Keduanya menoleh ke arah sumber suara, Jelita terkejut karena melihat Abizar yang tiba-tiba datang bak pahlawan di hadapannya. Sedangkan Arya serta merta melepas tangan Jelita dan mundur beberapa langkah.
Ia sangat mengenal pria yang ada di hadapannya ini. Milyarder terkaya seantero negeri dan ia juga memiliki istri. Tapi kenapa ia mengatakan kalau Jelita itu istrinya? Tunggu, apa ini artinya Jelita…
Abizar menatap Arya dengan tatapan tajam, ia melangkah menghampiri Jelita dan meraih tangannya.
“Anda rupanya masih harus di ingatkan hal ini, jika ada seseorang yang mencoba mengganggu istri orang lain apalagi membuatnya tidak nyaman, maka itu bisa di sebut tindak kejahatan. Anda harus ingat hal ini juga baik-baik, Jelita adalah istri saya, terlepas apakah kalian memiliki hubungan di masa lalu, aku tidak terima jika melihat Anda mengganggu istri lagi,” ucap Abizar dengan nada sedingin es.
Arya yang sejak tadi bertanya-tanya tentu saja tidak terima pengakuan itu begitu saja, bagaimana bisa seorang yang sudah beristri kini mengaku kalau Jelita itu istrinya?
“Maaf Tuan Abizar, tapi sepertinya anda sudah salah mengakui seseorang. Jelita ini adalah pegawai saya dan sepanjang yang saya tahu, dia belum menikah. Saya sangat mengenal anda dan saya juga tahu kalau anda memiliki istri tapi yang aku tahu pasti, istri anda bukan Jelita,” ucapnya penasaran, ia ingin memastikan pendengarannya.
Jelita terkejut, benar juga. Siapa yang tidak mengenal sosok Abizar Bhalendra. Arya juga bahkan mengenalnya, tapi Ia lebih terkejut lagi karena Abizar bukannya beralasan atau mengelak, ia malah menggenggam erat tangannya seakan ingin meyakinkan Arya jika yang ia katakan barusan itu adalah tidak salah.
“Saya rasa itu bukan urusanmu, aku sudah menegaskan hal ini, Aku harap kau akan cukup bijak menyikapinya,” ucap Abizar lalu menarik tangan Jelita untuk mengikutinya, meninggalkan Arya yang masih membeku kebingungan.
“Pak, ini sudah jauh. Arya tidak melihat kita lagi. Bisa tolong lepaskan tangan saya?” ucap Jelita saat mereka tiba di depan mobil Abizar.
Abizar menatapnya lalu melepas pegangan tangannya.
“Masuklah,” ucap Abizar sambil membuka pintu mobil. Jelita pun masuk ke dalam mobil.
“Sekarang katakan padaku kenapa Bapak bersikap seperti tadi?” pertanyataan Jelita seakan menyadarkan Abizar atas sikapnya yang cukup impulsif itu. ‘Iya juga, kenapa aku harus mengakui Jelita di depan pria itu. Ia juga tidak menyadari tindakannya itu. Itu tiba-tiba saja terjadi, ia terbawa suasana hatinya yang sedang tidak baik. Abizar berguman dalam hati.
“Sudahlah, kita jangan bicarakan hal ini lagi. Bukannya bagus kalau aku mengakuimu di hadapan pria itu? aku lihat kau tidak nyaman bertemu dengannya, makanya aku membantumu,” ucapnya beralasan. Semoga itu bisa di terima gadis ini. Pikirnya.
“Tapi bukannya itu akan menjadi masalah nanti, bagaimana kalau Arya menyebarkan rumor?”Jelita masih belum berhenti, menanyakan hal itu.
“Dia tidak akan berani melakukan hal itu. Kau jangan khawatir. Lagi pula kenapa kau begitu mempermasalahkan hal sepele ini. tadi itu hanya kebetulan saja, kau paham?” Abizar berusaha mengelak.
“Tidak apa-apa, Pak. Aku hanya merasa kalau sikap Bapak tadi itu seperti reaksi pria yang sedang cemburu kekasihnya di dekati pria lain,” ucap Jelita dengan lirih tapi itu masih cukup di dengar oleh Abizar.
“Apa kau bilang, cemburu? Mana mungkin aku cemburu denganmu. Aku kan tidak menyukaimu dan kau tah kalau aku sangat mencintai Jovanka dan pernikahan kita hanyalah kontrak.” Sekarang Abizar bereaksi berlebihan. Jelita sampai terkejut.
“Saya kan tidak bilang kalau Bapak cemburu kepada saya, saya hanya bilang sikap Bapak itu seperti orang yang sedang cemburu,” ucap Jelita, ia kebingungan dengan sikap Abizar yang berlebihan menanggapi kalimatnya. Atau apakah memnag ucapannya itu berlebihan?
Mendengar itu Abizar bertambah salah tingkah, benar juga, Jelita tidak menyebut dirinya seperti itu atau menyindirnya. Tapi kenapa ia merasa seperti tersindir. Ia juga bereaksi berlebihan.
“Ah sudahlah, lupakan itu. Lain kali aku tidak mau melihatmu bersama pria itu lagi. Selagi kau masih menjadi istriku, kau tidak boleh membuat masalah,” ucapnya lalu menyalakan mesin mobil dan melaju.
Jelita hanya mengangguk pelan, ia merasa Abizar kesal. Lebih baik diam saja dari pada menambah kekesalan pria yang ada di sampingnya ini. mereka pun tidak berbicara sepatah kata lagi hingga mobil memasuki pekarangan rumah megah itu.
Jelita membuka pintu mobil dan berniat turun tapi tangan Abizar menahannya.
“Jelita tunggu,” Jelita tersentak karena tangan Abizar sepertinya sudah terbiasa menyentuh area tangannya. Membuat jantung jelita berpacu tidak wajar.
“Ada ada, Pak.” ucapnya berusaha bersikpa normal.
“Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. tunggu aku nanti malam.”
“Deg!”
“Pak Abizar ingin mengunjunginya nanti malam? Apakah ia hendak melakukan hal itu lagi, bagaimana ini?” Jelita mulai gelisah.
“Ke..ke kamarku , Pak?”
“Iya, apa kau keberatan?”
“eh emm… ti…tidak Pak.”
“Iya sudah, sekarang turunlah..” ucap Abizar kembali dengan suara dinginnya.
Jelita dengan cepat turun dari mobil dan melangkah tergesa menuju kamarnya.
Saat tiba di dalam kamar, Jelita mulai gelisah. ia mondar mandir di kamarnya. setelah mandi pun ia masih tidak bisa tenang.
“Huh, bagaimana ini? dia akan datang, apa yang harus ku perbuat? Apa dia akan melakukan hal mengerikan itu lagi? Ayah, tolong aku, hiks,” gumannya gelisah.
“Tok…tok…!”
Jelita terlonjak.
“Ah secepat ini dia datang? Apa bu Jovanka tidak ada di kamarnya? dia itu sebenarnya istri macam apa sih, kenapa bisa-bisanya merelakan suaminya sendiri menghabiskan malam dengan perempuan lain.” Jelita tiba-tiba menggerutu.
“Jelita, apa kau sudah tidur?” suara Abizar terdengar.
“Ah, ti..tidak pak. belum. Sebentar saya buka pintunya.”
Jelita segera berjalan menuju pintu dan membukanya.
“Apa yang kau lakukan hingga lama membuka pintu, aku pikir kau masih tidak ingin menerimaku masuk ke kamarmu. Padahal kau tahu sendiri kan, kalau semua ini harus segera berakhir?” ucap Abizar lalu duduk di sofa.
“Iya, Pak. saya mengerti.” Jawab Jelita.
“Oya, bagaimana keadaan ayahmu? Apa semuanya baik-baik saja?”
“Iya, Pak. semuanya baik-baik saja.” keduanya terdiam, hanya sunyi yang menyelimuti ruangan itu. seakan mereka larut dalam pikiran masing-masing.
Terdengar Abizar menghela nafas panjang. Jelita melirik suaminya itu berpikir kenapa ia belum ada pergerakan apa-apa. Bukankah mereka akan melakukan ritual menyeramkan itu lagi mala ini?
“Em… Pak, apa semuanya baik-baik saja?” Jelita memberanikan diri untuk bertanya karena Abizar hanya terdiam lama di tempatnya.
Abizar menoleh ke arah Jelita, menatapnya lama lalu kembali menarik nafas.
“Kau tahu Jelita, aku yang selalu bilang padamu kalau kita akan melakukan itu secepatnya supaya kau segera hamil, tapi pada kenyataannya aku sama sekali tidak bisa melakukannya dalam situasi seperti ini. Aku hanya bisa melakukan itu dengan Jovanka, aku selalu merasa menghianati Jovanka jika kita melakukannya. Dia betul-betul egois, tidak pernah mengerti perasaanku,” icap Abizar terdengar mengeluh putus asa.
Jelita ikut merasakan kegetiran hati Abizar, sungguh pria baik yang malang. Kenapa istri yang ia cintai harus sampai hati membuatnya menderita seperti itu. Bu Jovanka sungguh tega.
Jelita menghela nafas panjang dan berjalan menghampiri Abizar.
“Pak, ssayaya tahu perasaan Bapak. Saya juga sangat ingin mengakhiri semua ini. Jadi, jika memang bapak tidak bisa melakukannya, apakah saya bisa membantu? Bapak bisa membayangkan kalau saya ini adalah bu Jovanka. Atau Bapak bisa menutup mata sambil membayangkan yang bapak sukai,”ucap Jelita dengan sungguh-sungguh.
Mendengar itu Abizar terhenyak, apakah telinganya yang masih normal ini tidak salah dengar?