Tiba-tiba menjadi istri
Siapa sangka jika Qiila kini sudah berstatus istri orang, Padahal ia baru saja pulang dari kampus. Ayahnya menikahkan dirinya dengan anak sahabat Ayahnya. Tanpa sepengetahuan dirinya. Bahkan tanpa adanya pesan. Qiila pun tidak menyangka dengan jalan pikiran ayahnya tersebut. Lelaki yang di pilih untuk anaknya seperti apa sikap dan sifatnya Qiila tidak tahu. Dan ia tak ingin tahu.
Qiila PoV
"Jika kau tak menyukaiku kenapa kau mau menikahiku?" Tanyaku, suamiku tersenyum.. Tanpa aku tahu maknanya
"siapa bilang?" dia balik bertanya, aku hanya diam, sebal melihatnya "Shok tahu" ejeknya. Ia shok kenal denganku.
Aku sungguh membencibnya, seakan ia telah menghalangi hubunganku dengan kekasihku
Malam yang semakin larut, namun mataku susah untuk di pejamkan, aku masih duduk termenung di deoan balkon kamar tidurku.
Malam pertama dengan orang yang tidak aku kenal, mana bisa aku begini. akupun bergegas masuk ke kamarku, sebab udara malam yang semakin dingin menyentuh kulitku.
akupun mengambil bantal dan selimut, memilih tidur di sofa, yang aku tahu kami manikah karena kenal lewat sosmed dan entah kapan dia kenal orang tuaku dan akhirnya kami menikah.
Walaupun kenal di sosmed, kita tak pernah saling komen atau inbox, hanya sekedar like status. Tanpa ku syadari kini dia malah menjadi suamiku.
"mau kemana?"Tanya dia (aku belum siap menyebut namanya). Bagaimanapun juga, kita menikah dengan instan. Dia datang kerumahku, melamarku dan Ayah langsung mengakadkan kami. Sungguhbtak habis pikir dengan Ayah,,
"aku mau tidur di sofa, dasar si muka tebal" Umpatku
"kitakan sudah menjadi pasangan suami istri, kenapa tidur terpisah?" protesnya
"terserah akulah, ini kamar aku , aku mau tidur dilantai atau di sofa gak ada urusanya sama kamu,"makiku.
Ia pun hanya diam. Namun ia tersenyum, membuatku merasa muak dengannya.
Saat aku mau merebahkan badan ini, tiba tiba aku teringat, besok adalah sidang skripsi, mana aku belum mengulangi materinya.
aku sibakan selimutku dan aku lari keluar kamar, mencari laptopku , aku lupa di mana aku menaruh, sebab tadi banyak tamu yang berdatangan, dan aku menitipkan ke bi Sari.
"Dasar.. Kampreeeet,,, gara gara lu, gue lupa besok ada sidang!!" geramku, "Ayah itu gimana sich, masa' langsung main nikahkan anak, padahal aku kan masih punya pacar. kuliahku juga belum selesai, " umpatku, aku mengacak jilbabku, yang masih ku kenakan. Aku belum berani membuka jilbabku di depan suami yang tak aku inginkan. Bi Sari sudah tertidur, aha sebal sekali rasanya. seakan dunia tak ingin berpihak kepadaku, "sial" umpatku, kembali masuk ke dalam kamar tidurku,
"kamu nyari ini ya?" dia mengangkat laptopku, aku tersenyum mengejek, Bagaimana ia tahu aku mencarinya,,,
"jangan shok akrab" aKu ambil laptopku dengan kasar,, dan aku duduk di meja bawah, aku duduk di atas lantai, dan aku mencari materi untuk sidang wawancara besok.
Aku benar benar tidak konsentrasi, malam ini. akupun lupa di mana aku menaruh gawaiku. saking kesalnya aku terhadap Ayahku.
Pikiranku kacau, tanpa aku syadari aku tertidur di meja belajarku.
Sayup sayup aku mendengar suara adzan berkumandang,
Aku terbangun, reflek aku menjerit. Aku tidak memakai jilbab, tapi baju aku masih lengkap, untunglaah...
"kenapa kau teriak.. Berisik tau'!?" makinya
"kenapa kamu tidur di kamarku? Kamu gak macem macemkan, kamu gak perkosa aku?!?"cecarku, Sambil aku melihat diriku sendiri, pakaian aku masih lengkap
"mana ada suami perkosa istri" ledeknya,
"jilbab aku di mana?" aku merengek seperti anak kecil,
"aku lepas, lagian kamu tidur sembarangan. Berat tau?" ledeknya,,
"aa aku gak gendut,!!" jawabku nggak nyambung, "aah lagian siapa suruh gendong aku!"aku memukul dadanya, dia meringis menahan sakit
"Siapa suruh tidur dimeja,,udah githuu ileran lagi" sindirnya lagi
"ngawur... Mana ada!!" kesalku, rasanya aku ingin mencekik lehernya. menyebalkan.
"emang iya, cek aja di atas meja, masih ada bekas ilermu"dia mengejekku, tak mau kalah.
Antara malu dan kesal, aku lari ke kamar mandi. Membersihkan tubuhku, lalu mandi sebelum mendirikan shalat subuh.
Pagi itu aku berangkat kuliah, namun Ayah tidak memperbolehkan aku bawa mobil sendiri, Harus dibantar suami yg tak aku anggap
"Tapi Ayah, biasanya kan aku pergi sendiri" protesku, Ayah sungguh menyebalkan.
"Tidak,,,, kamu harus diantar suamimu." ayah besikeras aku tetep harus diantar.
"tapi Ayah, diakan juga harus kuliah" aku masih saja berkilah
"siapa bilang.? Aku 'kan entar kuliahnya jam 10, jadi bisa kok nganterin istriku berangkat kuliah terlebih dulu" jawabnya,
"yaudah aku ambil kunci mobilku"
"bawa mobilku, tak perlu bawa kunci mobilmu"bjawabnya, cuek.
Ayahku malah tersenyum geli melihat tingkah kami, aku sungguh benci Ayah.
"Ayah,,kami berangkat yah?"pamitnya, dia bersalaman dengan Ayah dan mencium punggung tangan Ayah, penuh ta'dzim akupun melakukan hal demikian.
"Hati hati ya sayaaang" pesan Ayah,
Aku mengangguk sedikit kesal, sejak Bunda meninggal aku tinggal berdua dengan Ayah, dan sejak itu Ayahku terlalu protektif, Ayah melakukan itu karna aku anak satu satunya Ayah. Ayah selalu melindungiku di garis depan. Bunda meninggal saat aku masuk SMA,
Tidak sampai satu jam aku sampai di kampus, suamiku yang tak aku anggap, membukakan pintu mobil untukku
"gak perlu repot repot bukakan pintu, aku bisa sendiri"aku masih kesal dengannya.
Aku tahu dia anak teman Ayah, yang tinggal di Jakarta Selatan.
Aku keluar dan berjalan meninggalkanya, tapi ia mencegahku, ia menarik tanganku lembut
"apaan sich!?" protesku
"kok gak sungkem sama suamimu ini, " katanya, diriku semakin sebal.
"Kampreett,,minggir gak !!" sentakku, bagaimanapun juga, aku adalah anak yang arogan, tidak takut dengan siapapun. Dan tidak suka di atur.
Tapi dia malah memelukku dan mencium ubun ubunku, entah kenapa aku merasa jantung ini deg degan semakin cepat, Bahkan aku merasa nyaman di peluknya. Baru kali ini ada pria yg memelukku penuh kasih.
"Hati hati yaa sayang, semoga sidangnya lancar" katanya dan melepas pelukanya saat itu juga aku membisu seribu bahasa, susah mengungkapkan perasaanku. Sebab aku masih memiliki seorang kekasih, kekasih yang aku sayangi, ia juga berprofesi sebagai dokter, hanya saja hungungan kita terhalang keyaqinan yang berbeda. Namun ia begitu sangat menghormatiku, menjagaku. Meskipun satu minggu ini ia tidak ada kabar sama sekali, entah kemana ia perguli. Namun hatikubyaqin, dia selalu setia kepadaku. Pria tampan yang dulu saat awal berjumpa, nampak galak, kini malah membuatnya bertekuk lutut kepadaku. Laki laki Blasteran Indo Belanda, dengan mata biru, kulit putih dan gagah menurutku. Namun selama kami pacaran, hanya sebatas berjalan jalan saja, pelukan dan cium kening atau pipi, tidak lebih dari itu, aku dan dirinya masih tahu batasan