Kejutan

1195 Kata
“Apa yang kau katakana ini, Jelita?” tanya Abizar tidak percaya. “Ah, saya hanya berniat membantu, Pak. Bapak terlihat sangat putus asa, kalau seperti ini terus kan, pernikahan ini tidak akan ada hasilnya dan Bapak akan terus terjebak dalam situasi ini.” Dengan Jelita mencoba menjelaskan maksudnya. Ia sebenarnya sangat malu mengatakan hal tadi, tapi mau bagaimana lagi. Ia yang harus menolong pria yang putus asa ini, meskipun sama sekali tidak tahu apa yang harus ia lakukan setelahnya. Abizar hanya menatap Jelita tanpa berkata apa-apa, entah apa yang ada dalam pikirannya sekarang. Jelita hanya bisa menggigit bibirnya gelisah menunggu respon dari suaminya itu. “Pak, Pak…” “Ah…!” Abizar tersentak saat merasa sebuah sentuhan hangat di tangannya. Abizar lagi-lagi menarik nafas panjang. “Aku tidak yakin bisa melakukan ini, tapi kita harus mencobanya. Aku akan segera kembali.” Abizar beranjak dari tempatnya dan keluar dari kamar. Setelah beberapa lama, Abizar masuk dengan sebuah botol di tangannya. “Apa itu, Pak?” tanya Jelita curiga. “Ini red wine,” jawab Abizar. Ia meraih gelas dan menuangkan anggur merah ke dalam gelas. “Anggur? Maksudnya Bapak mau minum alkohol?!” “Iya, ini untuk menghilangkan ketegangan. Ini kau juga cobalah.”Abizar memberikan segelas anggur kepada Jelita. “Oh, saya tidak apa-apa Pak. Saya tidak masalah tidak meminumnya. Lagi pula saya tidak pernah minum minuman seperti itu,” tolaknya sambil menggeleng keras. “Ini bukan alkohol biasa, Jelita. Rasanya enak, tidak seperti yang kau pikirkan. Ini bukan bir yang mengandung alkohol kuat. Ayo cobalah sesedih, ini juga akan membantu kita nanti,” ucap Abizar meyakinkan Jelita. Sembari mulai meminum minumannya. “Apa ini benar tidak apa-apa, Pak? bagiamana kalau aku mabuk dan melakukan kesalahan” jelita masih ragu. “Tidak apa-apa, coba saja. Kau pasti suka. Lagi pula jika kita mabuk, bukankah itu lebih bagus? Kita bisa melakukannya tanpa rasa rasa bersalah. Aku benar-benar ingin mengakhiri ini semua dan kembali hidup normal bersama Jovanka, bukankah kau juga mengubah itu? Jadi aku minta berkerja samalah denganku malam ini,” ucap Abizar dengan nada serius. Ada sesuatu yang terasa sesak di dalam dadanya saat Jelita mendengar ucapan Abizar tadi, memang benar ucapan suami yang menikahinya secara siri itu. Pernikahan kontrak yang berdasar atas perjanjian. Setelah kontaknya berakhir, semua akan kembali seperti semula. Ya, memang seharusnya begitulah yang terjadi. Tapi kenapa hatinya terasa sakit? Jelita meraih gelas yang ada di tangan Abizar dan langsung meminumnya dengan sekali teguk. “Jelita, apa yang kau….” “Pak, aku sudah meminumnya sampai habis,” ucapnya dengan polos. Abizar memang ingin Jelita meminumnya sampai sedikit mabuk, tapi ia tidak menyangka jika gadis ini akan meminumnya seperti itu. Jelita terlihat lucu di mata Abizar sekarang, apalagi bekas anggur di sudut bibirnya. Tangan Abizar terulur dan menghapus bekas anggur itu. Keduanya saling pandang, tatapan mata mereka menatap satu sama lain. Ada deburan aneh yang menghantam hati Jelita. Getaran itu sangat terasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Saat tangan Abizar menyentuh bibirnya dengan lembut, darahnya terasa menghangat. Sebenarnya perasaan aneh apa ini? “Nah, sudah bersih.” Suara Abizar membuyarkan perasannya. “Apa kau tidak apa-apa, Jelita? Seharusnya kau meminumnya sedikit-sedikit supaya bisa merasakan kenikmatannya. Kau nikmati saja rasanya, jangan minum sekaligus,” ucap Abizar sambil menuangkan anggur lagi ke gelas Jelita. “Ah, iya, Pak,” ucap Jelita. Pikirannya masih tidak fokus. Dia masih memikirkan apa yang baru saja ia rasakan saat Abizar menyentuh bibirnya tadi. Jantungnya masih terasa berdebar kencang. Jelita mengangkat wajahnya dan menatap Abizar yang terlihat sedang fokus menikmati anggur merah yang ada di tangannya itu. Abizar terlihat sangat tampan di matanya, mungkin sekarang ia sudah mabuk. Beberapa lama kemudian. “Pak, kenapa kepalaku pusing sekali? Lantainya juga berputar-putar terus Pak.” Jelita mulai berceloteh. Tampaknya ia sudah terpengaruh alkohol dari anggur yang ia minum. Ia melangkah menuju ranjangnya tapi tubuhnya terhuyung ke arah Abizar yang juga mulai merasa agak mabuk. “Oh, maaf, Pak. Sepertinya aku sudah mabuk. Apakah kita akan melakukannya sekarang?” tanya Jelita sembari mulai membuka bajunya. Melihat itu, buru-buru Abizar menahan gerakan tangan Jelita. “Tu…tunggu Jelita, apa yang kau lakukan, kita harus me…” “Ssssttt.. kau sebaiknya diam saja, Pak. Bukankah kau tidak bisa melakukannya jika kondisi normal? Aku yang akan membantumu.” Jelita tiba-tiba mendorong tubuh Abizar ke atas kasur dan langsung menindih tubuhnya. Ia menatap Abizar dengan tatapan penuh damba. “Pak Abizar, kau itu pria yang sangat baik. Tapi sayang, istrimu menyia-nyiakan dirimu. Aku bahkan terkadang merasa iri dengan ibu Jovanka, aku selalu berharap apakah nanti akun juga mendapatkan pria sepertimu. Tapi tidak apa, karena malam ini aku akan berperan sebagaai ibu Jovanka untukmu. Aku yakin kau tidak akan merasakan perbedaan sedikitpun, karena aku akan melakukannya dengan sepenuh hati.” Jelita perlahan menundukka wajahnya dan meraup bibir Abizar , pria itu terpaku beberapa saat. Pikirannya kosong . Kecupan bibir Jelita yang masih polos membuatnya tergelitik untuk menyambutnya dengan hangat. Tangan Abizar menyentuh tengkuk Jelita memastikan posisi kepalanya tidak bergeser. Ciuman mereka semakin lama semakin intens. “Pak…pak… hentikan dulu!” Jelita mendorong tubuh Abizar dengan kuat, membuat tubuhnya terhempas ke samping. Jelita dengan cepat bangkit dari rebahnya dan berlari ke arah kamar mandi. “Hueekkk…!...huekkkk….” Abizar terkejut, ia berjalan menghampiri Jelita yang sedang memuntahkan semua isi perutnya. Melihat Jelita muntah, kesadaran Abizar tiba-tiba kembali. Rasa mabuknya hilang. “Kau tidak apa-apa, Jelita?” tanyanya khawatir, sambil mengusap tengkuk istrinya dengan lembut. Jelita hanya menggeleng, ia terus muntah tanpa henti. Abizar semakin panik. Ia merasa muntah seorang yang mabuk tidak akan separah itu. Sebenarnya apa yang terjadi. Apa jangan-jangan tubuhnya tidak bisa menerima alkohol? “Aku panggilkan dokter dulu, kau harus di periksa. Jika dibiarkan seperti ini kau akan dehidrasi,” ucap Abizar lalu beranjak mengambil ponselnya dan menelpon dokter. *** “Bagiamana keadaanya dokter?” tanya Abizar. Dokter terlihat masih memeriksa keadaan Jelita, gadis itu kini sudah terbaring lemas dengan wajah pucat akibat terus-terusan muntah dan kehilangan cairan tubuh. Selang infus sudah terpasang di tangannya, Abizar prihatin dan sedih melihat keadaan istrinya. “Pak Abizar,” sahut dokter sambil menatap Abizar dengan serius. “Nona ini bukan muntah karena mabuk, tapi karena kondisi tubuhnya yang sedikit lemah. Di tambah dengan alkohol yang ia minum memperparah kondisinya,” jelas Dokter. “Iya dokter, dia memang sempat minum anggur merah sampai mabuk. Tapi saya pikir itu tidak apa-apa karena ini hanya minuman anggur yang tidak terlalu berbahaya dampaknya.” Abizar menjelaskan. “Itu berlaku untuk kondisi tubuh yang normal. Tapi kasusnya berbeda dengan nona Jelita. Karena sekarang ini dia berbadan dua makanya segala macam minuman apa pun itu namanya jika mengandung alkohol meskipun sedikit, akan sangat mempengaruhi janin yang di kandungnya.” Ucapan dokter yang Abizar dengar barus saja, membuatnya terhenyak beberapa saat. Abizar membeku tidak percaya dengan pendengarannya. “A..apa? berbadan dua, mak…maksudnya, dia hamil, dokter? Dia benar-benar hamil?” ucapnya penuh dengan tanda tanya. Dadanya terasa mau meledak, tapi tidak mungkin pendengarannya benar. Mungkin ia hanya berhalusinasi. “Iya, pak. Nona Jelita sedang hamil dan kandungannya sudah menginjak 11 minggu. Jadi harus benar-benar menjaga kondisinya mulai sekarang.” Bagai seluruh kebahagiaan dari langit menghantam hingga lututnya tak mampu menopang berat tubuhnya lagi. Abizar jatuh berlutut tanpa sadar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN