Ketahuan

1080 Kata
Jelita yang masih lemah tapi mendengar semua percakapan itu hanya bisa meneteskan air mata, ia merasa senang, lega dan juga sedih. Seakan semua perasaan itu berbaur menjadi satu dan membentuk bendungan yang membuat rasa sesak di dadanya. Ia merasa bahagia tapi juga merasa juga sakit di bagian d**a. Tangannya mengelus perut ratanya. “Apakah sekarang aku hamil anak dari Pak Abizar? Bu Jovanka akan sangat bahagia setelah mendengar kabar ini. Mereka akan hidup bahagia dengan anak ini dan aku akan menjalani kehidupan bebas. Yah, ini akan sangat menyenangkan, tapi kenapa hatiku terasa sakit?” suara hatinya bertanya-tanya. “Dokter, apakah is…maksudku Jelita benar hamil?” Jelita menoleh ke arah Abizar yang terlihat belum bisa menguasai perasaan bahagianya. Matanya bahkan berkaca-kaca saking senangnya. “Iya, Pak. Nona Jelita sedang mengandung. Sebaiknya beritahu orang terdekatnya akan hal ini, terutama suaminya. Agar ia bisa merawat dan memberikan rasa bahagia saat Nona Jelita menjalani masa kehamilannya. Wanita yang mengandung biasanya sedikit lebih sensitif jadi butuh perhatian ektra dari orang-orang terdekat, terlebih dari suaminya. Agar janin yang ia kandung bisa berkembang sempurna. Saya sudah resepkan obat penguat kandungan dan beberapa vitamin. Sebaiknya di minum sesuai jadwal. Selebihnya beri perhatian yang lebih untuk nona Jelita. Baiklah, saya permisi dulu. Selamat malam,” ucap sang dokter kemudian keluar dari ruangan di antar oleh pelayan. Abizar menoleh ke arah Jelita yang sudah menatapnya dengan senyum mengembang. “Selamat Pak, akhirnya usaha kalian berhasil,” ucap Jelita. Abizar langsung memeluk Jelita dengan erat, mencium seluruh wajahnya sembari menitikkan air mata. “Terima kasih banyak, terima kasih…” ucapnya tanpa henti, dan kembali memeluk Jelita. “Um Pak, jangan peluk keras-keras saya merasa sesak,” protes Jelita. “Ah, iya maaf. Aku hanya tidak bisa menguasai perasaanku sekarang. Aku sangat bahagia, Jelita. Kau telah memberikan seluruh kebahagiaan dalam keluargaku, terima kasih,” ucapnya Abizar. “Iya sama –sama Pak, ibu Jovanka pasti akan sangat senang,” balasnya dengan suara lirih. Entah kenapa, hatinya kembali merasa perih. “Iya, dia akan sangat senang,” sahut Abizar. Abizar tersenyum membayangkan wajah Jovanka yang semringah dan terlonjak bahagia jika mendengar berita yang membahagiakan itu. Ia bahagia karena sebentar lagi, ketenangan keluarganya akan kembali terasa. Jelita melihat betapa bahagia pria yang ada di hadapannya ini, ia pun ikut tersenyum. yah, seharusnya memang berjalan seperti itu. Lagipula, ia juga sebentar lagi akan bebas dan kembali hidup bahagia bersama ayahnya. “Ah, ayah. Bagaimana caranya ia harus mencari alasan jika perpisahannya dengan Abizar terjadi suatu hari nanti? sebaiknya biarkan semuanya mengalir seperti yang seharusnya, aku akan menemukan cara nanti.” Jelita memejamkan matanya dan tertidur. Beberapa hari kemudian, semuanya berubah. Setelah mendengar kabar bahagia itu, Jovanka tentu saja sangat bahagia. Ia bahkan memperlakukan Jelita seperti putri, tidak membiarkan sedikitpun bekerja bahkan untuk keluar kamar saja harus dengan seizin Jovanka. Akan tetapi semakin hari Jelita merasa perlakuan Jovanka semakin membuatnya tidak nyaman. Ia tidak bisa keluar kamar meski untuk menghirup udara segar di taman. Jelita sampai merasa di kurung dalam sangkar emas. Semuanya yang ia butuhkan tersedia tapi kebebasannya terasa di rampas. *** “Sayang, apakah sebaiknya Jelita kita bawa berjalan-jalan? Ia kan juga butuh refreshing, udara segar, jangan membiarkannya tinggal di dalam kamar terus. Itu tidak baik untuk kesehatan mentalnya nanti,” ucap Abizar. “Sayang, aku hanya tidak ingin anak kita terjadi masalah kalau kita biarkan Jelita keluar. Kondisi janinnya harus sehat dan jika dia berjalan keluar aku khawatir terjadi sesuatu dengan janinnya. Aku tidak peduli lagi dengan Jelita, yang aku inginkan hanya anak yang dikandungnya. Jadi, selama bayinya baik-baik saja dan ternutrisi dengan baik, tidak perlu khawatir dengan kondisi ibunya,” ucap Jovanka dengan senyum mengembang. Mendengar itu entah kenapa Abizar merasa Jovanka benar-benar egois. Tapi ia hanya bisa menghela nafas dalam, ia tahu bagaimana keras kepalanya Jovanka jika soal keputusannya. Sudah beberapa hari Jelita berada di dalam kamar tanpa sekalipun keluar bahkan untuk berjalan di sekitar taman. Jovanka memintanya untuk terus berada di kamar dan tidur saja, dan itu sangat membuatnya tidak nyaman. Jelita ingin merasakan udara luar, ia juga sangat merindukan ayahnya. semenjak kehamilannya, ia hanya bisa mendengar suara ayahnya saja. Mengetahui betapa bahagia ayahnya mendengarnya hamil, Jelita merasa sangat sedih. Setiap kali mengingat itu, hati Jelita kembali sakit. Rasa bersalah telah membohongi ayahnya semakin membuatnya tertekan. Ia benar-benar sangat merindukan ayahnya. “Ah, ini sudah keterlaluan, aku kan bukan korban penculikan yang harus di sekap di dalam kamar. Hari ini mereka tidak ada di rumah, aku bisa keluar diam-diam.” Jelita buru-buru mengambil tas dan baju hangatnya. Membuka pintu kamar dan… “Kenapa Anda membuka pintu, Nyonya Jelita? Kalau ada yang Anda butuhkan biarkan kami yang membantu.” Suara kedua pelayan kepercayaan Jovanka. Jelita berdiri mematung. “Sial, aku lupa dengan mereka. Bagaimana ini, aku benar-benar tidak bisa keluar kalau begini,” ucapnya frustrasi dalam hati. “Ah, sebenarnya aku ingin berjalan-jalan mencari udara segar. Aku kan bosan di dalam kamar terus, jadi aku pikir aku akan berjalan-jalan sebentar. Apa boleh?” Jelita berusaha keras menampakkan wajah yang sebisanya membuat kedua pengawal itu tersentuh. Kedua pengawal itu saling pandang, seakan mempertimbangkan permintaan Jelita. Mereka lalu menatap Jelita. “Kalau Nyonya ingin keluar, kami harus melapor dan meminta izin kepada nyonya besar. Tunggu sebentar, kami telepon beliau dulu,” “E.. tu…tunggu dulu! Aku pikir itu tidak perlu, ah, begini saja. Aku akan hanya ingin berjalan-jalan disekitar taman. Jadi pasti akan aman saja, kalian juga kan ada di sekitarku untuk mengawasi, jadi pasti akan aman. Dari pada nanti akan menggangu Bu Jovanka, lebih baik tidak usah memberitahunya. Lagipula kita di luar hanya sebentar saja. Tidak akan terjadi masalah, bukan begitu?” Keduanya tampak terdiam, Jelita yakin jika keduanya mulai terpancing. “Baiklah, kami setuju. Tapi Anda harus cepat. Jangan sampai Nyonya besar pulang dan tidak menemui Anda di dalam kamar,” ucap salah satu dari mereka. “Ah, baik. Kalian tidak perlu khawatir. Aku akan kembali ke kamar secepatnya.” Jelita akhirnya bisa keluar dari kamarnya setelah beberapa lama, dan tentu saja kedua pengawal itu mengikutinya. Jelita berjalan di sekitar taman, pohon rindang dan udara sore yang hangat dan segar membuatnya sangat rileks dan nyaman, segala ketegangannya hilang. Betapa tenang perasaannya berada di luar. Perutnya tiba-tiba berkedut. “Kau juga pasti sangat senang kan sayang? setelah sekian lama kita di kurung dalam kamar , akhirnya mama bisa merasakan udara segar.” Gumannya sambil mengelus perutnya. “Jelita, apa yang kau lakukan di luar sini…!” Jelita terkejut mendengar suara yang tiba-tiba terdengar. Ia menoleh dan melihat Jovanka sedang menatapnya dengan tajam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN