10.

1091 Kata
"beautiful girl" Wanita itu tersenyum ramah ke arah soya. Soya bangun dari duduk nya dan langsung salim mencium punggung tangan wanita yang telah melahirkan brian itu. "Soya, tante. Teman brian" soya memperkenalkan diri. "Jessica" wanita itu menjawab "kamu sopan sekali, tapi beneran cuma teman?" "iya tante, teman sekaligus adek kelas" soya menjawab. Brian menatap tertarik, brian pikir soya akan memperkenalkan diri sebagai pacar nya, alias mengaku-ngaku seperti gadis lainnya yang mengejarnya dan memgaku sebagai pacar nya. "kamu manis sekali" jessica berkata. "makasih tante, tante juga cantik banget. Lain kali boleh dong bagi rahasianya" soya berkata. Jessica terkekah melihat tingkah lucu soya, dia memang sudah lama ingin punya anak perempuan, tapi sayangnya dia tidak bisa. Dan juga gadis yang dekat dengan brian sebelumnya tidak pernah berhasil menarik perhatian jessica, entah kenapa soya berhasil menarik perhatiannya. "rahasianya olahraga, hidup sehat" jessica menjawab. "yaah tante, saya suka olahraga apalagi kalau yoga. Tapi saya juga hobby makan ayam" soya menjawab dengan jujur  "kamu juga suka yoga?, sama dong" "loh tante juga?, yang flying yoga pernah coba enggak, tan?" Jessica mengangguk. "minggu depan mau ikut tante ke tempat yoga enggak?, kita olahraga bareng" jessica berkata. "ayo lah tan, soya mah kalau yoga suka. Biar otak soya di refres sekalian" soya menjawab. "kamu lucu deh" jessica berkata. Brian mendengus, dia tidak bermaksud untuk membuat bunda nya itu dekat dengan soya, mengingat betapa perfectionist nya bunda nya itu, tapi melihat interaksi soya, bibir brian tertarik membentuk senyuman kecil. Paling tidak, soya bisa tersenyum dan melupakan masalah di rumah nya. "Brian" soya berkata. "hmm?" brian mengangkat alis nya. "kok kamu berandalan, mama kamu kayak malaikat gini. Kok bisa?" soya bertanya. Tawa jessica langsung pecah mendengar pertanyaan polos soya. "like father, like son" jessica menjawab. "tapi enggak masalah tante, soalnya biarpun brian ini terkenal senior galak dan bad boy. Dia baik kok, kemaren neraktir soya sama teman-teman di dufan" soya berkata. "lo pikir gue cowok apaan mau lo bayarin" brian menjawab. "kamu enggak boleh kasar sama cewek" jessica menegur. "soya emang perlu di gituin" brian berdecak kesal "buta kali satu sekolah milih lo jadi miss sekolah" "soya kamu miss sekolah?" jessica bertanya. Soya tersenyum lebar sambil menyuap makanannya. "brian ih buka identitas gitu, malu" soya menjawab. "pantesan ya, kamu friendly banget" jessica berkata. "tante yang ramah banget, kayak malaikat ih. Tapi, mama ku juga malaikat sih" soya menjawab. Brian menghela nafasnya, dia lebih memilih diam dan melihat interaksi soya dan bunda nya. •• Soya menghela nafasnya, ia merebahkan diri di sebelah nana. Seina memilih untuk membuat minuman untuk mereka malam ini dan bunga sedang menyetel tv di kamar nana. Malam ini, setelah kemaren dia bertemu bunda brian. Mereka mengadakan pajama party. "jadi soy, lo bilang enggak kalau lo dapat teror dari fans nya si berandalan sekolah?" bunga bertanya. "enggak" soya menjawab "enggak penting juga, lagian selama mereka enggak berbuat di luar batas. Gue rasa enggak masalah" "sampai di akun youtube lo, mereka nyerang." nana berkata. "biarin aja lah" soya menjawab. Soya menghela nafasnya, dia tidak ingin memberi tau siapapun sebenarnya, tapi tetap saja dia tidak bisa berbohong dengan ketiga sahabatnya. Dan untuk mengadu pada brian, dia tidak ingin di anggap gadis tukang cari perhatian. Seina datang membawa empat gelas coklat panas, lalu meletakkannya di meja kecil di kamar nana. Soya dan nana bangun dan ikut bergabung dengan bunga dan seina. "tinggal tiga bulan lagi kita kelas dua belas" seina berkata "enggak kerasa, terus kalian mikir enggak bakalan kemana pas lulus?" "mau nya sekampus sama kalian" bunga menjawab. "gue juga" seina menjawab "tapi gue di suruh ke singapur ikut kakak gue" "yah seina, jangan bercanda ih" soya berkata. "iya nih, enggak asik banget lo. Sok ke singapur" nana berkata. "makanya ikut SNPTN ke singapur aja entar" seina berkata "gue enggak mau pisah sama kalian" "sama kami atau sama babang jhonny" bunga menggoda. "enggak sanggup rasanya kalau jauh dari doi" nana menambahkan. "oh iya, tolong dong cariin gue apartemen. Gue mau tinggal sendirian" soya berkata. Nana, bunga dan seina saling melempar pandang, saling diam untuk beberapa saat. "mama papa sudah memutuskan bercerai" soya melanjutkan kalimatnya. Soya tidak suka menangis, bagi nya air mata nya harus tersimpan. Tapi nyatanya di balik semua senyum manis nya, soya hanya gadis remaja yang rapuh. "soy.." "mama bilang, dia akan ke belanda. Melanjutkan pekerjaannya, jakarta terlalu sulit bagi nya, banyak kenangan yang harus di tinggalkan di jakarta, dan papa. Gue enggak tau harus bagaimana, dia akan meresmikan pernikahannya dengan wanita yang di cintai nya" soya menghela nafasnya. Soya tersenyum, tertawa melihat wajah teman-temannya yang menatapnya khawatir. "nangis aja soy!" bunga sudah mengusap air matanya. "bunga ngapain lo nangis?" soya menepuk bahu bunga pelan. "nangis aja soy, jangan sok kuat" seina berkata. "gue kan emang kuat" soya meneteskan air matanya "memang ya hidup itu enggak ada yang sempurna. Gue sudah memutuskan akan tetap di jakarta" Soya menghapus air matanya. "gue suka sama brian, walaupun dia kadang jutek. Tapi gue tetap suka, dia orang pertama yang ada di saat gue terpuruk dulu, berandalan ganteng yang selalu hadir jadi penolong gue" soya berkata. "kalau brian tetap enggak membalas perasaan lo?" nana berkata. "gue harus optimis, kalaupun brian bukan buat gue, ya mau gimana lagi. Gue harus pergi" soya menjawab. Nana, bunga dan seina mendekat dan memeluk soya. "ingat ya soy, kurang lebih setahun lagi kita bakalan lulus" bunga berkata "dan kita harus nikmatin waktu kita sebaik mungkin" "iya, kita harus belanja bareng, ke salon bareng, ngeendors bareng juga" seina menambahkan. "kalau brian belum nerima lo, gue bakalan cari dukun terhebat buat guna-guna dia" nana berkata. "waduh, serem amat lo na" soya langsung melepaskan pelukannya, "tapi leh ugha" "yaelah lagi moment galau juga" seina berkata. "horror banget lo, na. Jangan-jangan si vano nempel sama lo gara-gara lo guna-guna?" bunga bertanya "di saring dulu dong kalau ngomong, vano mah emang gesrek, enggak bisa dapat pacar gue gara-gara dia nempelin gue mulu" nana menjawab. Soya tersenyum melihat ketiga sahabatnya. •• Tok.. tok.. Brian menoleh ke arah pintu kamar nya yang terbuka, di sana dia melihat bundanya berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di pintu. "papa nungguin di bawah" jessica berkata. "iya bun" brian menjawab. "soya baik ya" Brian menoleh sambil memasang jas nya, lalu menggeleng. "agak eror baru bener"  brian menjawab. Jessica tertawa. "tapi kamu sangat peduli pada nya" "bun.." brian menghampiri bunda nya itu "tolong kasih soya satu unit apartemen di gedung kita" "hah?" jessica menatap bingung putra semata wayang nya itu. "soya akan tinggal sendirin mulai sekarang, orangtua nya memutuskan berpisah dan aku mau dia tinggal di salah satu apartement milik kita" brian berkata. "kamu sangat perduli padanya" jessica tersenyum lalu mengangguk. "aku cuma kasihan" brian menjawab datar lalu turun ke lantai satu di mansion nya. .....................................Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN