11. Ulangtahun Soya

1252 Kata
Brian menyerngitkan keningnya saat ini soya tidak terlihat di seluruh penjuru sekolah, bukannya brian mencari gadis pecicilan itu, hanya rasanya aneh saat kedelai tidak ada muncul di sekitarnya dan menggombali nya dengan kalimat-kalimat picisan yang menurutnya berisik. Biasanya di jam istirahat seperti ini, soya akan langsung menghampirinya bersama tiga kerumunan yang salah satu nya adalah gebetan vano, dan istirahat sebentar lagi selesai dan gadis itu tidak juga muncul. "ini ngapain sih keliling-keliling enggak jelas, lo mau pamer kalau lo turunan spanyol dan ganteng gitu?" angga bertanya, ia sudah cucup lelah mengikuti langkah brian dari kantin lalu ke arah koridor kelas sebelas. Berbeda dengan Vano yang sekarang menghampiri nana di depan kelas gadis dengan gigi kelinci itu. "Van" brian memanggil "yuk balik" "kalian aja, gue lagi jagain nana" vano menjawab. "apa sih pakai mau ngejagain gue, mending lo balik deh. Noh bos besar dah manggil" nana berkata. "na jangan mau di modusin vano, dia buaya. Yang ada entar lo rusak sama dia" angga berkata. "yang ada gue yang rusak karna nana" vano menjawab, lalu beralih pada nana. "Bit, entar jadi kan nonton bola nya?" "iya dong, gue enggak bakalan menyia-nyiakan tiket gratis" nana menjawab. "Na, bagi coklat dong" angga berkata sambil melirik tumpukan coklat dan hadiah di sebelah nana. "ijin sama soya, ini semua hadiah orang-orang buat soya" nana menjawab sewot. "dimana dia?" Brian menyahut, dia juga tidak mengerti dengan dirinya tapi yang pasti sejak tadi dia memang mencari gadis itu. “Gitu kek dari tadi, enggak capek keliling gue. Bilang aja cari miss sekolah” angga berkata. "lo aja yang enggak peka, bego. Dari tadi juga si brian cariin soya" vano menyahut. "gue cuma nanya, enggak cariin dia. Lagian enggak penting juga" brian menjawab. Kedelai kan hari ini ulangtahun, tiap ulangtahun dia pasti bolos. Dari smp udah jadi kebiasaan "nana menyahut. "makanya nih, gue, seina dan bunga lagi pisah sembunyi. Entar fanboy nya si kangen sekolah nitipin hadiah ke kami, eh tau nya si vano nongol, enggak bisa sembunyi deh" "terus, dimana soya?" brian menatap tajam. "yan, enggak usah nakutin nana juga" vano menjawab. "gue cuma nanya" brian kata. "eng..enggak tau. Soya kalau ditanya tiap ulangtahun kemana, dia pasti ngalihin pembicaraan. Ja..jadi kami juga cuma bisa ngertiin soya sampai entar dia ceritanya sendiri" nana menjawab sambil berbagi sedikit tubuh di belakang vano. •• Kedelai menatap ke arah luaran taksi jalanan malioboro yogjakarta saat ini, rambut panjangnya di biarkan terurai, ia juga memakai rok hitam dengan panjang di bawah lutut di padukan dengan sepatu hitam, dan kaos berwarna pink. Handphone nya juga sudah ia matikan sejak tadi malam sebelum ia berangkat ke kota yang pernah di tinggali nya sejak kecil bersama eyang nya. Taksi yang di tumpangi sampai di depan kediaman khas keraton jawa, tersenyum tipis melihat kediaman nenek nya yang masih terlihat sama. "makasih ya pak" membayar uang taksi dan turun, dengan membawa sebuket besar bunga mawar Soya menarik nafasnya, dan mulai memasuki kediaman neneknya itu. "raden ayu kianti?" seorang wanita berbadan gemuk menghampirinya dengan senyum lebar nya. "Bik sita apa kabar ?, makin makmur aja" jadi salah satu pembantu neneknya itu. "baik, raden ayu lagi liburan?" Menggeleng kedelai. ini kan tanggal tiga "soya menjawab. "hari ini ulang tahun raden ayu kianti" bik sita menepuk keningnya "pantes tadi bik retno masak banyak banget" Soya tersenyum. "Aku mau ketemu eyang dulu, habis itu baru kita makan-makan kayak biasa" begitu berkata dengan senyum lebarnya, lalu berlari kecil ke arah halaman belakang kediaman neneknya itu. Soya tersenyum kecil melihat halaman belakang yang tetap bersih dan nyaman, tempatnya bermain dulu bersama syura, kakaknya. Walaupun taman belakang ini sekarang sedikit berbeda dengan dua nisan di tengahnya. Tempat meletakkan bunga nya di makam neneknya. "maaf ya eyang, soya cuma bawa bunga buat eyang putri. Kan eyang enggak suka bunga" soya berkata di nisan kakek nya. "eyang, soya lagi puyeng. Mama sama papa mau cerai, setelah lama perang" soya berkata. "kak syura juga udah enggak mau ikut campur urusan mama papa, jadi yasudahlah" "Aku juga suka sama cowok, bule. Maaf ya eyang, aku suka nya bule. Tapi dia enggak suka sama aku, tapi aku tetap optimis ngejar dia. Terus aku juga sudah jadi miss sekolah, dan eyang pasti liat aku kan, aku udah cantik banget " Soya menarik nafasnya, wajah nya meredup, terulur mengusap nisan neneknya. "coba aja eyang masih ada, pasti seru. Aku kangen sama eyang. Enggak ada yang ngomelin aku pakai bahasa jawa yang kental, atau yang masakin aku pas ulang tahun" soya berkata "kalian berdua tuh kayak romeo dan juliet deh, romantis banget. Eyang bahagia ya disana. Aku sayang kalian " Soya tersenyum, lalu membaca doa sebentar dan bangun dari duduknya. Pulang ke tempat neneknya, adalah tempat yang paling menenangkan. Soya mengambil handphone nya dan mulai mengajarnya, teman-teman nya pasti memarahi nya karna menerima hadiah dari lelaki yang mengejarnya. Drrrrrrrtttt ... Drrrrrttt .. Soya membulatkan matanya saat melihat nama yang tertera di layar handphone nya, Brian. Soya berdehem dan mengankat panggilan telepon dari brian. "Dimana?" "enggak di mana-mana" soya menjawab. "lo bohong, gue bakalan ngusir lo kayak cewek-cewek yang ngejar gue" "kok gitu sih, enggak adil ih brian" begitu berkata. "raden ayu kianti" seorang wanita seumuran nenek nya mendatangi nya. Sedikit menjauhkan kedelai telponnya. "iya" soya tersenyum. "Raden ayu kirana pasti senang melihat kamu sekarang" ada senyum sedih di wajah wanita yang menjadi pelayan pribadi neneknya itu. "eyang juga pasti sangat berterimakasih karna bik retno sudah mengurus kediaman eyang dengan sangat baik bersama pembantu lainnya" soya menjawab. Brian yang mendengar obrolan soya di telpon, merasa dadanya berdegup cepat, suara soya yang terdengar lirih membuat dia ingin mengatur gadis itu sekarang juga. "raden ayu kianti mau makan sekarang?" "iya, bik retno kan katanya masak banyak" soya menjawab "tapi aku telponan dulu sebentar" "soya, lo dimana?" "duh brian, soya again enggak pengen debat nih, again enggak mood gombalin kamu juga, kamu jangan ngambekan gitu ah. Muka lucu nya nanti aja simpan sampai soya pulang, lusa deh janji" "tinggal bilang lo dimana, apa susahnya" "di tempat eyang, di jogja" soya menjawab. " alamatnya ?" "kamu kenapa sih pakai nanya alamat segala?" "cuma pengen tau, biar nyokap gue enggak khawatir. Dia nanyain lo" "ih soya jadi seneng, hati mama kamu udah soya dapatin tinggal hati hamu. Yaudah soya sms deh alamat rumah eyang" Soya memutuskan telponnya dan langsung mengetikkan alamat rumah eyang nya pada brian. ••• Brian menyesali tindakan gegabahnya yang datang ke yogjakarta hanya untuk soya. Bahkan tanpa ketahuilah orangtua yang sekarang berada di luar kota. "maaf, siapa ya?" penjaga gerbang di pintu masuk saat brian datang. "teman soya, dari jakarta" brian menjawab. "raden ayu kianti, maksudnya?" Brian mengguk. Penjaga gerbang itu mempersilahkan brian masuk, lalu Berbicara pada seorang wanita bertubuh gemuk dalam bahasa yang tidak brian mengerti, tidak lama wanita bertubuh gemuk itu masuk kedalam. Soya keluar dengan berlari kecil, matanya membulat dan melihat brian. "Brian?" kedelai menghampiri brian. "apa?" brian keluar kotak kecil dari dalam saku jaket nya. "kok bisa disini?" kedelai bertanya. "pakai pesawat" brian menjawab. "iya soya tau, tapi" soya menahan senyum nya "kamu romantis banget" "nih buat lo" brian berkata sambil memberikan satu kotak kecil. Soya menatapnya ragu lalu menerima kotak kecil itu. "ini apa?" kedelai bertanya. "selamat ulang tahun, rindu sekolah" brian berkata. Soya terdiam, matanya mengerjap beberapa kali, mencoba mencerna kalimat brian. Brian menghela nafasnya, tangan nya mengambil kotak kecil di tangan soya dan membuka nya. Kalung dengan inesial S yang menghiasi kalung itu. Brian langsung memakaikan nya. "ini buat ku?" kedelai bertanya. "buat eyang lo" brian menjawab. "yah, eyang ku sudah meninggal" soya berkata. "maaf" kata brian. Soya tersenyum lembut, senyum yang membuat brian tertegun. "ayo masuk" soya berkata. Brian meraih tangan soya. "b..brian" "tolong layani gue layaknya tamu di keraton" Tertawa dan mengangguk. ............................................. Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN