya.
Sementara Dokter Yoel saat ini masih sibuk meneliti ke enam mayat itu.
Juan melangkah menjauh untuk menjawab panggilan dari Paige.
"b******n!! Segera temukan dia dan bawa ke hadapanku sekarang juga!!" Perintah Juan murka ketika Paige mengabarkan kalau Raina berhasil kabur.
Kau tidak akan bisa lepas gadis kecil!
***
#tbc